
Alin berjalan pulang ke rumah nya. begitu sampai di depan rumah kaget bukan main ketika mendengar emak dan uwa nya sedang bicara serius dengan rasa penasaran Alin masuk kedalam lewat pintu belakang yang selalu terbuka dia mengintip dan menguping di depan kamar emak nya.
kenapa uwa marah-marah sih? batin Alin
Alin pun berbalik ke luar lagi menuju pintu depan dan mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka oleh uwa nya.
"kamu udah pulang"
"iya ijin pulang cepet mau jaga ibu." jawab Alin
"bagus deh," uwa lalu kedalam mengambil tas dan pergi.
Alin segera ke kamar ibu nya "assalamualaikum Bu, ibu udah makan belum?" tanya Alin
"udah. oiya Alin ibu mau bicara sama kamu. sini duduk dekat ibu." ucap ibu dengan serius
"ada apa Bu?"
"kalau suatu saat nanti ibu pergi kamu mau kan tinggal sama uwa mu?"
"ibu gak akan pergi kemanapun, kalau ibu pergi Alin akan ikut ibu juga."
Ibu diam tersenyum "ya udah ibu mau istirahat ya"
Alin pun meninggalkan ibu nya tidur dan dia pergi ke kamarnya. Alin tinggal bertiga dengan ibu dan uwa nya adik dari ibu nya. Tapi sifat uwa Alin kurang baik, dia pemarah bahkan dia sudah sering meminta surat rumah ke ibu, tapi gak pernah ibu kasih.
Tadi Alin dengar uwa menolak jika harus mengurus Alin jika ibunya meninggal, dan Alin pun sebenarnya juga tidak mau tinggal dengan uwa nya yang selalu marah dan tidak pernah menunjukan sedikit pun rasa sayang kepadanya padahal Alin adalah keponakannya.
Flashback on
Alin tak pernah ambil pusing, dia juga tak pernah meminta apapun ke uwa nya, Alin sudah belajar sambil bekerja ketika dia masih sekolah, Alin memang sudah lulus SMP dan tidak melanjutkan karena ibunya tidak memiliki cukup uang dan Alin tak pernah memaksa itu ke ibunya, karena pernah ibunya meminta bantuan kepada adiknya agar mau membiayai sekolah Alin ibu nya malah mendapatkan omelan dari uwa nya.
Sejak lulus SMP itu Alin mencari kerja di pasar dengan membantu membawa belanjaan orang-orang sampai ke rumah mereka lalu mendapatkan upah. sampai suatu hari dia bertemu ibu Tiara di pasar. Tiara terlihat kerepotan membawa beberapa kantong plastik belanjaan nya.
"permisi Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alin menghampiri Tiara
Tiara menatap Alin dan tersenyum "iya boleh, ini ibu agak ribet bawa nya, bisa tolong bawakan sebagian belanjaan ibu?"
__ADS_1
"bisa dong Bu." jawab Alin dan mengambil kantong plastik Tiara sebagian.
"ayo ke sana karena kita harus naik angkutan umum." ucap Tiara
Alin mengangguk, berdiri disebelah Tiara dan menyetop angkutan umum.
"adek namanya siapa?"
"saya Alin Bu!"
Karena jaraknya tidak terlalu jauh mereka pun segera turun dan berjalan sedikit.
"nak Alin tunggu sini dulu ya, ibu ambil minum dulu." Tiara masuk kedalam dan keluar lagi tak lama dengan nampan yang berisi dua gelas air sirup.
"ayo Alin diminum dulu."
"makasih Bu. jadi ngerepotin"
"gak repot ko, cuma air aja. oiya Alin setiap hari kerja begini di pasar?"
"ya gak setiap hari sih Bu, kadang aja. Alin mah kerjaan apa aja juga Alin jalanin bu asalkan itu halal."
"sudah lulus SMP Bu, dak lanjut lagi soalnya ibu gak ada biayanya. tapi gak pa pa sih Bu, udah sekolah sampai SMP juga Alhamdulillah." jawab Alin
Tiara tersentuh dengan kata-kata tulus yang tidak terkesan memaksa dari mulut Alin.
"kalau Alin kerja di toko ibu mau gak? jaga toko barengan sama ibu."
"ibu ngasih saya kerjaan?"
"iya kalau kamu mau? toko nya gak mau ko, 100 meter sebelum pasar."
"mau Bu,, Alim mau."
"oke mulai besok kamu sudah bisa kerja ya. ini kartu nama toko ibu kamu tunggu ibu disana besok jam 8 pagi."
"okey Bu,, siap. toko nya yang di ruko sebelum pasar kan."
__ADS_1
"iya ibu tunggu ya, dan ini upah kamu udah bawain barang belanjaan ibu." Tiara memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
"ini gak salah Bu, banyak amat?"
"gak pa pa, rezeki kamu hari ini segitu dari ibu. terima ya."
"makasih ya Bu. kalau begitu Alin pamit ya Bu." Alvin berdiri mengulurkan tangannya
Tiara menyambut tangan itu dan Alin mencium nya segera sebelum pergi. Alin keluar menuju jalan menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang.
Flashback off
Keesokan harinya...
Alin mendatangi kamar ibunya, melihat ibu nya sudah bangun dan termenung begitu melihat Alin ibu memanggil.
"Alin sini nak."
"ibu udah bangun?" ucap Alin ketika mendekat kasur ibunya
"Alin, coba ambil kotak yang ada dibawah kolong kasur ibu ini" pinta ibunya
Alin pun segera membungkuk dan mencoba mengambil kotak yang ibunya perintah kan. Kotak kecil yang terlihat tua kini ada ditangan Alin. "kotak ini Bu?" Alin menunjukkan kotak itu pada ibunya.
"iya betul. buka lah."
Alin membuka kotak itu melihat isi didalamnya, ada sebuah surat dan sebuah foto. "ini apa Bu?"
"kotak itu milikmu, ambil dan bawalah kemana pun kamu pergi. dengarkan ibu mau cerita."
Alin menutup kotak lagi menatap wajah ibunya.
"Alin tau kan kalau ibu sayang sekali sama Alin, cinta ibu hanya untuk Alin. tapi maafkan ibu belum bisa membuat Alin bahagia seperti anak-anak lainnya. Sampai kapanpun Alin akan tetap menjadi satu-satunya anak kesayangan ibu, harta yang pernah ibu miliki. Dan ibu rasa ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, Alin sebentar kamu bukan anak kandung ibu Nak. ibu menemukan mu didepan pintu rumah ibu bersama kotak kecil itu. Benda itu satu-satunya penghubung untuk mu jika kelak kamu ingin mencari keberadaan kedua orangtua kandung mu."
"Alin gak marah kan sama ibu, sudah menyimpan rahasia Alin selama ini. karena ibu menunggu waktu yang tepat, waktu dimana kamu siap dan ibu juga siap jika harus kehilangan dirimu dan melihat mu kembali kepada orang tua kandung mu."
"maafkan ibu ya Nak, sudah membuatmu susah payah bekerja, padahal seharusnya kamu sekolah dan ibu yang bekerja. tapi kamu malah menggantikan posisi ibu yang bekerja. Ibu bersyukur bisa merawat Alin sampai sebesar ini, bersyukur Alin menjadi anak perempuan yang mandiri tidak lemah tidak takut apapun, dan yang paling penting ibu bahagia ibu berhasil mendidik Alin menjadi anak Sholehah. Tetap seperti itu ya Nak."
__ADS_1
Alin sudah menangis lirih mendengar semua yang ibunya katakan, dan langsung memeluk ibu nya. "ibu jangan bicara lagi ibu harus istirahat ibu udah banyak ngomong deh. ibu akan selalu menjadi ibu buat Alin, dan Alin tetap menjadi anak ibu selamanya, Alin hanya mau sama ibu." mulai menangis tersedu masih dengan memeluk ibu nya.
"ibu lega sudah cerita sama kamu, tadinya ibu takut kamu bakal marah sama ibu, Alhamdulillah ternyata kamu memang anak yang baik. sekali lagi maaf kan ibu ya Nak. ibu sayang dan cinta sama kamu." ucap ibunya yang suaranya makin lirih dan seketika rangkulan tangan ibu di pundak Alin terlepas.