
Sinar mentari tanpa permisi memasuki kamar apartemen yang di tempati oleh Tajuk dan Rindu, entah kenapa pagi ini keduanya masih berdamai dengan kasur di kamar tersebut.
Karena menyilaukan mata, akhirnya Rindu terbangun juga dari tidurnya, sambil mengucek matanya yang masih malas untuk terbuka, Rindu berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, beberapa kali Rindu mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya kembali.
Badannya terasa remuk, sakit semua, di sela-sela kesadarannya, Rindu yang akan bangkit menyadari sesuatu. Karena badannya berat untuk di gerakkan. Seakan ada sesuatu beban berat yang menimpa
"Mas Tajuk??." Gumam Rindu. Ketika melihat ke arah samping yang ternyata Tajuk sudah ada di sampingnya dan memeluknya erat.
'Apa yang terjadi semalam? kenapa bisa aku tidak memakai baju sama sekali? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?' Batin Rindu. Sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Rindu menatap lekat wajah Tajuk, wajah yang selama ini selalu berada di dalam hatinya, yang selalu dirindukannya namun di saat yang sama wajah itu pula yang membuatnya sakit hati.
Perlahan Rindu menyusuri wajah sang suami dengan menggunakan jari telunjuknya, jemarinya mulai menyusuri wajah Tajuk dari kening hingga turun ke pipi bahkan terhenti tepat di atas bibir tajuk.
'Bibir ini yang selalu menciumku di setiap pagi 3 tahun yang lalu, bahkan bibir ini pula yang menciumku beberapa jam yang lalu, sungguh aku mencintaimu mas, sehingga membayangkan kehilanganmu saja aku sudah sangat takut.' Batin Rindu.
Rindu ingin menarik tangannya untuk menjauh dari wajah Tajuk. Namun tiba-tiba Tajuk membuka matanya dan menggenggam tangan Rindu.
"Kenapa berhenti, sweetheart?" Ucap Tajuk dengan senyum misteriusnya. "Kamu boleh kok menelusuri setiap jengkal tubuhku ini, karena memang tubuh ini seutuhnya milik kamu, sweetheart." Ucap Tajuk dengan nada menggoda, lalu kemudian Tajuk mencium punggung tangan Rindu dengan penuh cinta.
Degg!!
Seketika wajah Rindu merah merona, dengan detak jantung yang begitu kuat seakan sehabis lari maraton. Karena malu sekaligus terkejut, setelah perbuatannya diketahui oleh Tajuk.
"Ma-mas sudah bangun? Kalau begitu aku akan ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri." Ucap Rindu gugup.
Namun Tajuk malah menyentakkan tangannya sehingga membuat Rindu terjatuh tepat di atas tubuhnya. Wajah Rindu semakin terlihat merah merona.
__ADS_1
"Mas apa-apaan, ini sudah siang sebaiknya kita segera bersiap untuk ke kantor." Ucap Rindu yang berusaha berontak dari pelukan Tajuk yang berada di bawah tubuhnya.
Rindu berusaha melepaskan diri dari pelukan Tajuk saat ini, dan karena kepalanya masih pusing, Rindu Ingin sekali memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.
"Makanya kalau tidak bisa minum alkohol, jangan ikut-ikutan si Al minum, pakai datang ke cafe itu lagi." Ucap Tajuk dengan tersirat nada kecemburuan di dalamnya, lalu kemudian Tajuk ikutan bangun dan duduk di samping Rindu.
"Ish, ga enak menolak ajakan kak Al, dia begitu baik sama aku selama ini." Ucap Rindu.
"Apa kamu tahu jika Al mengincar kamu untuk jadi pendampingnya." Ucap Tajuk terlihat serius kali ini. Dengan sorot mata tajam menusuk ke arah Rindu.
"Iya, aku tahu, dia juga udah melamar aku kok." Ucap Rindu enteng seakan tidak ada beban di kepalanya, namun reaksi berbeda di tunjukkan oleh Tajuk.
"APA?! Dia melamarmu?" Tanya Tajuk meyakinkan pendengarannya sendiri.
"Iya, ah sudahlah, aku akan mandi dulu, supaya sakit di kepalaku sedikit berkurang." Ucap Rindu. Kemudian dia ingin beranjak ke kamar mandi.
"Jika kamu dekat-dekat dengan Alfian lagi, jangan harap aku akan memberikan kebebasan untukmu lagi." Ucap Tajuk pelan namun tersirat akan ancaman.
Tajuk mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rindu barusan, dia kemudian bangun dari ranjangnya untuk menyusul Rindu menuju ke kamar mandi.
"Tunangan? Apa masih belum cukup bukti juga kalau tidak ada yang mampu menggantikan posisi kamu di hatiku sweetheart, padahal surat cerai itu sudah terbukti palsu." Gumam Tajuk.
Tajuk berjalan menuju ke kamar mandi dengan memakai celana pendek bokser. Sesampainya di depan kamar mandi, Tajuk menghentikan langkahnya.
Namun tidak lama Tajuk membuka pintu kamar mandi tersebut karena memang Rindu tidak menguncinya. Seringaian senyum tergambar jelas di wajah Tajuk saat ini, entah apa yang sedang Tajuk pikirkan yang jelas untuk saat ini sepertinya Tajuk tidak akan melepaskan Rindu dengan mudah.
"Aaarrgghhh,.. ngapain mas di sini." Teriak Rindu yang terkejut melihat jika saat ini Tajuk sudah berada di belakangnya dan memeluknya dengan erat di bawah guyuran air shower yang sedang mengalir.
__ADS_1
"Aku akan membantumu untuk mandi," Bisik Tajuk dengan nada menggoda. Tidak perlu menunggu reaksi jawaban dari Rindu, kini Tajuk sudah mulai mencium tengkuk Rindu.
Bahkan tangan Tajuk sudah mulai beraktivitas dengan sangat lancar tanpa menunggu komando dari si empunya. Rindu yang berusaha untuk melepaskan diri dari Tajuk kali ini, namun ternyata tidak berhasil, bahkan Tajuk semakin erat memeluknya.
"Aku menginginkanmu lagi dan lagi sweetheart, akan aku pastikan sampai tiba saatnya kamu hamil dan tidak akan meninggalkan aku lagi." Bisik Tajuk dengan suara yang sudah di kuasai oleh kabut gairah.
Degg!!
Seketika tubuh Rindu terdiam di tempatnya, bahkan jantungnya semakin berpacu dengan sangat cepat, hamil?? Kenapa tidak pernah terlintas dalam benaknya tentang hal itu.
Tajuk memutar tubuh Rindu supaya bisa berhadapan dengannya, kemudian tangannya melingkar indah di pinggang Rindu memeluknya, walaupun hati Rindu ingin menolaknya, namun jujur jika tubuh Rindu sangat menikmati saat-saat seperti ini.
Tubuh Rindu menghianatinya, bahkan seakan menginginkan semua sentuhan tangan Tajuk, di sela-sela kenikmatan yang Tajuk berikan, pikiran Rindu melayang jauh entah kemana, Rindu berpikir tentang ucapan Tajuk barusan, yang mengatakan untuk membuat dirinya hamil.
Seandainya Rindu hamil, yang pasti Tajuk tidak akan melepaskannya, lantas bagaimana dengan Susan yang mengaku sebagai tunangannya ketika di kantor kemarin? Apa yang harus Rindu lakukan? Begitulah pikiran Rindu saat ini.
"Mas, jangan seperti ini." Ucap Rindu yang berusaha mencegah tangan Tajuk untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Tajuk hanya tersenyum, melihat Rindu yang menurutnya pagi ini terlihat sangat seksi, kemudian Tajuk mencium bibir Rindu, ciuman yang awalnya hanya sekedar mengecup, kini malah semakin dalam dan semakin penuh nafsu membuat Rindu secara tidak langsung malah membalas ciuman tersebut.
Tangan Rindu entah sejak kapan sudah melingkar indah di leher Tajuk saat ini. Dan entah sejak kapan juga kini keduanya malah semakin larut dalam gairah. Sungguh pagi ini tidak akan terlewatkan dengan cepat di kamar mandi tersebut.
Bersambung...
Nah seperti janji ayyu, maka mulai sekarang akan ayu up rutin ya Tajuk Rindu nya, mohon dukungannya dengan like komen dan juga votenya.. supaya makin semangat ngetiknya..
selamat membaca dan love you all..
__ADS_1
salam cinta
"Rahayu avilia"