
"Kalau kamu masih dekat dengan Bram atau pun karyawan di kantor dengan jenis kelamin laki-laki, maka aku akan mengumumkan status kita." Ucap Tajuk seakan tidak mau di bantah.
"Ck. Baiklah, baiklah." Kata Rindu yang akhirnya mengalah dengan kelakuan Tajuk.
Mereka berdua pun melihat-lihat seisi Apartement tersebut, Rindu terlihat tersenyum bahagia, kekesalan di wajahnya pun perlahan memudar entah kemana.
Setelah selesai melihat-lihat seisi Apartement, kini Tajuk meminta Rindu untuk duduk di sofa, karena oa bersiap memasak untuk makan malam, karena memang sebelumnya Joe sudah mempersiapkan semuanya.
**********************
Hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah ia pindah ke Apartement baru dan tinggal bersama Tajuk, dan Apartement baru itu lebih jauh dari kantornya, sehingga membuat Rindu harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat.
Walau pun Tajuk sudah berkali-kali memaksanya untuk ikut bersama, namun dengan tegas Rindu menolak, bukan tanpa alasan ia menolak mengumumkan pernikahannya dengan Tajuk, namun ia ingin tahu siapa yang tidak suka dengan pernikahan mereka sehingga mengirimkan surat cerai palsu.
Dengan memakai taksi online Rindu bergegas menuju ke kantor, bahkan ia dengan segera masuk ke lobby kantor, setelah absen ia langsung menuju ke ruangannya, untung saja tidak terlambat begitulah yang ada di pikiran Rindu saat ini.
Namun berbanding terbalik dengan seisi ruangan yang sudah ramai orang, bahkan ada yang sudah mulai bekerja di meja kerjanya masing-masing, termasuk Mitha sahabatnya.
"Tumben jam segini baru datang, Rin?" Tanya Mitha.
"Ck, udah mana laporan yang harus aku kerjakan?" Tanya Rindu, bukannya menjawab pertanyaan Mitha dia justru balik bertanya.
"Hmm, makanya datang agak pagian dikit, pusing sendiri kan jadinya?" Kata Mitha.
"Nanti aku ceritain." Kata Rindu yang mengambil alih berkas dari tangan Mitha.
Lalu Rindu pun duduk di meja kerjanya, ia menghidupkan komputernya, setelah terbuka ia log in dengan id nya dan password. Tidak lama ia pun sudah terfokus dengan komputer yang ada di depannya saat ini.
'Oh iya, ponselku masih ada di tangan mas Tajuk, gimana aku harus menghubungi pihak BANK kalau begini caranya.' Batin Rindu.
Karena ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan dengan pihak Bank, maka Rindu mau tidak mau harus menghubungi manager Bank. Kebingungannya bertambah saat ia teringat jika ponselnya berada di tangan Tajuk saat ini.
"Mith!! Tolong kamu yang menghubungi pihak Bank ya." Pinta Rindu
"Lho, kamu kan bisa sendiri Rind."
"Ponselku di sita mas Tajuk." Bisik Rindu di telinga Mitha.
"Hah!! Apa??" Kata Mitha
__ADS_1
Mendengar hal itu mata Mitha membelalak kaget tidak percaya, bagaimana bisa Tajuk bersikap kekanak-kanakan seperti ini, begitulah yang ada di pikiran Mitha saat ini, boss yang terkenal dingin, tegas, itu tiba-tiba berubah di saat sama Rindu.
Ini kabar baik atau malah kabar buruk, entahlah yang Mitha tahu kini boss dinginnya itu sedang kasmaran, makanya bersikap posesif ke sahabatnya tersebut.
"Ssttt, jangan keras-keras." Kata Rindu
"Ok, ok, aku akan menghubungi pihak Bank." Kata Mitha.
Perasaan lega tergambar jelas dari raut wajah Rindu saat ini, karena ia tidak mungkin lalai dari tanggung jawabnya dalam pekerjaan.
"Rind, di panggil bu Inggrid, di suruh ke ruanganya sekarang." Kata Mitha.
"Oh, ok." Jawab Rindu.
Dengan segera Rindu beranjak dari duduknya dan menuju ke ruangan bu Inggrid, ia terlihat bingung ketika ada seorang wanita muda bersama dengan Joe di dalam ruangan tersebut, setengah bingung dan tidak memahami situasi tersebut, Rindu pun masuk.
"Bu Inggrid memanggil saya?" Tanya Rindu sopan.
"Duduklah."
"Baik."
Tentu saja sikap Joe itu membuat Bu Inggrid sedikit bingung, karena Joe bisa di bilang jabatannya lebih tinggi dari pada Rindu yang hanya pegawai biasa, tidak begitu penting menurut bu Inggrid.
Justru sikap Joe tersebut membuat Rindu merasa canggung dan tidak nyaman, ia yang dulunya biasa saja jika bertemu Rindu, kini menunduk hormat selayaknya ia bersikap kepada Tajuk.
"Oh ya Rindu, perkenalkan dia Nita, dia yang akan menggantikan posisi kamu saat ini."
Deg..
Rindu sangat terkejut mendengar ucapan Bu Inggrid tersebut, bagaimana bisa di saat ia masih bekerja, di saat yang sama ada pengganti yang akan menggantikannya. Dada Rindu berdetak kencang, apa mungkin ia di pecat, tapi kenapa dia di pecat? Apa salahnya sehingga ia di pecat. Dada Rindu semakin bergemuruh tidak karuan.
'Ada apa ini? Kenapa ada orang yang akan menggantikanku? Apa mungkin aku akan di pecat? Tapi apa alasan aku di pecat?' Batin Rindu. Seakan ia masih belum memahami situasi saat ini.
"Ta-tapi kenapa bu?" Tanya Rindu memberanikan diri.
"Ck, kenapa apanya? Sekarang kamu naik jabatan jadi sekertaris pribadinya CEO Tajuk, jadi posisimu yang kosong harus segera terisi." Ketus bu Inggrid.
Terlihat jelas raut wajah Bu Inggrid yang tidak senang ke arah Rindu, tentu saja ia tidak senang karena posisi itulah yang sedang di incarnya dari dulu.
__ADS_1
"Hah!! Sa-saya jadi sekertarisnya Boss Tajuk?" Kata Rindu seakan tidak percaya.
"Benar nona, ini perintah langsung dari tuan muda." Sahut Joe.
'Mas Tajuk apa-apaan ini, dia seenaknya saja bersikap seperti ini, selalu saja semaunya sendiri.' Batin Rindu kesal.
Tatapan Joe seakan tidak suka dengan bu Inggrid yang terkesan membenci Rindu.
"Nah sekarang kamu serah terima jabatan ke Nita, biar dia segera bisa bekerja." Ketus bu Inggrid lagi.
"Ba-baik bu." Jawab Rindu gugup.
Setelah serah terima pekerjaan dengan Nita, kini Joe membawa Rindu untuk menemui Bossnya, sepanjang perjalanan menuju ruangan Tajuk, Rindu terlihat sangat kesal bahkan bibirnya manyun ke depan, sesekali dia mengumpat dalam hati atas tindakan Tajuk yang semena-mena tersebut.
"Silahkan nona, tuan muda sudah menunggu di dalam." Kata Joe mempersilahkan Rindu untuk memasuki ruangan Tajuk.
"Makasih Joe." Kata Rindu.
Nia yang tidak mengerti dengan situasi saat ini berusaha bertanya pada Joe lewat sorot matanya, namun Joe hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu jawabannya, karena ini di luar planning yang ada di laporan Joe.
Rindu pun masuk ke dalam ruangan Tajuk yang begitu luas, terlihat Tajuk sedang sibuk di meja kerjanya. Bahkan ia tidak melihat ke arah Rindu yang kini sudah ada di depannya.
"Ada apa Boss memanggil saya?" Tanya Rindu.
"Sebentar, kamu duduk dulu di sofa sana." Kata Tajuk tanpa beralih pandangan dari laptopnya.
"Baik." Jawab Rindu.
Rindu pun beranjak menunj ke sofa panjang tersebut, ia melihat-lihat rak buku di dekat sofa tersebut, bahkan ia mengambil salah satunya, ya tentu saja itu buku soal desain.
"Baca-bacalah dulu buku yang ada di situ, aku akan menyelesaikan beberapa berkas ini dulu." Kata Tajuk lagi.
Tanpa menjawab perkataan Tajuk, Rindu kini sudah asyik dengan bacaannya, dan memang dulu ia kuliah jurusan desain, makanya ia tertarik dengan apa pun yang berhubungan dengan desain.
☆ **Bersambung ☆
Maafkan Author ya jika jarang up ya
Selamat mambaca**
__ADS_1