Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Di kantor Tajuk part 03


__ADS_3

Walaupun ada rasa nyeri yang tak terlihat di dalam dadanya, tapi ini adalah konsekuensinya bagi Alfian. Dan Alfian harus benar-benar merelakan Rindu untuk Tajuk. Kan memang harusnya seperti itu kan ya? Secara mereka sudah SAH menjadi suami istri.


"Taj, aku akui, aku memang pernah melamar Rindu, tapi sebelum tahu jika Rindu adalah istri kamu. Lagian aku dulu tahunya Rindu itu janda, makanya aku berani mendekati dia." Ucap Alfian berusaha membela diri.


Tajuk berusaha untuk mendengarkan penjelasan Alfian, dengan kepalanya di ceruk leher jenjang Rindu, serta kedua tangannya memeluk perut Rindu dengan erat.


Rindu semakin tidak enak dengan Alfian yang ada di depan mereka berdua, sungguh Tajuk yang seperti kesetanan karena cemburu yang sudah menguasai dirinya itu, memandang Alfian dengan tatapan tajamnya.


"Mas, semua tidak seperti yang.." Ucap Rindu berusaha untuk membenarkan ucapan Alfian.


"Lalu??" Potong Tajuk yang masih menunggu ucapan dari Alfian. Tanpa memperdulikan Rindu yang berusaha membela Alfian.


'Mas Tajuk sepertinya benar-benar di kuasai oleh emosi. Bahaya jika aku menyela ucapannya kali ini, dia pasti akan mengira jika aku membela kak Al.' Batin Rindu.


'Brengsek si Taj, dia benar-benar mengintrogasi aku.' Batin Alfian.


"Lalu, Rindu belum memberikan jawaban apapun padaku, karena dia masih mencintai lelaki brengsek yang dulu pernah meninggalkan dia sendirian tanpa ada kabar." Ucap Alfian yang sambil memegang pipinya yang masih terasa nyeri.


Mendengar ucapan Alfian, wajah Rindu terlihat merah merona, benar-benar memalukan, jika Tajuk tahu soal itu pasti akan semakin besar kepala, Pikir Rindu.


Tajuk tampak tersenyum penuh kemenangan, ternyata selama tiga tahun ini, Rindu masih tetap mencintainya. Bahkan masih setia padanya, sampai-sampai tidak menerima lamaran Alfian. karena sebenarnya Alfian sedikit tahu permasalahan di antara keduanya, makanya Tajuk tidak marah saat Alfian mengumpat dirinya.


"Aku mau ke toilet bentar mas, lepasin." Ucap Rindu yang sudah benar-benar merah mukanya hingga telinga.


Tajuk mengendorkan pelukannya, dan membiarkan Rindu untuk pergi ke toilet. Tajuk tahu jika saat ini Rindu pasti sangat malu karena ketahuan bahwa dia masih mencintai Tajuk.


Tajuk memajukan kursinya lalu kemudian menautkan kedua tangannya untuk menopang dagunya dan kembali melihat Alfian yang masih setia duduk di depannya.


"Sekarang katakan, kenapa kamu tadi bisa membawa Rindu-ku pergi bersamamu?" Tanya Tajuk penuh selidik.


"Huft, itulah tujuanku kemari, tadi Rindu sudah menceritakan semua tentang kejadian tiga tahun lalu, kenapa kalian bisa terpisah." Ucap Alfian.


Tajuk mengernyitkan keningnya, dengan tatapan mata tajam yang masih fokus ke arah Alfian. Merasa jika tatapan mata Tajuk seakan mengintimidasi dirinya, Alfian mengambil sebuah pena panjang dari saku jasnya.


"Ini, kamu dengarkan semuanya sampai selesai." Ucap Alfian sambil menyerahkan sebuah benda seperti pena, yang ternyata adalah alat perekam yang memang selalu Alfian bawa kemana-mana.


Dan tadi di gunakan untuk merekam semua pembicaraannya dengan Tante Sofi. Tajuk yang sedikit bingung hanya menerima benda tersebut dari tangan Alfian.


"Apa ini?" Tanya Tajuk.


"Kamu akan tahu setelah mendengarkan suara itu." Ucap Alfian.

__ADS_1


Kemudian Tajuk mulai menekan tombol play untuk mendengarkan apa isi yang di maksudkan oleh Alfian. Raut wajah Tajuk berubah saat mendengar isi dari rekaman yang di berikan oleh Alfian tersebut.


"Brengsek!! Sudah ku duga jika nenek sihir itu pasti akan melakukan hal-hal yang di luar dugaanku. Karena kejadian tiga tahun yang lalu, itu salah satu ulah dia." Ucap Tajuk yang sudah tersulut emosi.


"Jadi surat cerai palsu itu?" Ucap Alfian mencondongkan tubuhnya ke depan. Sambil mengerutkan keningnya seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri jika dugaannya tidak salah.


"Iya, aku sudah menyelidikinya, dan pengumuman pernikahan kami kemarin adalah salah satu strategi yang aku gunakan memancing dia keluar dari sarangnya." Ucap Tajuk. "Dan ternyata dugaan aku benar, kamu yang di incarnya untuk bekerjasama, padahal aku menduganya jika Susan yang di incar nenek sihir itu." Ucap Tajuk.


"Nah bukankah tadi kamu dengar sendiri jika dia akan menjebak kamu supaya tidur dengan Susan." Ucap Alfian.


"Tidur dengan Susan? Jadi mas pernah tidur dengan Susan?" Ucap Rindu yang hanya mendengar ujung dari ucapan Alfian.


Mendengar Rindu bicara seperti itu membuat Alfian serta Tajuk kelabakan sendiri, mereka berdua saling pandang satu sama lain. keduanya tampak bingung, berusaha untuk menjelajahi pada Rindu.


"Bu-bukan seperti itu sweetheart," Ucap Tajuk tergagap.


"Ah sudahlah, ternyata aku salah sangka terhadap mas," Ucap Rindu kesal dan berjalan cepat keluar dari ruangan.


"Sweetheart tunggu, itu tidak seperti apa yang kamu dengar." Ucap Tajuk berusaha mengejar Rindu. Namun keburu suara ponselnya berdering, panggilan masuk dari Joe.


"Ck, apa Joe?"


"Maaf Tuan, tamu dari Jepang sudah menunggu di depan, Apa perlu saya menyuruhnya untuk masuk ke ruangan Tuan." Ucap Joe.


"Baik Tuan." Ucap Joe.


Tajuk memutar langkahnya untuk kembali duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Alfian hanya memandang Tajuk dengan terkekeh sendiri, karena Alfian yakin jika rindu sedang berpikir yang bukan-bukan tentang Tajuk dan Susan.


"Kalau sampai Rindu marah besar kepadaku, maka kamu harus bertanggung jawab Al," Ucap Tajuk yang terlihat begitu kesal dengan Alfian. "Kalau sampai nanti malam Rindu belum baikan sama aku, jangan harap aku akan menyetujui kerja sama kita." Ucap Tajuk lagi dengan tersirat ancaman di dalamnya.


"Wo, wo, Tuan besar kita benar-benar mengancamku dengan kerjasama antar perusahaan." Ucap Alfian yang terlihat terkejut dengan ancaman Tajuk yang sepertinya tidak main-main.


"Aku tidak mau tahu, karena bicaramu, sampai-sampai membuat istriku salah paham. Dan tugasmu adalah menyelesaikan kesalahpahaman tersebut, jika tidak!! Jangan harap aku akan menandatangani kerjasama kita." Ucap Tajuk.


"Baiklah, baiklah, tidak ada yang berani melawan tuan besar kita ini." Ucap Alfian. Yang kemudian beranjak dari kursinya untuk keluar dari ruangan. sambil sesekali mengusap pipinya yang masih terasa nyeri akibat tonjokan dari tangan Tajuk.


"Itu sudah menjadi tugas kamu, Al."


Setelah Alfian keluar dari ruangan Tajuk, salah satu tamu dari Jepang masuk ke dalam ruangan. Untuk membahas kerjasama yang akan mereka lakukan kedepannya. Walaupun pikiran Tajuk tidak fokus, akan kerjasama ini, tapi untuk profesionalismenya Tajuk harus tetap membahas kerjasamanya dengan utusan dari Jepang itu.


Pikiran Tajuk benar-benar tidak berada di tempatnya saat ini, dia masih kepikiran tentang Rindu yang marah kepadanya, dan salah paham soal dirinya dan Susan.

__ADS_1


'Alfian benar-benar brengsek, kenapa bisa dia mengatakan hal seperti itu tadi, walaupun isi rekaman dia dan Tante Sofi membahas soal itu, tapi tidak seharusnya dia mengulang perkataan yang sama.' Batin Tajuk.


Karena tidak fokus akan pembicaraannya dengan tamu dari Jepang. Membuat Tajuk kebingungan saat terakhir kali tamu itu menanyakan tentang kerjasama mereka selanjutnya. Sehingga Tajuk hanya bisa menjawab akan mempelajari berkas-berkas yang mereka berikan.


*******************


Rindu yang tadi kesal dengan Tajuk, kini berada di pantry, menyeduh teh hangat dan kemudian duduk di kursi yang ada di pantry sambil mengaduk-aduk teh yang baru saja dibuatnya.


'Mas Tajuk benar-benar membuatku ingin mencakar mukanya saat ini juga, bisa-bisanya dia membahas soal tidur dengan Susan bersama kak Al. Lihat saja aku tidak akan memaafkannya.' Batin Rindu yang terlihat kesal.


"Bu Rindu, anda kok ada di sini? Kalau kepingin minum teh saya bisa membuatkannya untuk ibu." Ucap salah satu OB di kantor tersebut.


"Oh makasih Mbak, aku bisa membuatnya sendiri kok. Mbak lakukan saja pekerjaan Mbak yang lain." Ucap Rindu sopan.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap OB tersebut. Kemudian dia mengambil sesuatu dari lemari pantry dan keluar lagi.


Tidak lama Mitha yang memang ingin membuat kopi, terkejut dengan keberadaan Rindu di situ. Apalagi seperti Rindu sedang galau. Terlihat dari wajahnya yang melamun.


"Rin, Rin, Rindu!" Ucap Mitha menepuk bahu Rindu.


"Hah, eh Mitha. Sedang apa kamu di sini?" Tanya Rindu.


"Harusnya aku yang tanya begitu sama kamu, kamu ngapain di sini? Apa bos Tajuk tidak mencari kamu nantinya?" Tanya Mitha.


"Biarkan saja, dia sedang ada tamu kok, jadi tidak mungkin dia mencariku." Ucap Rindu, kemudian Rindu menyesap tehnya.


"Oh begitu," Ucap Mitha sambil sibuk membuat kopi.


"Mith, nanti aku main ke rumah kamu ya, sepulang kerja." Ucap Rindu.


Mitha mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya Rindu ingin main ke tempatnya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Rindu? Sampai-sampai Rindu ingin ke tempat Mitha. Begitulah yang Mitha pikirkan.


"Emangnya suami kamu mengijinkan? Aku tidak mau kejadian seperti dulu lagi." Ucap Mitha yang kemudian duduk di kursi dekat Rindu.


"Tenang saja dia pasti mengijinkan." Ucap Rindu sangat yakin.


"Hem, baiklah-baiklah, nanti aku tunggu di parkiran. Ya sudah aku masuk kerja dulu biar Bu Inggrid tidak marah-marah lagi." Ucap Mitha.


"Ok." Ucap Rindu dengan menempelkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O sambil tersenyum.


Mitha yang melihat keanehan sikap Rindu itu. Merasa sangat yakin jika Rindu sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi mungkin Rindu belum siap untuk cerita.

__ADS_1


Rindu pun kembali menikmati minumannya, pikirannya melayang entah kemana. Baru juga baikan sudah ada saja hal buruk yang di dengarnya, sehingga membuat Rindu kesal sendiri.


Bersambung


__ADS_2