Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Berdebar-debar.


__ADS_3

Tajuk dan Rindu serta Mitha kini sudah berada di restoran Jepang, keakraban Rindu dan Mitha sempat membuat Tajuk merasa cemburu, seolah Mitha telah menyita waktu Rindu siang ini.


Di sela menunggu makanan pesanan mereka datang, mereka mengobrol ringan, apalagi Mitha yang saat ini sudah mulai terbiasa dengan Tajuk, sehingga obrolan mereka sudah tidak sekaku sebelumnya.


"Kalian jika sudah bertemu lupa akan sekitar, Apa kalian lupa jika masih ada aku di sini ini?" Ucap Tajuk dengan wajah masam yang di buat-buat.


"Tuan Taj bukankah anda terlalu berlebihan? Salah anda sendiri jika bergabung dengan kami." Ucap Mitha. Karena memang setelah beberapa kali pertemuan, Tajuk dan Mitha telah akrab.


"Cih, dia istriku asal kamu tahu saja, Mitha." Ucap Tajuk, mendengus kesal.


"Istri kalau di rumah tuan, di kantor ini dia pegawai yang merangkap sebagai sahabatku, jadi waktu dia akan jadi milikku seutuhnya." Ucap Mitha


"Aish, sudahlah terserah kalian saja," ucap Tajuk yang akhirnya mengalah, kemudian Tajuk mengeluarkan ponselnya. Untuk melihat pesan masuk atau pun email. Bahkan Tajuk juga terlihat mengetik sesuatu di layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya.


'Apa maksud si Al ini?' batin Tajuk, saat melihat balasan dari Alfian lagi.


Namun karena tidak menaruh curiga yang berlebihan, maka Tajuk membalas pesan Alfian dan menyuruhnya datang ke restoran Jepang tempatnya akan melakukan makan siang kali ini.


Rindu yang melihat perdebatan kecil antara sahabatnya dan suaminya hanya tersenyum, bisa-bisanya mereka berdua berdebat selayaknya teman yang udah kenal lama. Apalagi mereka terlihat sangat akrab, membuat hati Rindu bahagia.


Bagi Rindu kebahagiaannya itu saat melihat Tajuk akan berbaur dengan temannya seperti saat ini tanpa ada sikap bossy yang mendominasi seperti di kantor. Dan pemandangan seperti ini sangatlah langka bagi Rindu.


Padahal bisa di bilang jika baru beberapa bulan terakhir ini mereka terlihat akrab, karena memang biasanya sikap bossy Tajuk lebih mendominasi dari pada sikap pertemanannya.


"Rin, nanti jadi kan ke rumahku? Kangen nih pengen ngobrol berdua-an sama kamu." Ucap Mitha.


"Eits, apa-apaan kamu Mitha, di kasih hati minta jantung, ga ada lagi ke rumah kamu, sepulang dari kantor dia sibuk di rumah." Ucap Tajuk kesal, bagaimana bisa udah dari tadi tidak di beri kesempatan untuk bicara dengan Rindu, malah bilang pula akan membawa Rindu ke rumahnya.


Tajuk seolah tidak terima akan hal itu, dan tatapan tajamnya di arahkan ke Mitha sebagai bentuk protes, dan itu membuat Rindu ingin sekali mencubit pipi sang suami yang terlihat menggemaskan seperti anak kecil yang berebut permen dengan temannya.


"Tuan, kenapa tuan sangat egois?" Tanya Mitha yang sudah kesal dengan Tajuk, karena sebenarnya Mitha ingin menceritakan sesuatu pada Rindu saat ini, tentang pertemuannya dengan Alfian beberapa kali di belakangnya.

__ADS_1


"Pokoknya ga ada Mitha, aku tidak akan mengijinkan dia pergi ke rumah kamu." Ucap Tajuk.


"Dasar suami posesif." Kesal Mitha.


"Yes i'm," ucap Tajuk bangga, walaupun maksud dari perkataan Mitha adalah mengatainya, namun Tajuk tidak tersinggung. Rindu terkekeh melihat hal itu.


"Maaf ya Mit, sepertinya kalau hari ini gak bisa, bagaimana jika lain kali? Karena memang hari ini aku sama mas Taj ada sedikit keperluan." Jawab Rindu.


"Yaaahhhh," ucap Mitha terlihat kecewa.


"Maaf ya." Ucap Rindu memegang tangan Mitha karena merasa tidak enak.


"Ternyata tuan Taj punya pengaruh besar sekarang." Sindir Mitha dengan melirik Tajuk yang seperti sedang menang lotre saat ini, karena senyumannya tidak juga luntur di wajahnya.


"Bukan begitu juga Mit, karena memang kami memang ada perlu malam ini, makanya aku tidak bisa." Ucap Rindu.


"Hem, iyalah, iyalah," ucap Mitha dengan wajah kesal yang di buat-buat, sehingga membuat Rindu terkekeh.


Senyum senang penuh kemenangan tergambar jelas di wajah Tajuk saat ini, di kantor boleh saja Mitha mengambil waktu sang istri tapi kalau setelah jam pulang kantor, waktu Rindu adalah miliknya, begitulah yang di pikirkan Tajuk.


"Hay, boleh aku gabung?" Tanya Alfian tiba-tiba saja duduk di kursi di samping Mitha, sehingga membuat Mitha terlihat terkejut.


"Sebenarnya mau bilang gak boleh sih kak, tapi kakak udah terlanjur duduk," ucap Rindu. yang melihat kedatangan Alfian.


"Jangan gitu Rin, aku udah lapar ini, tadi nyari seseorang tapi gak ketemu, makanya aku nyusul kalian aja kemari." Ucap Alfian yang tidak sepenuhnya berbohong, karena memang tadi dia mencari Mitha, dan tidak ketemu.


Untung saja tadi sebelum datang ke restoran Jepang itu, Alfian mengirimkan pesan WhatsApp terlebih dahulu ke Tajuk. Dan ajaibnya Tajuk mau membalas pesannya tersebut.


'Apakah tawaran makan siangmu tadi masih berlaku?' Isi pesan Alfian.


'Kenapa? Kalau lapar kemarilah, aku di restoran Jepang dekat kantor, dengan Rindu dan juga temannya.' Jawab Tajuk.

__ADS_1


'Apa teman Rindu itu Mitha?' balas Alfian lagi.


'Iya, kenapa?' Balas Tajuk.


'Ok, aku segera ke sana, perutku sudah lapar.' balas Alfian lagi.


Rindu hanya terkekeh melihat Alfian, sedangkan Tajuk meliriknya sekilas lalu melihat ke arah Mitha yang kini ekspresi wajahnya juga berubah.


Sesaat Tajuk teringat dengan beberapa pesan WhatsApp Alfian sebelum Alfian datang.


'Apa terjadi sesuatu antara Mitha dan Al? Dan mungkinkah jika orang yang di maksud olehnya tadi itu adalah Mitha?' batin Tajuk menebak akan situasi saat ini.


Tajuk tahu bagaimana sahabatnya itu, tapi untuk mendekati Mitha, sejak kapan? Karena Alfian tidak pernah menyinggung apapun tentang Mitha, yang Tajuk tahu jika Alfian masih belum bisa move on dari Rindu.


"Ya udah kak, pesan makanan sana, kalau lapar." ucap Rindu.


Alfian pun melambaikan tangannya memanggil pelayan, tidak lama seorang pelayan datang membawa buku menu. Kemudian Alfian memesan makanan untuknya sendiri.


Mitha yang dari tadi merasa tidak nyaman berdekatan dengan Alfian berniat untuk menggeser kursinya agak menjauh dari Alfian, namun belum sempat tergeser, tangan Alfian yang berada di bawah meja langsung mencegahnya.


Kemudian melihat ke arah Mitha dengan tersenyum, seolah senyuman Alfian mengandung makna sebagai larangan untuk jangan bergeser.


Deggg!!


Mitha yang tangannya tersentuh oleh Alfian menjadi berdebar-debar tidak karuan, bahkan terlihat grogi. Bagi Mitha berdekatan dengan Alfian saat Alfian sadar seperti saat ini, membuat kinerja jantungnya lebih cepat dari pada biasanya.


'Kenapa dengan tuan Al?' batin Mitha yang mengurungkan niatnya.


Pemandangan yang ada di depannya itu tak lepas dari penglihatan Tajuk, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan di kepalanya saat ini.


Tapi tidak dengan Rindu yang terlihat asyik tanpa menyadari kedekatan antara Alfian dan juga Mitha, karena Rindu juga tidak pernah mendengar jika Mitha pernah beberapa kali bertemu dengan Alfian.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka berempat dari kejauhan, yaitu dari luar restoran. Bahkan orang tersebut berdecak kesal melihat ke empat orang di dalam restoran yang terlihat bahagia.


Bersambung..


__ADS_2