Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Pelajaran untuk kalian


__ADS_3

Siang itu tumben Tajuk menyuruh Rindu untuk makan siang bareng dengan Mitha, padahal biasanya juga Tajuk tidak pernah ngasih kesempatan untuk Rindu makan siang dengan orang lain.


Tidak ingin berpikir yang macam-macam Rindu akhirnya mengirimkan pesan kepada Mitha agar menunggunya saat mendekati jam makan siang tiba.


"Mas beneran ngijinin aku makan siang sama Mitha?" Tanya Rindu.


"Iya sweetheart, karena siang ini aku kan ada meeting dan tidak bisa menemanimu makan siang." Jawab Tajuk dengan tersenyum.


"Iya tahu, tapi kan meetingnya di kantor, gimana mas akan makan siang nanti?" Tanya Rindu yang memang tahu jadwal Tajuk hari ini meeting dengan beberapa rekan bisnisnya termasuk juga dengan Alfian.


Tajuk menarik tangan Rindu dengan sekali hentak sehingga Rindu duduk di pangkuan Tajuk. Dan karena takut terjatuh Rindu mengalungkan tangannya di leher Tajuk.


"Mas ih, nanti kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?" Protes Rindu.


"Tenang saja aku bisa mengunci pintunya dari sini." Jawab Tajuk seperti itu adalah hal yang mudah.


"Jadi, apa nanti mas mau di bungkuskan untuk makan siang?" Tanya Rindu


"Enggak usah sayang, karena meetingnya berubah di luar kantor, jadi sekalian makan siang bersama klien nanti." Ucap Tajuk yang kemudian mengecup kening Rindu sebelum Rindu meninggalkan ruangannya.


"Oh begitu, baiklah, kalau gitu aku akan menemui Mitha, kasihan dia nanti kalau menunggu terlalu lama."


"Ok sayang, pergilah, tapi jangan melihat pria lain di luar sana," ucap Tajuk.


"Pesan apaan seperti itu," protes Rindu dan beranjak dari duduknya. "Ah sudahlah aku pergi dulu, mas jangan lupa makan siang ya."


"Hem."


Akhirnya Rindu pun keluar ruangan menuju ke tempat Mitha untuk mengajaknya pergi makan siang bersama. Dan ternyata seperti dugaannya Mitha telah menunggu.


Setelah Rindu datang, mereka berdua pun berjalan ke lobby, dan memutuskan untuk makan di restoran dekat kantor. Seperti biasa Bram selalu mengekori dua orang wanita yang memang jadi sahabatnya di kantor.


Setelah tahu jika Rindu adalah istri bosnya, Bram pun tidak lagi berani mengganggu Rindu. Sejauh yang Bram tahu, Tajuk adalah orang yang sangat posesif dan pastinya tidak akan membiarkan siapapun dekat dengan istrinya.


Tajuk masih ada di dalam ruangannya, Tajuk segera menelpon Joe agar datang dan membawa beberapa orang yang masuk dalam daftar list merah untuk segera di singkirkan.


Tajuk memang sengaja menyuruh Rindu untuk pergi makan siang dengan Mitha, agar Rindu tidak melihat sesuatu yang memang tidak ingin di perlihatkan Tajuk di depan Rindu.

__ADS_1


Padahal bisa saja Tajuk menemaninya makan siang, karena Tajuk memang sudah membatalkan meeting kali ini tanpa sepengetahuan Rindu. Dan tidak ada yang lebih tahu apa yang ada di kepala sang big boss itu kecuali Joe, bagaimana sifat pendendam yang ada di diri si bos sudah ingin keluar.


Joe tahu bagaimana sang bos yang dingin itu akan terlihat kejam dengan orang yang telah mengusiknya, termasuk beberapa orang yang saat ini menjadi targetnya.


Joe memasuki ruangan Tajuk dengan membawa beberapa orang dari berbagai devisi di kantor, semua orang bertanya-tanya kenapa Joe asisten sekaligus orang kepercayaan Tajuk itu membawa mereka menghadap sang big boss.


Mereka semua berbaris rapi di depan meja kerja Tajuk, pandangan mata mereka tertunduk ke bawah, dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan, tidak ada yang berani melihat ke wajah Tajuk yang saat ini sepertinya sedang dalam mood yang buruk.


Joe berdiri di samping Tajuk yang terlihat sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, bahkan kehadiran mereka semua tidak ada yang berani mengusik konsentrasinya.


'Kalian yang sudah mengusik ketenangan Tuan muda, sebaiknya kalian bersiap dengan kemarahan tuan muda sebentar lagi.' batin Joe.


Setengah jam berlalu dengan suasana hening dan mencekam, tidak ada yang berani membuka suara. Hanya denting suara jam dinding yang memenuhi seisi ruangan Tajuk.


"Apa kalian tahu, kenapa aku meminta kalian semua datang kemari?" Suara Tajuk yang masih dengan menatap laptop di depannya.


Semua terkejut dengan pertanyaan sang bos, bahkan mereka seolah saling memberi kode kepada teman-temannya, seperti ingin bertanya, kesalahan apa yang kita buat, sehingga bos marah?


"Ma-maafkan kami tuan, apa ini menyangkut pekerjaan kami? Apa pekerjaan kami ada yang salah? Dan membuat tuan tidak puas." Tanya salah satu dari mereka yang terlihat gugup.


Mendengar pertanyaan salah satu dari orang yang sedang berbaris di depannya, Tajuk pun menghentikan aktivitasnya, lalu melihat ke arah mereka satu persatu.


"Dari kalian semua yang ada di sini, katakan padaku siapa yang kemarin membuat istriku sedih dan menangis? Sampai berani mengatakan hal buruk tentang istriku, bahkan menghinanya." tanya Tajuk dengan nada dingin, sehingga menambah suasana di dalam ruangan semakin mencekam.


Semua yang ada di dalam ruangan itu terlihat memucat, dan bahkan terlihat takut mendengar pertanyaan yang di luar dugaan mereka.


'*Apa ini artinya nasib pekerjaanku akan berakhir hari ini juga?'


'Mungkinkah? Rindu mengadukan aku pada bos.'


'Gawat kalau bos udah angkat bicara, pasti tamat karirku di sini.'


'Kenapa jadi seperti ini? Aku belum siap untuk di pecat dari perusahaan ini,'


'Hanya karena Rindu, karyawan rendahan itu, kenapa bos sampai marah seperti ini?'


'Kalau aku mengakui kesalahanku, apa bos akan memaafkan aku*?'

__ADS_1


Begitulah isi hati mereka semua, bahkan mereka semakin gugup dan takut karena tatapan Tajuk yang semakin tajam menusuk ke arah mereka satu persatu.


"Kenapa kalian semua diam? Bukankah kemarin kalian dengan bangganya bicara buruk tentang istriku," ucap Tajuk yang masih dingin menahan amarahnya.


"Mungkin kalian lupa dengan peringatan yang sudah kuberikan beberapa waktu lalu? jika siapapun yang berani berkata buruk tentang istriku, aku tidak akan segan memecatnya." ucap Tajuk dengan nada sinis. "Bahkan aku bisa jamin jika kalian tidak akan di terima kerja dimana pun juga, setelah keluar dari perusahaan ini." Ucap Tajuk yang mulai berdiri dari kursinya.


"Apa kalian lupa dengan itu? Atau aku terlalu berbaik hati pada kalian, hah? Jawab?" Ucap Tajuk dengan nada sedikit meninggi.


Mereka semua semakin terkejut dengan apa yang di katakan oleh Tajuk kali ini, semua ancaman Tajuk tidak bisa di anggap remeh. jika Tajuk bilang tidak akan ada perusahaan yang menerima mereka kerja, maka hal itulah yang akan berlaku. Mengingat jika perusahaan milik Tajuk mempunyai pengaruh yang sangat besar di dunia bisnis.


Tidak akan ada satu perusahaan pun yang berani menerima bekas karyawan yang bekerja di perusahaan Tajuk, setelah tahu jika mereka keluar karena di pecat. Dan itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan para pebisnis.


"Ampun Tuan, maaf kan kesalahan kami.. kami janji tidak akan mengulanginya lagi, tolong tuan ampuni kami tuan." Ucap mereka kompak,Tanpa aba-aba mereka semua menunduk dan bersujud, meminta pengampunan pada Tajuk yang saat ini sedang murka.


terlihat jelas jika Tajuk saat ini sudah tidak dapat lagi menahan emosinya, rahang kokohnya kini mengeras pertanda emosi yang telah ada di puncak ubun-ubun kepalanya.


"Kalian kira akan semudah itu, dengan bersujud dan meminta maaf semua akan baik-baik saja?" Ucapan Tajuk semakin meninggi dan menggema di seluruh ruangan. "Kalian itu tidak tahu apa-apa tentang hubunganku dengan istriku, tapi dengan berani kalian menghina istriku di kantor, kalian pikir kalian itu siapa, hah?


BRAAKKK!!


Tajuk menggebrak mejanya, membuat semuanya melonjak terkejut bercampur takut. Joe yang melihat ekspresi kemarahan Tajuk hanya bisa menghela nafas.


'Kalian yang memancing amarah tuan muda, jadi terima sendiri akibatnya.' batin Joe.


"Joe, pastikan jika mereka tidak ada di kantor ini lagi besok pagi!" Ucap Tajuk.


Semua terlihat terkejut dan semakin pucat pasi mendengar perintah dari Tajuk. Bagaimana nasib mereka? Setelah keluar dari perusahaan.


"Baik tuan muda."


Semua kembali terlihat panik dan sedih, bagaimana nasib mereka nanti setelah keluar dari tempat ini? dengan frustasi mereka memohon kebaikan hati Tajuk agar tidak di pecat dari kantor. Namun Tajuk yang masih emosi tidak bergeming sedikitpun.


Bagaimana bisa Tajuk memaafkan orang yang telah dengan sengaja menghina dan membuat istrinya menangis sedih? Tajuk tidak akan mudah melepaskan mereka.


Di saat suasana sedang tegang Rindu yang baru saja pulang dari makan siang memasuki ruangan Tajuk yang terlihat hening dan mencekam. Bahkan Rindu melihat beberapa orang memohon dan bersujud di depan meja kerja Tajuk.


'Ada apa ini? kenapa mereka sampai bersujud seperti ini? kesalahan apa yang mereka lakukan?' batin Rindu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2