Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Sebuah pujian yang di harapkan.


__ADS_3

Yang jelas saat ini Alfian tidak rela ada laki-laki lain yang mendekati Mitha, termasuk Bram. Malam ini Alfian tidak bisa tidur, karena Alfian seakan sedang berperang dengan hatinya sendiri.


Di dalam kamarnya Mitha juga tidak bisa tidur dengan nyenyak, entah karena adanya Alfian di rumahnya, sehingga Mitha harus waspada, atau memang karena hal lain yang membuat Mitha gelisah.


'Sebenarnya Apa maksud tuan Al menanyakan Aku mencintaimu atau tidak? Kemarin saat aku antarkan tuan Al ke apartemennya, dia juga menanyakan hal yang sama, kenapa malam ini menanyakan hal yang sama juga?' batin Mitha.


Karena memikirkan hal itu Mitha berguling ke sana kemari di atas kasur, apa lagi jika teringat dengan pertanyaan dari Alfian, membuat Mitha punya pikiran jika Alfian juga punya perasaan yang sama dengannya, yaitu menyukai atau bahkan mencintainya.


"Ah nggak mungkin, nggak mungkin, sepertinya tadi tuan Al mengira jika aku ini adalah Rindu, makanya dia nanya hal seperti itu, dari dulu kalau dia mabuk kan selalu mencari Rindu bukan yang lain, jadi pasti tadi juga sama." Gumam Mitha. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mitha kembali berguling ke samping kanan hingga posisi telentang, sampai selimut yang di kenakannya melilit tubuhnya hingga ke dada. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Membayangkan hal-hal yang tidak akan mungkin terjadi dalam hidupnya, salah satunya jika Alfian mencintainya adalah hal yang mustahil.


"Sebenarnya sejak ketemu di klub waktu itu, dan pertama kalinya juga mengantar tuan Al pulang dalam keadaan mabuk, hatiku sudah tergerak untuk mencintainya sih, tapi mengingat jika tuan Al dan sekertarisnya dekat bahkan pelukan di kantor, membuatku jadi takut untuk dekat-dekat dengan Tuan Al." Gumam Mitha. "Di kantor aja udah berani peluk-pelukan, gimana kalau di luar kantor? Kayaknya akan terjadi hal yang lebih dari sekedar pelukan deh." Gumam Mitha.


"Tapi sebenarnya ada apa sih tuan Al malam-malam kesini? Kan tadi juga sekertarisnya sudah ku suruh jemput dia di klub malam." Ucap Mitha menimbang alasan apa yang membuat Alfian terdampar di rumahnya.


Memikirkan hal itu membuat Mitha jadi kesal sendiri, belum apa-apa aja udah makan hati, gimana kalau sudah beneran dekat? Pasti akan lebih makan hati dan bakal bikin sakit hati. Begitulah yang ada di kepala Mitha.


"Aish, kenapa justru memikirkan tuan Al sih? Gak penting banget."


Karena berguling kesana kemari dari tadi, kini akhirnya Mitha pun tertidur, dengan nafasnya yang teratur dan terlihat pulas banget. Bahkan Mitha tak menyadari sesuatu jika di depan pintu kamarnya dari tadi ada yang menguping ocehannya, bahkan memperhatikan tingkah lucunya di dalam kamar.


Kebiasaan Mitha memang selalu ceroboh, tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Niatnya tadi Alfian ingin mengatakan sesuatu pada Mitha, mungkin Alfian akan berusaha menjelaskan jika waktu itu dia tidak memeluk sekertarisnya, tapi justru sekertarisnya yang berusaha menggodanya dengan berbagai cara.


Saat melihat pintu kamar Mitha yang sedikit terbuka, membuat Alfian mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, dan lebih memilih untuk mengintip dan menguping apa yang di lakukan oleh Mitha di dalam kamar. Apalagi saat Alfian mendengar namanya di sebut-sebut Mitha.


Alfian dengan sengaja mengintip dan juga menguping semua ocehannya Mitha dari A samping Z. Alfian tersenyum sendiri mengingat apa yang barusan di dengarnya.


"Jadi kamu berpikir jika aku dekat dengan Donita? Pantas saja dari tadi kamu seperti menghindar dariku. Dan sengaja menyuruh Donita ke klub." Gumam Alfian. "Apa aku bisa menyimpulkan jika kamu sedang cemburu?"


Senyuman Alfian saat ini terlihat lebih cerah dari sebelumnya, walaupun belum ada kemajuan yang berarti dalam hubungannya dengan Mitha, tapi mengetahui jika Mitha mencintainya, membuat hati Alfian begitu girang.


Alfian seolah tak terima jika Mitha akan terus-menerus menghindarinya, apalagi mengetahui kedekatan Mitha dan Bram, hati Alfian seperti terbakar. bagaimanapun juga Alfian merasa tisak suka jika Mitha lebih dekat dengan Bram, bahkan tekad Alfian mulai kuat untuk mendapatkan Mitha supaya berada di sisinya.


Setelah tahu jika Mitha mencintainya dari pertama kalinya mereka bertemu. Menambah poin plus bagi Alfian untuk mendapatkan hati Mitha tanpa harus bersusah payah. Mungkin saat ini Alfian belum begitu kuat dengan perasaannya kepada Mitha, tapi yang jelas saat ini Alfian terlihat cemburu buta jika melihat Mitha dekat dengan Bram.


"Akan aku buat kamu mengakui perasaanmu terhadapku Mitha. Dan hanya boleh kepadaku bukan yang lain." Ucap Alfian dengan senyuman penuh makna.


Tidak ada yang tahu apa yang sedang di rencanakan Alfian saat ini, tapi sepertinya itu adalah sebuah rencana yang akan membuat Mitha bertekuk lutut kepadanya.

__ADS_1


Alfian berbalik badan dan berjalan meninggalkan depan kamar Mitha, bahkan Alfian sudah seperti orang gila yang hanya tersenyum sendiri, lalu Alfian kembali berbaring di sofa ruang tamu, padahal Alfian tahu jika kamar tamu sudah di siapkan, tapi tidak tahu kenapa Alfian lebih nyaman di sofa dari pada di kasur empuk di kamar tamu.


***************


Pagi hari ini terlihat lebih cerah, tapi karena tadi malam Mitha tidurnya terlalu malam atau menjelang pagi, kini Mitha telat bangun. Saat bangun tidur jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi.


Dengan terburu-buru Mitha mencuci muka dan gosok gigi, bersiap untuk ke dapur dan menyiapkan sarapan pagi. Mengingat jika ada Alfian di rumahnya kali ini.


Sambil berlari kecil menuju ke dapur, dengan tangan yang sibuk mengikat rambut panjangnya, namun langkahnya terhenti di dekat meja makan saat melihat Alfian sudah ada di dapur, sibuk memasak.


Lengan kemeja panjangnya di gulung sampai ke siku, serta celemek yang di kenakannya untuk melindungi bajunya dari percikan minyak atau kotoran saat sedang memasak, membuat Alfian terlihat sangat tampan di mata Mitha.


'Tampannya,' batin Mitha yang tak berkedip saat melihat Alfian sibuk di dapur.


"Pagi Mitha," sapa Alfian saat melihat Mitha ada di dekat meja makan.


"Eh, i-iya tuan, selamat pagi." Jawab Mitha kemudian berjalan mendekati Alfian. "Ada yang bisa saya bantu tuan Al?" Tanya Mitha yang sudah ada di dekat wastafel.


"Ini sudah hampir selesai, kamu duduk saja di kursi, biar aku yang menyiapkan sarapan untuk kita." Ucap Alfian dengan senyuman mautnya. Sehingga membuat Mitha semakin terpesona.


"Hah, oh baiklah tuan. Kalau begitu sebaiknya saya bersiap biar tidak telat masuk kerja." Ucap Mitha.


'Oh God, kenapa dia tampan sekali? Meleleh hatiku tuan jika tuan selalu tersenyum seperti itu.' batin Mitha.


Lalu Mitha segera berbalik sebelum Alfian menyadari bagaimana rona wajah Mitha saat ini, yang pasti wajahnya akan terlihat merah merona seperti buah tomat yang telah matang.


Dengan memegangi dadanya karena tak dapat terkontrol lagi detak jantungnya itu, Mitha segera menjauh dari Alfian untuk kembali ke kamarnya, bersiap pergi ke kantor.


'Melihat wajahmu yang Blushing, kini aku yakin jika kamu memang benar terpesona denganku, tinggal langkah selanjutnya yang harus aku bereskan.' batin Alfian dengan senyuman misteriusnya.


Karena memang setiap detail apa yang di lakukan Mitha, tidak lepas dari penglihatan Alfian. Termasuk wajah Mitha yang merah merona hanya karena senyuman sederhana yang di lakukannya.


Sedangkan Mitha yang kini bersiap akan mandi, masih berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang masih begitu kencang. Sungguh pesona Alfian telah menguasai akal sehatnya.


'Ingat Mitha jangan sampai kamu terpesona dengannya, dia lelaki berbahaya, dia hanya suka mempermainkan hati wanita, jadi jangan sampai terpancing dengan senyumannya itu, ingat Mitha ingat.' batin Mitha yang kini sudah berada di kamar mandi, untuk menyemangati dirinya sendiri.


Setelah selesai dengan semua urusannya, kini Mitha keluar dari kamar sudah terlihat rapi dan juga lebih fresh. Mitha tidak melihat keberadaan Alfian di dapur.


"Apa mungkin tuan Al sudah pulang?" Gumam Mitha sambil menarik kursi untuknya di dekat meja makan. Sambil meletakkan tasnya di kursi sebelahnya.

__ADS_1


"Apa kamu akan melewatkan sarapan tanpa aku?" Tanya Alfian yang baru saja keluar dari kamar tamu.


Mitha menoleh melihat sumber suara, terlihat Alfian yang baru saja keluar dari kamar tamu dan sudah terlihat sangat rapi, bahkan terlihat lebih fresh serta telah berganti pakaian.


'Dari mana tuan Al bisa mendapatkan baju ganti sih?' batin Mitha. Dengan mengerutkan keningnya seakan penuh tanya.


"Oh, itu, saya kira tuan sudah pulang tadi." Ucap Mitha.


Alfian hanya tersenyum lalu berjalan mendekati meja makan untuk menikmati sarapan pertamanya bersama dengan Mitha. Alfian menarik kursi untuk tempat duduknya.


"Mana mungkin aku melewatkan makan sarapan bersama denganmu." Ucap Alfian.


"Hah," ucap Mitha yang terlihat shock saat mendengar ucapan Alfian.


"Bisa tolong ambilkan nasinya untukku?" Tanya Alfian mengalihkan kegugupan Mitha yang masih terlihat shock.


"Eh, iya." Jawab Mitha.


Dengan cekatan Mitha mengambil sarapan untuk Alfian, nasi goreng dan juga omelette sebagai menu makan sarapan mereka berdua pagi ini.


"Tuan Al sengaja bawa baju ganti ya?" tanya Mitha di sela mengambilkan nasi goreng.


"Oh baju ini? bukan, tadi asistenku mengantarkannya kemari." jawab Alfian sambil menerima piring yang di berikan Mitha.


Mitha hanya manggut-manggut sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf O, kini mereka pun memulai memakan sarapannya.


"Bagaimana nasi gorengnya?" Tanya Alfian saat melihat Mitha mulai memasukkan sesendok nasi gorengnya ke dalam mulut, terlihat penasaran dengan penilaian yang akan di berikan oleh Mitha.


'Gila, enak banget, dia ini lelaki macam apa sih? Kenapa semua serba bisa begini?' batin Mitha kagum.


"Oh ini, biasa aja sih tuan, hampir sama dengan yang di bawakan oleh Bram." Ucap Mitha berbohong. Karena Mitha tidak ingin menunjukkan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.


Alfian mengerutkan keningnya seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana bisa Mitha membandingkan dengan Bram? Sedangkan Bram adalah rivalnya saat ini.


"Oh," jawab Alfian terlihat lesu. Dia kecewa, wanita di sampingnya itu ternyata tidak terkesan sama sekali dengan masakan yang di buatnya.


Akhirnya keduanya menghabiskan sarapannya dalam diam, tak ada satu pun yang mulai pembicaraan setelah Mitha membandingkan masakannya dengan pemberian Bram.


Jangan di tanyakan bagaimana perasaan Alfian saat ini, yang jelas dia merasa kecewa dan juga semakin berambisi untuk mengalahkan Bram dalam hal apapun.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2