
Sia langsung terdiam dengan pertanyaan Baryu, sebenarnya Sia bingung dengan perasaannya sendiri saat ini.
"Ku ulangi Sia, jangan-jangan kau udah jatuh cinta padanya, iyakan? maksudku kau gak melihatnya sebagai pria kan? jawab Sia" Tanya Baryu.
Sia masih terdiam terpaku sendiri, pertanyaan Baryu telah membombardir dirinya.
"Aku jatuh cinta padanya?" Tanya Sia mengulangi pertanyaan Baryu.
"Ha ha ha ha apasih yg kau bicarakan Baryu, astagaaa kau ini lucu sekali..hahahah" Tiba-tiba Sia tertawa terbahak-bahak.
"Yaa, aku kan cuma nanya, apa kau jatuh cinta pada makanan mu?"
"Haha...aduuhhh, kau kan udah mengenalku lama, kau tau sendiri kalau aku menginginkan sesuatu, aku akan terus berusaha dengan segala cara sampai aku mendapatkan apa yg aku mau, dan sekarang pun sama sepertu itu Baryu, hehe bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada manusia, gak akan mungkin, kau salah paham" Kata Sia sambil menyeruput minumannya.
"Oke baiklah, aku mengerti" Baryu tersenyum licik.
"Kalau begitu aku akan membantu mu berburu, dan setelah kau mendapatkan apa yg kau mau, kau bisa langsung putus dengan nya"
"Pufffttt" Sia kaget dan tersedak.
"Hah? oh oke oke"
"Aku kasih tau yaa, untuk membuat pria ingin menyentuhmu, yg penting adalah daya tarikmu, dan ada dua cara yg sangat efektif dan akan ku rekomendasikan untukmu" Baryu mengangkat dua jari tangannya.
"Dua?"
Baryu mengangguk kemudian dia sedikit bangkit dan mencondongkan badannya kepada Sia sambil berbisik.
"Blak-blakan atau Buka-bukaan" Bisik Baryu.
Sia langsung melotot mendengar kata-kata itu. Badannya seketika langsung panas, keringat dingin keluar dari pelipisnya.
Masih dengan ekspresinya yg seperti itu, Baryu pamit pada Sia karena besok masih ada jadwal, dan langsung berlalu pergi meninggalkan Sia seorang diri di Kafe itu.
Baryu sampai di apartemen nya.
"Aku pulang...." Teriak Baryu membuka pintu dan memasuki apartemennya.
"Eh kau masih belum tidur? apa yg kau lakukan? menungguku?" Tanya Baryu kepada Sihwan yg sedang asyik menonton hiburan malam di televisi.
"Nggak kok, aku cuma gak bisa tidur"
"Kalau gitu, gimana kalau kita minum bir aja yuk" Ajak Baryu tersenyum sambil berjalan perlahan menghampiri Sihwan yg sedang duduk di sofa.
"Apa? Kenapa?" Sihwan menoleh.
"Kelihatannya kau sedang bahagia sekarang?"
"Kau tau, kata Simba dia berpacaran hanya ingin berburu saja, tanpa ada maksud lain, sebenarnya dia gak pernah berpacaran dengan siapapun, dan itu gak buat aku kepikiran sih, tapi sekarang gak perlu ada yg aku khawatirkan" Kata Baryu mantap.
Baryu duduk disofa dan menyilangkan kakinya.
"Kalau ini tujuannya hanya untuk bisa berburu, aku sebagai calon suaminya bisa memahaminya kok, karena aku emang cowok pengertian"
"Idih, kau tau, aku benar-benar penasaran darimana asal rasa percaya dirimu itu muncul..hadeehh" Kata Sihwan sambil terus fokus menonton tv.
"Aku gak peduli selama dia gak serius soal itu, simba membutuhkan ku, simba pacaran? cih,,, itu gak masuk akal sama sekali apalagi dengan manusia, tapi tetap saja aku gak suka dia berpacaran" Kata Baryu langsung berdiri.
"Jadi kuberi beberapa nasihat nakal, agar mempercepat tahap dia memiliki cowok itu"
"Beberapa nasihat nakal?" Sihwan mulai curiga dan gak enak hati soal itu.
Tiba-tiba muka Baryu memerah dan senyum-senyum sendiri, dia ingat nasihat apa yg dia sampaikan pada Sia di Kafe itu.
"Iyupss, kau tau kau ingin menyentuh seseorang pada saat kau tertarik secara seksual pada orang itu kan? seperti saat dia melihat tubuhmu yg basah atau bagian tubuhmu yg agak terbuka, kalau kau lakukan salah satunya saat kau sedang bersamanya aku yakin, pasti dia ingin menyentuh mu" Kata Baryu kepada Sia di Kafe.
**
Di ruang kerjanya, seperti biasa Jiho sedang asyik bergulat dengan komputernya..
__ADS_1
Tek tek tek tek...tek tek tek...tek....tek...
Jiho sedang menulis sesuatu yg sangat penting.
Bip bip....bip bip.....
Anda menerima pesan baru.
Jiho lalu membaca pesan di ponselnya.
Penguntit: Hai, malam Jiho, tolong buka pintu, aku ada di depan rumah nih.
Jiho langsung bergumam setelah membaca pesan itu.
"Di depan rumah? wayah gini?"
Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung bergegas ke depan dan membukakan pintu untuk Sia.
Kriiettt.....
Suara pintu dibuka.
Saat pintu dibuka Jiho beberapa detik terdiam melihat sosok wanita cantik didepannya, Sia datang dengan memakai kemeja warna putih lengan panjang, yg yaa menurutku gaes kemeja itu pantas dipakai oleh abah-abah yg gemuk karena kemeja warna putih itu hanya sampai menutupi paha putihnya saja dan mempertontonkan dengan jelas kaki jenjang nya yg putih dan mulus.
"Ada apa? ini kan sudah malam?" Tanya Jiho tenang.
"Jiho..apa aku boleh masuk sebentar? Aku bersih kok dan aku udah mandi barusan"
Jiho terdiam.
"Masuklah" Ajak Jiho kemudian.
"Eh berhasil" Batin Sia tersenyum.
Mereka berjalan ke ruang tamu.
"Ada perlu apa malam-malam begini? ada yg perlu kau sampaikan padaku?"Tanya Jiho.
Jiho menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke Sia.
" Kalau begitu Sia, kemarikan tanganmu"
Sia langsung olohok dibuatnya.
"Wah wah beneran berhasil, dia yg duluan minta tanganku" Batin Sia kegirangan.
"Ta.. tanganku, kenapa emangnya?" Sia lalu mengangkat tangan nya seolah sedang memperlihatkan sesuatu pada Jiho.
Jiho lama menatap tangan Sia dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya..
Sroott...sroottt......sroottt
"Mana tangan satunya?" Jiho menyemprotkan cairan anti bakteri ke tangan Sia.
*hahahaha dasaarrr,, ekspektasi lebih indah dari kenyataan loh Sia,, (diem deh lu thor)....huhuhu dibentak Sia huhuhu😭*
Sia masih dengan wajah yg pucat pasi seperti melihat hantu, menaikkan tangan satunya dan Jiho menyemprotkan cairan itu dikedua tangan Sia.
"Jangan menyentuh apapun" Jiho berbalik dan meninggalkan Sia yg masih berdiri speachless.
"Apa??????.apa-apaan sih dia, ini gak cukup buatku, aku akan memperlihatkan pesonaku" Batin Sia.
"Kau mau minum apa?" Tanya Jiho menoleh ke arah Sia.
Tapi apa yg sedang dilakukan Sia, dia malah nemplok ditembok dengan tangan yg satu menyandar ke tembok dan dia simpan di kepalanya , tangan yg satunya dia simpan di pinggangnya yg bagus, dia berpose seolah sedang melakukan pemotretan. Dia berpose dengan sedikit memonyong-monyongkan bibirnya, dan badannya dia lekuk lekukkan.
Jiho yg melihat drama itu malah kebingungan.
"Apa yg sedang kau lakukan? jangan sentuh dindingnya, aku baru membersihkannya tau" Kata Jiho.
__ADS_1
Tau usaha nya gak membuahkan hasil, Sia langsung berdiri tegak.
"Ah..um aku hanya sedang berlatih pemotretan he he" Sia tersenyum kecut.
"A.....apa kenapa sama sekali gak berhasil?" Batin Sia.
Mereka berjalan dan memasuki ruang kerja Jiho.
Jiho lalu membawa sebuah kursi dan dia letakkan di dekat Sia, tak lupa kursinya sudah dilengkapi dengan kain yg menutupi semua bagian kursi itu dan menjadi alas duduk Sia.
"Tolong duduk disini dan jangan mondar-mandir" Pinta Jiho pada Sia sambil menunjuk pada kursi yg sudah dia persiapkan.
"Ah iyaa, baiklah" Sia lalu duduk dikursi itu.
"Baryu sialan, apa dia memberiku nasihat yg salah, enggak!! aku gak boleh menyerah begitu saja, pasti ada kesempatan nanti,bagaimana pun aku akan menyantapnya malam ini, aku akan cari kesempatan" Batin Sia menggerutu.
Jiho kembali duduk dimeja kerjanya.
Sementara itu Sia sedang asyik mencari cara agar dia bisa menyentuhnya, dia sedang mencari topik pembahasan yg akan mereka bahas, karena untuk beberapa menit mereka hanya terdiam satu sama lainnya.
Sia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada rak yg dipenuhi banyak buku.
"Wah banyak sekali bukumu, apa sudah kau baca semua?" Tanya Sia memecah keheningan.
"Aku suka baca buku, karena dengan membaca aku bisa mengalami banyak hal tanpa harus menyentuhnya"
"Tapi itu kan beda dengan pengalaman yg sesungguhnya, kurasa apapun itu lebih baik mengalami nya secara langsung dan mungkin pengalaman itu akan berbeda dengan yg ditulis si pengarang kalau kau alamin sendiri" Tutur Sia.
Jiho menunduk.
"Mungkin kau benar"
"Ohiya ngomong-ngomong novel jenis apa yg kau tulis? cerita cinta atau misteri?"
"Kau bilang, kau menyukai ku, masa kau belum pernah membaca buku ku?"
"Ah...eh itu....hmmm aku kan sibuk banget akhir-akhir ini" Sia gagap dibuatnya, dia tersadar gak pernah dia akan melakukan hal yg membosankan seperti itu demi seseorang apalagi membaca buku novel.
"Aku akan meminjamkan beberapa buku novel yg aku tulis, walaupun mungkin membosankan untukmu"
"Ohyaa gak masalah..he he he" Sia tersenyum terpaksa.
Jiho kembali disibukkan dengan komputernya.
Sia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan berkeliling diruangan itu melihat-lihat.
"Astagaa aku hampir aja membuat kesalahan, aku harus mengganti topiknya ke..." Batin Sia.
"Eh ini kan" Sia kaget dan mengambil sesuatu yg ada di rak buku Jiho.
Jiho kaget dibuatnya dia menatap tajam lurus dimana tempat Sia berdiri.
"Ini kan majalah yg ada wawancaranya dengan ku?" Sia berbicara sendiri namun masih terdengar oleh Jiho.
Jiho langsung berdiri dan buru-buru menghampiri Sia.
"Su....sudah ku bilang jangan sentuh apapun, berikan itu padaku" Jiho mengambil paksa majalah yg sedang Sia pegang.
"Benar kan? itu adalah majalah yg ada wawancaranya dengan ku kan? kamu beli sendiri?" Tanya Sia tersenyum menggoda.
"Bukan urusanmu" Jiho ketus.
"Kenapa kau membelinya?"
"Aku penasaran........aku mau tau banyak tentang mu Sia" Jiho menatap Sia dengan penuh perasaan.
Sia tercengang dibuatnya.
Deg-deg......deg-deg.......deg-deg....
__ADS_1
"Lagi lagi hatiku terasa cenat cenut, idih apaansih ini aku kan kesini mau berburu, bangun Siaa bangun,, oke kalau cara ini gak berhasil, aku akan............." Batin Sia.
"Kalau begitu, akan ku beritahu karena menurutku sebaiknya kita harus mengenal dekat satu sama lain, Jiho bagaimana menurutmu....?" Sia berjalan mendekati Jiho, dengan tatapan menggoda nya Sia membuka kancing kemejanya.