Tak Bisa Di Sentuh

Tak Bisa Di Sentuh
27. KAU PASTI TERKEJUT KAN?


__ADS_3

***


Didalam sebuah ruangan yg dengan sedikit pencahayaan nya, dengan lemari rak buku yg tertata rapi.


Tidak ada banyak begitu barang diruangan itu, hanya sebuah meja kerja, lemari buku dan sofa.


Tek tek tek......tek tek tek...Klik klik


Ada seseorang sedang duduk dimeja kerjanya, dia sedang mengoperasikan komputernya.


Tubuhnya terlihat sangat mungil, rambutnya sebahu, kulitnya putih mulus seperti wanita yg lainnya.


**


Pagi ini, Sia Lee sedang berada di ruangan kantor kakaknya dia sesekali mengecek ponselnya.


"Ibunya gak membalas, huh, aku sudah liat bahwa ibunya sudah melihat emailku tapi kenapa dia gak mau membalas nya, padahal udah tiga hari loh ini" Gerutu Sia.


"Nah sudah jelas kan? mungkin memang ibunya gak mau bertemu dengannya" Kata Moran sambil membaca buku dan berdiri di belakang Sia.


Sia menoleh tajam.


"Apa? Kenapa gak mau bertemu? Jiho kan anaknya!!"


"Ya mungkin ibunya punya alasan sendiri, cowok itu mungkin gak tau, karena waktu itu dia masih bocah, pasti terjadi masalah antara ayah dan ibunya, jadi mungkin dia saat itu harus meninggalkan anak yg dia sayangi dan sejak saat itu gak pernah menghubunginya lagi, jadi pasti dia mempunyai alasan yg kuat"


Moran lalu duduk disofa dan kembali berbicara.


"Karena kadang-kadang wanita yg sudah bersuami dia akan melampiaskan kekecewaan terhadap suaminya lewat anaknya, mungkin dia salah satu contohnya dan gak mau bertemu dengan anaknya"


"Walaupun begitu..Jiho kan gak salah, meninggalkan seorang anak yg gak bersalah apa-apa itu sangat kejam, aku sangat ingin mempertemukan mereka kembali" Kata Sia sambil terus memantau ponselnya, dan sedang menunggu balasan email dari ibunya Jiho.


Moran menutup bukunya.


"Jangan terlalu ikut campur urusan mereka,lagipula ini bukan urusan mu, bagaimana pun kisah hidupnya,, tujuanmu dari awal hanya untuk menyembuhkan OCDny kan ? kalau ibunya gak mau ketemu kau cari cara lain saja, lagipula katamu bukunya tinggal satu halaman lagi kan?"


"Kak, tolong katakan padaku, aku harus bagaimana?" Sia memasang muka imutnya.


"Menyerah" Kata Moran tegas.


"Apa katamu? menyerah!! gak akan, kau tau kan dari awal seberapa keras nya aku usaha" Kata Sia, mantap.


"Kan dari awal sudah ku bilang, jangan terobsesi dengan mangsa sendiri, plis deh jangan buang waktumu Sia, jadi sekarang, menyerah sajalah, merubah kehidupan seseorang bukanlah hal yg mudah, itu butuh waktu dan proses, terlebih lagi kau masih terlalu muda untuk menghadapi hal itu" Kata Moran sambil beranjak dari tempat duduk nya.


"Dan berhenti main-main ke kantorku, kau hanya mengganggu jadwalku saja, pasien ku gak bisa dateng gara-gara kamu" Lanjut Moran kepada Sia.


"Huh, kau kan gak benar-benar mau konseling, aku tau kau ingin berburu kan?"


"Apa maksudmu hah? kenapa kau menuduh ku seperti itu, mana coba buktiin?Begitu kah caramu berterima kasih"Kata Moran sambil merangkul Sia dari belakang dengan keras.


"Ma....maaf maafkan aku Moran" Kata Sia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Moran.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku karena gak mengadukan mu pada ayah" Kata Moran sambil melepaskan cengkraman nya.


Sia beranjak dari tempat duduknya,


"Huh, baiklah aku pergi"


Sia lalu berjalan menuju pintu, dan berhenti sejenak sambil berkata.


"Benar, aku bukan anak kecil lagi, jadi aku gak akan menyerah, kau lihat saja aku akan terus memburu nya, dan akan ku tunjukkan padamu bahwa aku bisa melakukannya..huh, sampai jumpa!!"

__ADS_1


"Kau melakukan demi apasih ampun deh" Kata Moran.


Bruk......tanpa mendengarkan Moran, Sia menutup pintu itu dengan kerasnya.


"Fiuh, itulah sebabnya aku mengkhawatirkan mu, kamu itu terlalu muda Sia"


**


Cahaya Lighting menyinari tubuh Sia dan cowok tampan didalam pelukan nya.


"Aku tau itu gak mudah, dan aku tau itu terlihat sangat bodoh, sejauh ini aku selalu mendapatkan dengan mudah apa yg aku mau, orang-orang yg aku taksir selalu mendekati ku duluan, dan yg perlu ku lakukan hanyalah, mengulurkan tanganku " Batin Sia.


Sia sedang melakukan pemotretan dengan model cowok yg cukup tampan.


Si cowok memakai kemeja warna merah yg kancing nya terbuka seluruhnya, dia sedang berbaring di atas kasur yg disamping nya sudah dipenuhi dengan properti foto, dan tas yg dipakai untuk endorse.


Sia berbaring di samping cowok itu, sambil menyentuh dada bidang model cowok itu dengan tangan nya.


"Apakah ada hal lain yg sangat ku inginkan selain dia? Apa aku selalu berusaha untuk mendapatkan apapun yg ku mau? rasanya aku dimurnikan kembali setelah menyentuhnya, energi yg hangat dan murni menyelimuti ku, sepertinya aku gak akan pernah bertemu lagi dengan cowok seperti itu" Batin Sia sambil membayangkan sosok tampan Jiho, dan tentunya Sia masih melakukan adegan pemotretan.


"Ya itulah sebabnya aku gak akan menyerah, gak ada kata gagal dalam misi pemburuan ku, aku akan mendapatkan dia, bagaimana pun caranya, tapi apa yg harus ku lakukan?" Sia masih berbicara sendiri dalam hatinya dengan bersemangat,, tanpa sadar dia sudah menyerap banyak energi dari model cowok itu.


Klik....klik....klik...Jepret...jepret...


"Oke selesai, kerja bagus semuaa, terima kasih"Kata Fotografer.


Sia beranjak bangun dari rebahan di samping model cowok itu.


Ketika si cowok mau bangun tiba-tiba badannya terasa lemas dan pusing, sehingga dia ambruk gak kuat untuk bangun dari kasur empuk itu, dia hanya bisa duduk.


"Hei, apa kau baik-baik saja, kau kelihatan gak enak badan" Asisten Fotografer buru-buru menghampiri model cowok itu.


"Aku gak tau kenapa, kok tiba-tiba badan ku terasa lemas dan rasanya aku capek sekali" Si model cowok berkata sambil memegangi kepala nya yg sedikit pusing.


Sia Lee yg sejak tadi sedang duduk tak jauh dari tempat kejadian, tersenyum menyeringai.


"Malah aku sebaliknya, aku merasa bersemangat, mungkin aku udah nyerap energi dia terlalu banyak, eh ngomong-ngomong udah empat hari emailku gak di balas, apa artinya ini aku ditolak" Kata Sia sambil mengambil ponselnya yg ada di atas meja.


"Eh, tu tunggu......inikan...inikan....balasan emailnya"


Sia kaget melihat notifikasi di ponselnya bahwa email dia dibalas oleh orang yg dia tunggu-tunggu.


**


Ting tong.....ting tong.....


Suara bel pintu rumah Jiho berbunyi.


Jiho yg sedang duduk diruang kerjanya heran.


"Siapa sih jam segini pula?"


TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG.


Suara bel makin cepat.


"Ugh....ini pasti...."


Jiho lalu beranjak dari tempat duduknya, dan membuka pintu rumah.


Kriet...suara pintu dibuka.

__ADS_1


"Hai selamat malam, kau belum tidur kan?" Kata Sia semangat menyapa Jiho dengan senyum lebarnya.


"Ada apa tengah malam begini? kan bisa lewat telepon"


"Aku cuma mampir bentar pas mau balik, dan ada yg harus ku katakan padamu, nanti hari Minggu jam tiga sore, kau punya waktu gak? aku mau kau menemaniku ke suatu tempat"


"Hari Minggu??" Jiho bertanya heran.


"Kau tau kan masih tersisa satu halaman lagi, ada sesuatu yg spesial buatmu"


"Sesuatu yg spesial?? uh baiklah..." Kata Jiho malu-malu, dan entah kenapa dia mulai memikirkan hal yg nakal.


Sia melongo melihat Jiho dan dibuat tanda tanya olehnya.


"Ada apa dengan ekspresinya" Batin Sia.


***


Hari Minggu pun tiba..Sia dan Jiho sudah berjalan bersama menuju tempat yg Sia maksud.


"Kita mau kemana?" Tanya Jiho kepada Sia yg sedang asyik melihat ponsel sambil berjalan disamping nya, dan entah kenapa pula hari ini Jiho mengancingkan semua kancing kemejanya, sampai kancing leher lho.


*aya.aya wae ah Jiho heheheh*


"Karena kita udah setengah jalan, bisakah kau memberitahu kita akan kemana, aku juga kan berhak tahu" Jiho terus bertanya pada Sia.


"Kau akan tahu sesampainya disana, kita akan pergi ke tempat yg menyenangkan"


#Tempat yg menyenangkan,,Ini bisa digunakan sebagai kode rahasia untuk menyiratkan rayuan.


Jiho mendengar Sia berkata seperti itu makin salah paham dibuatnya, Jiho jadi berjalan perlahan dibelakang Sia dan menjaga jarak darinya.


"Te...tempat yang menyenangkan? apa maksudmu? Kau..kau mau membawaku kemana? dari awal aku...aku gak berniat melakukannya , aku gak tau apa yg kau lakukan malam itu, tapi a....aku" Jiho parno dibuatnya dan berbicara sendiri dengan gagap.


Sia yg berjalan sedikit di depan Jiho, tidak menghiraukan apa yg Jiho katakan,Sia fokus melihat ponselnya dan sedang mencari alamat.


"Sepertinya daerah sini deh" Sia melihat sekeliling.


"Nah itu diaa, ketemu" Teriak Sia menoleh kepada Jiho sambil menunjuk sebuah kafe.


Jiho yg sejak tadi sangat ketakutan akhirnya bisa tenang..


"Ke....ke Kafe?" Tanya Jiho.


"Iya, hayu masuk, memangnya kita mau kemana, ah kau ini"


Mereka berdua lalu masuk ke kafe itu, suasana nya tidak begitu ramai.


"Kenapa kau mengajak ku kemari? kalau hanya sekedar minum kopi kan bisa di dekat rumah, kenapa membawa....."


"Karena kita akan bertemu seseorang" Kata Sia memotong Jiho berbicara.


"Hah, bertemu siapa? Tunggu aku gak mau bertemu dengan sembarang orang" Jelas Jiho.


Sia terus melihat sekeliling, dia mencari nomor meja yg sudah dipesan nya.


"Ah itu dia, meja no 19" Sia menunjuk sebuah meja disudut ruangan, dan disana sudah ada seorang wanita sedang menunggu mereka.


"Jiho......." Panggil wanita itu.


Jiho melihatnya kaget , jantung nya berdegup cepat, dengan mata terbelalak yg hampir tidak percaya dia akan bertemu dengan wanita itu disini....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa likenya gaes gaes❤️


__ADS_2