
Bismillahirrahmanirrahim...
Crazy Up ya gaessss...
jangan lupa di like Bab nya kalau udah baca dan di Vote 🤗🙏
Happy Reading 😘
***___***
Mobil melaju dengan kecepatan lumayan cepat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Pagi itu mereka star dari rumah pukul 5 pagi, setelah Subuh. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya mobil pun berhenti di halaman depan pintu masuk Bandara.
Mereka segera melakukan check in, dan masuk kedalam. Pesawat yang akan mereka tumpangi jurusan ke Bali akan terbang jam 08:00 pagi dan mereka masih punya waktu sedikit untuk mengatur napas sebelum masuk kedalam pesawat.
"wowww ini yang namamya bandara ya,,,baru kali ini Lia kesini!" serunya
"iya sama Li, aku juga" timpal Tuti.
Mereka masuk satu persatu kedalam pesawat dan duduk di set mereka.
"astaga ternyata begini dalam nya pesawat ya, wooow Lia ko jadi ngeri ya?"
"iya pesawat belum terbang aja udah tinggi gini liat ke bawah, gimana kalau udah terbang?" ucap Tuti
"kalau pesawat udah terbang yang pasti gak akan keliatan lagi jalanan aspal itu Tut,, kamu bakal liat laut, dan awan!" ucap Tiara.
"astaga,,, kita terbang diatas laut Bu?"
"iya lah,"
"ya Allah lindungilah kami semua ya Allah.." doa Tuti segera.
Pak Andi dan Tiara pun tertawa.
Entah bagaimana, set mereka seperti pas pada tempatnya, Tiara bersebelahan dengan suaminya, dibelakang mereka Tuti dengan Lia. Dan dibelakang nya lagi Alin dengan Bagas.
"kamu ko diam aja sih, gak heboh kaya mereka? udah pernah naik pesawat sebelumnya?" tanya Bagas
"gak pernah, belum. tapi apa harus aku ikutan heboh kaya mereka?"
"ya kalian kan cewek-cewek biasa nya rame kalau baru sesuatu yang baru?"
"pengecualian buat ku!"
"oke."
__ADS_1
Pesawat pun akhirnya take off juga, Lia dan Tuti menutup mata mereka tak berani melihat ke arah jendela dan memilih tidur. Sementara Alin yang duduk di dekat jendela menatap ke luar dengan pikiran nya yang ikut terbang keluar.
"aku belum sempat mencari siapa orang tua kandung ku, apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal juga?"
"padahal tadinya hari ini aku ingin memanfaatkan waktu libur untuk mencari tau, tapi ya sudahlah toh aku juga akan bingung mencari kemana.?"
"Seperti apa ya rupa mereka? kenapa mereka menaruh ku di rumah lain, kenapa mereka tidak merawat ku? apakah kehadiran ku memang tidak diinginkan oleh mereka?"
Alin terus saja diam hingga air matanya menetes. Bagas terus memperhatikan Alin tak berani menggangunya.
"Alin kenapa ya,, ko nangis? dia lagi mikirin apa sih?"
Alin terus menangis mengingat ibunya yang sudah tiada. Setelah dia sadar dia sedang berada di pesawat dengan sebelah nya Bagas segera dia hapus air mata itu. Dan memilih tidur dari pada membuat Bagas kepo.
**
Sementara di sebuah rumah besar Putri dan kakaknya Putra terlihat sedang santai di gazebo belakang rumahnya.
"hubungan kakak sama si Alin udah sampai mana?"
"kenapa emangnya?"
"kakak gercep dong, jangan sampe si Alin makin deket sama Bagas. Pepet terus."
"kita harus kerja sama kak, kita berdua harus bisa ngejauhin Alin dari Bagas begitu juga sebaliknya."
"ya gimana caranya, secara Alin kan kerja sama ibunya Bagas."
"caranya kakak harus cepet-cepet dapetin hatinya Alin."
Putra diam "ada benernya juga si Putri ini kalau ngomong, mereka itu setiap hari ketemu kemungkinan mereka lebih banyak dari gue. kalau gue bertindak lebih dulu dan berhasil dapetin hatinya, Alin pasti akan jaga jarak dari Bagas."
***
"halooo mah Alex udah sampe nih di Bali, kapan mama sama papa mau nyusul kesini?" tanya seorang cowok di bandara.
"sykurlah, kamu nginap di hotel yang mama kasih tau ya, awas kalau lain hotel." ancam mamanya
"iya iya, heran deh kenapa juga Alex yang di suruh ketemu klien duluan sih. males banget."
"belajar Alex, belajar mau sampai kapan kamu malas-malasan gitu. Karena nantinya bakal kamu yang akan mengelola perusahaan bukan mama sama papa lagi."
"tapi kan mah, Alex ini masih sekolah masih harus belajar dan butuh banyak bimbingan, bukan langsung dilepas di lapangan."
"gak usah banyak omong, kamu baca berkas yang udah mama kasih. Kamu pelajari karena begitu mama dan papa datang kamu harus bisa mempresentasikannya anggap aja mama dan papa klien kamu."
__ADS_1
"udah ya mah, Alex mau nyebrang nih."
"ko nyebrang emang kamu dimana, gak usah alesan mau menghindar ya dari ceramah mama?"
"iya mah, mama tenang aja percaya deh sama Alex. Begitu mama dateng Alex pasti bisa presentasi. jadi sekarang biarin Alex baca berkas nya ya."
"he-he-he iya yah mama lupa. ya udah di baca berkas nya. bye"
"bye mah." Alex memutuskan sambungan telepon.
"haduhh mama bawel amat ya, kirain disuruh ke Bali buat liburan tau nya malah disuruh kerja." Alex menatap berkas kerjasama ditangannya dengan tatapan malas.
Tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Alex kamu harus bisa meyakinkan klien supaya mau kerjasama dengan perusahaan kita, kalau kamu gagal fasilitas yang saat ini sedang kamu nikmatin akan mama tarik. mengerti kan gimana jadinya kamu tanpa uang, mobil, apartemen, dan juga kartu debit, kredit.!!"
"astaga mah mah, bener-bener ya gak lucu banget ngancem nya. mau gak mau dah dibaca deh. Bisa masuk jurang kalau semua fasilitas di tarik. Parah.!" gumam Alex.
Alex berjalan antrian mengambil koper didekatnya berdiri Alin, Bagas dan yang lainnya. Begitu koper hitam kecil itu keluar dengan segera Alin menyambar bersamaan dengan itu Alex pun memegang koper yang sama. Mereka saling tatap.
"ini koper saya!" ucap Alin
"mbak ini koper saya, mbak jangan asal ngaku-ngaku dong." jawab Alex.
"mas nya yang jangan ngaku-ngaku, ini tuh punya saya dibelakang koper ini ada huruf A." balas Alin.
"emang ada huruf A, itu dari nama saya. Kamu siapa?"
"sudah-sudah,, kita lihat aja isi dari koper ini. gak usah ribut malu dilihat orang." ucap Tiara.
Alin akhirnya diam "ya udah dibuka aja kita liat isi nya."
"ayo siapa takut." jawab Alex.
Tak lama koper yang persis seperti itu keluar lagi, "nah itu juga sama koper nya seperti yang pertama, nah punya siapa itu?" seru Lia.
Semua menoleh ke arah koper yang ditunjuk Lia, benar-benar koper yang sama persis dan sulit sekali membedakan nya.
"kita buka aja koper itu juga, biar jelas." kata Bagas.
"gak usah Bu karena dia dari tadi ngotot kalau ini kopernya biarin dia yang nentuin mana yang punya dia." jawab Alin.
"oke,, saya pilih yang ini." Alex asal mengambil koper yang keluar terakhir lalu pergi.
**
__ADS_1