
"Apa ini ada hubungannya dengan Al?" Tanya Tajuk tiba-tiba. Sehingga membuat Rindu menghela nafas beratnya.
"Huft, aku tidak ingin membahas apapun dengan mas kali ini, jadi tolong jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri." Ucap Rindu lirih.
Mendengar ucapan Rindu, sesaat Tajuk terdiam, bagaimana bisa Rindu bersikap seperti itu kepadanya. Hanya karena Tajuk ingin menunjukkan supaya Alfian tidak lagi mendekati istri tercintanya. Justru itu membuat istri tercintanya mengabaikannya? Tajuk kini terlihat kesal dengan sikap Rindu.
"Oh, apa pengaruh Al begitu besar dalam hidup kamu? Sehingga kamu lebih rela mengabaikan aku hanya karena tidak ingin melihat Al merasakan sakit hati saat melihat kemesraan kita." Ucap Tajuk dengan nada sinis. Kemudian Tajuk duduk sedikit menjauh dari Rindu dan melipat tangan di dada.
"Tidak kusangka kamu lebih suka melihat aku yang menderita, dari pada melihat Alfian yang tersakiti." Ucap Tajuk dengan senyuman sinis kepada Rindu. Tajuk seakan menertawakan dirinya sendiri, karena terlalu percaya diri kalau Rindu akan sepenuh hati mencintainya.
Ucapan Tajuk seperti belati tajam yang menyayat hati Rindu, bagaimana bisa suami yang sangat di cintainya bicara seperti itu kepadanya? Padahal bukan itu sebenarnya maksud Rindu. Tapi entah kenapa Rindu seolah tidak ingin membela diri dengan tuduhan Tajuk terhadapnya.
"Terserah mas mau ngomong apa, aku tidak ingin berdebat dengan mas kali ini." Ucap Rindu tak kalah dingin dengan Tajuk kali ini. Bahkan Rindu tidak mengalihkan pandangannya dari jendela kaca. Dan melihat ke luar jendela.
Tajuk semakin tersulut emosinya dengan jawaban Rindu, bahkan Tajuk merubah posisi duduknya menghadap Rindu yang masih saja memunggunginya.
"Oh, jadi apa yang aku bicarakan itu benar adanya, iya? Apa kamu punya perasaan kepada Al, begitu kah?" Ucap Tajuk dengan antusias dan menghadap ke arah Rindu. "Padahal sedikit lagi orang yang memalsukan surat cerai itu muncul, tapi tidak kusangka jika hatimu yang berubah." Ucap Tajuk dengan senyuman sinis.
Rindu menghela nafas panjangnya, Tidak tahan dengan ucapan Tajuk yang semakin membuat luka di hatinya. Rindu pun memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Tajuk yang terlihat emosi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang mas bicarakan, tapi yang aku tahu sepertinya mas tidak pernah percaya padaku." Ucap Rindu lirih. Kemudian Rindu menatap ke dalam manik mata Tajuk, tatapan mata Tajuk yang di penuhi oleh kecemburuan yang begitu besar di dalamnya.
Dengan sisa-sisa senyuman yang dimilikinya Rindu berusaha meraih tangan Tajuk dan menggenggamnya erat. Rindu menghela nafas beratnya kembali, untuk sekedar mengurangi beban yang ada di kepalanya saat ini.
"Sekarang katakan sama aku mas, aku harus gimana? Soal surat cerai palsu itu aku juga baru mengetahuinya. Dan jika kak Al mengira aku ini janda, itu juga bukan salah kak Al. Kita di sini sama-sama korban dari orang yang mempunyai kepentingan lain dengan mengambil keuntungan retaknya hubungan kita mas. Tapi kenapa mas justru semakin melukai kak Al dengan cara mas yang kekanak-kanakan seperti tadi." Ucap Rindu berusaha untuk mencurahkan isi hatinya.
"Apa mas mengira hanya mas disini yang jadi korban? Lantas bagaimana dengan aku? Aku yakin mas jika kak Al berpikir aku sengaja mengaku janda untuk menarik simpati darinya, atau bahkan kak Al berpikir bahwa aku berniat untuk menipunya. Selama ini kak Al yang selalu baik terhadapku, dia yang selalu ada saat aku butuh dukungan. Aku menganggap kak Al seperti kakak laki-laki yang selalu melindungiku. Bagaimana bisa mas punya Pikiran seperti itu kepadanya?" Ucap Rindu menumpahkan segala isi hatinya. "Mas sangat tahu perasaanku saat ini, jika cuma mas yang ada di hatiku, tapi kenapa mas selalu saja meragukan aku?" Ucap Rindu yang mulai meneteskan air matanya.
Degg!!
Melihat Rindu yang menangis di hadapannya, hati Tajuk merasa sakit, dengan segera Tajuk meraih tubuh Rindu ke dalam pelukannya.
Rindu hanya ingin menangis di dalam pelukan Tajuk kali ini. Bahkan Rindu juga membalas pelukan Tajuk padanya. Rindu membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Tajuk. Dada bidang Tajuk yang mampu membuatnya merasa nyaman.
'Maafkan aku sayang, tanpa memperdulikan perasaan kamu, aku sudah mengambil tindakan sendiri. Maafkan aku yang telah salah menilaimu, maafkan aku yang begitu bodoh telah meragukanmu.' Batin Tajuk yang masih memeluk tubuh Rindu.
Sang sopir yang menyaksikan secara live pertengkaran keduanya di dalam mobil, hanya terdiam dan hanya fokus dengan kemudi mobil dan juga jalanan di depannya.
'Tuan dan nyonya kalian membuatku iri, dan ingin segera pulang menemui istriku di rumah.' Batin sang sopir.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju ke apartemen mereka, Tajuk dan Rindu saling berpelukan. Seolah ingin meluapkan segala rasa cinta yang mereka rasakan, dan berusaha mengobati luka mereka masing-masing.
Karena obat yang paling mujarab adalah bersama dengan orang yang sangat kita cintai. Dan itulah yang dirasakan oleh Tajuk dan juga Rindu.
Sehingga tidak terasa kalau saat ini mereka sudah sampai di apartemen milik keduanya, sang sopir berusaha untuk menyampaikan jika mereka telah sampai di apartemen. Setelah tersadar Tajuk dan Rindu bergegas untuk turun dari mobil.
Dengan posesif nya Tajuk langsung mengangkat tubuh Rindu, dan menggendongnya menuju ke dalam apartemen miliknya. Walaupun Rindu meminta untuk di turunkan, namun Tajuk tidak menghiraukannya.
"Biarkan aku menebus kesalahanku dengan cara memanjakan istri yang sangat aku cintai ini. Ok sayang?" Ucap Tajuk dengan senyum wajah terlihat bahagia.
Karena tidak ingin berdebat dengan Tajuk, kini Rindu pun mengalah dan mengalungkan tangannya di leher Tajuk supaya tidak terjatuh. Dengan membenamkan kepalanya di dada bidang Tajuk.
Untuk menyembunyikan rasa malunya dari tatapan mata para karyawan apartemen, dan juga para penghuni apartemen yang lain yang sama-sama tinggal di apartemen mewah tersebut.
Rindu merasa sangat bahagia, walaupun Tajuk bersikap seperti itu, tapi Rindu tahu itu adalah bentuk dari rasa cinta Tajuk kepadanya. Tiga tahun tidak merubah perasaannya terhadap Tajuk. Bahkan semakin hari membuat Rindu semakin mencintai Tajuk.
Rindu berniat untuk menjelaskan semuanya kepada Alfian, setelah Alfian bersedia untuk bertemu dengannya, karena saat ini Alfian masih belum mau untuk bertemu dengannya. apalagi tadi Alfian mengabaikannya saat acara makan malam bersama di perusahaan Wiryawan berlangsung.
setelah sampai di depan apartemen miliknya, Tajuk menurunkan Rindu, kemudian Tajuk membuka pintu apartemen lalu menggiring Rindu masuk ke dalam. Tajuk mengikuti langkah Rindu yang berjalan menuju ke kamar, karena memang saat ini sudah larut malam.
__ADS_1
Bersambung