Tak Bisa Di Sentuh

Tak Bisa Di Sentuh
29. SUDAH BERAKHIR KAH?


__ADS_3

Sia daritadi sedang duduk seorang diri dimeja diluar Kafe.


"Tunggu, apa aku membuat kesalahan? wajah itu.....jelas sekali menunjukan ekspresi orang yg sedang kebingungan" Kata Sia berbicara sendiri sambil mengingat kembali ekspresi Jiho sesaat sebelum Sia keluar Kafe.


"Mungkin.....merindukan ibunya akan berbeda ekspresinya daripada bertemu langsung, dan aku rasa ini terlalu mendadak untuknya, tapi kalau aku beritahu dia duluan, dia gak akan mau ikut dengan ku, bagaimana kalau OCDnya semakin parah setelah dia bertemu dengan Ibunya, haduh jangan sampai deh pliiissss"Sia berbicara sendiri.


Kriet....


Tiba-tiba pintu Kafe terbuka., Jiho keluar dari Kafe itu.


Sia kaget dan buru-buru memanggil nya.


"Eh Ji.....Jiho, apa kau baik-baik saja?"


Jiho terdiam sesaat,dia menatap tajam kepada Sia.


"Sudah kuduga dia pasti marah" Batin Sia.


Masih dengan tatapan tajamnya, Jiho bertanya kepada Sia dengan nada yg sangat dingin dan angkuh.


"Kenapa kau melakukan itu? apa maksud mu?"


Sia gemetar dibuatnya.


"Hmmm ku pikir kau butuh dihibur oleh seseorang, dan kupikir jika kau bertemu dengannya, kau akan merasa lebih baik, kenapa?? apa dia mengatakan sesuatu yg mengerikan?" Tanya Sia dengan sedikit gugup.


"Ya, dia mengucapkan sesuatu yg mengejutkan bukan mengerikan?"


"Sesuatu yg mengejutkan?" Tanya Sia bingung.


Jiho teringat apa yg dia bicarakan bersama ibunya sesaat sebelum dia keluar Kafe.


Flashback..


"Sepertinya Sia gadis yg baik, saat aku bertanya pada dia, apa dia pacarmu, dia hanya bilang kalau dia suka padamu Jiho"Kata Ibu Jiho tersipu.


"Dia hanya seorang gadis tetanggaku" Sanggah Jiho dan sedikit salah tingkah.


"Senangnya punya seseorang yg peduli padamu, Aku ikut sedang ada dia disamping mu"


Flashback end.


"Kenapa tatapan Jiho begitu tajam padaku, sesuatu seperti apa yg ibu Jiho bicarakan, apa mereka membicarakan ku??" Batin Sia.

__ADS_1


Sia mencoba bertanya pada Jiho dengan gugup dan gelisah.


"Sesuatu yg mengejutkan? a.....apa yg dia katakan? padahal dia gak terlihat seperti orang yg tipe nya begitu"


"Terima kasih" Kata Jiho tiba-tiba.


"Eh apa?!" Sia kaget.


Jiho menunduk.


"Sebenarnya bisa saja aku menemuinya jika aku mau, aku bahkan tau tempat tinggalnya, tapi.......Ku pikir aku gak berani, aku takut ditolak olehnya, aku gak mau berbicara dengannya, aku terlalu takut mendengar bahwa aku gak berarti apa-apa untuknya, itulah mengapa selama ini aku gak menghubungi dia"


"Jiho........" Sia menatap Jiho dengan lembut.


"Aku tau, aku dan ibuku itu mirip, kami berdua sama-sama melarikan diri dari satu sama lainnya karena kami takut terluka,setelah bertemu dengannya aku jadi sadar hal yg aku dambakan bukanlah ibuku, tapi rasa ingin dicintai itulah yg selama ini ku inginkan" Jiho lalu menatap lurus ke jalan dengan tatapan kosong dan masih berbicara dengan Sia.


"Awalnya aku kesal karena kau ikut campur, tapi sekarang mungkin itu lebih baik, rasanya lega bisa bertemu dengannya, Jadi terima kasih sudah ikut campur di kehidupan ku" Jiho menoleh ke arah Sia dan menyantapnya dalam dan penuh arti.


Deg deg deg..


Seketika jantung Sia berdegup cepat melihat tatapan Jiho.


"Tu....tunggu...tatapan nya ituu" Batin Sia sambil melongo gak jelas.


"Hei, kenapa bengong, hayu pulang, ikut gak?" Kata Jiho menyadarkan lamunan Sia.


"Ah iyaa iyaa, aku ikut" Sia kaget dan mengikuti Jiho dari belakang.


Sia masih memegangi dadanya.


"Dan nafasku sekarang terasa sesak, kenapa ini? selama ini aku gak pernah merasakan ini sebelumnya, ah itu gak penting, yg penting sekarang dia sudah berjumpa ibunya dan semuanya berjalan lancar, itu artinya......" Sia berbicara sendiri dalam hati.


Sia dengan cepat melangkahkan kakinya mengejar Jiho, dia tiba-tiba menggenggam tangan Jiho dari belakang.


Jiho kaget langsung menoleh ke belakang


"Hei apa yg kau lakukan, Kenapa kau memegang tanganku tiba-tiba? pasti ada bakteri staphylococcus" Teriak Jiho sambil mengeluarkan cairan anti bakteri dari tasnya dan langsung menyemprotkan cairan itu ke tangannya.


"Ta...tapi kenapa, kau kan udah bertemu dengan ibumu, seharusnya penyakit mysophobia mu sudah sembuhkan?" Kata Sia sambil melihat tangan yg tadi memegang Jiho.


"Apa yg kau bicarakan? penyakit itu gak gampang sembuh begitu saja tau" Kata Jiho.


Jeddeerrrrrr......

__ADS_1


Sia sangat kaget mendengar ucapan Jiho seolah ada petir disiang bolong yg menyambarnya.


"Ini seperti kebiasaan lama, gak mudah bisa sembuh begitu saja, butuh waktu yg cukup lama untuk menyembuhkan nya" Jelas Jiho.


"Apa.....? ng..nggak mungkin, kupikir itu akan sembuh setelah dia bertemu dengan ibunya, dan bukunya hanya tersisa satu halaman, lalu apa yg sudah ku lakukan? aku begitu ceroboh" Batin Sia memberontak dia gak tau apa yg harus dilakukan nya, dia pikir semua akan sesuai dengan harapannya, tapi apa? ternyata kenyataan gak sesuai dengan ekspektasinya.


Mereka lalu pulang bersama, tak terasa malam sudah begitu larut, dan gak lama mereka sudah sampai didepan rumahnya Sia. Mereka berhenti sejenak.


"Terimakasih atas semuanya, termasuk untuk hari ini.." Ucap Jiho.


Sia hanya diam saja mendengarkan Jiho berbicara, dia masih gak percaya dengan apa yg dia alami hari ini, benar-benar jauh dari dugaan nya.


"Sebenarnya aku gak keberatan hidup seperti ini, karena memang mungkin ini sudah jadi kebiasaan ku, tapi aku ingin sedikit berubah, jadi mengenai buku ku....."Kata Jiho masih terus menatap Sia.


"Aku gak bisa memberikan nya padamu" Sia langsung memotong Jiho berbicara.


"Apa..?" Jiho kaget.


Sia mengepalkan tangannya.


"Ku bilang aku gak bisa mengembalikan buku itu padamu"


"Apa maksudmu, tapi kan perjanjian nya...."


"Persetan dengan perjanjian nya, ma.....maksudku aku gak bisa mengembalikan buku itu seperti ini, aku gak mau" Sia sedikit berteriak.


"Tapi..kenapa tiba-tiba?" Jiho bingung dibuatnya, dia terus menatap Sia heran.


"Aaaarrhhhh aku gak tau, berhentilah bertanya" Teriak Sia, sambil memegang kepala dia sendiri dengan kedua tangannya.


"Yang penting aku gak mau mengembalikan buku itu sekarang..titik, nanti saja kita bahas yaaa nanti saja" Sia langsung masuk ke dalam rumahnya..


"Nanti?? tu..tunggu Sia.."


Bruk...


Sia menutup pintunya dengan keras, dia sengaja menghindari Jiho takut Jiho bertanya banyak kepadanya.


Dibalik pintu Sia berbicara sendiri.


"Kalau ku kembalikan padamu, nanti kau gak akan punya alasan untuk bertemu lagi denganku, lalu semuanya akan berkahir, dan ini benar-benar sudah berakhir kah????...aaaaarrrrhhhhhh aku benar-benar kacau, sekarang apa yg harus ku lakukan?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


hahayyyy gaesss, jngan lupa like and vote nya yaa❤️


__ADS_2