Takdir Berkata Lain

Takdir Berkata Lain
(TBL Season 2) Pertemuan Pertama di Restoran Sunda


__ADS_3

Didalam bioskop Alin, Putra dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak karena lucu nya komedi horor itu, disaat horor mereka teriak bersama di saat lucu mereka tertawa bersama. Satu jam mereka menikmati tontonan pilihan mereka dan keluar begitu lampu sudah mulai menyala.


"sumpah itu film serem tapi lucu, ngakak terus sampai kram nih perut"


"iya emang nya aku gak ketawa, apa lagi nonton nya sama kamu makin seru." jawab Putra


Alin menoleh "masa sih, dari tadi gombal aja."


"dih aku tuh gak bisa gombal tau. udah yuk kita cari makan, kamu mau makan apa?"


"apa aja aku bisa makan ko."


"oke aku aja kamu ke restoran Jepang aja gimana?"


"restoran Jepang itu yang makanan nya mentah ya, kaya nya kalau itu aku gak bisa makan deh!"


"ha-ha-ha katanya apa aja bisa makan gimana sih?!"


"tapi ya gak yang mentah juga kali, aku gak doyan."


"makanan Sunda aja deh."


"ya udah kalau gitu ayo deh." Putra berjalan diikuti Alin.


****


Bagas baru saja memarkirkan motornya di samping toko.


"assalamualaikum..?"


"waalaikumsalam..!"


"ko sendirian Bu, Tuti mana?"


"Tuti kan lagi jaga toko sama Lia, si Alin kan lagi libur."


"oiya hari ini Alin libur ya, gak inget."


"nanti kamu gak usah anter anak berdua itu makan siang ya, ibu udah nelepon tadi biar mereka beli makan sendiri aja."


"ya udah,"


Tak lama kemudian sebuah mobil parkit didepan toko. Putri turun dari dalam sana.


"permisi..!" ucapnya


"iya ada yang bisa dibantu." jawab ibu


"saya Putri Tante temennya Bagas"


"ooh mau ketemu Bagas ya?"


"bukan Tan, saya mau beli barang ko."


"oh gitu silahkan masuk aja dulu liat liat, siapa tau ada yang cocok. emang lagi cari barang apa?"


Tak lama Bagas keluar dari dalam kamar mandi "Putri ngapain kesini?"


"aku lagi nyari barang buat kado, apa ya!!"


"maaf ya Putri kamu di bantu sama Bagas ya, Tante mau makan siang dulu nih"

__ADS_1


"oiya Tante silahkan,"


Bagas mau gak mau melayani Putri karena dia bilang tujuan nya datang ingin berbelanja.


"bagus kena deh, akhirnya Bagas mau juga peduli sama apa yang aku butuhin. maaf ya Gas, kalau gak gini mungkin kamu gak akan mau nemenin aku."


"aku mau ambil ini, ini, ini juga, sama ini, terus ehmm ini juga, ini lucu deh ini juga. udah Gas jadi berapa?"


Bagas membawa barang yang diambil Putri sementara Putri masih saja melihat dan memilih. Dia mengambil beberapa barang lagi meletakkan diatas meja.


"ini juga?"


"iya abis lucu. jadi berapa?"


"bentar ya aku hitung."


Bagas menghitung semua barang yang diambil Putri dengan kalkulator, dan angka di kalkulator mencapai jumlah 2.597.500


"ini jumlahnya, kalau kurang yakin kamu itung aja sendiri udah ada harga nya ko di tiap barang nya." ucap Bagas sambil menunjukkan kalkulator ke Putri.


"oke harus cash atau bisa pakai Debit?"


"bisa pakai Debit."


Putri mengeluarkan kartu Debit BCA nya dari dalam dompet dan memberikan pada Bagas. Bagas melakukan transaksi dengan mesin EDC BCA, lalu Putri menekan pin hingga keluar struk.


"sini aku bantu bawa ke mobil." ucap Bagas.


"okey,,"


Bagas membawa barang belanjaan Putri dan memasukkan nya kedalam bagasi mobil nya.


"sama-sama Tante kebetulan saya juga sedang butuh."


"ya udah Tante, apa boleh kapan-kapan saya main kerumah Tante?" tanya Putri


"ya boleh dong, datang aja. Bagas kapan-kapan ajak Putri kerumah ya!"


"iya."


"ya udah, aku pamit ya Tante, sampai ketemu lagi." Putri berjalan ke mobilnya.


Sepeninggalan Putri,


"Gas,, sini deh ibu mau tanya?"


"kenapa Bu?"


"kamu suka sama siapa Putri atau Alin?"


"ko ibu nanya gitu sih, Bagas itu gak suka keduanya Bu."


"gak usah bohong, cerita aja sama ibu?"


"Putri itu emang pernah bilang suka sama aku Bu, dan orang tua nya juga welcome sama Bagas. Karena Bagas gak mau dia patah hati dan gak semangat jadi Bagas kasih dia kesempatan buat berusaha dapetin hati Bagas, tapi hati Bagas gak milih dia Bu."


"kamu suka sama Alin?"


"gak tau deh Bu, Bagas emang tertarik sama Alin dia cantik, mandiri, gak manja, tapi entah kenapa Alin seperti gak pernah anggap Bagas itu spesial,"


"ya kamu harus yakinin hati kamu, kemana pilihan kamu jangan sampai menyakiti hati yang satu nya atau malah keduanya."

__ADS_1


"udah lah Bu, Bagas gak pengen bahas itu. Bagas mau sukses dulu ngembangin bisnis ibu. kalau emang jodoh pasti gak kemana Bu"


"emang sih, jodoh gak kemana, tapi ya udah lah terserah kamu aja."


****


Alin dan Putra masuk ke restoran Sunda mencari tempat duduk dengan menatap sekeliling sampai mata nya bertemu dengan orang yang dikenal dan berjalan menghampiri, Alin hanya mengikuti dengan bingung.


"kenapa malah ke meja yang ada orang nya sih, kan masih banyak meja kosong lainnya?"


"haloo om Rudi.." sapa Putra


Lelaki yang di panggil Rudi mendongak "hei Putra,, kamu sedang apa disini?"


"abis nonton terus laper deh. om sendirian aja?"


"gak sama Tante, tapi dia lagi ke toilet, ini siapa?" tanya om Rudi sambil menunjuk kearah Alin


"oiya ini kenalin om namanya Alin dia temen saya. Alin kenalin ini Om Rudi temennya papa."


"Alin" Alin mengulurkan tangannya dan lelaki yang bernama Rudi itu menerimanya.


Tak lama istri Om Rudi datang.


"loh ada Putra,,!" ucapnya


"hei Tante,"


"gimana kalau kalian gabung aja disini sama om dan Tante biar rame aja." ajak om Rudi


"gimana Lin?"


"terserah, namanya di traktir mah ngikut aja he-he-he.."


"dasar. oke deh om!" jawab Putra


Mereka menarik kursi dan duduk berhadapan, seorang pelayan datang ke meja mereka dan memberikan buku menu. Alin melihat berkali-kali membolak-balik buku menu.


"silahkan mau pesan apa?"


"kalian mau pesen masing-masing atau mau yang paket?" tanya om Rudi


"paket apa ya om?"


"ya kalau paket, menunya udah komplit porsinya banyak juga."


"gimana Lin?"


"iya deh boleh. bingung juga kalau milih sendiri."


"iya deh om!"


"mas pesen paket Sunda buat 6 orang ya," ucap om Rudi


"baik pak. silahkan ditunggu." pelayan pun pergi.


Istri Om Rudi yang bernama Linda dari tadi hanya diam tak merespon karena asik memperhatikan kalung yang dipakai Alin. Dia seperti sedang mendapatkan gambaran masa lalu tentang putrinya yang dibuang oleh ibu tirinya dulu.


"andai saja anakku masih hidup mungkin dia sudah sebesar gadis ini sekarang. tapi kalung itu apakah mungkin? tidak pasti bukan!"


***

__ADS_1


__ADS_2