
Tangan Rindu entah sejak kapan sudah melingkar indah di leher Tajuk saat ini. Dan entah sejak kapan juga kini keduanya malah semakin larut dalam gairah. Sungguh pagi ini tidak akan terlewatkan dengan cepat di kamar mandi tersebut.
*****************
Di saat Tajuk dan Rindu sedang asyik menikmati pagi harinya yang sangat menggairahkan, berbeda dengan Alfian yang sedang di apartemen miliknya dengan kondisi kepala terasa berat, bahkan gara-gara hal itu membuat Alfian seakan malas untuk pergi ke kantor.
Karena memang setelah enam bulan terakhir Alfian berada di luar negeri, untuk mengelola perusahaannya yang ada di sana. Kini Alfian kembali ke Indonesia dan sebagai pewaris satu-satunya dia harus siap untuk melakukan semua kegiatan perusahaan, termasuk meninggalkan Indonesia untuk waktu yang lumayan lama.
"Auuww, kepalaku pusing banget," Ucap Alfian sambil memegang kepalanya sendiri karena efek pusing dari minum semalam. "Kok aku bisa di sini? Bukankah semalam aku di pub? Siapa yang mengantarkan aku pulang? Tidak mungkin kalau orang itu adalah Tajuk." Gumam Alfian.
Karena pusing yang mendera di kepalanya, Alfian memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit di kepala akibat minum alkohol tadi malam.
Tidak lama setelah itu, Alfian beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri supaya terlihat lebih fresh.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Alfian bersiap untuk ke kantor, walaupun ini sudah sangat telat untuk jam masuk kantor, tapi sebagai seorang CEO, terlambat pun tidak akan jadi masalah, ibarat kata Sultan mah bebas, karena perusahaan itu miliknya sendiri dan dialah bosnya.
Sesampainya di kantor, seorang sekretaris sudah menyambut kedatangan Alfian, dengan memakai pakaian yang terlihat sangat seksi, kemeja warna putih yang lumayan ketat sehingga menonjolkan kedua buah dada yang begitu besar, ditambah lagi 2 kancing kemeja atas yang sengaja dibuka dan memperlihatkan sedikit belahan dadanya, serta rok mini yang panjangnya hanya sampai di atas lutut, itupun terdapat sedikit belahan di belakang membuatnya terlihat begitu menggoda iman.
Apalagi dengan senyum ramah dan gerak-gerik yang menggoda, sehingga bisa saja membuat kaum Adam terpesona dengan keindahan tubuhnya, dan harap diketahui juga jika Alfian kan memang terkenal dengan Playboynya. Jadi tidak heran banyak yang ingin menggodanya, mulai dari kalangan karyawan, sampai beberapa orang anak perempuan dari koleganya sendiri.
Apalagi didukung dengan wajah Alfian yang begitu tampan dan juga kekayaan yang dimiliki olehnya, Sehingga siapa pun pasti akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan cinta Alfian, walaupun itu hanya cinta satu malam saja. Dan hal itulah yang sedang terpikirkan oleh sekretaris Alfian saat ini.
__ADS_1
"Pak Alfian mau dibikinkan teh?" Tanya sekretarisnya dengan nada menggoda.
"Buatkan aku kopi saja. Hem, kamu sekretaris baru ya? Kok aku baru melihatmu hari ini?" Ucap Alfian.
"Bukan pak Al, awalnya saya sekretaris dari orangtua pak Al, karena beliau sudah tidak lagi mengelola perusahaan ini jadi saya saat ini menjabat sebagai sekretaris pak Alfian," Ucap sekretaris tersebut berusaha menjelaskan.
"Oke, oke, sekarang bawakan semua berkas yang harus aku cek ke ruanganku." Ucap Alfian.
"Kopinya jadi pak?"
"Iya, jadi." Ucap Alfian.
Lalu Alfian kembali fokus dengan laptop di depannya, untuk melihat beberapa email yang masuk, namun tiba-tiba pikiran Alfian terganggu dengan munculnya bayangan Rindu di kepalanya.
Belum sempat Alfian berdiri dari kursinya, suara ketukan pintu membatalkan niatnya untuk pergi ke kantor Tajuk. Yaa.. bagaimanapun juga saat ini tanggung jawab perusahaan berada di pundaknya.
Mau tidak mau Alfian harus lebih fokus pada perusahaannya, ketimbang urusan pribadinya sendiri. apalagi papanya akhir-akhir ini sering mengalami sakit-sakitan dan sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit.
"Ini pak kopinya," Ucap sekretarisnya meletakkan secangkir kopi di meja kerja Alfian. "Dan ini semua berkas yang bapak minta," Sambungnya lagi dengan menyodorkan beberapa berkas yang berada di salah satu tangannya yang lain.
"Ok, ok, Oh iya, siapa nama kamu?" Tanya Alfian.
__ADS_1
"Saya Tia, Pak." Ucapnya
"Oke Tia, makasih untuk semuanya dan kamu bisa kembali ke meja kerja kamu dan menyelesaikan semua pekerjaan kamu." Ucap Alfian tanpa melihat ke arah Tia. Karena Alfian menyadari sikap Tia yang agak berlebihan kepadanya. Ya bisa dibilang Tia agak genit untuk menggoda Alfian.
"Oh, iya pak," Ucap Tia. Kemudian Tia berbalik ke pintu keluar, untuk menuju meja kerjanya.
"Dari rumor yang aku dengar, jika pak Alfian itu seorang playboy yang mudah tertarik dengan wanita, tapi kenapa dari tadi aku menggodanya, Dia tidak melirik sedikit pun kepadaku? Malah sikapnya sangat dingin dan cuek." Gumam Tia, ketika sudah sampai di mejanya.
Di dalam ruang kerjanya, Alfian mengecek semua berkas yang di berikan oleh Tia di mejanya tadi satu persatu. Ya mungkin karena sudah 6 bulan berlalu, perkembangan perusahaan saat ini perlu di tinjau kembali.
Mengingat orangtua Alfian kini sudah tidak lagi mengendalikan pertumbuhan perusahaan saat ini, dan Alfian juga belum menemukan orang yang bisa di percaya untuk mengelola perusahaan itu. maka mau tidak mau semua kendali perusahaan masih berada ditangannya.
Sudah sebulan ini orangtuanya sakit-sakitan, dan harus beberapa kali di rawat di rumah sakit, jadi Alfian lah yang harus menangani semua urusan perusahaan saat ini.
Dulu sebelumnya Alfian tidaklah seserius ini, karena memang Alfian masih belum terlalu kepikiran untuk mengelola perusahaan. Namun setelah papanya sakit, keadaan memaksanya untuk itu.
"Syukurlah semua laporan masih normal tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Gumam Alfian ketika tidak mendapati hal yang mencurigakan dari semua laporan yang diberikan oleh Tia.
Alvin menghela nafas panjang kemudian Alfian menyandarkan badannya di sandaran kursi, sambil memainkan bolpoin di tangannya pikiran Alfian kembali tertuju akan sesosok wanita yang bernama Rindu.
"Aku butuh jawabanmu Rindu, apa sebaiknya aku menghubungi Rindu ya, untuk meminta jawaban atas permintaanku beberapa bulan yang lalu." Gumam Alfian sedikit ada kebimbangan. "Ah, sebaiknya aku nanti langsung ke tempat kosnya saja, sekalian mengajaknya untuk makan malam bersama. ya, ya, itu terlihat lebih baik, daripada aku menelponnya di jam kerja seperti ini."
__ADS_1
Alfian pun kembali tersenyum, dan mengalihkan pandangannya ke beberapa berkas yang masih bertumpuk di meja kerjanya. Dengan semangat 45, Alfian mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, supaya nanti dia bisa pulang lebih awal dan mengajak Rindu untuk makan malam bersama.
Bersambung...