
Tempat umum.
Bioskop.
Yaa seperti biasa namanya juga ditempat umum yakan, banyak orang yg melihat ke arah dua sejoli ini terutama ke pemeran utama cewek nya.
"Eh lihat cewek itu.."
"Dia cantik sekali yaa ampun"
"Iyaa"
"Sayang yuk kita beli tiket..yank..hey..yank..kamu lihat apa sih, oh lihat cewek baju merah itu hah, sini mau gue tampol gak"
"Eh gak yang ampun beneran ampun, ayo kita beli tiket aku yg bayar, sama cemilan juga aku yg bayar deh"
"nah gitu dong"
"bangkrut deh, yaelah"
"hah, apa"
"eh engga.....enggaa...."
Sepertinya sudah sangat lumrah akan ada drama jika Sia Lee berada.
"Cih, dasar orang-orang bodoh" Batin Jiho.
Sia tetap berjalan anggun disamping Jiho.
"Aku sudah memesan tiket nya, yuk masuk" Ajak Sia kepada Jiho yg sejak tadi asik melamun.
"Kau kan bisa menonton film sendiri dirumah ngapain harus ketempat seperti ini? kau tau berapa banyak kuman yg ada di kursi bioskop?"
"Terkadang lebih asik nonton film di layar lebar, greget nya dapet" Kata Sia sambil tersenyum manis.
"Aku sudah menghabiskan cukup waktu, tenaga dan duit ke salon untuk berdandan seperti ini, ini semua adalah rencanaku dan sudah di atur sedemikian rupa menurut keinginan ku, jadi jika hari ini kamu masih tidak mau menyentuhku aku akan membuat kita bersentuhan" Kata Sia dalam hati.
Sia dan Jiho sudah masuk ke dalam ruangan bioskop, Sia dengan santuy berjalan mencari tempat duduk yg sudah dipesannya sambil membawa cemilan ditangan nya dan Jiho mengikuti dari belakang.
Akhirnya Sia menemukan tempat duduk mereka, dan duduk dengan nyaman.
"Ah, akhirnya,, gak terlalu ramai sih karna ini hari biasa"
Sret...sret..sret...
*apa yg terjadi gengs?*
__ADS_1
Sreeet..
Jiho mengeluarkan kain putih dari tas nya, yg berukuran 3x4m kayanya, sepertinya itu kain selalu berada di tas nya Jiho.
Dia lalu menutupi kursi bioskop dengan kain itu sebagai alas tempat duduk buat dia karena dia takut kalau dia langsung duduk di kursi bioskop itu akan ada banyak kuman yg menempel padanya.
Taa..Daaa..Kursi Singgasana.
*ya amplop bner-bner ni anak, untung cakep yakan*
Sia Lee melongo melihat penampakan seperti itu.
"Apa-apaan ini? apa dia sehat? dia seperti bunga tulip. Ya ampun malu-maluin sumpah" Kata Sia Lee dalam hati.
Exit..pintu keluar.
"Film nya bagus yaa"
"Iya, aku suka adegan yg di kutub selatan itu yg lagi berkelahi, nanti kalau ada skuelnya aku akan melihatnya lagi ah"
Orang-orang yg baru keluar dari ruangan bioskop itu sibuk membicarakan film yg baru saja mereka tonton.
Sia Lee keluar ruangan dengan muka kesal nya,
"Huh,,2,5jam gak ngapa-ngapain, idih apaan" Batin Sia.
Jiho setelah membuang kain itu ke tempat sampah, mengikuti Sia berjalan menuju keluar dari lorong bioskop.
"Filmnya sudah selesai, hayu pulang" Ajak Jiho.
"Belum waktunya, kita makan yuk, aku lapar"
Mereka mencari restauran yg cocok untuk makan buat mereka berdua.
Akhirnya mereka sampai di tempat restauran yg menyediakan ruang VIP buat makan.
Jadi ruangan makan ini berbentuk kamar untuk makan, dan hanya mereka berdua di dalam.
"Lumayan juga menggunakan layanan pribadi untuk makan, asik rasanya bisa berduaan" batin Sia Lee.
Karena di ruangan itu hanya mereka berdua, Sia Lee lalu melancarkan aksinya.
"Wah disini, panas juga ya, kau tak keberatan kan kalau aku melepas cardiganku?"
Sia Lee bertanya pada Jiho, tapi sebelum mendapat jawaban dari Jiho, Sia Lee terlebih dulu telah membuka cardigan nya sehingga terlihat bagian atas dadanya yg putih mulus.
*apa respon jiho?*
__ADS_1
"Pakai cardigan mu kembali, sekarang memang bulan april, tapi sistem kekebalan tubuhmu akan menurun kalau kau setengah telanjang, dan itu tidak baik, lagipula kalau kau tiba-tiba bersin gara-gara itu sekitar 100.000 air liur akan menyembur ke arahku, dengan kecepatan 140km/jam mengingat jarak ku dengan mu lumayan dekat, dan aku tidak mau hal itu terjadi"
Jiho berbicara tenang sambil membersihkan peralatan makan nya dengan air panas.
Yaa Ampun dia serius.
"Oh, baiklah" Sia Lee lalu memakai kembali cardigan nya.
"Ngomong-ngomong apa yg kau lakukan dirumah? menganggur? atau sibuk ikut ujian pegawai negeri?"
"Aku penulis"
"Benarkah? kau tidak terlihat sebagai penulis, sungguh mengejutkan"
"Memangnya penulis terlihat seperti apa?"
"Eh..itu...."
"Ngomong-ngomong soal pekerjaan, apa pekerjaan mu?" Jiho bertanya balik pada Sia.
"Ah, aku ini seorang model, pernah dengar majalah 'style cut' aku loh yg jadi model covernya bulan ini, mau bersalaman dengan gadis terkenal?" Sia Lee tersenyum.
"Sekarang aku paham, kenapa kau punya banyak waktu luang, sudah selesai makan nya, yuk pulang!" Ajak Jiho.
Saat jalan pulang, Jiho sibuk menyemprotkan cairan anti bakteri ke tangan nya, Sia Lee mengikutinya dari belakang.
"Astagaaa, aku gak bisa menyentuhnya sekali pun, jarak aku dan dia sangat dekat tapi kenapa aku gak bisa menyentuhnya, gak mungkin aku gak punya kesempatan, kalau begitu itu sangat kentara tapi aku gak punya pilihan lain, baiklah aku akan mencobaa nya" Sia Lee menggerutu kesal.
Bruk....
"Aduh tolong..kaki ku keseleo" Sia pura-pura jatuh.
Jiho menoleh ke belakang, ke arah Sia yg sedang duduk di bawah karna kaki nya keseleo, tapi Jiho tau akal bulus Sia.
"Kau bisa berdiri?"
"Kamu, bisa bantu aku berdiri, aku tidak bisa berdiri, kaki ku sakit" Kata Sia sambil menyodorkan tangan nya ke arah Jiho. berharap Jiho mau menggenggam tangan nya.
"Kalau begitu aku akan telepon 911, meminta pertolongan". Lagi-lagi Jiho mengabaikan Sia.
Sial!! tidak ada yg berhasil, dasar bedebah berdarah dingin.
"Haruskah seperti itu?, kalau gitu gak usah"
"Nona Sia Lee, bagaimana kalau kita beristirahat di tempat lain?" Ajak Jiho.
"Beristirahat di tempat lain? apakah semacam motel?" Batin Sia..
__ADS_1