Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Meluruskan kesalah pahaman


__ADS_3

Alfian yang berniat akan pergi ke kantornya, mengurungkan niatnya dan langsung membelokkan mobilnya ke arah sebaliknya. Dia tidak memikirkan hal lain lagi selain Rindu yaitu ingin tahu penjelasan dari Tajuk maupun Rindu, tentang kejadian apa yang membuat mereka terpisah tiga tahun lalu.


Alfian menginjak pedal gas mobilnya. Agar dia bisa secepatnya ke perusahaan Tajuk. Dia harus menemui Rindu ataupun Tajuk segera. Sebelum sampai di kantor milik Tajuk, Alfian lebih dulu menghubungi Tajuk, namun tidak di angkat. Akhirnya Alfian mengubungi Rindu.


"Halo, Rin. Aku akan ke kantor Taj, bisakah kamu luangkan sedikit waktumu untuk menemuiku? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini aku sudah di dekat tempatmu bekerja." Ucap Alfian.


'Akhirnya aku ada kesempatan untuk menjelaskan ke kak Al, semoga mas Tajuk tidak salah paham jika aku menemui kak Al sendirian.' Batin Rindu.


"Oh iya kak, kebetulan aku sedang ada di luar. Lagi makan siang di restoran dekat kantor, kakak kesini saja." Ucap Rindu.


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Alfian menutup panggilan teleponnya. Kemudian menambah kecepatan supaya cepat sampai di tempat tujuan.


"Siapa Rin?" Tanya Mitha.


"Kak Al, yang waktu itu ketemu di club." Ucap Rindu. Yang hanya di angguki oleh Mitha sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


'Aish kenapa dia malah ke sini sih, apa yang akan aku katakan kalau nanti ketemu dia? Apa dia akan mengenali aku?' Batin Mitha. Seolah menutupi rasa gugupnya. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini Mitha hampir tiap hari bertemu dengannya. Bahkan Mitha mengetahui hubungan cinta segitiga mereka.


Sesampainya di tempat tujuan, Alfian segera keluar dan menuju ke arah meja Rindu yang ternyata sedang duduk bersama dengan Mitha sahabatnya. Menikmati makan siangnya di sana.


Alfian hanya melihat keberadaan Rindu dan Mitha yang sedang menunggunya, dan berhenti tepat di depan Rindu. Lalu menarik kursi di depan Rindu.


"Maaf jika menunggu lama." Ucap Alfian. Yang duduk di kursi yang tadi di tariknya.


"Tidak juga kok tuan Al." Ucap Mitha. Karena Mitha tahu saat ini Rindu seperti belum siap untuk mengatakan sesuatu, terlihat dari wajahnya yang gugup saat melihat kedatangan Alfian.


Rindu yang sudah menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada Alfian tentang hubungan rumah tangganya dengan Tajuk. Kini seolah hilang semua kosa kata yang ada di kepalanya saat melihat kedatangan Alfian.


Alfian yang memang tahu tentang kedekatan Mitha dan Rindu, tidak merasa canggung lagi. Apalagi sepertinya Mitha juga sudah tahu tentang apa yang terjadi pada hubungan Tajuk dan juga Rindu.


"Kak Al."

__ADS_1


"Rindu."


Ucap kedua orang itu bersamaan, membuat Mitha jadi terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Aku pamit duluan ya Rin, tuan Al, udah waktunya jam masuk kantor." Ucap Mitha.


"Oh iya. Makasih ya Mith," Ucap Alfian. "Maaf aku pinjam dulu teman kamu."


"Iya Tuan, sudah seharusnya kalian menyelesaikan masalah kalian. Agar tidak berlarut-larut." ucap Mitha.


Rindu hanya mengangguk, sedangkan Alfian melihatnya seakan merasa tidak asing dengan suara Mitha atau pun wajah Mitha, tapi dimana dia melihatnya? Begitulah yang berusaha Alfian ingat.


Setelah kepergian Mitha, kecanggungan di antara keduanya semakin terasa. Bahkan Rindu yang merasa bersalah pada Alfian tidak dapat menyembunyikan kegugupannya.


"Rin."


"Iya kak, aku.."


"Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, Supaya aku tidak salah paham tentang berita pernikahan kamu dan Tajuk yang secara tiba-tiba itu. Jujur aku kecewa dengan kamu. Kenapa tidak dari awal kamu bilang jika kamu belum bercerai dengan suami kamu yang ternyata adalah sahabatku sendiri Tajuk." Ucap Alfian berusaha meminta penjelasan dari Rindu.


"Katakan padaku, kenapa sejak awal, kamu tidak pernah berkata jujur padaku Rin?" tanya Alfian, yang terus menuntut jawaban dari Rindu.


"Kak, selama ini aku selalu berkata yang sebenarnya sama kak Al. Aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk membohongimu kak. Tolong Percayalah padaku!" ucap Rindu dengan perlahan.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu Rin? Selama ini kamu tidak pernah mengatakan padaku bahwa kamu itu adalah Istri sah dari Tajuk. Padahal kamu tahu kalau kami itu berteman baik. Dan yang aku tahu, selama ini kamu itu adalah seorang janda. Kenapa kamu tega menipuku, Rin? Kenapa? Apa salahku padamu? Sampai-sampai kamu tega melakukan ini padaku." Ucap Alfian pada Rindu.


Alfian begitu kesal. Kesal pada Rindu. Kesal pada apa yang telah terjadi. Dan kesal pada dirinya sendiri. Dan entah kenapa saat ini perasaan Alfian terluka ketika berhadapan dengan Rindu. Padahal bukan untuk ini tadi tujuan Alfian ingin menemui Rindu.


Alfian tidak tahu bagaimana caranya untuk mengekspresikan suasana hatinya saat ini. Perasaannya tiba-tiba begitu berantakan dan kacau setelah bertemu dengan Rindu.


"Tolong kak, dengarkan dulu penjelasanku," Rindu memohon pada Alfian yang sudah terlihat sangat kecewa padanya. Dan Rindu memahami bagaimana perasaan Alfian saat ini. Yang pasti sangatlah kacau.


"Rin, kamu sangat tahu kalau aku sudah terlanjur mencintaimu. Bahkan aku sudah sampai melamarmu! Memintamu untuk jadi istriku, lantas bagaimana kamu memintaku untuk mempercayaimu? Sedangkan apa yang kamu lakukan itu bertolak belakang dengan kenyataan yang ada." Ucap Alfian. 

__ADS_1


Alfian menumpahkan semuanya yang ada di dalam pikirannya. Dia menumpahkan kekesalannya dan juga kekecewaannya pada Rindu yang kini sudah ada di depannya.


"Kak Al, please dengarkan dulu penjelasanku. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Setelah kamu mendengarkan penjelasanku, terserah kakak, Apa pun yang jadi keputusan kak Al, aku akan terima. Bahkan jika kak Al membenciku seumur hidup kak Al, silahkan."


Ucapan Rindu membuat Alfian sadar bahwa dia sudah terbawa emosi. Hingga tidak memberikan kesepatan untuk Rindu menjelaskan semuanya. Padahal tujuan Alfian menemui Rindu kan untuk mendengarkan penjelasan dari Rindu tentang semua yang terjadi.


"Baiklah, sekarang katakan padaku, dan Jelaskan secara rinci," ucap Alfian dengan emosi yang tertahan.


Rindu pun menarik nafasnya sejenak untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak, aku pernah cerita sama kakak kan? Tentang Surat cerai itu." Ucap Rindu memulai ceritanya, yang di angguki oleh Alfian. "Ternyata surat cerai yang aku terima itu palsu kak. Aku baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Mas Tajuk mengaku tidak pernah memberikan surat cerai padaku, bahkan mas Tajuk yang menyuruh orang untuk menyelidikinya. Dan terbukti jika Surat cerai itu palsu! Padahal selama ini aku sudah berpikir bahwa mas Tajuk sudah mencampakkaku dengan mengirimkan surat cerai tanpa menemuiku, sehingga aku berpikir jika aku telah jadi janda." Ucap Rindu.


Mendengar hal itu Alfian terdiam, bahkan dia menatap dalam ke arah mata Rindu, seolah memastikan jika Rindu tidak berbohong padanya.


"Mas Tajuk sendiri juga tidak menyangka kalau hal ini bisa terjadi pada kami berdua. Karena kesalahpahaman ini, kami bahkan sampai berpisah begitu lama. Dan Karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman seperti ini lagi, mas Tajuk sengaja mengumumkan status pernikahan kami, sekaligus mencari tahu siapa yang telah memalsukan surat cerai itu." Ucap Rindu.


'Pasti ulah Tante Sofi, tidak salah lagi pasti dia.' Batin Alfian.


"Aku sungguh tak ada niatan untuk menipu kakak, karena aku sendiri juga baru mengetahuinya belum lama ini, sewaktu kakak bilang jika kak Al ada kerjaan di luar negeri waktu itu." ucap Rindu lirih. "Itu saja yang bisa aku jelaskan padamu kak. Apa pun keputusan kak Al, aku tidak akan memaksa kak Al untuk percaya padaku." Rindu menutup ceritanya dan menundukkan kepalanya.


Rindu terlihat pasrah, Rindu tidak ingin berharap banyak pada jawaban yang akan diberikan oleh Alfian. Karena dia juga korban dari insiden ini. Bahkan karena hal ini, Rindu terpisah dengan Tajuk selama tiga tahun.


Alfian menghela nafas panjangnya, Alfian tercengang mendengar penjelasan dari Rindu. Dia tidak menyangka betapa sulitnya kehidupan yang dihadapi oleh Rindu. Dia sadar, Rindulah yang menjadi korban di sini. Dia tidak berhak untuk merasa kesal atau marah pada Rindu.


"Baiklah, aku percaya padamu, dan aku berharap kita masih bisa jadi teman baik seperti dulu. Jangan sampai masalah ini mempengaruhi persahabatan kita." Ucap Alfian dengan senyuman terbaiknya, sehingga mampu melelehkan hati setiap wanita yang melihatnya.


"Rin, aku akan melepaskanmu untuk Tajuk. Aku minta maaf karena sudah berpikiran sempit terhadapmu. Tadi juga, aku sudah dengan kasar melampiaskan amarahku padamu. Maafkan aku Rin, aku benar-benar khilaf." Ucap Alfian tulus.


"Aku juga minta maaf kak. Karena waktu itu aku tidak langsung mengatakannya pada kakak, karena sikap mas Taj yang, yaaa, begitulah. Sehingga membuat semua gerak-gerikku di awasi seperti buronan." Ucap Rindu yang mulai menyunggingkan senyum tipisnya sambil menatap Alfian dengan penuh harap.


Dia berharap Alfian tidak membencinya dan masih mau berteman dengannya. Alfian adalah teman yang baik baginya selama ini. Bahkan sudah seperti kakak laki-laki bagi Rindu.


Pada akhirnya, kesalahpahaman di antara keduanya, telah teratasi dengan baik, bahkan berakhir baik pula, mereka berbincang - bincang sejenak. Setelahnya, Alfian mengantar Rindu kembali ke perusahaan tempatnya bekerja sekaligus perusahaan milik suaminya. Dia ingin menemui Tajuk untuk membahas tentang rencana Tante Sofi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2