Tak Bisa Di Sentuh

Tak Bisa Di Sentuh
02. ITU KAU? IYA KAN...


__ADS_3

"Maafkan aku, sekai lagi, aku benar-benar minta maaf"


Apa aku baru saja menyentuh bagian itu? gak mungkin kan?


Sia Lee berbicara di hatinya, dia kaget dan panik, apa yg harus dia lakukan dalam kesan pertama nya dia bertemu dengan pria itu.


Pria itu diam tak berkutik.


"hmmmm"


Tunggu tenang dulu, seolah gak terjadi apa-apa.


"Eh maaf ya, aku tadi benar-benar tersandung, kamu gak terluka kan?" Sia Lee tersenyum palsu menyembunyikan kepanikan dia.


"Apa kau puas sekarang, hah?"


Tiba-tiba pria itu berteriak marah.


"Eh..apa?."


Sia Lee menjadi bingung, kenapa pria ini? yg tadinya seperti jangkring ke injak sekarang malah seperti singa bertemu mangsa.


"Kamu, dia kan? Penguntit mesum yg suka mengikuti dan menyentuhku"


What?


"Kamu sehat kan? berhenti berpura-pura nabrak atau jatuh ke aku, apa kamu pikir aku gak tau, kamu itu tadi sengaja melakukan nya, iya kan?"


Ada yg salah nih.


Penguntit?


"Tunggu dulu, sepertinya kamu salah paham, aku tidak bermaksud menyentuh yang..kayanya enak itu...eh maksud ku bukan begitu.."


Sia Lee tidak tau bagaimana cara menjelaskan nya, tapi yg jelas tadi itu dia benar benar tidak sengaja menyentuh yg kayanya enak itu...


"Intinya, iya aku memang sengaja ingin menyentuh mu, tapi bukan ke bagian itu, jujur ini pertama kalinya bagiku"


"Memang sengaja ingin menyentuhku?,cih..."


"Eh, maksudnya itu....."Sia Lee memasang wajah lugunya.


"Jangan pernah muncul di hadapanku Lagi, kalau kau muncul di hadapanku lagi, aku akan benar-benar menilai mu sebagai penguntit sebenarnya, dan akan ku umumkan kepada semua orang siapa kau sebenarnya sampai kau malu"


Pria itu berbalik badan, lalu menoleh menatap Sia Lee dengan tatapan yg tajam.


"Oh iya, ini terakhir kalinya, aku mau berhadapan denganmu, ingat itu"


"Tunggu....hey"


Apa-apaan ini, penguntit? aku gak terima, ini gak adil.


Aku bukan seorang penguntit.


**


"Furniturnya lengkap, dan ini baru saja di bangun jadi cukup terkenal"


Seorang makelar, memperlihatkan rumah sewaan kepada Sia Lee.


"Oh begitu yaa" Sia Lee nampak tertarik dengan rumah itu.


"Lingkungan nya juga cukup tenang dan menyenangkan, barang-barang mu sudah dikirim kesini kan nona?"


"Iya, sudah beberapa sih"


"Oke, kalau begitu, silahkan melihat-lihat dulu, kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil saya, untuk mengisi formulir pendaftaran nya bisa dikantor nanti saja, saya permisi ya nona, semoga betah tinggal disini ya"

__ADS_1


"Iya, terima kasih banyak" Sia Lee tersenyum manis mengantar makelar itu keluar dari rumah.


Setelah makelar itu pergi, Sia Lee tak tahan lagi, dia pun ambruk di dekat pintu.


"huh, capek nyaaa, susah banget narik koper naik tangga kalau lagi pake sepatu hak tinggi, bener-bener deh tadi itu parah banget".


Dia mengoceh sendiri di dalam rumah barunya itu.


"Betah? cih, andai saja kau tau apa yg baru saja ku alami sebelum aku kesini,..


eh, penguntit? aaaaaaarrhhhhh sialan pria itu,,Eh tapi ngomong-ngomong yg tadi itu apa yaa?"


Sia Lee melihat kembali tangan yg menyentuh pria tadi, pikiran nya kembali ke ingatan dimana Sia Lee menyentuh adik kecil pria itu, sontak dia kaget dan masih ngomong sendiri.


"Ah bukan.... bukan bagian itu, aku ingin melupakan bagian itu malahan.. aish, sialan"


Sia Lee ngomong sendiri seolah memang ada kawan bicaranya.


Sia Lee teringat kembali saat tangan dia dan tangan pria itu bersentuhan mengambil buku.


"Yaps, bagian ini yg ku maksud. Saat itu...energinya berbeda sekali dari kebanyakan manusia yg pernah aku sentuh, dia seperti murni dan belum pernah aku merasakan seperti ini sebelumnya. Aisshh, sialan dia sangat nikmat sekali..."


Sia Lee lalu duduk dan bersender pada tembok.


"Tapi tetap saja...bikin kesel..apa? penguntit? huh, dan bagaimana aku? apa aku puas? lihat saja aku begitu populer dulu di sekolah, bagaimana bisa aku puas dengan seorang pria seperti mu"


Sia Lee mengambil ponselnya dan dia mengirimkan satus baru di akun sosial media nya.


Baru beberapa detik.


Twiit... (suara nada ponsel)


"Eh, siapa itu? baru juga aku update, udah ada yg komen" Sia Lee melihat ponselnya dan mengecek siapa yg mengomentari status nya itu dengan cepat kilat.


L.SIA @sialee


BARU SAJA AKU DI KIRA PENGUNTIT :'(


SIR☆BARYU @BaryuBaryu


@sialee: PENGUNTIT APAAN? SUDAH SELESAI PINDAHAN?


Baru saja


"Eh, Baryu, apa dia gak kerja hari ini? idih, dia kok bisa tau kalau aku pindahan? Ah, pasti ini ulah nya ibu atau kakak, teman masa kecil ah ini alasan nya kenapa aku gak punya rahasia, fiuh,.........Bodo amat ah, sekarang waktu nya mengeluarkan barang-barang, semangaat "


Sia Lee menyimpan ponsel miliknya, dia berdiri dengan semangat dan bergegas mau mengeluarkan barang-barangnya yg semua masih ada di dalam kardus.


Ting Tong (suara bel)


"Pakeeeeet"


Ternyata kurir yg datang.


"Eh, masa sudah sampai, kok cepat sekali"


Sia Lee lalu membuka pintunya.


"Kamar 302, kan?"


. "Iya, terima kasih"


Kurir itu memberikan paket kardus kepada Sia Lee dan kemudian pergi tak di antar.


Sia Lee masuk ke dalam rumahnya, dan membuka kardus paket tadi.


"Datang lebih awal ternyata, dari yg ku kira"

__ADS_1


Riing ding dong.. ring ding dong..Prampampam...


Ponsel Sia Lee berdering, dia lalu mengangkat teleponnya.


"Ya, halo ibu, aku sudah sampai, dan barang-barangnya juga. Tenang saja bu, disini bersih dan nyaman dan yg paling penting gak terlalu banyak sinar matahari yg masuk juga bu. Bagaimana kabar ayah?"


"Yah, sebaiknya kau jangan pulang dulu ya, katanya kau akan di hukum kalau pulang".


Murka, ayah mu masih murka padamu sayang,, benak ibunya Sia Lee berbicara disebrang telepon sana.


"Iya, aku mengerti, itu karna aku pergi dari rumah gak memberi tahu dulu..Ibu tolong beritahu ayah, aku minta maaf"


"Iya, nanti ibu sampaikan, ingat ya nak, jangan sentuh orang sembarangan"


"Iya, oke ibu, aku tau, aku kan sudah dewasa, sudah dulu ya bu, aku mau beres-beres nanti kalau semua udah beres, aku undang ibu kesini ya, dadah ibu"


Huh, ibu selalu saja seperti itu, terlalu protektif, padahal ke saudara-saudaraku gak seperti ini.


Yah, memang sih, aku akui aku ini banyak membuat masalah bagi mereka termasuk hari ini.


Maaf ya Bu, aku ini putri ibu yg gak nurut, tapi aku gak mau hidup seperti ayah.


Memang kita gak harus memburu manusia untuk bertahan hidup.


Karena kita juga bisa mnghisap energi mereka melalui sentuhan sehari-hari.


Tapi kalau aku disuruh memilih


'Makan untuk Hidup' atau 'Hidup untuk Makan'.


Tanpa ragu-ragu aku akan memilih yg kedua. Setiap manusia mempunyai energi dan rasa yg berbeda.


Bukankah hal yg sangat wajar jika ingin merasakan yg lebih enak.


Yaa, aku memilih hidup untuk makan.


Ayah gak akan bisa mengerti aku.


Dia tersadar dari lamunan nya.


"Eh iya, aku harus buru-buru membuka kardus-kardus ini, kalau tidak, mungkin ini bisa seharian.


Ah, terlalu banyak kardus, aku lupa yg mana-mana isinya, eh..... "


Sia Lee membuka kardus yg tadi dia dapat dari tukang kurir.


"Apa ini?" Dia memegang buku ditangan nya yg berjudul 'harmonika yg sedih'


"Inikan buku anak-anak".


Dia melihat kembali ke dalam dus itu, dia mengeluarkan buku lainnya lagi, buku anak-anak lagi.


Lagi..


Dan lagi..


Buku anak-anak.


Sampai dia mengangkat dus yg sudah kosong itu, kemudian di pukul-pukul ke lantai seolah dia tidak percaya bahwa dus nya itu isinya buku semua.


"Eh ada alamat" Terdapat sebuah alamat di dalam dus itu.


JIHO SHIN


KAMAR #301, MASSSTAR VIL.


XX-DONG, XX-GU, SEOUL.

__ADS_1


"Oh, ternyata salah alamat, aku harus mengembalikannya"


Sia Lee membereskan semua buku itu, dimasukkan nya kembali ke dalam dus, dan bergegas pergi keluar.


__ADS_2