Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Pesona Alfian


__ADS_3

Tanpa basa-basi Alfian mengambil alih gelas yang ada di tangan Mitha. Sehingga membuat Mitha bengong, melongo tidak percaya.


"Aku haus, kenapa tidak mengambilkan aku minum, bibi," ucap Alfian.


'Hah, bibi?' batin Mitha. 'Iya kali ada bibi secantik aku gini.'


Tanpa ingin berdebat dengan Alfian yang sedang mabuk (yang Mitha tahu jika Alfian sedang mabuk), akhirnya Mitha berjalan menuju ke pantry, dan mengambil gelas baru. Karena memang Mitha masih terlihat haus.


'Orang mabuk apa sengeselin ini ya?' batin Mitha.


Alfian hanya memperhatikan Mitha dalam diam, karena Alfian sendiri juga bingung harus berbuat apa. Alfian meletakkannya gelas air minum yang telah kandas isinya itu di meja makan.


Kemudian Alfian duduk di kursi dekat meja makan. Pandangan matanya tidak lepas dari Mitha yang sedang menikmati minumannya.


'Aku akan menahanmu sebentar lagi,' batin Alfian.


"Bi, apa tidak ada makanan? Aku lapar." Ucap Alfian. Masih dengan aktingnya.


'Hah, Bi lagi? Gila bener tuan Al ini, masa tidak bisa bedain mana Bibi, mana gadis cantik sih? Sebel ih.' batin Mitha menggerutu kesal.


Lagi-lagi Mitha di buat terkejut dengan ulah Alfian kali ini, karena menurut Mitha biasanya juga tidak begini kalau Alfian mabuk. Kenapa kali ini Alfian terlihat aneh di mata Mitha?


"Iya tuan, silahkan duduk, biar saya buatkan makanan." Ucap Mitha dengan tersenyum. Kemudian Mitha meletakkan gelasnya dan berjalan menuju ke kulkas, dan melihat apa aja yang bisa di olah kali ini.


'Hanya tinggal sayuran ini aja, mau di buat apa enaknya? Apa capcay aja kali ya?' batin Mitha.


'Kita lihat seberapa besar tingkat kesabaran kamu Mitha.' batin Alfian.


Alfian hanya tersenyum misterius melihat Mitha yang sedang di kerjainnya. Alfian seolah sengaja mengulur waktu supaya Mitha tidak pergi dengan orang yang tadi di teleponnya.


'Temani aku sebentar lagi, dan aku tidak suka jika orang yang bernama Bram itu pergi bersamamu kali ini, apalagi dari kamu belum jawab pertanyaan aku Mitha.' batin Alfian, karena Alfian merasa nyaman dengan kehadiran Mitha di apartemennya, sehingga Alfian tidak rela jika Mitha buru-buru pergi.


Apakah rasa penasaran seseorang itu akan sama seperti yang di lakukan oleh Alfian? Bahkan sampai dengan sengaja menahan Mitha supaya tidak segera pulang, yang pasti jawabannya itu 'Tidak'.


Entahlah, apa yang di inginkan oleh Alfian dari Mitha, tapi sepertinya ini akan jadi kisah baru bagi mereka berdua. Walaupun Mitha menyukai Alfian, tapi belum tentu Mitha juga mencintainya, bukan? Ini baru awal mereka berinteraksi secara sadar (bagi Alfian). Karena biasanya Alfian beneran mabuk.


Alfian yang kini duduk di kursi dekat meja makan, kemudian dia melipat tangannya di atas meja sebagai bantalan kepala, karena memang saat ini Alfian mengantuk berat. Suara Mitha yang sedang sibuk memasak dan menyiapkan makanan untuknya pun seakan tidak terdengar lagi di telinga Alfian saat ini.


Satu jam berlalu, Mitha yang telah selesai memasak, sayur capcay, menyiapkannya di atas meja, dan menutupnya dengan tudung saji. Saat ingin melihat Alfian, sejenak Mitha memperhatikan wajah tampan Alfian yang telah tidur dengan pulas.


'Kalau seperti ini, tuan Al terlihat sangat tampan.' batin Mitha sambil tersenyum sendiri. Sejenak Mitha larut dalam pesona ketampanan seorang Alfian. Sampai setelah dia sadar, Mitha menggelengkan kepalanya.


"Gimana makanannya? Kok malah tidur, huft." Gerutu Mitha.


Namun Mitha tidak membangunkannya, malah mengambilkannya selimut, untuk menyelimuti tubuh Alfian. Karena memang sudah larut malam juga, Mitha memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Terlihat Bram sudah terlihat kesal karena menunggu terlalu lama, di tambah lagi Bram terlihat mengantuk. Setelah melihat Mitha keluar dari lobby apartemen, dengan bersiap Bram menyalakan mesin motornya kemudian menghampiri Mitha.


"Lama amat Mit, ngantuk banget ini." ucap Bram dengan mendengus kesal.


"Jangan banyak bicara, ayo jalan! Aku juga dah ngantuk banget." jawab Mitha. Yang bersiap naik ke atas boncengan motor milik Bram.


"Lagian kamu aneh jadi orang, ngapain coba kelayapan malam-malam gini? Terus itu apartemen siapa?" Tanya Bram dengan penuh rasa penasaran.


"Ish, cepatlah! Mau pulang apa ngobrol sih?" gerutu Mitha. Sambil menepuk bahu Bram.


"Iya iya, cerewet amat."


Tanpa banyak tanya lagi, Bram segera mengendarai motornya menembus dinginnya malam, apalagi ini sudah di atas jam satu. Semakin terasa dinginnya sampai menusuk ke tulang.


Karena memang udah di atas tengah malam, jalanan begitu lengang. Sehingga tak butuh waktu lama Bram dan juga Mitha sudah sampai di rumah mereka masing-masing.


"Makasih Bram."


"Hem, lain kali jangan menyusahkan lagi."


"Sialan kamu Bram."


Mitha yang mendengus kesal mendengar ucapan Bram, kemudian memukul lengan Bram. Terlihat Bram meringis kesakitan sambil mengusap lengannya yang terasa sakit.


Mitha yang memang sudah mengantuk itu hanya mencuci muka dan gosok Gigi, lalu membaringkan dirinya di ranjang kesayangannya.


"Haahhh, akhirnya bisa tidur dengan nyenyak juga." ucap Mitha terlihat lega.


Mitha meraih gulingnya, lalu kemudian memeluk guling tersebut dengan erat. Bahkan kedua kakinya mengapit guling tersebut seperti tidak mau di tinggalkannya.


"Good night and sweet dream Mitha." Gumam Mitha. Lalu dia benar-benar tidur dalam mimpi indahnya.


Di tempat yang lain, Alfian terbangun dari tidurnya. Alfian melihat keadaan di sekelilingnya, seolah mengingat-ingat kenapa dia bisa sampai tertidur di kursi dekat meja makan.


'Oh semalam karena menunggu Mitha yang memasak, aku sampai ketiduran di sini.' batin Alfian.


Kemudian Alfian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari, dan menoleh ke arah pantry yang telah sepi.


"Sepertinya Mitha pulang tanpa membangunkan aku terlebih dulu." Gumam Alfian.


Alfian meraba tubuhnya sendiri yang memakai selimut, sejenak Alfian tertegun, lalu tersenyum tipis. Saat menyadari jika tubuhnya tertutupi oleh selimut, dan Alfian yakin jika Mitha yang menyelimutinya.


"Benar-benar perhatian terhadapku," gumam Alfian.


Kemudian Alfian melihat ke meja makan di depannya, terlihat ada sayur capcay yang telah dingin tertutup tudung saji. Senyuman manis kembali terukir di sudut bibirnya. Alfian menutup kembali tudung saji itu, karena tidak mungkin dia akan makan di jam seperti saat ini.

__ADS_1


Alfian berpikir untuk menyantapnya saat sarapan tiba, kemudian Alfian melipat selimut yang menutupi tubuhnya dan meletakkannya di lengan, lalu Alfian masuk ke dalam kamar. Waktu menjelang pagi yang hanya tinggal beberapa jam itu, Alfian gunakan untuk kembali tidur.


Ketika pagi menjelang, Alfian yang memang sudah terbangun (atau mungkin tidak bisa tidur), segera mandi dan bersiap untuk memakan sarapannya. Dan entah kenapa Alfian terpikirkan akan masakan Mitha tadi malam.


'Aku akan memakannya, dia sudah capek-capek memasaknya, demi aku.' batin Alfian dengan senyum misteriusnya.


Dengan sengaja Alfian memanaskan sayur yang di masak oleh Mitha tadi malam menggunakan microwave. Dan menyiapkannya sendiri di atas meja, seperti orang yang tidak sabar untuk memakannya. Padahal ada bibi yang selalu siap menyiapkan semua kebutuhannya untuk sarapan.


Namun karena memang Alfian yang terlalu pagi bangun, jadi Bibi yang selalu membereskan apartemennya belum datang, biasanya jam 7 si Bibi datang untuk menyiapkan sarapan dan membereskan apartemennya.


"Lumayan, bisa di makan." Gumam Alfian saat mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ucapan lumayan dari Alfian bisa berarti pujian bagi Mitha, yang artinya enak.


'Ternyata Mitha pandai memasak,' batin Alfian memuji dengan tersenyum, perlahan makanan yang ada di piring itu pun kandas tak tersisa.


Setelah selesai dengan acara sarapannya, Alfian berangkat ke kantor. Sepanjang jalan Alfian terlihat bersenandung mengikuti alunan musik yang di putarnya di dalam mobil.


Sesampainya di lobby kantor, resepsionis yang baru saja bertugas di meja depan terlihat terkejut dengan kedatangan sang bos sepagi ini.


"Pagi tuan Al." Sapa resepsionis itu dengan ramah.


"Pagi." Jawab Alfian. Kemudian dia berlalu menuju lift untuk ke ruangannya.


'Tumben tuan Al datang sepagi ini, ada apa ya? Jangan-jangan ada masalah besar di kantor.' batin resepsionis itu.


Beberapa pegawai yang berpapasan di depan lift juga tak kalah terkejutnya dengan resepsionis yang di depan tadi, karena tidak biasanya Alfian datang sepagi ini.


"Pagi tuan Al," sapa mereka semua kompak dengan membungkukkan badan.


"Pagi," jawab Alfian ramah.


Karena memang Alfian terkenal sangat ramah pada semua karyawannya, dan karena itu juga banyak karyawan yang menyukainya bahkan bermimpi untuk jadi istrinya.


Alfian menaiki lift khusus untuknya dan juga di gunakan jika ada tamu penting di kantornya. Terkadang Alfian terlihat tersenyum sendiri jika mengingat apa yang di lakukannya tadi malam terhadap Mitha.


Dan tidak tahu kenapa Alfian ingin kembali bertemu dengan Mitha, tapi bagaimana caranya? Apakah harus menggunakan trik yang sama untuk bertemu dengan Mitha? Dan memang hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan.


Alfian tampak berpikir keras akan niatannya tersebut. Apakah bisa di bilang jika Alfian masih penasaran? Sedangkan Alfian sudah mengetahui jika Mitha lah yang selalu menjaga dan membawanya pulang saat mabuk.


"Jika bukan penasaran lalu apa? Kenapa aku masih memikirkan Mitha sampai sekarang?" Gumam Alfian saat berada di dalam lift.


Lift pun terbuka, kini Alfian dengan santai berjalan menuju ke ruangannya, sang sekretaris menyapanya dengan gaya centil manja menggodanya. Dan tidak tahu kenapa itu justru membuat Alfian merasa muak.


Begitu banyak wanita yang berusaha menggodanya dengan berbagai cara, termasuk sekertarisnya kali ini, bagaimana tidak, jika sekertarisnya menggunakan pakaian yang minim bahan, serta rok pendek di atas lutut. Mungkin jika lelaki lain akan terpesona dengan sekertaris itu. Tapi Alfian seakan mati rasa dengan wanita lain saat dirinya benar-benar mencintai Rindu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2