Takdir Berkata Lain

Takdir Berkata Lain
(TBL Season 2) Aneh-aneh


__ADS_3

"saya minta maaf pak, sebetulnya saya sudah beritahu Putri untuk jujur pada bapak, tapi Putri takut dia bapak akan meninggalkan dia. Sebenarnya usia kehamilan Putri sudah masuk empat bulan, dan itu bukan darah daging pak Bagas, karena sebelumnya sebelum menikah dengan pak Bagas dia sudah hamil" kata dokter.


Seketika Bagas syok...


"apakah kata-kata kamu bisa dipertanggung jawabkan?"


"saya hanya bicara apa yang saya dengar dari Putri yang cerita ke saya. Bahkan awalnya kalau dia tidak hamil saya harus pura-pura bilang kalau dia hamil. Itu dia lakukan demi agar bisa menikah dan hidup dengan pak Bagas, karena Putri sangat mencintai anda pak."


"jadi selama ini saya telah di bohongi bahkan di bodohi,, kurang ajar!!" jawab Bagas geram


"mohon pak Bagas tenang pak, tapi maaf pak bagaimana bapak bisa tiba-tiba menanyakan soal ini?"


"itu bukan urusan dokter, yang jelas akan saya ceraikan dia sekarang juga.!" Bagas berdiri dan pergi.


Sepeninggalan Bagas, dokter mencoba menghubungi Putri tapi tak tersambung. Bagas keluar rumah sakit dan masuk ke dalam mobil, disana dia merenung lama membenarkan apa yang selama ini mengganjal di hati dan pikirannya.


Sehari setelah menikah dengan Putri sampai detik ini tak pernah sekali pun dia menggauli Putri layaknya pengantin baru. Rasa kecewa dengan pernikahan yang tidak diinginkan membuatnya bersikap dingin terhadap istrinya. Sampai pernah Bagas merasa aneh dengan bentuk perut Putri yang terlihat semakin besar di usia pernikahan nya yang tergolong baru beberapa Minggu.


Meskipun selama ini Putri tetap melayani kebutuhan dirinya dengan menyiapkan pakaian, sarapan, itu semua tak bisa membuat Bagas bisa menerimanya. Hatinya masih tertutup oleh Alin. Tapi dia harus bersandiwara sebagai laki-laki yang bahagia dengan pernikahannya dan juga berpura-pura bahagia jika dihadapan orang tua masing-masing.


"pertanda apa ini ya Tuhan,, apakah aku masih di berikan kesempatan untuk memperjuangkan cintaku pada Alin?" Bagas berfikir keras dan bergumam.


Malam itu Bagas pulang ke rumah orang tua nya dan tidur disana, dia menceritakan niatnya yang ingin menceraikan Putri kepada ayah dan ibu nya.


**


Esok hari nya Alin sudah bangun setelah semalam agak sulit untuk memejamkan mata setelah dia berhasil memberikan rekaman kepada Bagas, ada rasa menyesal sudah nya.


"apa yang terjadi dengan mereka, semoga mereka baik-baik saja. Harusnya aku tidak perlu memberitahu Bagas. bodoh banget sih?!" Alin merutuk dirinya.


Beranjak mandi dan berpakaian dengan cepat lalu menyambar tas nya dan keluar kamar. Hari Jumat ini adalah hari yang singkat, setelah membeli sarapan di lanjutkan ke kantor. Langkah kaki sampai di pantry setelah melakukan absen jari dia membuka sarapan dan memakannya.


"kamu udah datang Alin?!" suara berat Alex terdengar setelah melongok ke pantry dan tanpa di persilahkan masuk Alex sudah lebih dulu masuk dan duduk disebelahnya.


"ini apa?" melihat bungkus didepan Alin.


"ini nasi uduk pak, kalau bapak mau makan aja?"

__ADS_1


"kamu beli dua, jadi emang sengaja buat saya ya? ko gak dibawa keatas sih?"


"jangan ke pedean pak, itu saya beli dua bungkus karena saya emang kalau sarapan makanya dua bungkus." elak Alin malu mengakui.


Dia ingat ketika di warung nasi uduk, ketika ditanya berapa bungkus oleh penjual dengan cepat dia menjawab dua, hatinya menjawab untuk Alex takut belum sarapan tapi di kepala terbayang Bagas.


"Hah,, yang bener kamu emang kamu kuli panggul beras makan sampai segini banyak?"


"bapak lupa waktu di Bali, kita makan nasi jinggo sampai berapa bungkus coba hitung?" jawab Alin mengingatkan.


"ya beda dong Alin, ini nasi uduk porsi pas untuk satu orang kenyang. Kalau nasi jinggo di Bali porsinya nasi kucing yang isi nya dikit banget, wajar lah kalau butuh banyak." Alex tetap tak terima.


"ya udah sih pak, dimakan aja gak usah pakai di debat segala. Buruan makannya nanti keburu karyawan yang lain datang, gak enak kalau liat saya makan sama pak direktur di pantry lagi. Yang ada malah jadi gosip nanti." Alin yang sudah hampir habis menyelesaikan suapan terakhir dan berdiri mencuci tangan.


Ternyata beberapa menit kemudian Alex pun berdiri dan mencuci tangan.


"pak saya ijin ke rumah sakit sekarang ya." ucap Alin.


"eehh,, tunggu saya ikut. Kamu bilang kan keluarga Ulan ada di rumah sakit, saya sebagai atasannya perlu bertemu keluarga Ulan."


Alin hanya mengangguk, begitu mereka keluar bersamaan dengan datangnya Bu Siska dan yang lain.


"pagi Bu, saya dan Alin mau ke rumah sakit saya belum sempat mengunjungi keluarga Ulan jadi karena Ulan ditunggu keluarganya saya ingin bertemu."


"oh iya pak, baiklah." jawab Bu Siska.


Alin dan pak Alex berjalan keluar diikuti beberapa pasang mata yang mengamati kedekatan bawahan dan atasan itu.


"pantes aja si Lusi nekat, secara Alin anak baru udah bisa deket sama si bos, tapi ko bisa ya?" gosip karyawan yang bertugas di bagian resepsionis.


"jangan-jangan bakal ada Lusi kedua kayanya" ledek wanita disebelahnya.


Riko rekan kerja Alin yang sebenarnya menaruh hati pada Alin pun merasa heran, meski terlihat wajar dan biasa aja tapi tetap menimbulkan rasa cemburu di hatinya.


**


"ayo masuk"

__ADS_1


"saya pake ojek aja pak, gak enak di liat sama karyawan lain."


"ribet amat sih, tujuan kita kan sama segala pake ojek. Udah cepet masuk" Alex menarik Alin dan mendorong nya masuk di kursi depan. Alex memutar dan duduk di belakang setir.


Sampai di rumah sakit mereka segera menuju kamar dimana Ulan di rawat. Mengetuk pintu dan membuka lalu masuk.


"permisi assalamualaikum," sapa Alin yang masuk lebih dulu diikuti Alex.


"waalaikumsalam eh nak Alin,"


"oiya pak, Bu ini atasan Alin juga atasan Ulan juga ingin bertemu."


"saya Alex Bu, atasan Ulan. sebelumnya saya atas nama perusahaan minta maaf atas terjadinya masalah ini, saya sama sekali tak menyangka."


"gak pa pa pak, namanya juga musibah. Yang penting mah UIan nya sudah baik-baik aja." jawab ibu Ulan


"Ulan bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Alex


Ulan yang mendapati dirinya di tengok bos nya merasa senang dan tersipu. "Alhamdulillah pak sudah lebih baik. Terimakasih bapak mau nengok saya" jawabnya


"saya dengar dari Alin keluarga kamu datang, jadi saya secara khusus ingin minta maaf dan kebetulan ada perlu juga dengan dokter."


"oiya bapak mau ke ruangan dokternya?" tanya Alin


Alex mengangguk "saya permisi dulu mau ke ruangan dokter, kamu mau ikut Alin?"


"gak saya disini aja pak."


Alex keluar.


"Lin, kamu sama pak Alex ada hubungan apa?" tanya Ulan


"gak ada hubungan apa-apa ko, kenapa?"


"kalau gitu aku boleh dong coba deketin dia."


"silahkan aja." jawab Alin cepat. Tepat ketika menjawab ada sedikit rasa sedih di hati yang dia tak mengerti.

__ADS_1


***


__ADS_2