
Dan masih banyak lagi, karena belum selesai Tajuk membacanya, Rindu terdengar telah membuka pintu kamar mandi. Dan dengan segera Tajuk mengembalikan ponsel itu ke dalam tas Rindu.
"Sudah selesai mandinya?" Tanya Tajuk yang melihat sang istri berjalan ke arahnya dengan memakai handuk baju dan lilitan handuk kecil di kepalanya.
"Hem, udah, sana gantian mas yang mandi." Ucap Rindu, yang berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju ganti piyama sebagai baju tidurnya malam ini.
Tajuk beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Rindu yang sedang sibuk mencari piyama. Tanpa basa-basi Tajuk memeluk Rindu dari belakang.
"Maass," ucap Rindu seakan memperingatkan supaya Tajuk tidak memeluknya. Karena Rindu tahu jika itu di teruskan lama-lama akan berakhir dimana.
"Sebentar saja sayang," ucap Tajuk dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Rindu, sambil memberikan kecupan ringan di pundak dan tengkuk Rindu. "Eh, tapi apa gak sebaiknya kamu begini saja? gak usah pakai apa-apa, sweetheart."
Rindu dengan sigap langsung mencubit perut Tajuk, yang membuat Tajuk menggeliat kesakitan, karena cubitan Rindu.
"Auw, sakit sayang." Ucap Tajuk kemudian mengendurkan pelukannya. Lalu Tajuk kemudian memutar tubuh Rindu supaya berhadapan dengannya.
"Makanya jangan mesum terus jadi orang." Kesal Rindu.
"Tapi kamu memang terlihat seksi kalau tak memakai apapun sweetheart." Bisik Tajuk di depan bibir Rindu, dan itu membuat Rindu membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Maaasss, jangan mulai deh." Ucap Rindu sambil memutar bola matanya jengah. Tajuk tersenyum, kemudian mencium sekilas bibir Rindu.
"Ok aku mandi dulu, sebentar lagi mungkin Joe akan datang mengantarkan makanan untuk kita." Ucap Tajuk. "Segera pakailah pakaianmu, sebelum aku berubah pikiran." Goda Tajuk.
"Iya, udah sana cepat mandi."
Sebelum benar-benar ke kamar mandi, Tajuk kembali mengecup bibir seksi Rindu, dan kemudian dia berjalan menuju ke kamar mandi.
Rindu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami, entah kenapa Tajuk seperti tidak pernah puas terhadapnya, setiap kali ingin melakukan apapun selalu menghujaninya dengan ciuman.
Tajuk yang kini sudah ada di bawah guyuran air shower, memejamkan matanya sesaat. Karena setelah membaca isi chatting Rindu dan Mitha. Membuat Tajuk tersulut emosi, bagaimana bisa dia kecolongan, sampai-sampai Tajuk tidak tahu bahwa Rindu selalu mendapat hinaan dari bawahannya.
'Lihat saja besok, apa kalian semua masih bisa menyapaku dengan senyuman palsu kalian itu, benar-benar membuatku merasa jijik melihat kemunafikan kalian semua.' batin Tajuk.
Hati Tajuk benar-benar kesal dan marah, bahkan Tajuk kini sudah menyusun rencana untuk melakukan pembalasannya besok terhadap orang yang sudah menghina Rindu.
__ADS_1
Rindu yang sudah terlihat selesai memakai baju piyamanya, kini keluar dari kamarnya. Menunggu Joe yang akan mengantarkan makanan makan malam untuk dirinya dan juga Tajuk.
**************
Pagi itu Tajuk dan Rindu berangkat ke kantor, dengan Joe yang mengikuti di belakangnya. Dengan sengaja Tajuk mengeratkan rengkuhan tangannya di pinggang Rindu, sekilas Rindu melihat ke arah Tajuk yang tersenyum manis ke arahnya.
'Mas Tajuk kesambet apaan sih? Kenapa pagi ini aneh sekali. Dan ini kenapa dia begini?' batin Rindu yang memang melihat keanehan sang suami.
Ya walaupun Tajuk biasanya juga melingkarkan tangannya di pinggang Rindu, tapi entah kenapa Rindu merasa jika kali ini berbeda.
Tanpa bisa menolak keinginan sang suami, Rindu hanya terdiam dan mengikutinya hingga sampai di ruangan kerja Tajuk.
Sebelum duduk di kursinya, Tajuk kembali mengecup kening Rindu, dan juga bibir Rindu sekilas. Rindu hanya tersenyum kikuk dengan kelakuan Tajuk kali ini.
'Apa mungkin ini tentang isi rekaman yang mas Tajuk tunjukkan padaku kemarin ya? Makanya sikapnya terlihat aneh pagi ini.' batin Rindu.
Tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Rindu pun duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputer yang ada di meja kerjanya. Mulai mengerjakan pekerjaannya. Ya walaupun memang tidak banyak, Rindu harus tetap mengerjakannya.
Terkadang Rindu merasa jika dia memakan gaji buta selama menjadi asisten pribadi Tajuk, karena walaupun Rindu asisten pribadi Tajuk, tetapi pekerjaannya hanya memegang jadwal rutin apa yang harus dilakukan. Selebihnya pekerjaan yang lain di ambil alih oleh Joe dan juga Nia.
Tanpa sepengetahuan Rindu, Tajuk sudah memerintahkan Joe untuk mencari tahu siapa saja yang sudah berani bergosip tentang istrinya, bahkan yang dengan sengaja menghina Rindu di kantornya.
**************
Di tempat yang berbeda, Alfian yang sudah mendapatkan kabar dari Joe jika Tajuk dan Rindu sudah baikan merasa lega. Bahkan Alfian seakan ikut bahagia melihat Rindu juga bahagia, apalagi Alfian tahu bagaimana Tajuk selama ini sangat mencintai istrinya.
'Walaupun kamu tidak jadi istriku, setidaknya kamu bahagia menjadi istri sahabatku, aku ikut bahagia melihatmu bahagia Rin.' batin Alfian tersenyum sendiri di depan meja kantornya.
'Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong.' itu adalah kutipan dari salah satu penulis ternama (Tere Liye) yang bisa jadi gambaran akan apa yang di lakukan Alfian saat ini.
Tak perlu kata-kata dan tulisan, namun perbuatan yang di lakukan Alfian menjadi bukti bahwa cinta Alfian pada Rindu tidak dapat di nilai dan di ukur dengan kata-kata dan tulisan. membuat orang yang di cintainya bersama sahabatnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi Alfian.
'Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena sebuah kebetulan.' (Andrea Hirata) itulah yang Alfian tanamkan dalam dirinya, tidak ada hal yang secara kebetulan akan pertemuannya dengan Rindu. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah setelah ini untuknya.
Disaat Alfian sedang melakukan pengecekan terhadap beberapa berkas yang ada di meja kerjanya, entah kenapa tiba-tiba pikiran Alfian teringat akan Mitha.
__ADS_1
"Apa mungkin wanita itu yang membawaku pulang disaat aku mabuk? Tapi bagaimana mungkin? Aku harus mencari tahu segera."
Alfian mengambil ponselnya yang ada di saku jas, kemudian menghubungi pemilik klub langganan tempatnya minum. Alfian ingin memastikan apa yang menjadi kecurigaannya.
Beberapa kali panggilannya tersambung tapi tidak di angkat juga oleh sang pemilik nomor. Mungkin orang itu masih tertidur, mengingat jika klub itu selalu buka sampai pagi.
"Dasar kebo, pasti masih tidur jam segini." Gerutu Alfian.
Alfian pun berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, supaya nanti dia tidak lembur kerja, agar bisa pergi ke klub malam dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya beberapa waktu lalu saat dia mabuk.
Belum juga setengah jam Alfian menyibukkan diri dengan pekerjaannya, kini ponselnya berbunyi dari nomor orang yang tadi di hubunginya.
"Ada apa Al, tumben menghubungi aku pagi-pagi begini, tadi aku masih tidur."
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, saat aku pergi ke klub malam milikmu beberapa waktu lalu, Apa kamu tahu siapa yang membawaku pulang?" Tanya Alfian.
"Oh gadis itu, bukannya dia pacar kamu Al?"
"Pacar?"
"Iya Al, karena dia meninggalkan nomor hpnya, jika sewaktu-waktu kamu mabuk, dia berpesan untuk menghubunginya."
'Oh begitu, aku bisa mencobanya malam ini. Dan aku akan memastikan siapa dia yang akan datang.' batin Alfian.
"Apa kamu masih menyimpan nomor hp-nya?" Tanya Alfian.
"Buat apa aku menyimpannya? Bartenderku yang menyimpan nomor ponsel wanita itu."
"Ck, baiklah, nanti malam temani aku minum sebentar." Ucap Alfian.
"Datang saja nanti, pasti akan aku temani minum."
Kemudian Alfian memutuskan panggilan teleponnya. Senyuman penuh arti tergambar jelas di raut wajahnya. Dan sepertinya senyuman itu akan membuat seseorang kalang kabut nanti malam.
Salah satu jadwal Alfian hari ini adalah meeting dengan salah satu klien penting. Dan termasuk dengan Tajuk untuk membahas kerjasama baru untuk perusahaan.
__ADS_1
Dan memang di saat acara makan malam perusahaan beberapa hari lalu, itu membuahkan hasil kerjasama baru di perusahaan Wiryawan dengan perusahaan yang di pimpin Tajuk. Dan tentu saja itu membuat Alfian terlihat sibuk untuk saat ini.
Bersambung