
Di sebuah rumah makan sederhana di dekat proyek pembangunan pusat perbelanjaan yang sedang di kerjakan, terlihat Mitha, Bram, dan juga Alfian sedang menikmati makan siangnya.
'Terlihat sekali Bram dan Mitha begitu dekat, apa mungkin Bram itu beneran calon suami Mitha?' batin Alfian. 'Tapi sepertinya bukan, kalau dia calon suami Mitha, mana mungkin Mitha selalu punya waktu menemani dan menjagaku saat aku mabuk dulu, aku harus mencari tahu tentang Mitha.'
Saat rasa penasaran menguasai hatinya, membuat Alfian semakin tertarik untuk mengetahui semua tentang Mitha. Beberapa kali tatapan mata Alfian dan Mitha bertemu, namun dengan segera Mitha mengalihkan pandangannya.
"Kalian sudah lama kerja di perusahaan Taj?" Tanya Alfian di sela-sela menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Lumayan sih tuan Al," jawab Bram. "Kalau saya udh lebih dari 3 tahun, Mitha mungkin 2 tahun lebih, nah yang paling baru itu Rindu, dia kan dulunya di kantor cabang terus di pindah di kantor pusatnya."
"Oh begitu, jadi dulu kalian ikut Papanya Taj dong ya?" Tanya Alfian yang sesekali mencuri pandang ke arah Mitha. Namun Mitha benar-benar menghindari kontak mata dengan Alfian.
"Iya tuan," ucap Bram yang masih setia menjawab pertanyaan Alfian.
"Benar-benar pegawai teladan yang perlu di pertahankan." Ucap Alfian sambil manggut-manggut. Lalu meletakkan sendok dan garpu, kemudian mengambil gelas air minumnya.
Setelah selesai makan, mereka menghabiskan waktu luangnya sebelum kembali ke proyek dengan ngobrol, persisnya Bram dan Alfian yang ngobrol, karena Mitha lebih banyak diam.
"Eh Mit, nanti malam nonton yuk, ada film baru yang akan di putar lho." Ajak Bram.
Sejenak Mitha melihat ke arah Bram, seperti sedang menimbang-nimbang apakah akan nonton dengan Bram atau tidak, karena tidak tahu kenapa mood Mitha hilang setelah melihat Alfian yang tadi seperti sedang berpelukan dengan sekertarisnya.
"Boleh sih,"
Mendengar jawaban Mitha, entah kenapa Alfian seakan tak terima. Bahkan sempat terlintas di kepala Alfian bagaimana caranya supaya Mitha batal nonton dengan Bram.
'Aku akan buat acaramu gagal, Mitha.' batin Alfian, sambil melihat tajam ke arah Mitha, seperti sedang memberi peringatan ke Mitha. Namun Mitha yang memang merasa bahwa mungkin seperti itulah karakter Alfian, tidak menyadari akan tatapan tajam Alfian yang di tujukan kepadanya.
"Ya udah nanti jam 8 aku jemput."
"Ok,"
__ADS_1
Wajah Alfian tiba-tiba berubah dingin dan lebih banyak diam, kemudian Alfian meminta bill, Alfian langsung membayar semua makanan termasuk punya Bram dan juga punya Mitha.
Karena sudah selesai, maka mereka bertiga kembali ke proyek, setelah sampai di parkiran di halaman proyek, mereka semua keluar dari mobil dan menuju ke kantor.
"Tuan Al, kenapa tadi makan siang tidak mengajakku sih?" Tanya sekertarisnya dengan nada menggoda.
Mitha yang tidak ingin melihat kemesraan mereka pun langsung berjalan menuju ke kantor sementara yang di sediakan. Walaupun masih mirip dengan gudang, tapi itu lebih baik bagi Mitha, dari pada melihat Alfian yang bermesraan dengan sekertarisnya.
"Apa suatu keharusan aku mengajakmu makan siang?" Tanya Alfian dengan tatapan dinginnya ke arah sekertarisnya.
"Hah, bu-bukan begitu tuan,"
"Kerjakan tugasmu dengan benar jika masih ingin bekerja denganku." Ucap Alfian datar dengan tatapan tajamnya seakan memberi peringatan supaya Donita berhati-hati dengan ucapannya. "Dan lagi jaga sikapmu mulai sekarang."
"Ba-baik tuan, saya permisi." Ucap Donita.
'Pasti karena wanita yang bernama Mitha itu, makanya sikap tuan Al berubah jadi dingin begini, lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu mendekati tuan Al, hanya aku yang boleh melakukannya, Mitha.' batin Donita.
'Bagaimana pun caranya, aku harus bisa menggagalkan rencana kalian nonton.' batin Alfian.
Bahkan kini Alfian tidak pernah terpikirkan akan perasaannya kepada Rindu lagi, selain menganggap Rindu sebagai seorang adik yang harus dia lindungi. Apalagi melihat cinta Tajuk yang begitu besar kepada Rindu, membuat Alfian sedikit merasa tenang.
Memang benar jika cinta tidak bisa di paksakan, begitu juga dengan perasaan Alfian yang tidak mungkin bisa di paksakan kepada Rindu, apalagi Rindu pernah bilang jika menganggap Alfian adalah sosok seorang kakak yang sangat baik kepadanya dan selalu melindunginya selama ini.
Karena hal itulah kini Alfian berusaha memposisikan diri sebagai kakak buat Rindu, dan tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan kepada Mitha sekarang ini, yang jelas kini Alfian tidak terima jika Mitha dekat dengan laki-laki lain.
Mungkin karena Alfian tahu jika Mitha menyukainya, makanya Alfian mencoba untuk membuka hati kepada Mitha, tapi entahlah hanya Alfian yang tahu bagaimana perasaan dia sendiri saat ini.
'Sepertinya cara lama masih berfungsi, apapun itu yang penting aku bisa menggagalkan acara nonton kamu Mitha.' batin Alfian, kemudian tersenyum misterius.
Alfian segera kembali ke kantor pusat, dan menyerahkan beberapa pekerjaan kepada salah satu orang kepercayaannya. Di tempat pembangunan pusat perbelanjaan itu, Alfian merasa kesal, karena terus melihat keakraban Mitha dan juga Bram.
__ADS_1
Sehingga Alfian lebih memilih pergi dari lokasi itu, setidaknya dia bisa mengontrol emosinya sendiri saat ini jika jauh dari sumber yang membuatnya emosi. Jika dulu Alfian merasa bangga karena begitu banyak yang terpesona akan ketampanannya, namun tidak untuk kali ini.
Ketampanannya kini tidak berlaku bagi Mitha, di saat Alfian mabuk saja, Mitha mau dekat dengannya, tapi di saat seperti ini, jangankan dekat dengannya, tatapan mata mereka bertemu saja, Mitha mengalihkan pandangannya, seakan tidak ingin bersitatap dengan Alfian.
Sore hari pun telah tiba, kini Mitha dan Bram pun pulang dari tempat kerjanya, sebelum pulang ke rumahnya, Mitha dan Bram harus menyerahkan beberapa laporan kepada Rindu, sebelum akhirnya laporan tersebut jatuh ke tangan sang pemilik perusahaan (Tajuk).
"Rin, ini laporan untuk hari ini," ucap Mitha sambil menyerahkan berkas yang di bawanya dari proyek.
"Ok, biar aku cek." Ucap Rindu. "Kalian udah mau pulang?"
"Iya lah Rin, nanti malam Bram mengajakku nonton, makanya aku mau langsung pulang dan bersiap." Ucap Mitha. Sambil melihat ke sampingnya ke arah Bram.
"Hem," ucap Bram. menganggukkan kepalanya.
"Yaaahhhh, kenapa kalian gak bilang kalau mau nonton, biar aku bisa ikutan." Ucap Rindu terlihat lesu. Karena Rindu merindukan saat-saat menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya itu. Mitha dan Bram hanya terkekeh, melihat wajah kecewa Rindu saat ini.
"Ajak tuan Taj nonton sana," ucap Bram yang masih menahan ketawanya. "Biar ga bosan."
"Iya Rin, sekali-sekali ajak suami kamu nonton ke bioskop, biar seperti orang pacaran secara normal." Ucap Mitha.
"Aish, kamu kira mas Tajuk mau di ajak ke tempat gituan, weekend aja kami hanya menghabiskan waktu di apartemen, tidak pergi kemana-mana." Gerutu Rindu.
Bram dan Mitha kembali tergelak tawanya ketika mendengar ucapan Rindu. Ternyata semenjak menjadi istri si boss, waktu Rindu hanya tersita di apartemen dan kantor. Tidak bisa di bayangkan bagaimana suntuknya Rindu.
Ternyata obrolan mereka itu di dengar oleh Tajuk yang dari tadi menguping dari balik pintu, karena Tajuk tadi ada pertemuan di luar kantor dan baru kembali. Namun Tajuk sengaja menahan dirinya untuk masuk ke dalam ruangannya saat mendengar obrolan menarik dari tiga serangkai itu.
'Ternyata kamu ingin nonton, baiklah kita akan atur waktunya untuk menghabiskan waktu bersama sambil nonton.' Batin Tajuk dengan senyuman penuh makna.
Dulu memang sewaktu masih kuliah dan belum menikah, Tajuk dan Rindu sering nonton atau pun jalan-jalan berdua, tapi kini setelah pertemuannya kembali dengan Rindu, Tajuk tidak pernah mengajaknya untuk nonton atau jalan-jalan lagi, dan tanpa Tajuk sadari ternyata Rindu kesepian dan suntuk jika hanya menghabiskan weekend nya di apartemen.
Padahal Tajuk hanya ingin menikmati lebih banyak waktunya dengan Rindu di apartemen, dari pada pergi keluar. Di tambah lagi Tajuk tidak menyukai tempat yang begitu ramai dan berisik.
__ADS_1
Bersambung