Tajuk Rindu

Tajuk Rindu
Gosip di kantor


__ADS_3

Mitha yang melihat keanehan sikap Rindu itu. Merasa sangat yakin jika Rindu sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi mungkin Rindu belum siap untuk cerita.


Rindu pun kembali menikmati minumannya, pikirannya melayang entah kemana. Baru juga baikan sudah ada saja hal buruk yang di dengarnya, sehingga membuat Rindu kesal sendiri.


Setelah menghabiskan minumannya, Rindu berjalan menuju ke toilet. Di Perjalanan menuju ke arah toilet Rindu berpapasan dengan beberapa karyawan yang sedang lewat.


"Siang Bu Rindu." Sapa mereka.


"Siang juga." Jawab Rindu ramah.


Rindu pun berjalan meninggalkan orang yang barusan menyapanya. Namun belum jauh langkahnya, karyawan yang tadi menyapanya, kini malah berbisik-bisik dengan temannya membicarakan Rindu.


"Lihatlah dia, sepertinya tuan Taj akan segera membuangnya, tadi aku lihat saat jam makan siang usai, dia datang dengan lelaki lain, dan kalian tahu tidak siapa yang datang bersamanya tadi?."


"Emangnya siapa?"


"CEO muda perusahaan Wiryawan. Tuan Al, bayangkan bagaimana jika tuan Taj tahu itu?."


"Hah! Serius? Gila, benar-benar gila, bisa-bisanya tuan Al mau sama dia."


"Aku yakin, sebentar lagi dia akan di ceraikan oleh CEO Taj, dan itu pasti terjadi sebentar lagi, wanita kelas rendah seperti dia mana pantas dengan tuan CEO kita yang memang orang kaya, dan juga ganteng."


"Bener banget tuh, CEO Taj sepertinya hanya tertarik sesaat aja. Kalau udah bosan juga akan di buang, kalian pasti tahu lah dengan Susan? Wanita seksi yang dulu sering bersama dengan CEO Taj, jika di bandingkan dengan Susan, si Rindu ini tidak ada apa-apanya."


"Iya tuh, aku ingat kak Susan memang sangat seksi dan bisa membuat siapa saja jadi terpesona dengannya."


"Iya betul, lebih cocok si Susan itu dari pada Rindu yang tidak jelas asal usulnya itu."


Mendengar itu semua membuat Rindu merasakan sesak di dadanya, bahkan air matanya yang sudah ada di pelupuk mata sudah bersiap untuk keluar.


Tanpa Rindu sadari air matanya meluruh di pipinya. Setegar-tegarnya Rindu, di saat mendengar hinaan mereka terus-menerus terhadapnya, itu pasti akan menyakiti hatinya dan meninggalkan bekas luka.


'Ternyata begitu besar hinaan yang harus aku tanggung untuk kita hidup bersama mas, tapi apa balasan mas untukku? Mas justru tidur dengan wanita lain.' batin Rindu yang tanpa sadar kini sudah ada di depan toilet.


Ketika masuk dan berpapasan dengan beberapa orang yang ada di dalam toilet, membuat Rindu semakin sedih. Bukan tanpa alasan Rindu terlihat sedih, tapi karena tatapan mata mereka yang melihat Rindu dengan penuh kebencian.


Rindu menghela nafas panjangnya. Kemudian masuk ke dalam bilik kecil toilet yang ada di dalam. Entah kenapa Rindu rasanya ingin berlama-lama di dalam sana. Tidak ingin keluar walau hanya untuk sekedar menyapa sesama karyawan.


************

__ADS_1


Alfian mengedarkan pandangan menyapu setiap sudut di kantor Tajuk. Mencari keberadaan Rindu, begitu juga dengan Joe yang sedang mencari keberadaan Rindu atas perintah dari sang bos.


"Mitha," panggil Alfian saat melihat Mitha ingin memasuki lift.


'Mati aku! Kenapa ketemu tuan Al di sini sih.' batin Mitha. Karena semakin Mitha sering bertemu dengan Alfian, membuat jantung Mitha berdebar kencang.


Baginya mengantarkan pulang Alfian yang selalu mabuk di club, sudah membuat jantung Mitha tidak karuan berdetak, bagaimana ini malah secara sadar bertemu dengan Alfian? Bisa-bisa lompat jantung Mitha.


Dengan berpura-pura tidak mendengar panggilan Alfian, Mitha melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.


"Tunggu!" Teriak Alfian.


Dengan menahan supaya pintu lift tidak tertutup. Dengan tersenyum Alfian masuk ke dalam lift. Sedangkan Mitha semakin salah tingkah saat berada dalam satu ruangan yang sempit bersama Alfian.


Mitha dengan sedikit ragu memencet angka di lift itu. Begitu juga dengan Alfian. Bahkan Alfian memperhatikan Mitha yang berdiri di sampingnya dengan salah tingkah.


"Kenapa tadi buru-buru Mith?"


"Gak kok tuan Al,"


"Lalu kenapa di panggil malah tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam lift?"


"Memang tadi tuan Al manggil saya?" Tanya Mitha pura-pura tidak tahu jika Alfian memanggilnya tadi. Karena Mitha merasa tidak nyaman dekat dengan Alfian, apalagi jantungnya seakan mau copot jika bertemu dengan Alfian.


"Hah! Rindu?"


"Iya Rindu, apa kamu melihatnya?"


"Loh, bukannya Rindu dari ada di pantry ya," gumam Mitha lirih. Tapi masih bisa di dengar oleh telinga Alfian.


"Pantry?" Ucap Alfian mengulang kata-kata Mitha sambil mengerutkan keningnya.


"Iya, bahkan nanti sepulang saya kerja, Rindu akan ikut saya pulang." Ucap Mitha seolah tidak ada yang terjadi. Karena memang Mitha tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan Rindu saat ini. walaupun tadi sikap Rindu sedikit aneh menurutnya.


"Syukurlah, aku kira dia pergi keluar kantor."


Mitha hanya tersenyum tidak menjawab, karena Mitha sudah sampai di lantai yang dia tuju, Mitha pun keluar dari lift.


"Makasih Mitha,"

__ADS_1


"Sama-sama Tuan." Jawab Mitha sambil tersenyum.


Alfian pun kembali menekan tombol menuju ke lantai dimana letak pantry kantor milik Tajuk, setelah sebelumnya tadi bertanya ke Mitha letak pantry nya.


Di dalam lift itu Alfian seakan merasa tidak asing dengan aroma parfum yang menyeruak di seisi ruangan lift.


"Aku tidak asing dengan parfum ini?" Gumam Alfian terlihat sambil berpikir.


"Loh, parfum ini kan, seperti aroma parfum yang aku hirup saat aku mabuk, apa mungkin Mitha yang selalu menolong aku dan mengantar aku pulang dari club? Tapi bagaimana mungkin? kalau sekali sih wajar atau kebetulan, tapi ini hampir setiap aku mabuk mencium aroma parfum ini," gumam Alfian.


Karena memang Alfian selalu mencium aroma parfum itu setiap kali dia mabuk, bahkan aroma itu juga yang tertinggal di baju kotornya saat dia mabuk.


Tapi bagaimana mungkin Mitha adalah orang yang sama di setiap malamnya, yang membawa Alfian pulang ke apartemennya saat Alfian selalu mabuk akibat kecewa dengan Rindu? Kalau sekali, dua kali it's ok, tapi ini hampir tiap hari. Apa mungkin ada yang namanya kebetulan terjadi di tiap hari? Begitulah yang Alfian pikirkan saat ini.


Tapi karena harus mengurus kesalahpahaman Antara Tajuk dan Rindu, sehingga Alfian harus melupakan sejenak soal itu.


Setelah sampai di lantai yang di maksudkan, Alfian mencari Rindu, namun pantry sudah kosong. Lalu dimana Rindu? Ponsel Rindu tertinggal di ruangan Tajuk. Sehingga Alfian tidak bisa menghubunginya.


"Tuan Al, anda di sini?" Tanya Joe tiba-tiba sudah ada di belakang Alfian yang entah datang dari mana.


"Ah Joe, aku mencari Rindu, apa kamu melihat dia?"


"Saya juga mencari nyonya, untuk memastikan jika nyonya tidak pergi kemana-mana."


"Tadi Mitha bilang dia di pantry makanya aku kemari. Aku harus menemukan Rindu, kalau tidak bisa hancur masa depan perusahaan Wiryawan." Ucap Alfian terlihat gelisah.


"Pantry?"


"Iya,"


"Biar saya cek tuan."


Joe sedikit tidak mengerti akan maksud ucapan Alfian, apa hubungannya nyonya nya dengan perusahaan Wiryawan? Sehingga membuat pemuda tampan itu terlihat gelisah. Belum lagi bekas memar di pipinya saja masih terlihat, membuat berbagai pertanyaan muncul di kepala Joe saat ini.


'Apa mungkin tuan muda mengancam tuan Al? sampai tuan Al gelisah begitu. Hem tapi maklum juga sih, tadi nyonya pulang bareng ke kantor dengan tuan Al, pasti tuan muda cemburu.' batin Joe menerka.


Alfian beberapa kali memegang sudut bibirnya yang masih terasa nyeri akibat tonjokan dari Tajuk tadi. Setelah orang yang di carinya tidak ketemu, Alfian memutuskan untuk pergi dan kembali ke kantornya.


Bahkan Alfian berpesan pada Joe supaya nanti Rindu menghubunginya.

__ADS_1


Sedangkan Joe masih melanjutkan pekerjaannya, karena jika Joe tidak menemukan Rindu dan memastikan jika Rindu masih ada di kantor, maka sudah dapat di pastikan jadwal kerja tuannya akan berantakan akibat mood yang tidak bagus.


Bersambung..


__ADS_2