
Mereka masih berbicara di depan rumahnya Jiho.
"Ku ulangi sekali lagi, sebaiknya kau hentikan semua ini sekarang" Kata Jiho kepada Sia.
"Apa, kau gak perlu buku itu lagi? apa maksudmu? kau bilang buku itu sangat penting bagimu, kau ini kenapa sih?" Sia heran dengan apa yg Jiho katakan, kenapa tiba-tiba dia berubah.
Jiho masih terdiam.
"Jiho,, ayolah apa hanya karena gara-gara kejadian di kebun binatang? atau kalau hari ini kamu gak enak badan kita bisa pergi lain waktu" Sia terus membujuknya.
"Enggak....gak bisa..aku harap jangan pernah mendatangiku lagi, tolong tinggalkan aku sendiri" Jiho berkata tenang, dan masih dia dengan ekspresi sedih dan muram nya.
Sia kaget, ada apa sebenarnya ini? mana mungkin sikapnya bisa berubah dalam semalam.
Jiho mau menutup pintunya, namun Sia keburu menahan nya.
"Tu tunggu, kurasa kita baik-baik saja, dan kau pun membaik, kenapa kau tiba-tiba bersikap begini? Aku tau ini sulit bagimu, tapi kau gak boleh............."
"Hentikaan..!!" Jiho berteriak sangat keras memotong Sia berbicara.
Sia sangat kaget dibuatnya, Jiho benar-benar gak terduga hari ini.
Jiho menatap tajam kepada Sia, dan berteriak dengan kasar.
"Aku gak pernah memintamu untuk menyembuhkan ku, kau datang sendiri padaku melakukan ini dan itu, kau pikir kau siapa, hah? Sekeras apapun kau mencoba, aku gak akan bisa disembuhkan, gak akan., jadi tinggalkan aku sendiri "
Brak...
Jiho menutup keras pintunya, dia sangat emosi.
Sia bingung dan masih tak percaya dibuatnya, ada apakah dengan hari ini sebenarnya?
"Tu tunggu......Jiho...."
Sia mencoba menghentikan Jiho namun apalah daya pintu sudah tertutup rapat.
Jiho menyenderkan badannya dibalik pintu di dalam rumahnya, wajahnya terlihat cemas dan bingung.
Duk duk duk duk..
" Jiho.........Jiho......keluar dulu sebentar, apa yg sebenarnya terjadi...Jiho..."
Sia masih berteriak dan menggedor pintu diluar sana.
**
Hari yg begitu cerah, cahaya matahari yg hangat, deru ombak yg begitu hebat tapi bisa membuat hati tenang.
Suara kicauan burung dan angin yg sepoi menambah indah suasana di pantai ini.
Sia berjalan-jalan sendiri ditepi pantai. Dia terus menyusuri pantai, hingga sampai ada sebuah kayu yg ikut tersapu ombak menyentuh kakinya. Lalu dia berjongkok.
__ADS_1
"Pantai ini kotor, padahal dari jauh pantai ini terlihat sangat indah, pasti inilah dunia yg dipandang oleh si ayam"
Sia teringat kembali dengan kejadian tadi didepan rumahnya Jiho.
"Jadi........." Sia bergumam
"Aaarrhhhggggtttt" Tiba-tiba dia berdiri dan berteriak sambil memegang kepalanya.
"Apa aku melakukan kesalahan? ada apasih dengan dirimu? Ada apa, katakan padaku?"
Sia menurunkan tangan nya dan melihat tangannya dengan tatapan bingung.
"Ini membuat ku gila, apa yg membuat dia berubah pikiran? semalam dia baik-baik saja, fiuh..kok bisa aku mempunyai masalah dengan seorang cowok, aku kan Sia Lee, perburuan macam apa yg seberat ini?, ini terlalu menyebalkan, padahal yg ingin ku lakukan hanyalah menyentuh tangannya"
Sia menurunkan tangannya yg sejak tadi dia lihat. Sekarang tatapan nya memandang laut lepas, sambil terus bergumam sendiri.
"Yaa mungkin dia bahagia dengan pribadi dia yg sebelumnya, cuma aku ini yg ingin menyembuhkan dia, apa aku ini serakah? Moran benar, sekeras apapun aku berusaha untuk menyembuhkan nya, itu tidak akan membuahkan hasil, karena dia sendiri gak mau, yups masih banyak ikan di laut, mungkin aku akan mencari orang lain yg lebih lezat darinya, Hmm apa sebaiknya aku..menyerah?"
**
"Ibu dimana kau..Huhu hu hu"
"Ayah, ibu pergi kemana?"
"hu hu hu hu hu"
"Jiho, maafkan ayah, maafkan ayah sudah membuat mu sedih"
"Jiho..........Jiho........"
Tring....tring....tring...
Suara Alarm.
Lamunan Jiho tersadarkan dengan suara alarm, seperti biasa keringat basah membasahi kening Jiho setelah mengingat sepotong kenangan masa kecilnya.
Setelah mengatur nafas dan mengelap keringatnya, Jiho bangun mematikan alarm dan melihat ke layar ponselnya 'waktunya memberi makan si ikan'
"Aku hampir lupa memberinya makan, untung ada alarm, oke saatnya memberi makan" Gerutu Jiho sedikit semangat karena mengingat si ikan.
Jiho lalu keluar dari kamarnya dan berjalan perlahan menuju ruang kerja nya, karena akuarium itu berada diruang kerja Jiho.
Kriettt.... (suara pintu dibuka)
Saat Jiho melihat ke akuarium nya, tiba-tiba ekspresinya berubah.
**
Di Kantor Agency.
"Maaf sudah merepotkan mu, untuk datang kesini, apa kau sibuk?" Tanya Nona kim kepada Sia yg sedang berdiri didekat meja kerjanya.
__ADS_1
"Ah engga kok, tadi aku hanya keluar mencari udara segar, ngomong-ngomong kenapa kau masih dikantor?" Sia bertanya penasaran.
"Coba kau tebak, kenapa aku menyuruh mu, datang kesini?" Nona kim menghampiri Sia dan duduk dengannya di sofa.
Sia bingung dan tidak menjawab pertanyaan Nona Kim, dia malah diam dan mengisyaratkan dengan wajahnya yg mengernyitkan keningnya kepada Nona Kim seolah dia tidak tau apa-apa.
"Kau lolos tahap pertama Sia..aaaaaaahhh" Teriak Nona Kim senang.
"Apa? Seriusan? kau pasti bercanda nona kim aaaaaaahhhh aku mencintaimu" Sia Lee lalu menyentuh tangan Nona Kim dan memegang nya dengan erat saking senang nya dia.
"Selamat ya, kau pasti bisa, aku tau itu" Kata Nona Kim, lalu dia sadar Sia sedang menyentuhnya.
"Hei,, lepaskan kau jangan terlalu lama,menyentuh ku, jangan-jangan kau mau menyerap energiku banyak-banyak yaa?" Nona kim dengan cepat menarik tangan nya yg sedang digenggam Sia.
Selain kedua sahabatnya Baryu dan Sihwan, Nona Kim juga tau, bahwa Sia Lee itu adalah seorang vampir.
"Aih...huft..." Sia langsung gak enak hati, jelas-jelas gak sengaja.
"Jaga tubuhmu yaa, seleksi tahap dua nya minggu depan di Italia"
"Ashiiaaappp"
"Ohya,beritahu teman mu juga, dia akan senang".
"Eh....." Mendengar Nona Kim berbicara seperti itu, dia kembali teringat pada Jiho.
"Gak usahlah, lagian juga dia gak tertarik".
Setelah dirasa cukup berbicara dengan Nona Kim, Sia lalu berpamitan pulang.
Dia berjalan seorang diri di tepi jalan, tiba-tiba dia melihat papan iklan yg sedang memperlihatkan model cewek dengan parfum UX edisi sebelumnya.
Sia berhenti dan menatap papan iklan itu.
"Aku akan menjadi model UX, tentu saja masih ada satu tahap lagi tapi aku sangat senang, haruskah aku memberitahu si ayam soal ini? walaupun dia membencinya, tapi bagaimana pun juga dia yg telah membantuku" Batin Sia.
Sia lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya, dan dia menelepon Jiho.
"Yaa terserah sih ya, dia mau tertarik atau enggak,yg jelas aku hanya memberitahu nya saja, yaa mungkin juga dia gak akan angkat telepon ku sih"
Tut....tut....tut....tut...
"Lama banget ngangkat nya, aku sms ajalah" Baru saja Sia mau menutup telepon nya, tiba-tiba Jiho mengangkat nya.
"Halo..." Suara Jiho terdengar sedih dan terpukul.
" Yaa halo Jiho, Hey kenapa? Ada apa ini?" Sia heran dan bertanya penasaran pada Jiho.
"Maafkan aku" Suara Jiho semakin berat.
"Kenapa? Apa yg terjadi sebenarnya?"
__ADS_1
"Maafkan aku....ikan...ikan masnya....mati"