
Sia terus berjalan menghampiri Jiho dengan kancing atas kemejanya yg dia buka.
"Apa kau gak penasaran dengan yg lainnya? biar kutunjukkan padamu Jiho" Sia berbicara menggoda.
Jiho masih terpaku dengan apa yg ada dihadapan nya. Gadis cantik dengan belahan dada yg terbuka. Jiho sempat menelan saliva nya.
"Bagaimana menurutmu? apa kau mau tau lebih banyak tentangku?" Sia mencondongkan badan nya pada Jiho sehingga belahan dada itu lebih dekaat dengan Jiho.
Serrrrrrrr, darah disekujur tubuh Jiho mendadak Jiho rasakan mengalir lebih cepat , dan deg deg deg jantungnya berdetak lebih kencang, apalagi keringat yg sejak tadi membasahi pelipisnya.
Gak pernah dia berada diposisi ini sebelumnya, ini pertama kalinya bagi dia.
Apalagi melihat Sia yg begitu menggoda ingin rasanya Jiho segera menerkam sosok tubuh Sia yg sempurna itu, tapi.......
"To...tolong pergilah!!" Teriak Jiho,,dia sadar jika dia terus hanyut dalam keadaan seperti itu, dia takut kalau dia gak bisa menahan nya lagi.
"......Apa?!" Sia kaget.
"Kurasa aku sudah cukup mengenalmu, sekarang pergilah" Jiho memalingkan wajahnya dari Sia, dia menatap kosong ke jendelanya.
"Ta...tapi...." Bantah Sia.
Jiho melirik Sia dan membalikkan badan Sia mendorong Sia berjalan ke arah pintu.
"Apanya yg tapi, cepat pergilah"
"Tu... tunggu Jiho, aku kan belum melakukan apa-apa"
Jiho berhenti mendorong Sia.
"Melakukan apa? emangnya apa yg akan kau lakukan padaku?"
"Eh itu...um maksudnya hmm" Sia gelagapan jadinya.
Ekspresi wajah Jiho berubah jadi serius dan tajam menatap Sia.
"Dengar Sia, sebenarnya apa ini tujuanmu, menemuiku malam-malam begini?"
***
Keesokan paginya.
Bip bip....bip bip...
Anda mendapatkan pesan baru...
Sia yg lagi asyik dibawah selimut nya, meraba-raba ponsel yg dia simpan di atas meja dan melihat siapa yg mengirim pesan padanya di pagi hari buta seperti ini.
Baryu: Misi berhasil?????? gagal?????
Sia melihat Baryu yg mengirim pesan padanya.
"Huh, lebih buruk dari sekedar gagal" Gumam Sia.
Sia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke toilet, dia bercermin didepan kaca yg cukup besar sehingga mempertontonkan badannya yg bagus.
__ADS_1
"Semalam aku diusir dari rumahnya, walaupun dia menderita OCD, aku sudah setengah telanjang didepan nya, bukankah seharusnya dia bernafsu? apa aku gak menarik untuknya?"
Dia menundukkan kepalanya seolah sedang berpikir.
"Nggak mudah bagiku melakukan itu, aku malu banget anjayyy, dia melukai harga diriku, aku sampe gak tidur semalaman, itu gak sama dengan setengah telanjang seperti pemotretan"
"Kenapa dia menolakku? apa dia benar-benar cowok tulen? jangan-jangan dia gak punya itu, ah aku yakin dia punya kok, karena waktu itu aku pernah menyentuhnya" Sia mengangkat kedua tangannya dan melihatnya tajam.
Sia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Cih, Baryu si paok itu, nasihat? bah gak berhasil sama sekali, aarrghhh aku malu banget yakin, gimana aku bisa menemuinya sekarang? bodo amat ah bodo amat, mending aku mandi"
Sia lalu mandi dan bersiap mau berangkat kerja.
Sia udah rapi, dan keluar rumah..
Brak....Sia membuka pintu rumahnya dan....
"Eh,,Jiho" Teriak Sia kaget, dia malah berpapasan dengannya padahal dia saat ini sungguh ingin menghindarinya karena malu karena kejadian semalam.
Dengan gemetar Sia memberanikan diri bertanya pada Jiho.
"Ka...kau mau pergi kemana? Hari ini aku mau berangkat kerja, jadi........"
Belum sempat Sia mengakhiri kata-katanya, Jiho dengan lirikan yg tajam melengos begitu saja, tidak menggubris sama sekali pertanyaan Sia.
Sia hanya melongo heran.
"Apa...apa itu tadi? apa barusan dia mengabaikan ku?" Gumam Sia.
Sia lalu pergi ke tempat pemotretan, dia sedang di make up sama make-up artis disitu.
"Dia lagi bete atau kenapa sih? kalau iya, gak harus mengabaikan ku kan, kan malu jadinya" Batin Sia.
Sia lalu melihat ponselnya, dia melihat sms yg dia kirimkan pada Jiho sebelumnya , status pesannya hanya terbaca saja, dan lagi lagi Jiho mengabaikan nya.
"What? aku diabaikan lagi? dia membaca pesanku tapi gak membalasnya, apa-apaan huh, apa yg salah dengannya? lebih baik aku telepon saja ah" Gerutu Sia, sambil menelpon Jiho.
Tuuutttt...
Nomor yg anda tuju sedang berada diluar jangkauan, Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip..
"Bip??? apaan, idih" Kesal Sia.
Sia lalu memulai sesi pemotretan nya masih dengan suasana hati yg kesal.
Klik..klik...jepret...jepret...
Sia sedang duduk di sebuah sofa mewah klasik yg berwana keemasan, dia membawakan tas endorse ditangan nya.
Dia sedang memperagakan beberapa pose.
"Kenapa? ada apa? Kau itu kenapa sih?" Batin Sia terus memikirkan sikap Jiho hari ini yg terus-menerus mengabaikannya.
klik...jepret...
__ADS_1
"Oke selesai, terima kasih Sia" Kata Fotografer.
"Iya, sama-sama" Sia masih gelisah.
"Sia, apa kau baik-baik saja? Ku lihat kau mengerutkan dahi, ada yg gak nyaman yaa?" Kata salah satu kru yg ada disitu dan menghampiri Sia yg masih duduk disofa.
"Yaa ini tentang pacarku, dia gak mau mengangkat telepon ku dan mengabaikan sms dariku" Sia tertunduk lesu.
"Gak angkat telepon mu? kenapa? apa kau melakukan sesuatu yg salah?"
"Yah menurutku sih, nggak......."
"Itulah yg membuat pacaran itu rumit, karena kau itu harus memikirkan perasaan kedua belah pihak, saat seseorang begitu menghargai pasangannya, mereka cenderung bisa mengetahui apa yg dikatakan dan dilakukan pasangannya pada mereka, kalau pasangan gak saling perhatian, mereka akan tersakiti satu sama lainnya" Tutur Kru itu panjang lebar.
Sia hanya melongo mendengarkan apa yg kru itu bicarakan.
"Tersakiti? Yaa dia memang terlihat seperti itu, tapi kenapa? padahal aku hanya memintanya untuk menyentuhku, apa dia begitu membenciku? apa dia merasa aku ini kotor?" Batin Sia.
"Yaah, bagaimanapun kerjamu bagus hari ini" Kata kru itu menyadarkan lamunan Sia.
"Eh iya terimakasih" Sia kaget.
Kru itu berbalik mau pergi meninggalkan Sia.
"Segeralah berbaikan dengan pacarmu itu Sia, kalau kau merasa salah, minta maaf lah duluan, kalau sampai enggak, kalian bisa-bisa putus loh,,, yaudah yaa byeee" Kru itu melambaikan tangannya dan pergi.
"Pu......putus.....?!" Sia melohok sendiri.
**
Didepan rumah Jiho.
Jiho baru pulang dan mau masuk ke rumahnya, tapi tak diduga dan disangka Sia malah menghadang Jiho.
"Ki...kita harus bicara" Kata Sia
"Tentang apa?!" Jiho tanpa menoleh ke arah Sia, sibuk memijit tombol password rumahnya dipintu.
"A aku...aku minta maaf" Sia terbata-bata takut kalau dia salah ngomong lagi.
"Maaf buat apa?" Jiho jutek dan sekarang menoleh ke arah Sia dan menatapnya.
Sia jadi slah tingkah dibuatnya.
"Itu hmmmmm bu...buat...buat segalanya aku minta maaf padamu atas apa yg sudah ku lalukan padamu, karena sudah membuat mu kesal tapi...tapi menurutku apa yg kau lakukan itu keterlaluan, kau gak angkat telepon ku dan gak balas semua pesanku, kalau aku melakukan salah seharusnya kau memberitahu ku"
"Apa kau gak tau? kau gak tau kenapa aku melakukan ini semua?!" Tanya Jiho ketus.
"Tentu saja aku gak tau, bagaimana aku bisa tau apa yg kau pikirkan?"
Jiho menunduk.
"Ku pikir, kau akan memahami ku Sia, kau tau betul aku mempunyai masalah dengan itu dan kau tetap melakukan itu semalam? dari awal kau gak pernah peduli sama sekali dengan perasaan ku kan? kenapa kau mau pacaran dengan ku? apa ini sebenarnya yg kau inginkan? apa kau harus repot-repot seperti kemarin hanya untuk cinta satu malam?!"
"Bu....bukan begitu...nggak..." Sia mulai ngerasa bersalah pada Jiho.
__ADS_1
"Bagiku semua terasa sangat sulit, sangat sulit menghadapimu selama ini, sulit untuk bicara denganmu, jalan bersamamu,semuanya sangat sulit, tapi kurasa kau gak merasakan apa yg kurasakan selama ini, ku rasa aku ini cowok gampangan menurutmu, iyakan?!" Jiho yg tadinya menunduk menatap Sia dengan tajam.
Sia hanya tercengang dengan apa yg Jiho utarakan. Sia merasa sangat bersalah kepada Jiho.