Tak Bisa Di Sentuh

Tak Bisa Di Sentuh
36. KAU GAK BISA MELAKUKAN INI.


__ADS_3

"Iyakan, aku ini cowok gampangan?" Tanya Jiho sekali lagi pada Sia, dengan nada sangat kesal, mukanya merah karena menahan amarah.


Sia hanya diam, dia gak bisa berkutik sama sekali., tubuhnya lemas, apa yg harus dia lakukan agar Jiho kembali seperti semula?


"Kalau kau sudah selesai bicara, aku pergi dulu" Ucap Jiho membuka pintu rumahnya, nafasnya masih ngos-ngosan menahan amarah.


Sia langsung kaget dan menatap Jiho, seakan dia gak mau kalau Jiho meninggalkan nya.


"Nggak kok, Nggak....kamu gak gampangan Jiho, asal tau saja, ini juga berat bagiku, kau itu sungguh sangat sulit sampai membuat ku gila" Tutur Sia sedikit berteriak.


"Selamat malam" Jiho tidak peduli dengan apa yg Sia bicarakan.


Braakkk......Jiho langsung menutup pintu rumahnya, meninggalkan Sia seorang diri.


Sia masih berdiri terpaku, dia gak menyangka bahwa Jiho akan semarah ini padanya.


***


Keesokan harinya.


"Sejak kecil aku bertanya-tanya, kenapa pangeran dan putri di negeri dongeng selalu berciuman dan berpelukan diakhir cerita? Apa cuma itu, untuk membuktikan cinta mereka? Apa mencintai dengan sepenuh hati gak cukup?!" Batin Jiho.


Jiho sedang membaca buku, dan duduk di bangku taman seorang diri dengan beralaskan kain yg gak ketinggalan,hatinya gelisah dengan apa yg sedang dia rasakan saat ini, tentang hubungan dia dan Sia, mau dibawa kemana hubungan mereka?


Tiba-tiba bayangan Sia yg menggoda Jiho dengan kemeja yg kancing nya sengaja Sia buka melintas dipikirkannya.


"Apa kau gak ingin tau lebih banyak tentangku?!" Tanya Sia.


Tep.....Bukunya langsung ditutup oleh Jiho, mukanya memerah mengingat kejadian itu.


"Huh, dia itu benar-benar gak bisa ditebak, apasih yg dia pikirkan? kenapa dia sampai repot-repot untuk......."


Belum lagi menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi bayangan Sia lah yg memenuhi pikiran Jiho.


"Aku ingin segera berpacaran denganmu"


"Saat kau berpacaran, kau ingin bergandengan tangan atau menyentuh nya, itu kan wajar, apa aku salah?!"


Kata-kata Sia sebelumnya terus terngiang di otak Jiho.


Jiho mengangkat tangannya dan melihatnya tajam.


"Apa ituu.....wajar?!" Gumam Jiho.


"Sayangku karena kita bosan, bagaimana kalau kita ciuman saja?!"


"Kyaaaaa sayaang kamu genit ah"


Sepasang remaja yg duduk dibangku sebelah tempat duduk Jiho mengagetkan dan menyadarkan Jiho dari lamunannya.


Jiho menoleh sinis ke arah sepasang remaja itu.


"Ada orang melihat kita, malu ah" Kata Si cewek yg sedikit memukul manja si cowok itu yg sedang merangkulnya.


"Gak apa-apa, biar mereka tau betapa sayangnya aku padamu" Goda si cowok.


"Iihhh, nakaallllll sayang ah" Si cewek teriak manja manja gituu.


"Coba sini, aku cium disini aja yaa"


Jiho langsung memalingkan wajahnya dari pemandangan yg awembaweks itu.


*takut dianya juga kepengen kali tuh...wkwkwkkw*


Jiho melihat sekeliling, ada banyak pasangan ditaman itu yg saling berpegangan tangan, jalan berdua saling merangkul, dan adapula yg saling bergantian makan es krim.


Jiho langsung menunduk kembali.

__ADS_1


"Yaa sebenarnya aku sudah tau jawabannya dari dulu, mungkin aku..........."


**


Sia sedang duduk diruang tamu, dimeja nya ada sebuah boneka kucing kecil warna putih yg sedang dia mainkan.


Tuing tuing...tuing tuing....


Jika disentuh boneka itu akan bergoyang ke kiri atau ke kanan...


"Kenapa gak berjalan sesuai dengan harapan ku? ayam marah padaku dan mengatakan hal yg gak aku mengerti, semuanya berantakan sekali, kupikir semua akan baik-baik saja setelah ku berpacaran dengannya, aku gak pernah mempunyai masalah seperti ini, kenapa begitu sulit?!" Sia berbicara sendiri dan terus memainkan boneka itu diatas meja.


"Bagaimana perasaan nya?! kalau dipikirkan lagi aku selama ini gak pernah memperdulikan perasaan manusia, yg aku pikirkan hanyalah manusia sebagai sumber energi yg ku butuhkan untuk bertahan hidup. Aku penasaran, bagaimana perasaan si ayam?"


Pikiran Sia melayang ke semua kejadian dan kata-kata yg Jiho ucapkan.


"Kupikir kau pasti akan memahami ku, tapi aku cuma ingin memastikan saja, ku pikir selama kita berpacaran kita jangan saling bersentuhan dulu"


"Aku yakin kita akan tetap saling mencintai walaupun gak melakukan kontak fisik"


"Cinta ala saudara kurasa sudah cukup untuk saat ini, untuk sekarang kita gak usah buru-buru"


Itulah sebagian yg Jiho ucapkan pada Sia distuasi yg berbeda-beda.


Tiba-tiba Sia tercengang.


"Yaa itu dia..."


Brak...Sia menggebrak meja.


"Yg dia butuhkan adalah masalah waktu, karena dia belum menaklukkan OCDnya, dia butuh waktu untuk mempersiapkan diri sebelum dia disentuh, itulah sebabnya dia berkata seperti itu karena dia pikir aku mau menunggu nya"


Sia mengangkat tangannya dan melihatnya.


"Karena aku tau masalah nya dan sudah melihat semuanya, jadi dia pikir akulah orang yg paling memahaminya, kalau begitu....aku sudah......."


"Tapi apa yg sudah kulakukan? aku malah menggodanya kemarin, dia pasti menilai ku sebagai cewek yg gak peduli terhadapnya sama sekali, aaarrrhhhh ini kacau banget, aku udah buat kesalahan besar" Teriak Sia.


Bip bip.....bip bip...


Anda menerima pesan baru.


Ponsel Sia berbunyi, dan langsung Sia mengambilnya dan membaca pesan itu.


Ayam: Ada yg mau ku katakan, temui aku.


Sia tambah gak karuan setelah membaca pesan dari Jiho.


"Ap....apa dia mau mutusin aku?!"


**


Dengan segenap kekuatan nya, Sia menemui Jiho, dia mengumpulkan semua keberaniannya bertemu dengan Jiho.


"Ada apa?!" Tanya Sia kepada Jiho dengan wajah tegangnya.


"Ada apa dengan wajahmu?!" Jiho terus menatap Sia.


"Ada apa? kenapa dengan wajahku? kurasa aku terlalu cantik" Sia mencoba mencairkan suasana hatinya yg sangat gugup.


"Katakan saja, ada apa? cepat, aku sudah terlalu tegang" Lanjut Sia.


Jiho bingung dengan apa yg Sia katakan dan apa yg Sia pikirkan.


"Baiklah, Sia aku sudah memikirkan nya, dan ku rasa aku..........."


"Tu......tunggu aku gak mau dengar, nggak mau, jangan katakan itu" Wajah Sia sangat tegang, dia mendadah dadahkan tangannya kepada Jiho seolah dia sudah gak mau dengar apapun lanjutannya.

__ADS_1


"Bi.....biarkan aku bicara dulu" Sia mencoba menenangkan dirinya, dan menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya dengan teratur.


Sia mencoba menatap Jiho.


"Jiho dengar...... maafkan aku, aku sungguh minta maaf padamu, aku ini benar-benar egois gak pernah peduli dengan perasaan mu, dan aku tau ini semua salahku, tapi aku.....aku..... aku gak mau putus denganmu, aku belum bisa putus denganmu, kita baru saja mulai dan aku gak mau berakhir begitu saja" Teriak Sia.


"Udah cukup, tolong hentikan" Jiho berbicara dengan sedikit parau.


Sia makin kaget dibuatnya.


"Cu...cukup, tunggu kita bahkan belum......."


Grep....Jiho memegang tangan Sia.


"Berhentilah bicara dan hayu kita makan malam" Jiho menggandeng tangan Sia, dan menuntun Sia dari depan.


Sia soak sekali, matanya melotot karena kagetnya.


"Ah dia......dia menggandeng....apa? pakai sarung tangan, njiirr aku jadi gak bisa merasakan apa-apa" Batin Sia memberontak tidak percaya.


"Aku juga minta maaf atas kata-kata kasarku tadi malam aku juga gak memikirkan perasaan mu, jadi kita impas" Kata Jiho sambil terus berjalan menuntun Sia tanpa menoleh ke belakang ke arah Sia.


"Aku gak berpikir kau kotor atau buruk, aku hanya belum terbiasa disentuh oleh orang lain, jadi untuk saat ini cuma seperti ini yg bisa ku lakukan" Jiho terus berbicara.


Jiho menghentikan langkahnya.


"Tapi..aku akan terus berusaha, jadi tolong, tunggu sebentar lagi....dan bersabar untukku" Kata Jiho lirih.


Sia tercengang.


"Tunggu, perasaan apa ini? ini gak seperti saat aku menyentuhnya langsung, aku gak menyerap energi apapun darinya, tapi.....entah kenapa ini membuatku nyaman" Batin Sia deg-deg serrrrr.


Mereka lalu berjalan perlahan dipinggir jalan mencari tempat makan sambil berpegangan tangan.


Sementara itu didalam mobil di jalan raya.


"Idih, kok macet sih, kita bakal telat nih, ini pertunjukan terakhir dari album ini" Kata Sihwan sambil melihat keluar jendela mobil.


"Tapi tetap saja ini baik bagi kita, kita akan punya waktu untuk bersantai sejenak, aku akan main bersama simba selama liburan, aku harus menelepon nya karena dia kan tinggal didaerah sekitar sini" Ucap Baryu semangat sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Baryu yg melihat Sihwan yg sejak tadi menghiraukan nya, dan malah fokus melihat keluar jendela mobil seperti melihat makhluk tak kasat mata diluar sana, Baryu langsung mendekat ke arah Sihwan duduk.


"Apa yg kau lihat? apa ada cewek cantik diluar sana?!"


"Eh enggak" Sihwan sangat kaget.


Baryu makin mendekat ke arah jendela.


"Apa itu? apa dia cewek bahenol berambut pirang?!"


Sihwan menghadang Baryu dan menutup matanya dengan tangan Sihwan.


"Engga ada, lupakanlah"


"Sihwan kau kejam sekali, lepaskan tanganmu, aku juga mau melihat cewek bahenol nerkom itu" Baryu terus berontak, dan tangan Sihwan tak mampu menutupi matanya lagi.


"Eh itu kan" Baryu lebih dekat ke jendela dan melihat tajam keluar sana.


"Itu bukannya......"


Baryu melihat Sia dan Jiho sedang jalan berdua dan berpegangan tangan.


Baryu yg melihat drama itu, tercengang gak percaya.


"Kau gak bisa melakukan ini, gak bisa simba, kau gak bisa melakukan ini padaku"


Seketika Baryu berubah menjadi murung dan suram.

__ADS_1


__ADS_2