
Keesokan harinya Jiho dan Sia sudah sampai di depan kantor Moran, mereka hari ini berniat mau melakukan konseling.
Dengan tubuh gemetar nya Jiho berusaha seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hatinya dia sangat cemas.
"Tu...tunggu aku belum siap untuk........"
"Kau ini kenapa sih? kita kan sudah sampai disini, ayooo dong" Sia terus membujuk Jiho supaya masuk ke dalam kantor Moran.
"Tapi....aku belum pernah melakukannya seumur hidupku" Jiho gugup.
"Sekali kau mencobanya, kau akan tau bahwa ini bukanlah sesuatu yg patut kamu takuti, apa kau gak percaya padaku?!" Sia menatap dalam Jiho.
Jiho berpikir sejenak...
"Yaa okelah..tapi jangan dorong-dorong"
"Iyaa iyaa, yaa ampuun, idih siapa juga yg dorong"
Sia dan Jiho memasuki ruangan kantor Moran.
"Pagi kak, kak ingat gak cowok yg waktu itu pernah aku ceritain, ini Jiho, pacarku" Kata Sia kepada Moran sambil menunjuk Jiho.
"Ha..ii a...pa kabar?!" Jiho sangat gugup.
"..........?!" Moran sejenak kaget apa yg dikatakan adiknya ini.
"Oh hahha kabar baik, kau juga apa kabar? baik kah? ohiya aku minta waktu kami sebentar yaa mau ngomong sama Sia" Moran tersenyum getir dan langsung menyeret Sia menjauh dari Jiho.
Moran merangkul Sia sambil rada berbisik takut kedengeran oleh Jiho.
"Hei apa yg terjadi? kenapa kau malah membawa dia kemari, bukannya kau bilang kemarin acara berburu mu berjalan dengan baik?!"
"Yaah, sebenarnya OCD nya itu bukan sesuatu yg dapat mudah di atasi, hingga sekarang aku masih belum bisa menyentuh tangannya, tapi katanya dia mau melakukan konseling" Kata Sia.
"Oke kita bicarakan saja nanti"
Mereka berdua lalu berbalik ke arah Jiho sambil tersenyum.
"Hahah maaf yaa membuat mu menunggu" Kata Moran.
"Iyaa hehhe maaf yaa, yg sabar yaa Jiho menghadapi kami" Sia menimpali sambil tertawa.
"Eh iyaa..gak apa-apa kok" Kata Jiho yg masih berdiri sejak tadi.
"Oke aku perkenalkan diriku lagi yaa, namaku Dr.Moran Lee, direktur klinik ini dan kakaknya Sia"
"Namaku Jiho Shin" Sahut Jiho.
"Walaupun ini sebuah klinik tapi gak ada yg perlu kau khawatirkan, jadi tenang saja"
"Dia benar Jiho, santuuyy saja yaa" Sia tersenyum menyemangati.
"Nona kekasih, maaf! tolong tunggu diluar yaa karena ini adalah konseling pribadi" Kata Moran melihat tajam Sia, sambil tangan Moran dia gerakan menepis dua kali mengisyaratkan bahwa Sia harus keluar dari ruangan itu.
"Apa? kenapa? aku juga kan mau disini, aku gak akan ganggu kok"
Moran menatap Sia tajam dan kemudian bertanya pada Jiho.
"Jiho apa kau mau konseling bareng dia?!"
"...........?!" Jiho hanya diam..
__ADS_1
Dan entah apa yg dikatakan Jiho yg jelas sekarang Sia sedang duduk sendiri di luar ruangan dengan muka kesalnya.
Kembali ke Jiho dan Moran.
Moran membawa kertas dari meja kerjanya.
"Baiklah Jiho silahkan duduk, dan bisa kita mulai sekarang?! tenang saja sofa nya steril kok" Kata Moran langsung tau apa yg sejak tadi dipikirkan oleh Jiho.
"Eh i...yaa" Jiho benar-benar gugup.
Jiho dan Moran duduk berhadapan disebuah sofa.
"Baiklah, apa sebelumnya kau udah pernah bertemu dengan psikiater?!"
"Enggak, ini pertama kalinya bagiku"
Moran menatap Jiho.
"Pasti berat bagimu untuk mengambil keputusan ini, tapi kau sudah membuat keputusan yg tepat, Sia sudah bercerita tentangmu dan masalah nya karena OCD mu itu"
Jiho menundukkan pandangannya sambil mendengarkan penjelasan Moran.
"Ini tergantung seberapa serius kasusnya, tapi OCD sekarang menjadi kasus yg cukup umum di kalangan masyarakat modern, jadi gak usah khawatir kalau kau mau mencoba, kau pasti membaik" Ucap Moran.
Jiho masih terdiam.
Moran melanjutkan.
"Sejujurnya masalah psikologis ini sangat rumit dan sensitif sehingga obat-obatan gak akan terlalu membantu, yg penting adalah mempunyai keinginan dan motivasi yg kuat, nah bagaimana dengan mu Jiho?!" Tanya Moran.
Jiho mengangkat kepalanya dan menatap Moran.
"Apa kau mempunyai motivasi yg cukup kuat untuk mengubah dirimu?!" Tanya Moran sekali lagi.
"Yaa aku punya........dan sangat kuat" Jiho menjawabnya dengan mantap.
**
"Bagaimana sesi konseling mu?!" Sia bertanya pada Jiho.
Sekarang Jiho dan Sia sedang berjalan bersama pulang ke rumah.
Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan, dan tentunya Jiho masih mengenakan sarung tangannya.
"Hari ini aku cuma penilaian umum aja, dan menurutku kakakmu itu sangat hebat, aku merasa santai ngobrol dengannya?!"
"Siapa? kakakku? hadeehh mana mungkin..heheh" Sia tersenyum.
"Sesi konseling sesungguhnya dimulai minggu depan" Lanjut Jiho.
"Tuh kan, apa ku bilang? Gak apa-apa kan? Awalnya memang sulit tapi setelah kau mencobanya sekali, itu bukaan apa-apa, aku yakin kau akan segera baikkan Jiho, kalau kau ada apa-apa bisa bilang padaku, siapa tau aku bisa bantu"
Jiho melirik Sia.
Dia mengingat apa yg dia bicarakan sama Moran di ruangan konseling tadi.
"Apa kau mempunyai motivasi yg cukup kuat untuk mengubah dirimu?!" Tanya Moran.
"Yaa aku punya........dan sangat kuat"
"Maka aku sarankan, kau jangan pernah lepaskan itu"
__ADS_1
Jiho tersadar dan kemudian berbicara pada Sia.
"Kau berada di sisi ku saja itu sudah cukup membantu"
"Apa??? dengan berada didekat mu aja apa aku udah membantumu?!" Tanya Sia.
Jiho mengangguk.
**
Sia sedang duduk di tempat tidurnya yg empuk. Dia sedang menelepon kakak tercinta nya.
"Yg perlu kau lakukan adalah cukup mendampinginya, jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh yg pernah kau lakukan waktu itu, jadi..tunggu saja" Ucap Moran disebrang telepon sana.
"Jadi? bagaimana menurutmu, apa dia bisa disembuhkan?!"
"Yah OCD itu lebih susah dari kasus lainnya, ini bisa membaik dengan penanganan perilaku, terlepas dari itu dia sangat antusias mendapatkan penanganan"
"Apa dia benar-benar antusias?!" Sia gak percaya.
"Yaps, dia mempunyai kemauan yg sangat kuat untuk menyembuhkan OCDnya, dalam kasus ini biasanya si pasien bisa mengatasi sendiri masalahnya dengan sedikit nasihat"
Sia serius mendengarkan penjelasan kakaknya.
"Eh ngomong-ngomong Sia, kau gak berada diposisi sedang mengkhawatirkan orang lain kan? kenapa juga kau gak berburu saat dia ada tepat disampingmu?! apa kau akhir-akhir ini menyerap energi yg cukup?!" Tanya Moran.
Sia kaget dibuatnya.
"Te....tenju saja"
"Kalau kau sampe pingsan karena kekurangan energi, aku akan mengirim mu langsung ke tempat Ayah,mengerti??? kau itu gak bakal sadar kalau bukan Ayah yg menjaga mu" Jelas Moran.
"Aku baik-baik saja kok, makasih sebelumnya" Sia buru-buru mematikan panggilan teleponnya.
"Fiuhhh, hampir aja aku kena ceramahnya"
Sia menatap kosong ke langit-langit kamarnya.
"Ngomong-ngomong apa yg membuat dia berubah yaa? padahal kan sebelumnya dia gak seantusias itu, aku benar-benar gak tau harus berbuat apa padanya, tapi ada bagusnya dengan begitu OCDnya lebih cepat disembuhkan, aku bisa menyentuhnya sebanyak yg ku mau, akhir-akhir ini aku memang kurang menyerap energi makanya aku merasa lemas"
Sia membaringkan badannya dikasur.
"Kalau dipikir-pikir aku kan mendekatinya untuk berburu tapi malah aku gak bisa menyentuhnya sama sekali, apasih yg lagi aku lakukan sekarang ini? Dasar bodoh, tapi gak apa-apa deh, itung-itung dia seperti makanan paling lezat yg aku makan terakhiran, ingat dia itu ayam ayam"
Ring ding dong....ring ding dong....parampampam...
Ponsel Sia berdering kembali, lalu dia mengangkat teleponnya sambil tiduran.
"Hai Simba, kau lagi apa sekarang? lagi mandi yaa? kau pake baju apa sekarang? pakaian dalam mu warna apa?" Kata Baryu disebrang telepon sana, sambil terus menggoda Sia.
"Kenapa kau menelpon ku?" Sia ketus
"Besok kau ada rencana keluar gak? jalan-jalan yuk kalau kau gak sibuk, aku ada tiket gratis nih" Ajak Baryu.
"Apa? Tiket gratis? Buat apa?"
"Taman bermain Starland, kau suka pergi ke taman bermain kan? Sihwan juga ikut, gimana? mau gak?"
"Hah, serius? oke baiklah ikuuuttt, aku ikut,aku mau ikut" Sia sangat bersemangat.
"Baiklah, ajak dia juga yaa, ituloh tetanggamu, kau tau kan makin banyak makin rame loh" Kata Baryu.
__ADS_1
Sia terdiam sesaat.