
Dua Minggu sudah berlalu, kini kerjasama antara perusahaan Wiryawan dan juga perusahaan keluarga Hendrawan akhirnya terjalin, Kerjasama untuk pembangunan sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta kini sedang di lakukan.
Baik Tajuk dan juga Alfian sibuk dengan hal itu, di tambah lagi kini Joe sedang di tempatkan di luar kota untuk melakukan sebuah pekerjaan yang lain. Karena saat ini beberapa proyek sedang berlangsung.
Kini untuk membantu meringankan tugasnya, Tajuk meminta Mitha untuk bertugas di lapangan mengawasi jalannya pembangunan pusat perbelanjaan tersebut.
Awalnya Mitha tidak menyangka jika akan mendapatkan tugas dan kepercayaan dari si boss, untuk mengawasi pembangunan pusat perbelanjaan tersebut. Namun dengan di dampingi Bram, seharusnya tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Mitha, bawa motorku aja, biar cepat sampai di sana, kalau bawa mobil jam segini pasti akan macet banget." Ajak Bram. Karena setelah meeting (apel pagi) maka Mitha harus segera menuju ke lokasi pembangunan pusat perbelanjaan tersebut dengan Bram.
Hari ini adalah hari pertama untuk Mitha melaksanakan tugasnya sebagai pekerja lapangan. Walaupun dulu Mitha pernah melakukan pekerjaan seperti itu, tapi kali ini terasa berbeda.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Ajak Mitha.
Keduanya pun kini berjalan menuju ke parkiran motor, dengan segera Bram mengendarai motornya menuju ke lokasi. Sepanjang jalan mereka berdua seperti biasa asyik ngobrol kesana kemari gak jelas.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka pun telah sampai di lokasi. Di sana terlihat beberapa pekerja sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Proyek yang memang masih baru di mulai itu masih perlu banyak hal untuk segera di tangani.
"Kalian berdua pasti perwakilan dari kantor Mr. Taj kan?" Tanya salah seorang yang memakai pakaian seksi, yang tidak lain adalah sekertarisnya Alfian.
Bram dan Mitha saling pandang, kemudian mereka mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan orang tersebut. Mereka tak habis pikir dengan kinerja perusahaan Alfian. Bagaimana bisa sekertaris itu melakukan pekerjaan lapangan menggunakan pakaian yang begitu seksi.
'Gila nih cewek, apa dia gak salah kostum? Ke tempat beginian pakaiannya seksi amat.' batin Mitha.
'Wow, terlihat sangat seksi.' batin Bram.
Karena bagi Mitha dan Bram, akan terlihat aneh jika sekertaris Alfian menggunakan pakaian seseksi itu ke lokasi pembangunan pusat perbelanjaan yang memang baru di mulai.
"Mari saya antarkan ke tempat tuan Al." Ucap sang sekertaris.
"Ok," jawab Mitha.
Akhirnya Mitha dan Bram hanya mengikuti langkah kaki sekertaris Alfian. Setelah sampai di sebuah ruangan sempit yang sangat mirip dengan gudang, mereka bertiga berhenti.
Bram dan Mitha kembali saling pandang, lalu Mitha mengedikkan bahunya sebagai tanda tidak mengerti akan situasi saat ini, karena ini baru pertama kalinya bagi mereka berdua datang ke lokasi ini.
"Kalian bisa tunggu di sini, karena tuan Al masih briefing dengan mandor dan juga para tukang, setelah selesai tuan Al akan segera kemari." Ucap sekertarisnya Alfian.
"Baik, makasih mbak." Ucap Bram.
"Kalau begitu saya akan pergi melihat-lihat ke tempat yang lain dulu." Ucap sekertarisnya Alfian, kemudian meninggalkan kedua orang itu.
"Iya kak silahkan, makasih atas bantuannya." Ucap Mitha sopan.
__ADS_1
Mitha merasa bahwa sang sekertaris Alfian itu tidak suka kepadanya, terlihat jelas dari pandangan sekertaris itu terhadapnya. Tapi Mitha tidak tahu apa alasan sekertaris Alfian tidak menyukainya, apalagi mereka tidak saling kenal sebelumnya.
Bram beranjak untuk melihat sekeliling tempat itu, sedangkan Mitha mengekori Bram di belakangnya. Beberapa bahan bangunan baru datang, seorang pengawas, melakukan serah terima bahan bangunan tersebut.
"Ternyata cepat juga bahan-bahannya datang, kukira masih dua atau tiga hari lagi." Ucap Mitha.
"Apapun itu kalau ada uangnya akan cepat Mit, kamu pernah dengar gak? Kalau sebuah rumah sakit besar di Cina, dalam waktu beberapa hari juga selesai pembangunannya, karena uang yang berkuasa." Jawab Bram.
"Iya juga, tumben kamu pintar, Bram," ucap Mitha kemudian merangkulkan tangannya di pundak Bram, karena bagi keduanya itu adalah hal biasa.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seseorang yang mengambil foto kebersamaan kedua orang itu, entah mau di gunakan untuk apa. Tapi sepertinya itu akan di gunakan untuk niat yang tidak baik.
Sedangkan Alfian yang baru saja datang ke tempat itu, setelah selesai meeting. Memperhatikan interaksi keduanya dari belakang. Tangan Alfian mengepal dengan rahang mengeras, sepertinya Alfian tidak menyukai pemandangan di depannya.
"Ternyata kamu baru menyadari jika aku pintar? Kemana aja selama ini?" Sarkas Bram.
"Cih, sombong, hati-hati biasanya orang yang terlalu pintar itu akan cepat mati." Ucap Mitha yang melepaskan tangannya dari pundak Bram.
"Woo, nyumpahin aku nih ceritanya? Kalau aku mati cepat, siapa lagi nanti kandidat calon suami idaman kamu?" Ucap Bram kesal.
Mendengar itu Mitha hanya tergelak tawanya, bisa-bisanya Bram kepedean untuk bilang kalau dia calon suami untuk Mitha, padahal keduanya sudah terbiasa dengan kedekatan seperti sekarang ini.
'Calon suami?' batin Alfian, wajahnya ternyata tiba-tiba terlihat lesu. Dan tidak bergairah. Akhirnya Alfian memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan sempit yang di gunakan sebagai kantor sementara di tempat pembangunan pusat perbelanjaan tersebut.
"Yuk lah,"
Bram dan Mitha pun akhirnya berbalik arah menuju tempat semula, yang tadi di tunjukkan oleh sekertaris Alfian tadi.
Terlihat pintu ruangan itu sudah terbuka, kemudian Mitha dan Bram berniat untuk masuk ke ruangan tersebut, saat ingin mengetuk pintu, pemandangan yang terlihat hot bagi Mitha terlihat jelas di depannya.
Karena tubuh sekertaris yang sangat dekat dengan tubuh Alfian, seakan mereka terlihat sedang berciuman, apalagi tangan Alfian yang ada di pinggang sang sekertaris, membuat Mitha terpaku diam di tempatnya.
'Oh ternyata tuan Al sudah bisa melupakan Rindu, dan bermain dengan sekertarisnya sendiri.' batin Mitha yang terlihat shock melihat pemandangan di depannya itu. 'Tapi kenapa hatiku sakit ya melihat itu?'
"Kenapa Mit?" Tanya Bram setengah berbisik karena melihat Mitha yang ragu-ragu untuk mengetik pintu.
"Oh, itu, sepertinya tuan Al sibuk." Ucap Mitha.
Bram pun melongok ke dalam ruangan, apa yang di lihat oleh Mitha kini terlihat juga oleh Bram. Dan Bram hanya terkekeh melihat hal itu.
Tapi kemudian Bram menyuruh Mitha untuk bergeser, dan Bram mengambil alih untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok tok tok!!
__ADS_1
Alfian terkejut mendengar ketukan pintu yang memang terbuka dari tadi, dengan segera Alfian melepaskan tangannya dari pinggang sang sekretaris, dan menjauhkan dirinya dari sekertarisnya.
"Masuk!"
Bram dan Mitha pun akhirnya masuk, Alfian melihat ke arah Mitha, sejenak pandangan keduanya bertemu, namun dengan segera Mitha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'Ingat Mitha jangan jatuh cinta dengan orang kaya seperti tuan Alfian, nanti pasti akan sakit hati.' batin Mitha memperingatkan dirinya sendiri.
Sekertarisnya Alfian yang sangat seksi itu pun keluar dari ruangan tersebut, karena tidak ingin mengganggu perbincangan bosnya dengan perwakilan perusahaan Hendrawan.
"Oh silahkan duduk." Ucap Alfian sedikit gugup. Mitha dan Bram pun duduk di depan Alfian.
'Kenapa Mitha sepertinya menghindari tatapanku? Apa dia cemburu dengan Donita?' batin Alfian.
"Oh ya tuan, kedatangan kami kemari untuk menyerahkan desain terbaru, sekaligus kami yang akan di tugaskan di sini untuk mengawasi jalannya pembangunan proyek ini selama beberapa bulan kedepan, jadi mohon kerjasamanya." Ucap Mitha yang menyerahkan gulungan besar yang berisi sketsa dan denah lokasi.
"Oh ok," ucap Alfian menerima gulungan itu dari tangan Mitha sambil tersenyum.
Dengan segera Alfian membuka gulungan besar itu, melihat desain terbaru dari Tajuk. Bram dan Mitha terdiam dan memperhatikan apa yang akan di lakukan Alfian selanjutnya.
"Bagus, desain ini sepertinya lebih menarik dari sebelumnya." Ucap Alfian sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka pun kini akhirnya mulai berbincang seputar proses awal pembangunan pusat perbelanjaan tersebut, karena memang ini baru di mulai, jadi masih banyak yang akan di lakukan mereka.
Kini Bram dan Mitha akan mengikuti instruksi dari Alfian sebagai penanggung jawab utama atas berjalannya proyek itu. Walaupun Alfian sebagai CEO perusahaan Wiryawan, tapi karena Tajuk adalah sahabatnya maka dia yang terjun langsung ke lapangan.
Kini Bram dan Mitha akan di buatkan sebuah ruangan kecil di samping tempat Alfian, karena selama pembangunan pusat perbelanjaan berlangsung, maka Mitha dan Bram akan sering datang ke tempat itu.
"Mitha, yuk makan siang dulu." Ucap Bram mengajak Mitha makan siang.
"Yuk lah."
Mitha pun bersiap untuk mengikuti Bram mencari makan siang di sekitaran tempat itu. Belum lama mereka keluar dari tempat itu, mereka bertemu dengan Alfian.
"Mau makan siang?" Tanya Alfian saat berpapasan dengan Bram dan Mitha.
"I-iya tuan Al, kami permisi dulu." Jawab Mitha.
"Bareng aja, yuk." Ajak Alfian.
Mitha dan Bram saling pandang, seakan sama-sama meminta persetujuan atas ajakan Alfian. Akhirnya mereka berdua ikut dengan mobil Alfian untuk makan siang bersama.
Walaupun Alfian kurang suka jika Bram ikut bersama, tapi mau tidak mau Alfian harus mengajaknya, mengingat jika tadi awalnya Bram memang sedang bersama dengan Mitha.
__ADS_1
Bersambung.