
Ting tong.....ting tong......ting tong...
Sia terus memencet bel rumah Jiho, dia khawatir dengan keadaan Jiho takut terjadi apa-apa,, apalagi tadi waktu di telepon suaranya terdengar begitu sedih.
Ting tong......ting tong...ting tong...
masih belum ada pergerakan.
"Duh bagaimana ini, kenapa dia lama sekali buka pintunya?" Gerutu Sia.
Sia terus melanjutkan aksinya.
Kriet... (suara pintu dibuka)
Jiho membuka pintu, terlihat wajah Jiho yg muram dan sedih.
"Ah, Jiho, kau baik-baik saja?" Tanya Sia penasaran.
Jiho tertunduk lesu.
"Ma..maafkan aku..ini semua salahku........"
Belum selesai berbicara, Sia sudah memotongnya.
"Jalan-jalan yuk, kau butuh hiburan." Kata Sia cepat.
**
Indoor Cart Bar.
Di sebuah meja bar Sia Lee menuangkan soju (minuman alkohol) ke dalam gelas kecil.
"Minumlah" Kata Sia sambil menyodorkan gelas itu ke hadapan Jiho yg sedang duduk disampingnya.
"Aku gak bisa minum" Jiho menolak nya, dia masih dengan ekspresi yg muram.
"Ayolah ku mohon segelas saja, aku janji aku akan menjaga mu, kalau mabuk" Sia terus membujuk nya.
Jiho menoleh ke arah Sia, menatap Sia dengan banyak arti, setelah beberapa detik kemudian dia melihat ke arah gelas itu dan mengambilnya.
Dia masih berpikir.
"Minum minuman keras di saat suasana hati yg buruk, itu sangat membantu loh" Jelas Sia.
Jiho lalu meminumnya dengan sekali tegukan , glek.......
Sia berbicara kembali,
"Gak apa-apa kok minum minuman keras di saat stres berat,terkadang kamu harus jujur dengan perasaan mu, aku tau kamu sangat sedih kehilangan ikan mas itu, aku juga yakin kok si ikan bahagia tinggal bersama mu, jadi jangan sedih ya Jiho" Jelas Sia sambil menunduk.
Bruk....
Jiho sudah tak sadarkan diri akibat minum satu gelas tadi, dia sudah ambruk di atas meja.
__ADS_1
Sia kaget mendengar suara keras kepala Jiho yg sekarang sedang setengah tidur di atas meja.
"Ya ampun Jiho...Jiho...kau gak apa-apa? kau baik-baik saja kan?" Sia panik dan kaget, dia langsung sedikit menggeser tempat duduk nya menghampiri Jiho.
Sia Lee merangkul pundak Jiho dan mencoba menyadarkan nya dengan mengangkat bahu dan kepala Jiho.
"Angkat kepalamu, astaga pasti sakit kebentur meja, kepala mu sakit gak?" Tanya Sia..
Jiho perlahan bangun dari atas meja.
"Diaa mati......" Ucap Jiho sambil memegang kepala nya.
"Ikan itu mati gara-gara aku"
Sia Lee bengong dibuatnya.
"Apa dia udah mabuk? dia kan baru minum segelas soju, masa udah mabuk lagi, tapi yaudahlah kalauu begitu....hidangan sudah siap!!" Batin Sia.
"Gara-gara aku..hiks..hiks..Maafkan aku ikan mas" Jiho menangis.
"Astaga dragon, dia sangat rapuh saat mabuk, dan dia gak peduli disentuh, kalau begitu aku harus mencoba nya, mumpung dia....." Batin Sia dalam hati, sambil merangkul pundak Jiho.
Belum apa-apa Jiho terus mengoceh.
"Kenapa? Kenapa semua yg ku sayangi pergi meninggalkan ku, ayahku...ibuku....dan sekarang ikan mas itu...hiks hiks"
Jiho menangis sesenggukan.
"Ibumu?" Sia bertanya pada Jiho, dia sudah melepaskan rangkulan nya di pundak Jiho dan sekarang dia kembali duduk disamping Jiho sambil mendengarkan Jiho bercerita.
"Ya ibuku, ibuku adalah seorang penulis buku cerita anak-anak, saat aku kecil, dia sering membaca buku itu disampingku, itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku, Lalu saat umurku 8tahun, tiba-tiba orangtua ku bercerai, ibuku pergi dan aku tinggal dengan ayahku,, Huuuh" Jiho menghela nafas panjang, dan sesekali air matanya menetes.
Jiho melanjutkan ceritanya.
"Ku baca buku itu berulang kali, berharap dia akan kembali lagi..hiks hiks...gak lama ayahku menikah lagi,kurasa dia ingin aku memiliki pengganti ibu, ibu tiriku masih muda, dan ayah jarang pulang karena pekerjaannya,ibu tiriku dia masih terlalu muda untuk menjalani pernikahan dengan duda yg sudah mempunyai anak, sejak saat itu aku diurus olehnya, aku tau itu cukup berat baginya, dan mulai saat itu, penindasan dimulai"
Jiho teringat kembali kenangan dia waktu kecil bersama ibu tirinya.
"Anak jorok, kau tau kenapa ibumu gak kembali? karena kau sangat kotor anak bodoh, ibumu gak mau kembali pada anak yg kotor sepertimu, maka dari itulah ibumu meninggalkan mu..ha ha ha ha" Ibu tirinya ketawa jahat.
Jiho kecil terus menangis.
"Jadi aku mencuci tanganku berulang kali, aku yakin jika aku bersih ibuku akan kembali, setiap kali dia berkata kasar, aku membersihkan tanganku sebersih mungkin,disekolah bahkan aku tidak mau bersalaman dengan teman-teman ku karena aku takut kena kuman, seperti itulah aku menjaga jarak dari yg lainnya, dan kemudian aku sadar, betapapun bersihnya aku, ibuku gak akan kembali..hiks hiks" Air mata Jiho semakin mengalir membasahi pipinya.
Jiho terdiam sejenak, Sia Lee membiarkannya tidak mau mengganggu dulu.
Setelah beberapa detik terdiam, Jiho lalu melanjutkan nya.
"Tapi aku gak bisa menghentikan kebiasaan ini, dan sesaat setelah aku lulus SMA, ayahku meninggal karena sakit"
Jiho teringat kata-kata ayahnya dulu sebelum meninggal.
"Jiho maafkan aku, aku ayah yg buruk, selama ini aku telah menyusahkan mu, maafkan aku Jiho" Kata ayah sambil memegang tanganku.
__ADS_1
"Aku sedih sekali waktu itu, aku langsung pergi ke toilet untuk mencuci tanganku karena ayah memegang tanganku, Hiks hiks hiks...aku merasakan kehangatan tangannya untuk terakhir kali, tapi aku gak bisa menahannya, rasanya seperti mau mati, aku gak tahan, sejujurnya aku gak mau hidup seperti ini" Kata Jiho sambil mengusap air matanya.
Sia Lee tidak banyak bicara dia hanya menjadi pendengar yg baik.
Dia tertegun dengan apa yg barusan Jiho ceritakan.
Jiho masih tertunduk sedih dia gak berani mengangkat kepalanya tegak apalagi memandang Sia.
Setelah mereka merasa cukup tenang, Sia lalu mengajak Jiho pulang.
Mereka pulang naik taxi, dan sesampainya didepan gedung apartemen, Sia memapah Jiho keluar dari taxi.
Sia terus memapah Jiho yg masih dalam pengaruh minuman itu berjalan ke lantai dua, lantai dimana mereka tinggal.
Sampai mereka didepan pintu rumahnya Jiho.
"Nah kita sudah sampai, perhatikan langkah mu, Jiho coba bangun dulu sebentar, berapa kode rumahmu?, coba tekan!!"
Sia berusaha menyadarkan Jiho, untungnya Jiho sadar sesaat dan menekan kode rumahnya.
Mereka lalu memasuki rumah Jiho.
Bruk........
Sia membaringkan Jiho disofanya yg masih gak sadarkan diri.
"Fiuhhh...akhirnya, yaa ampun rasanya bahuku mau patah, sekarang aku jadi menyesal tentang keributan Baryu dan Sihwan waktu itu, Tapi gimanapun juga, akhirnya aku tau rahasianya"
Sia lalu duduk di sofa sambil memandang wajah tampan Jiho.
"Ngomong-ngomong dia benar-benar gak tahan minuman yg beralkohol, gak ku sangka dia akan seperti ini cuma gara-gara segelas kecil soju" Sia terus memperhatikan Jiho yg sedang terlelap di sofa.
Tiba-tiba...glek...
Muka Sia memerah seperti udang rebus.
"Bolehkah aku menyentuh nya, sebentar saja? Aduh Sia jangan begitu, kau gak boleh memanfaatkan orang yg lagi gak sadarkan diri, ta tapi ayam nya disini, dan gak tau kapan kesempatan ini akan ada lagi, baiklah sepuluh detik saja" Kata Sia dalam hatinya, seolah ada angel dan devil yg sedang debat, batin nya bergejolak melihat pemandangan yg awembaweks depan matanya.
Sia lalu menghampiri Jiho lebih dekat, lebih dekat....dan dekat lagi sehingga sudah gak ada jarak sejengkalpun antara mereka.
Sia perlahan mengulurkan tangannya, jantungnya deg deg deg begitu cepat, perasaan nano nano muncul saat itu.
"Aku gak bisa berhenti" Batin Sia.
"Maaf yaa Jiho, sebentar saja, ku mohon" Sia lalu menyentuh pipi mulusnya Jiho..
Sedang merasakan kelezatan sentuhan nya dipipi pria tampan itu, tiba-tiba tangan Jiho memegang tangan Sia.
Sia kaget bukan main, mata dia melotot, keringat dingin Sia mulai keluar karena kaget.
"Jangan........" Kata Jiho sambil memegang tangan Sia, tanpa membuka matanya.
"Jangan pergi dariku..tolong"
__ADS_1