Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Terbongkar sudah


__ADS_3

Sore itu jam pulang kantor pun tiba, Tajuk yang dari siang hari sudah sangat jelek moodnya hanya marah tidak jelas, bahkan beberapa staf kantor terkena imbas dari amarah Tajuk. Joe yang dari tadi belum menemukan keberadaan Rindu juga tidak luput dari amarah Tajuk.


Bahkan walaupun jam kantor sudah usai, Tajuk masih berada di dalam ruangannya. Sehingga membuat Nia sang sekertaris tidak berani untuk pulang duluan.


"Kamu bisa kerja apa tidak Joe? Jika sudah bosan dengan pekerjaan kamu, sebaiknya segera kemasi barang-barang kamu, biar aku memindahkan kamu ke devisi lain." Teriak Tajuk membahana di ruangannya, sambil melempar berkas yang tadi di serahkan ke Tajuk.


'Nyonya, sebenarnya anda dimana? Kenapa jadi seperti ini? Mood tuan muda sangat buruk, tolong segeralah datang.' Joe berkata dalam hati seakan ingin sekali Rindu datang dan menyelamatkannya dari situasi saat ini.


"Saya akan mengerjakan ulang lagi Tuan," ucap Joe.


"Cepat selesaikan hari ini juga, aku tidak mau terima alasan apapun dari kamu." Perintah Tajuk.


"Baik tuan muda."


Joe pun keluar dari ruangan itu, setelah di depan pintu Joe terlihat menghela nafas lega setelah keluar dari kandang singa.


"Joe, gimana suasana hati tuan Taj? Apa masih belum membaik?" Tanya Nia.


"Sebaiknya kamu jangan ganggu tuan muda dulu, dan jika kamu ingin pulang, kamu pulang saja." Ucap Joe.


"Ok baiklah, kalau begitu aku pulang duluan Joe, tidak ada tugas yang harus membuat aku lembur kan?"


"Tidak, pulanglah."


Nia pun membereskan meja kerjanya, kemudian bersiap untuk pulang. Karena memang jam pulang kantor. Sedangkan Joe bergegas menuju ke ruangannya, tapi belum sempat Joe memasuki ruang kerjanya, sekelebat Joe melihat nyonyanya sedang berjalan menuju ke ruangan Tajuk.


"Nyonya,"


"Eh, Joe."


"Nyonya, tolong segera menemui tuan muda, sebelum semua pekerjaan para pegawai di anggap salah oleh tuan muda." Ucap Joe sambil membungkukkan badan.


"Maksud kamu apa Joe?"


"Setelah nyonya sampai di ruangan tuan muda, nantinya nyonya akan tahu sendiri."


Rindu mengerutkan keningnya, terlihat sedang berpikir apa yang terjadi di dalam ruangan Tajuk? Sehingga membuat Joe terlihat khawatir.


Rindu berjalan meninggalkan Joe, menuju ke ruangan Tajuk, suasana ruangan Tajuk entah kenapa tiba-tiba terasa mencekam bagi Rindu.


"Mau apalagi kalian? Aku tidak ingin diganggu saat ini." Ucap Tajuk dingin tanpa melihat ke arah pintu.


"Oh oke, aku hanya ingin mengambil tas, setelah itu akan pergi kok." Ucap Rindu dengan santai dan berjalan menuju ke meja kerjanya.


Mendengar suara yang di rindukannya, Tajuk langsung mendongakkan kepalanya, kemudian dengan cepat Tajuk mengambil remote untuk mengunci pintu. Supaya Rindu tidak pergi lagi, karena Tajuk butuh meluruskan kesalahpahaman yang terjadi akibat ulah Alfian.


Tajuk kembali duduk diam di kursinya dan melihat ke arah laptop di depannya, karena Tajuk sedang melakukan panggilan video Dengan rekan bisnisnya, dan tidak dapat di tunda lagi, karena baru saja panggilan itu tersambung setelah Joe keluar dari ruangannya.


Sedangkan Rindu yang memang sudah janjian dengan Mitha, kini bergegas membereskan meja kerjanya, lalu dengan segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Tanpa melihat ke arah Tajuk, kini Rindu bersiap untuk keluar ruangan. Rindu berjalan menuju ke arah pintu dan menarik handle pintu.


'Loh kok terkunci,' batin Rindu.


Rindu mengerutkan keningnya, karena belum juga 10 menit yang lalu dia bisa membuka pintu ruangan, namun kenapa sekarang terkunci.


Rindu seakan Dejavu dengan kejadian seperti ini, Rindu menoleh ke arah Tajuk yang sepertinya sedang sibuk dengan laptop di depannya.

__ADS_1


'Sepertinya mas Tajuk yang melakukannya.' batin Rindu.


Karena tidak bisa membuka pintu, kini Rindu kembali ke kursi kerjanya. Tanpa ingin melihat kesibukan Tajuk, Rindu segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian mengetikkan pesan supaya Mitha pulang duluan.


Rindu melirik sekilas Tajuk yang sedang sibuk, dan dari cara bicaranya Rindu paham jika saat ini sang suami sedang sibuk negosiasi dengan rekan bisnisnya.


'Kalau dia serius seperti itu, kenapa semakin terlihat keren.' batin Rindu yang tanpa sadar tersenyum ke arah Tajuk.


Tajuk yang kebetulan melihat Rindu tersenyum ke arahnya, hanya mengedipkan sebelah matanya. Sehingga Rindu jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke yang lain.


Sejenak Rindu berpikir akan ucapan Joe sebelum dirinya masuk ke dalam ruangan Tajuk.


'Dari ucapan Joe tadi sepertinya mood mas Tajuk ga bagus, sampai-sampai Joe bilang jika pekerjaan semua karyawan salah. Tapi kenapa yang aku lihat berbeda, dia sepertinya baik-baik saja,' batin Rindu menggelengkan kepalanya. 'Seharusnya aku yang marah dengan mas sekarang.'


Rindu memainkan ponselnya, entah chatting sama siapa yang membuat Rindu hanya tersenyum sendiri seperti orang gila. Dan itu tidak luput dari penglihatan Tajuk.


Rindu semakin asyik dengan dunianya sendiri, hingga tanpa menyadari jika Tajuk sudah berdiri di belakang kursi tempatnya duduk. Bahkan Tajuk terlihat sangat menikmati waktunya mencuri baca isi chatting Rindu dan Mitha.


'Jadi ada yang berani membully Rindu di kantorku sendiri? Kenapa Joe tidak melaporkan hal ini padaku.' batin Tajuk saat membaca isi pesan Rindu yang sedang asyik curhat dengan Mitha. Bahkan tangan Tajuk sudah mengepal menahan amarahnya.


Saat sedang asyik menggoyangkan kursinya, Rindu terkejut melihat Tajuk sudah ada di belakangnya. Dengan buru-buru Rindu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Kelihatannya asyik sekali? Sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku." Ucap Tajuk santai sambil memeluk Rindu dari belakang kursi.


"Mas Tajuk, apa yang mas lakukan?" Tanya Rindu yang berusaha menghindari Tajuk.


"Sssttt, aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu, biar tidak ada salah paham lagi." Ucap Tajuk.


"Apa!"


Dengan segera Tajuk mengeluarkan sebuah benda yang mirip pena, pemberian Alfian tadi siang. Karena Tajuk ingin menjelaskan apa yang di dengar Rindu itu hanya sebagian saja, dan itu menimbulkan salah paham di antara mereka berdua.


Rindu yang masih bingung dengan benda di tangannya itu, mengerjapkan matanya berkali-kali karena sikap Tajuk.


"Memangnya ini apa mas?" Tanya Rindu.


"Dengarkan aja dulu, nanti kamu akan tahu." Ucap Tajuk, kemudian Tajuk berdiri bersandar di meja kerja Rindu, sambil melipat kedua tangan di dada.


Dengan ragu-ragu Rindu memencet tombol play, kemudian mendengarkan isi dari rekaman yang di berikan oleh Tajuk. Wajah Rindu semakin menegang sambil melihat ke arah Tajuk yang setia berdiri di depannya.


"Di-dia siapa mas?" Tanya Rindu gugup.


Tajuk menundukkan tubuhnya, dan tangannya bertumpu di sandaran tangan kursi yang di duduki Rindu. Dengan tersenyum melihat ke arah bola mata Rindu.


"Dia istrinya papa, atau bisa di bilang dia itu ibu tiriku," ucap Tajuk.


Degg!


Jantung Rindu tiba-tiba berdetak tidak karuan, bagaimana bisa ibu tiri dari suaminya itu punya niatan jahat terhadap sang suami. Bahkan berniat untuk memisahkan mereka lagi.


"Kenapa dia ingin membuat kita berpisah? Dan meminta mas untuk di jodohkan dengan Susan,"


"Sweetheart, sayangku, aku tidak akan membiarkan wanita tua itu memisahkan kita lagi, cukup sekali dia mengusik kebahagiaan kita, tidak untuk kedua kalinya." Ucap Tajuk yang kemudian mengecup kembali kening Rindu.


"Maksudnya gimana mas?"


"Sudahlah, sebaiknya kita segera pulang, ini sudah lewat jam kantor pulang kerja."

__ADS_1


Tajuk menarik pergelangan tangan Rindu, untuk di bawanya pulang, dengan tergesa-gesa Rindu menarik tasnya yang di meja lalu sedikit berlari mengikuti langkah Tajuk.


Joe yang melihat tuan mudanya keluar dari ruangan, dengan segera mengikutinya. Bahkan Joe terlihat lega saat ini, melihat sang tuan muda sudah dalam mood yang baik, dan bahagia.


Dengan sigap Joe membukakan pintu mobil, dan kemudian Joe masuk ke kursi pengemudi dan mulai melajukan mobil menuju ke apartemen milik tuan mudanya.


Sesampainya di apartemen, Tajuk menyuruh Joe untuk membelikan makanan makan malam untuknya dan juga Rindu, kebahagiaan terlihat di wajah pasangan itu.


Setelah sampai di dalam apartemen, Tajuk menyuruh Rindu untuk membersikan diri terlebih dahulu, karena jika Joe datang membawakan makanan mereka telah selesai mandi.


Saat Rindu berada di kamar mandi, Tajuk teringat akan sesuatu, kemudian Tajuk membuka tas Rindu untuk mengambil ponselnya. Setelah mengetikan password di layar ponsel tersebut, kini Tajuk langsung melihat aplikasi WhatsApp mencari tahu isi dari percakapan Rindu dan Mitha.


"Tadi cuma sekilas aku membacanya, sebaiknya aku cari tahu sendiri isi keseluruhan chattingannya dengan Mitha." Gumam Tajuk. Setelah menemukan nama Mitha berada di paling atas, Tajuk meng-klik nama itu.


Isi chat


Mitha


'Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut orang-orang itu Rin, Gedeg lihat mereka selalu membully kamu'


Rindu


'Abaikan saja Mith, ngapain menanggapi hal-hal seperti itu.'


Mitha


'Aku tahu sebenarnya kamu sangat sedih Rin, kenapa kamu gak cerita aja sih sama suami kamu yang katanya pemilik perusahaan itu, masa iya istrinya di bully tidak tahu, yang benar saja?'


Rindu


'Dalam hal ini bukan salah mas Tajuk Mitha,'


Mitha


'Iya aku tahu, tapi masa dia gak peka gitu jadi suami.'


Rindu


'Dia memang gitu kan, Mith? bukannya selama ini dia terkenal dengan dinginnya seperti kutub es ya.'


Mitha


'Iya juga sih, eh tapi Rin, gosip itu benar gak sih? Soal suami kamu yang dekat sama Susan?'


Rindu


'Kalau mas Tajuk mau sama Susan biarkan saja, toh mereka lebih serasi, dan Susan juga lebih seksi dari pada aku.'


Mitha


'Eh gila, bukannya marah, ini malah di dukung, istri macam apa kamu ini?'


Mitha


'Lantas bagaimana soal orang-orang yang sering ngehina kamu itu? apa kamu akan diam saja Rin?'


Dan masih banyak lagi, karena belum selesai Tajuk membacanya, Rindu terdengar telah membuka pintu kamar mandi. Dan dengan segera Tajuk mengembalikan ponsel itu ke dalam tas Rindu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2