
***
Jiho sedang duduk di ruang kerjanya. Dia terlihat gelisah.
"Aaarrrhhhh,, ini membuat ku gila, sampai kapan aku akan menghindarinya, aku gak bisa terus-terusan seperti ini, ini sudah tiga hari" Jiho teriak kesal pada dirinya sendiri.
Selama tiga hari ini, dia selalu menghindar jika bertemu dengan Sia. Jiho mengingat kembali setiap kejadian menggelikan itu.
Pertama saat di depan rumah nya, Jiho keluar rumah, ketika dia mau melewati rumah Sia, Sia tiba-tiba keluar dan Jiho buru-buru balik kanan masuk kembali ke rumahnya dengan kecepatan kilat dia berlari.
Kedua, saat pagi hari, di tempat pembuangan sampah, Jiho mau membuang sampah nya, yg sudah sangat menumpuk ketika sampai ditempat pembuangan sampah, dia melihat Sia berdiri disana sedang memilih-milih sampah untuk dibuang, Jiho langsung bersembunyi ditembok, gak mau kalau Sia Lee melihat nya.
Ketiga, ketika ditaman, Jiho sedang lari pagi, lengkap dengan pakaian olahraga dan handuk kecilnya, dia melihat Sia dari kejauhan, saat itu dia panik bukan main nya, dia melihat sekeliling mencari tempat untuk sembunyi, dia sembunyi di balik pohon ditaman itu.
"Karena kita bertetangga, aku selalu ketemu dia dimana-mana, aku gak bisa ingat semua kejadian yg terjadi kemaren saat aku minum, sudah kubilang aku gak bisa minum, kenapa? kenapa dia memberiku dua halaman? aku gak bisa bertanya dan ini membuat ku berpikir keras" Jiho duduk dimeja kerjanya sambil memegang kepalanya, dia jelas masih resah dan bingung.
"Aku ingat sih kalau aku nangis didepan dia soal ikan mas itu, bahkan itu sangat membuat ku benar-benar malu, aku gak pernah menunjukkan sisi diriku yg seperti itu ke orang lain sebelumnya, belum pernah sama sekali, ini pertama kalinya buatku, karena aku selalu sendirian dan selalu menyendiri dan aku gak pernah menunjukkan emosiku terhadap orang lain, ini untuk pertama kalinya dan dia tinggal di sisiku" Jiho membayangkan Sia.
"Apa jangan-jangan ...tanpa ku sadari aku sudah bergantung padanya? apa sebaiknya aku berterima kasih padanya karena sudah menghibur ku hari itu? Aisshhh sungguh memalukan" Jiho tak tahan mengingat kejadian itu, dia membenamkan mukanya ditangan yg dia taruh di atas meja.
**
"Penulis buku Harmonika yg Sedih? untuk alasan kerahasiaan, aku gak bisa memberimu nomor telepon nya, kalau boleh tau ada urusan apa yaa?" Tanya salah satu staf di bagian percetakan disebrang telepon sana.
Sia sedang berada disebuah Cafe, duduk sendirian menelpon ke staf kantor penerbit menanyakan nomor telepon dan alamat rumah ibunya Jiho.
"Hmmmmm......" Sia bergumam, gak tau harus jawab apa, tapi sebelum Sia menjawab staf itu sudah berbicara lagi.
"Kalau ini penting sekali, paling bisa aku memberi mu alamat emailnya saja, bagaimana?" Tanya staf itu.
"Yaudah deh gak apa-apa, kalau begitu kamu kasih aku alamat emailnya yaa, bentar aku nyari kertas dan pena dulu, okeh sebutkan..iyaaa oke terima kasih yaa...bye"
Tuuuttt....Sia menutup telepon nya.
"Bagus,, aku mendapatkan alamat emailnya, untung aku sempat terpikir untuk menghubungi kantor penerbitnya saja, kenapa si ayam gak terpikirkan hal ini dan mencari nya yaa? hmm aku harus mengirimnya email" Kata sia berbicara sendiri.
Dia menatap buku Harmonika yg Sedih ditangan nya.
"Sekarang aku tinggal punya satu halaman lagi, ini adalah kesempatan terakhir, kemaren aku merasa bersalah dan mengirimkannya dua halaman sekaligus, kalau dipikir-pikir sekarang, gak seharusnya aku melakukan itu" Sia menutup buku itu dan menyimpan nya kembali ke dalam tasnya.
Sia menyeruput minuman nya.
__ADS_1
"Paling gak aku menemukan cara untuk menyembuhkan OCDnya, dan kalau dia bertemu dengan ibunya kemungkinan besar OCDnya akan membaik dan aku akan bebas menyentuhnya, akhirnya sebentar lagi aku akan berhasil......bersiaplah kau ayam" Sia tersenyum kecut sambil menyimpan kembali gelasnya di atas meja.
"Ibu-ibu lihat ini" Seorang anak dan ibunya duduk disamping meja Sia.
Si anak menumpahkan es krim dibajunya sendiri.
Suara anak itu menyadarkan Sia dari celotehan nya seorang diri.
"Yaa ampun nak, kan ibu udah pernah bilang kalau makan es krim tuh hati-hati, jadi kena baju kan, nah lihat bajunya jadi kotor" Kata si ibu anak itu sambil membersihkan noda es krim dibaju si anak.
Anak itu hanya tersenyum lebar ditegur sama ibunya.
"Saat si ayam kecil, mungkin dia hanyalah seorang anak biasa pada umumnya dengan senyum cerah seperti anak itu, dan aku gak pernah melihatnya tersenyum" Batin Sia sambil melihat ke arah ibu dan anak itu.
Sia kembali meneguk minuman nya, dan dia melihat keluar jendela dengan tatapan kosong, dia mengingat semua kejadian yg dia alami dulu.
"Melihat kembali kehidupan ku sekarang ini, aku gak pernah sendirian, Aku selalu populer disekolah, karena aku termasuk cewek yg menawan sama seperti vampir-vampir yg lainnya, dengan kedua kakak ku dan orang tua ku, dirumah selalu ramai dan aku juga mempunyai sahabat yg peduli terhadap ku, aku gak pernah merasa kesepian" Kata Sia dalam hati..
"Huuuhh" Sia menghela nafas panjang.
"Bagaimana rasanya ditinggalkan? setelah ditolak berkali-kali, dia benar-benar menutup dirinya dari orang lain dan selalu sendirian, aku gak bisa membayangkan betapa kesepian nya dia" Sia melamun sambil membayangkan sosok Jiho.
Sia kembali melihat buku Harmonika yg Sedih, itu.
**
Deg deg deg......
Wajah Jiho sangat pucat, dia berusaha menggerakkan tangannya untuk berani memencet bel rumah yg ada di depannya itu.
Tangannya hampir menyentuh bel itu, tapi buru-buru dia tarik kembali, dia mengurungkan niatnya.
"Uughh, aku gak bisa, aku gak bisa tiba-tiba dateng ke rumah dia hanya untuk mengucapkan terima kasih, pasti sangat aneh, tapi apa emang harus aku menemuinya? aku gak pernah sebelumnya berterima kasih sama orang" Kata Jiho sambil melihat tangan nya yg dia tarik tadi.
"Apa sebaiknya aku menelpon nya saja? atau mungkin aku bisa sms dia saja yakan? tapi ah itu semua gak sopan, gak gentle juga, tapi apa yg harus ku lakukan sekarang? yaa mungkin aku berterima kasih nya saat kebetulan bertemu dengan dia saja kali yaa"
"Eh!! Jiho" Sapa Sia yg baru datang.
"Huaaaaa" Jiho kaget, dia hampir saja meloncat kalau Sia gak melihatnya.
*nah ini baru kebetulan bertemu kan Jiho..hehe hayoloh mau apaloh*
__ADS_1
Sia perlahan menghampiri Jiho dan dia bertanya.
"Apa yg sedang kau lakukan didepan rumahku"
Jiho langsung tergagap dibuatnya.
"Eh..um..itu..ah ya..aku mau bilang sesuatu soal soal...soal hari itu......"
"Hari itu? Ah maksudmu hari waktu kau mabuk cuma gara-gara segelas kecil minuman dan kau menangis kaya bayi itu, iyakan?" Sia Lee tertawa mengingat kejadian itu.
"Kau gak perlukan mengingat nya lagi, apalagi sambil tertawa begitu...., cih" Teriak Jiho kesal.
"Ahahha, iya iya deh, ohya kalau kau kesini hanya untuk minta maaf, gak usah Jiho karena sebelumnya pun aku sudah melakukan kesalahan terhadap mu"
"Nggak.., kau salah, aku kesini cuma mau bilang te terima kasih"
"Apa? terima kasih untuk apa?"
"Um..itu..untuk..karena..karena telah mengirim ku dua halaman"
"hah?!" Sia terpaku kaget.
"Apa? Dia kemari daritadi berdiri disini cuma mau bilang itu? sungguh cowok yg aneh" Batin Sia.
"Aku ..aku benar-benar ingin membaca halaman berikutnya, jadi ah jangan lupa kembalikan bukunya saat sudah selesai yaa, dah" Jiho bergegas mau pergi meninggalkan Sia.
"Jiho tunggu" Sia menghentikan nya.
"Kau gak perlu berterima kasih, karena kau layak menerimanya, kau juga memberi ku sesuatu.....sesuatu yg berharga bagimu"
Jiho diam sejenak sambil menoleh ke arah Sia.
"Karena itulah aku mengirim mu dua halaman sekaligus, jadi kamu gak usah khawatir, sampai jumpa" Sia Lee lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Sesuatu yg berharga?" Jiho masih diluar rumah Sia, dan masih berdiri kebingungan.
"Apa bercanda ku keterlaluan ya? tapi itu beneran bukan candaan kok, si ayam telah memberiku energi yg sangat berharga, ah aku jadi ketagihan minum-minum lagi dengannya" Kata Sia dibalik pintu didalam rumahnya.
Jiho lalu berlari ke rumahnya dan
Brak........dia setengah membanting menutup pintunya.
__ADS_1
"Hah, apa itu? dia bilang sesuatu yg berharga.....apa sebenarnya yg telah dia ambil dariku? aku jadi takut"