
"Dengarkan dulu sweetheart," ucap Tajuk yang mulai menangkup kedua pipi Rindu supaya melihatnya ke arahnya. "Aku melakukan itu karena aku takut kehilangan kamu."
Mendengar hal itu, Rindu terdiam, mungkin Tajuk begitu takut akan berpisah dengannya seperti tiga tahun lalu, makanya Tajuk sampai melakukan hal itu.
"Ok, tapi tidak harus dengan cara memata-matai kak Al juga kan?" Ucap Rindu masih terlihat kesal. Tajuk hanya terdiam, karena tidak tahu harus bilang apa lagi, karena Tajuk tahu jika Rindu pasti akan marah.
"Maafkan aku sweetheart, inilah alasannya kenapa, jika kamu jauh dariku dan sampai meninggalkanku, kamu akan melihat bagaimana kegilaanku yang sesungguhnya, sweetheart," ucap Tajuk sambil menempelkan keningnya di bahu Rindu untuk bersandar.
Rindu tertegun mendengar perkataan Tajuk, tak di sangka ternyata begitu besar rasa cinta Tajuk terhadapnya. Walaupun Rindu bahwa tahu Tajuk dari dulu sudah sangat mencintainya, tapi Rindu tidak menyangka jika kegilaan Tajuk akan seperti ini.
Rindu membelai kepala Tajuk yang bersandar dibahunya dengan penuh cinta, Rindu tidak mampu berkata apa-apa lagi selain hanya bisa memaafkan dan berusaha untuk lebih mencintai Tajuk.
"Huft, baiklah mas, sekarang katakan apa yang mas tahu tentang Mitha dan kak Al? Siapa tahu kita bisa bantu mereka supaya makin dekat." Ucap Rindu.
Mendengar ucapan Rindu, seperti angin segar bagi hati Tajuk, karena dengan begitu maka Alfian tidak akan mengganggu Rindu lagi. Berusaha menyatukan Alfian dan Mitha, adalah cara yang paling bagus dan juga rencana yang sempurna.
"Exactly, itulah yang aku pikirkan sweetheart, bagaimana kalau kita comblangin mereka, biar Al tidak galau terus," ucap Tajuk bersemangat.
Tajuk kemudian kembali menceritakan bagaimana dia bisa tahu, jika Alfian berusaha untuk mendapatkan hati Mitha saat ini. Ternyata tidak dapat di bayangkan oleh Rindu jika sang suami sampai sejauh itu mengetahui tentang Alfian dan Mitha.
"Jadi tadi malam kak Al menginap di rumahnya Mitha?"
"Tepat sekali sweetheart, karena dari cerita Andrew, ada perempuan yang datang ke klub, tapi bukan Mitha, dan itu membuat Al emosi," ucap Tajuk. "Karena Alfian sedang menanti kedatangan Mitha tadi malam, niat Al adalah menggagalkan rencana Mitha dan Bram untuk nonton."
"Oh begitu, jadi sebenarnya kak Al itu cemburu sama Bram?" Ucap Rindu dengan terkekeh membayangkan jika Alfian cemburu dengan Bram. "Padahal Bram itu dengan Mitha hanya sahabatan aja,"
"Banyak kejadian sahabat jadi cinta sweetheart, apa kamu lupa jika Bram pernah mencoba untuk mengambilmu dariku, Hem?" Ucap Tajuk.
"Aish, mulai lagi, sebaiknya kita bahas yang lain saja mas," ucap Rindu yang terlihat kesal.
Melihat reaksi Rindu, membuat Tajuk tergelak tawanya dengan begitu kuat memenuhi ruangan. Akhirnya Tajuk dan Rindu merencanakan sesuatu supaya Alfian bisa dekat dengan Mitha.
__ADS_1
Keesokan harinya..
Rindu sudah menyiapkan segala sesuatunya. Dia bangun begitu pagi untuk bersiap-siap. Setelah selesai mandi, Rindu pun membuka lemari pakaian, berganti pakaian dan menyiapkan setelan pakaian untuk Tajuk. Rindu tidak ingin mereka terlambat berangkat ke kantor.
"Mas, ayo bangun, cepetan bangkit dari kasur dan mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita," ucap Rindu sembari menggoyang-goyangkan lengan sang Suami.
Tajuk menangkap pergelangan tangan Rindu dan menariknya dengan kuat, hingga Rindu terjatuh dan menempel tepat di bagian dada bidang milik Tajuk. Dia memeluk Rindu dengan erat sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sebentar lagi sweetheart," ucap Tajuk yang malas untuk segera bangun.
"Mas! Jangan seperti ini. Aku kan sudah mandi dan sudah siap untuk berangkat ke kantor, cepetan bangun mas." Ucap Rindu pada Tajuk. Dia berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari dekapan suaminya itu.
"Bentar lagi sweetheart, aku masih ingin bersamamu, atau kamu mau memandikan aku dengan sukarela, sweetheart, Bagaimana?" tanya Tajuk sambil mengendurkan pelukannya dan memandang Rindu dengan tatapan penuh misteri.
Rindu langsung beranjak dari duduknya dan berjalan secepat mungkin ke arah pintu. Dia memberi peringatan pada Tajuk, "Mas, kalau dalam 10 menit, Mas masih belum siap juga, aku akan pergi ke kantor tanpa Mas."
Tajuk merasa kaget mendengar penuturan Rindu. Dia tidak menyangka, Rindu akan memiliki cara yang mengerikan untuk mengancamnya. Dia tidak akan pernah membiarkan Rindu pergi ke mana pun tanpa dirinya. Karena dia tidak mau kehilangan Rindu untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, Sweetheart. Aku akan siap sebelum menit yang ke sepuluh," ucap Tajuk singkat.
"Nyonya, mobil sudah siap." Seorang sopir mendekati Rindu dan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, Pak. Kami akan berangkat sekitar 10 menit lagi.
"Baik, Nyonya." Sang sopir itu pun berbalik badan dan keluar dari apartemen mereka, menunggu di halaman apartemen seperti biasa.
Karena Tajuk masih belum juga selesai dari kamar, Rindu pun duduk dengan tenang sambil mengunyah roti dengan selai kacang yang disukainya. Dia memakan sarapannya dengan lahap sampai dia tidak menyadari kalau Tajuk sedang berdiri tepat di belakangnya dan memperhatikannya makan.
Kemudian Tajuk mengecup kening Rindu sehingga membuat Rindu menoleh ke arah sang suami dan tersenyum.
"Sweetheart, kamu beneran mau meninggalkan Suamimu ini? Kenapa kamu tidak menungguku dan kita sarapan bersama," ucap Tajuk sambil mencium puncak kepala Rindu, lalu duduk tepat di sebelah Rindu.
__ADS_1
"Ah, iya Mas. Aku sudah merasa lapar. Jadi, aku sarapan lebih dulu. Mas sih yang kelamaan siap-siapnya. Cepat makan roti dan minum kopinya, Mas. Jangan bilang, kalau Mas melupakan sesuatu." Rindu menyelesaikan sarapannya sambil mengingatkan kembali sang Suami perihal tanggung jawabnya di perusahaan.
"Melupakan sesuatu? Sesuatu apa itu, Sweetheart? Pagi-pagi begini, kamu sudah membuatku merasa kebingungan." Tajuk tidak bisa mengingat hal yang sudah dikodein oleh sang Istri.
Dia lebih memilih untuk bertanya langsung dan mendapatkan jawabannya, dari pada dia memikirkan hal yang di awal saja, tidak diingatnya sama sekali. Begitu simple pemikirannya.
"Pagi ini, kamu harus rapat penting dengan bagian keuangan. Kan kamu harus mereview dan meninjau semua mutasi keuangan dalam tiga bulan terakhir. Kamu lupa, Mas?" tutur Rindu dengan raut wajah yang sedikit ditekuk.
Tajuk tersenyum paksa dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tau, saat ini dia dalam radar bahaya. Raut wajah Rindu itu sangat serius. Di pagi yang cerah ini, dia tidak ingin ada keributan di antar dirinya dengan sang Istri.
Tajuk pun melahap sarapannya dalam waktu singkat. Dia mengimbangi langkah kaki Rindu yang sudah lebih dulu meninggalkannya saat setelah dia selesai dengan sarapannya.
"Sweetheart, aku tidak akan lupa dengan hal penting seperti itu. Jadi, jangan cemberut gitu dong." Tajuk menunjukkan senyuman manisnya pada sang Istri sambil memegang kedua tangan Rindu.
Mereka sudah berada di dalam mobil dan mereka membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di perusahaan. Sekarang sedang musimnya kemacetan. Apalagi di jam kerja begini.
Rindu hanya bisa menunjukkan wajah datarnya pada Tajuk. Dia ingin memberikan peringatan kecil pada Tajuk agar orang yang di hadapannya kini bisa mengingat tanggung jawabnya sebagai pimpinan.
Setelah beberapa menit diabaikan, Tajuk pun membuka suara, "Baiklah, Sweetheart. Aku minta maaf. Tadi aku sempat lupa dengan rapat penting itu. Sekarang, bagaimana caranya agar kamu bisa memaafkanku, Sayang?"
Tajuk menarik Rindu dalam dekapannya. Rindu tidak bersuara sama sekali, karena dia sedang memikirkan hal yang ingin dilakukannya bersama Tajuk sebagai imbalan permintaan maaf Tajuk padanya.
"Hei, Sweetheart. Kenapa kamu diam saja? Aku paling takut dengan kamu yang pendiam seperti ini, Sayang. Katakanlah sesuatu, Sayang." Tajuk mengelus-elus puncak kepala Rindu dengan lembut beberapa kali.
"Mas, saat ini Joe tidak ada di sini, jadi jangan membuat aku makin pusing dengan tingkah mas yang selalu lupa itu," ucap Rindu.
"Baiklah sweetheart, aku tidak akan melupakan hal itu lagi, jadi jangan cemberut begitu ya," ucap Tajuk kemudian mencium bibir Rindu sekilas.
Rindu tersipu malu karena ulah Tajuk, bagaimana bisa suaminya itu menciumnya di tempat umum seperti ini, walaupun di dalam mobil, tapi ini kan di halaman kantor.
Tajuk tidak ingin melihat Rindu melakukan protes untuk kesekian kalinya, jadi Tajuk memilih untuk segera keluar dari mobil, dan menuju ke lobby kantor.
__ADS_1
Beberapa orang karyawan menyapanya dengan ramah, karyawan yang biasanya membully Rindu, kini telah di gantikan dengan karyawan baru. Sehingga tidak ada lagi yang berani menggunjingkan Rindu.
Bersambung...