Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Apakah ini cinta?


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Alfian melajukan mobilnya dengan penuh emosi, hingga tidak peduli akan jalanan di depannya. Yang Alfian inginkan saat ini adalah segera sampai di rumah Mitha.


Saat ini Alfian sudah berada di depan rumah Mitha, namun mobil Mitha belum kelihatan, dan itu pertanda jika Mitha saat ini belum pulang. Dengan setia Alfian menunggu di seberang jalan.


Kurang dari setengah jam, akhirnya mobil Mitha pun telah memasuki halaman, terlihat Mitha telah keluar dari mobilnya bersamaan dengan seorang lelaki bersamanya. Yang tak lain adalah Bram.


"Jadi benar, ternyata kalian benar-benar kencan malam ini." Gumam Alfian. Dengan mencengkeram erat setir mobilnya bahkan sesekali Alfian memukul kemudi mobilnya. Melihat lelaki yang keluar itu adalah Bram, Alfian semakin frustasi. Apalagi Alfian teringat akan sesuatu yaitu kata-kata Bram yang bilang tentang dirinya sebagai calon suami Mitha.


Setelah melihat Bram yang telah pulang menggunakan motornya, Alfian pun dengan segera berlari kecil menyebrangi jalan dan menuju ke halaman rumah Mitha.


Mitha yang baru saja ingin menutup pintunya di kejutkan oleh sebuah tangan yang mendorong pintu rumahnya, sambil menaruh kakinya di tengah-tengah pintu sebagai penghalang.


"Tu-tuan Al," ucap Mitha tergagap karena benar-benar terkejut akan kedatangan Alfian.


Tanpa banyak bicara Alfian masuk ke dalam rumah Mitha tanpa menunggu sang pemilik rumah untuk mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Tentu saja itu membuat Mitha bingung.


'Kenapa tuan Al ada di sini?' batin Mitha.


Bingung dengan apa yang terjadi secara tiba-tiba itu, bahkan beberapa pertanyaan muncul di kepalanya saat ini. Dari mana Alfian tahu alamat rumahnya? Mau apa Alfian datang ke rumahnya? Terus dimana Donita si sekertaris ganjen itu sekarang? Karena terakhir tadi Mitha sudah jelas bilang supaya menjemput Alfian di klub malam.


Mitha menutup pintu rumahnya, di lihatnya sekilas jam dinding kini menunjukkan pukul 11 malam, lalu Mitha berjalan menuju ke pantry untuk membuatkan minuman untuk Alfian.


'Mau apa orang ini kesini? Padahal ini sudah hampir tengah malam.' batin Mitha di sela-sela kesibukannya membuatkan Alfian minuman.


Alfian kini hanya duduk diam di sofa ruang tamu, pandangannya tertunduk melihat lantai keramik di rumah Mitha, sedangkan tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangan saling bertautan.


'Apa yang harus aku katakan sekarang? Setelah melihatnya, rasa amarah di dalam dadaku sirna begitu saja, bahkan aku pun tak punya alasan apa yang bisa membuatku emosi.' batin Alfian.


Dan memang tadinya Alfian ingin meluapkan semua emosinya, meluapkan bagaimana tidak terimanya dia saat melihat Mitha keluar dengan Bram. Tapi rasa ingin marah yang tadi menguap begitu saja saat melihat wajah Mitha.


Mitha berjalan menghampiri Alfian dengan membawa dua buah gelas minuman, setelah meletakkan gelas minuman untuk Alfian, lalu dia duduk di depan Alfian.


"Minum dulu tuan," ucap Mitha mempersilahkan.

__ADS_1


"Hem," jawabnya.


Namun Alfian masih terdiam dengan posisi yang masih sama, yaitu tertunduk melihat ke bawah. Pikiran Alfian masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Sesaat suasana sunyi tanpa ada yang berani memulai pembicaraan, hanya suara detak jam dinding yang saat ini lebih mendominasi. Mitha sebenarnya menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Alfian sampai hampir tengah malam begini datang ke rumahnya. Ada hal penting apa yang akan di sampaikan olehnya?


Mitha melirik Alfian yang masih saja tertunduk seperti posisi di awal kedatangannya. Dan hanya sesekali terlihat Alfian menghela nafas panjangnya. Beban berat apa sebenarnya yang di alami oleh lelaki di hadapannya itu.


"Emm, maaf nih tuan, sebenarnya ada perlu apa tuan Al malam-malam begini datang ke rumah saya? Kalau ada hal yang penting dan perlu di bicarakan, apa gak sebaiknya menunggu besok saja saat sudah di kantor."


Mendengar ucapan Mitha, Alfian mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Mitha, seakan ucapan Mitha mampu membangkitkan kembali emosinya.


"Jadi kalau tidak ada hal yang penting, kamu tidak mengijinkan aku kemari? Atau hanya Bram yang boleh ke sini dengan bebas dan sesuka hati?" Tanya Alfian dengan tatapan sinis dan senyum kecutnya.


Mitha mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar ucapan Alfian barusan, perlu waktu beberapa detik untuk mencerna apa maksud pertanyaan Alfian itu.


"Hah, maksud tuan Al apa ya? Kok saya sedikit bingung." Ucap Mitha, karena memang Mitha benar-benar bingung dan tidak mengerti akan maksud ucapan Alfian.


Alfian pun beranjak dari duduknya lalu kemudian duduk tepat di samping Mitha, tidak tahu kenapa Mitha secara refleks menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Alfian. Namun semakin Mitha bergeser menjauhinya, semakin Alfian bergeser mendekatinya.


'Ini apa-apaan sih tuan Al, kenapa membuatku ketakutan tidak jelas begini, mana jantungku dag-dig-dug tidak karuan lagi.' batin Mitha.


"Kamu pernah bilang kalau kamu menyukaiku bukan?" Tanya Alfian dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Mitha. Hingga jaraknya dengan Alfian hanya beberapa centi, bahkan aroma khas alkohol tercium saat Alfian berbicara.


Mendengar pertanyaan Alfian membuat jantung Mitha berdetak kencang, ekspresi terkejut sekaligus bingung tergambar begitu jelas di wajah Mitha saat ini.


'Sepertinya tuan Al sedang mabuk, makanya ngelantur omongannya.' batin Mitha.


"Maaf Tuan, sepertinya tuan kurang sehat, sebaiknya saya antar tuan pulang, sekarang." Ucap Mitha mendorong dada Alfian supaya menjauh darinya.


Namun Alfian tak bergeming, tatapannya semakin tajam melihat ke arah Mitha, saat Mitha sekilas melihat ke arah Alfian, tatapan keduanya sempat beradu, sebelum akhirnya Mitha mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Katakan padaku, apakah kamu mencintaiku?" Tanya Alfian dengan masih melihat ke arah mata Mitha.

__ADS_1


Sekali lagi di tanya seperti itu, Mitha kembali salah tingkah, bahkan kelihatan jika wajahnya terlihat gugup, dengan wajah merah merona.


"Tu-tuan, tolong jangan seperti ini, kita bisa kan bicara secara normal." Ucap Mitha. Yang memang merasa kurang nyaman, karena posisinya yang begitu dekat.


Dengan menghela nafasnya secara kasar, Alfian membenahi posisi duduknya, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, kepalanya yang tersandar di sofa itu menoleh ke arah Mitha.


"Maafkan aku, mungkin aku membuatmu takut," ucap Alfian. "Bolehkah aku menginap di sini malam ini? Aku sangat lelah, rasanya aku tak sanggup lagi untuk mengemudikan mobilku pulang ke apartemen." Ucap Alfian, dan memang sepertinya Alfian kelihatan sangat capek.


"Hah! Ta-tapi tuan.."


"Tenang saja aku tidak akan macam-macam sama kamu," ucap Alfian lagi.


'Tapi kan anda mabuk tuan Al, tetap saja membuat saya takut.' batin Mitha.


"Ba-baiklah, biar saya siapkan kamar tamunya terlebih dahulu, tunggu sebentar." Ucap Mitha.


Alfian hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu Alfian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Tak lama Mitha pun meninggalkan Alfian untuk menyiapkan kamar tamunya, supaya Alfian bisa beristirahat dengan nyaman.


Setelah selesai menyiapkan kamar tamu, Mitha kembali ke ruang tamu untuk menyuruh Alfian istirahat.


'Hem, malah tertidur di sini,' batin Mitha, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mitha tidak mau mengganggu Alfian yang mungkin saja baru tertidur. Mitha mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Alfian supaya tidak kedinginan.


Setelah menyelimuti tubuh Alfian, Mitha masuk ke dalam kamarnya. Karena Mitha juga butuh istirahat malam ini.


Sebenarnya Alfian belum tertidur saat Mitha mengambilkan selimut untuknya, Alfian sedang berpikir, kenapa tadi Mitha tidak menjawab pertanyaannya, apakah Mitha mencintainya atau tidak? Padahal Alfian hanya ingin meyakinkan dirinya jika dia memang membutuhkan Mitha saat ini.


'Aku akan buat kamu menjauh dari Bram, bagaimanapun caranya, aku harus melakukan itu.' batin Alfian. 'Apa sebaiknya aku minta tolong sama Rindu? Dia pasti tahu semuanya tentang Mitha. Mengingat mereka adalah sahabat dekat.'


Malam ini pikiran Alfian di penuhi segala hal tentang Mitha, bahkan Alfian sempat berpikir untuk membuat Bram menjauhi Mitha, atau pun sebaliknya.


Alfian tidak tahu dengan perasaannya sendiri saat ini, apakah dia mulai mencintai Mitha? Atau hanya perasaan kekaguman sesaat? karena kebaikan Mitha, membuat Alfian berniat untuk mendekatinya.


Yang jelas saat ini Alfian tidak rela ada laki-laki lain yang mendekati Mitha, termasuk Bram. Malam ini Alfian tidak bisa tidur, karena Alfian seakan sedang berperang dengan hatinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2