Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Aku harus bagaimana??


__ADS_3

Perlakuan Tajuk ini akan sangat melukai hati Alfian secara tidak langsung. Kenapa sungguh tega Tajuk melakukan ini? Apa maksud Tajuk dengan melakukan ini?.


Begitu banyak pertanyaan di dalam hati Rindu, tapi Rindu lebih memilih diam dari pada menimbulkan masalah. Apalagi saat ini mereka ada di tempat umum, Rindu tidak akan mempermalukan suaminya di depan relasi bisnisnya.


Hati Alfian seakan semakin hancur di saat melihat Rindu dan Tajuk bergandengan tangan. Bahkan melihat kemesraan mereka, hatinya seakan di tusuk-tusuk dengan ribuan jarum.


Sakit? Ya, sakit banget pastinya. Sedih? Siapa coba yang tidak sedih? karena orang yang di inginkan untuk jadi istrinya ternyata berstatus istri sahabatnya sendiri. Tapi Alfian harus profesional sebagai tuan rumah.


"Kak Al, apa kabar? Gak nyangka ternyata kak Al pemilik perusahaan Wiryawan group." Ucap Rindu dengan tersenyum kaku ke arah Alfian yang kini kebetulan berdiri di sampingnya.


Karena memang saat ini Rindu sedang berdiri di samping sebuah kursi agak jauh dari keramaian orang-orang yang membahas masalah bisnis. Namun Alfian tidak menjawab perkataan Rindu, bahkan Alfian terlihat acuh dan dingin terhadap Rindu.


'Maaf Rin, aku belum siap bertatap muka denganmu.' Batin Alfian.


Alfian terlihat baik-baik saja saat ini, tapi di dalam hatinya tidak ada yang tahu seberapa besar luka itu menganga lebar dan terasa begitu sakit. Tapi di sinilah ujian bagi Alfian, dia harus profesional dan mengesampingkan urusan pribadinya.


Rindu yang merasa sedih dengan sikap acuh Alfian, hanya bisa terdiam, lalu kemudian Rindu terduduk di sebuah kursi di dekatnya. Rindu menarik nafas dalam-dalam untuk sekedar menenangkan hatinya yang sedih melihat Alfian yang kini jadi orang yang berbeda.


'Aku ingin menjelaskan semuanya kak, tapi ini sudah terlanjur di umumkan dan kakak mengetahui semuanya dari berita. Bagaimana lagi caraku menjelaskan pada kakak. Aku bingung harus dari mana memulainya.' Batin Rindu yang juga merasakan nyeri di hatinya akibat sikap Alfian yang tiba-tiba berubah dingin dan sangat cuek kepadanya.


Walau bagaimana pun Alfian sebagai CEO perusahaan Wiryawan, tidak mungkin kabur begitu saja karena masalah pribadinya ini. Tapi jujur jika saja bisa kabur, maka Alfian pasti sudah melakukannya.


Alfian berjalan mendekati Tajuk yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya di situ, maklum saja sebagai orang nomor satu di dunia bisnis di Asia, Tajuk sangat terkenal di kalangan para pebisnis.


Melihat Tajuk dan Alfian sepertinya ingin membahas sesuatu, maka yang lain pun berpamitan pergi dan berbincang dengan yang lain.


"Aku terkejut saat mendengar kabar dari berbagai pemberitaan media cetak dan elektronik, jika ternyata istri kamu itu adalah Rindu." Ucap Alfian saat selesai makan malam. Dan kini mereka telah ngobrol lebih intensif.

__ADS_1


"Ya, aku menikahinya tiga tahun yang lalu, dan kini Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi." Ucap Tajuk sambil melihat Rindu yang kini duduk di kursi tidak jauh darinya.


'Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih setelah tahu jika Rindu adalah istri kamu, Taj.' Batin Alfian.


"Hem, semoga pernikahan kalian bisa langgeng, sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Alfian.


"Yakin?" Ucap Tajuk seolah mengejek Alfian secara sengaja.


"Hah!! Maksud kamu Taj?" Tanya Alfian tidak mengerti.


'Cih, aku tahu kamu masih tidak terima jika aku juga mempunyai rasa sama Rindu.' Batin Alfian.


"Tidak, tidak ada maksud apa-apa. Hanya memastikan saja jika kamu benar-benar memberikan doa terbaik untukku dan Rindu." Ucap Tajuk sambil menepuk bahu Alfian dua kali sambil tersenyum.


'Kamu tahu dengan pasti apa yang aku maksudkan Al, jangan berlagak polos di depanku. saat ini aku masih belum bisa mengendarai diriku jika harus bersaing denganmu untuk mendapatkan hati Rindu.' Batin Tajuk bergejolak.


"Tenang saja, aku tidak akan merebut sesuatu yang sudah jadi milik orang lain." Ucap Alfian, tersenyum di paksakan. Dan Tajuk dengan jelas melihat itu.


"Hem, percayalah, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ucap Alfian dengan senyuman getir menahan luka di dalam hatinya yang menganga lebar.


"Thanks Al, karena bagaimanapun juga, kali ini aku tak akan melepaskan Rindu." Ucap Tajuk.


Tajuk tersenyum kemudian kembali menepuk pundak Alfian untuk kedua kalinya. Alfian hanya tersenyum menyambut tepukan Tajuk.


Dan entah kenapa senyuman Tajuk kali ini, seperti serbuk garam bagi luka di hatinya saat ini. Dan itu semakin menambah pedih yang teramat sangat.


Setelah acara makan malam selesai, semua relasi bisnis pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Tajuk dan juga Rindu. Mereka berdua pulang ke apartemen.

__ADS_1


Selama perjalanan Rindu hanya diam membisu, seolah enggan untuk berbicara dengan Tajuk yang duduk di sampingnya.


"Sweetheart." Panggil Tajuk.


Namun Rindu hanya diam tidak menyahut, Rindu hanya melihat keluar jendela mobil. Pikiran Rindu hanya kesal dengan sikap Tajuk yang terlalu kekanak-kanakan kepada Alfian.


Karena Rindu bisa memahami jika Alfian saat ini pasti sangat terpukul, atau pun sakit hati dengannya. Bahkan mungkin saja Alfian kecewa berat padanya saat ini. Entahlah, tapi Rindu merasa menjadi orang yang paling jahat pada Alfian saat ini.


'Aku tidak tahu harus gimana menghadapi kak Al. Di tambah lagi mas Tajuk seolah menabur garam di luka kak Al saat ini. Sehingga benar-benar tak punya perasaan.' Batin Rindu.


Rindu benar-benar larut dalam lamunan panjangnya, bahkan Rindu tidak menyadari jika kini Tajuk sudah ada di dekatnya saat ini.


"Sweetheart, kamu kenapa diam saja, Hem?" Tanya Tajuk yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di perut Rindu. Dan dagunya menempel di pundak Rindu. Tanpa memperdulikan sopir yang sedang mengemudikan mobil mereka.


Deggg!!


Rindu awalnya terkejut dengan sikap Tajuk kali ini. Namun Rindu berusaha menetralkan detak jantung yang seakan mau lepas dari tempatnya itu.


Tapi Rindu masih tidak menjawab pertanyaan Tajuk, entah kenapa kali ini Rindu sangat kesal dengan Tajuk. sehingga Rindu lebih suka dengan mengabaikan pertanyaan Tajuk dan malas untuk menjawabnya.


'Aku tahu kamu sedang marah padaku, tapi hanya dengan begitu Al pasti akan mengerti posisinya dan tidak menggangu kamu lagi.' Batin Tajuk.


"Kamu marah, Hem?" Ucap Tajuk yang kemudian menarik dagu Rindu dan memaksa Rindu supaya menghadap ke arahnya.


Tanpa suara Rindu hanya menggelengkan kepala, bahkan Rindu masih tidak mau melihat ke arah wajah Tajuk. Dan kembali menghadap ke luar jendela mobil.


"Apa ini ada hubungannya dengan Al?" Tanya Tajuk tiba-tiba. Sehingga membuat Rindu menghela nafas beratnya.

__ADS_1


"Huft, aku tidak ingin membahas apapun dengan mas kali ini, jadi tolong jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri." Ucap Rindu lirih.


Bersambung


__ADS_2