
Jangan lupa di Like ya Readersss ku sayang😘😘
**___**
Di pantry Alin mengambil tas nya di loker berjalan ke bagian absen jari lalu pulang, berjalan kaki terasa lama sore itu selalu seperti itu jika Alex mengungkapkan perasaannya. Ini yang kedua kali nya Alin menolak dengan gurauan.
Alin tau dirinya sangat pantas bersanding dengan Alex atau lelaki manapun karena dia anak tunggal yang sah Bu Linda, tapi semua itu masih menjadi rahasia antara dirinya dan Bu Linda dan suaminya. Meskipun Bu Linda sudah ingin memberitahu orang tentang Alin, tapi selalu di larang oleh Alin hingga saat ini.
Alex memang sudah pernah menyatakan perasaannya kepada Alin, dulu ketika Alex berhasil melintas kreditan motornya dia mengajak Alin jalan-jalan dan makan malam yang waktu itu hanya nasi goreng dan ini yang kedua. Entahlah mungkin jika keadaannya Alin bukan siapa-siapa dan Alex juga masih bekerja di cafe mungkin Alin akan memikirkan nya.
Tapi setelah bertemu dengan ibu kandungnya, dan ibunya meminta Alin untuk menerima tanggung jawab perusahaan dan mendapatkan penolakan dari Alin dengan perdebatan panjang sampai akhirnya Alin menyarankan Alex yang menjadi pimpinan di perusahaan itu, Alin malah memilih menerima pekerjaan cleaning servis. Alin masih menganggap perasaan Alex padanya tak lebih dari antara atasan dan bawahan entah sampai kapan.
Sampai juga di kamar kost nya, membuka pintu dengan rasa lapar Alin mengambil piring karena sebelumnya dia sudah mampir ke warteg untuk membeli makanan. Selesai makan dia mandi dan sholat Ashar. Selesai Sholat dia teringat Bagas.
"apa yang harus aku lakukan dengan rekaman ini? apakah baik kalau aku memberitahukan rekaman ini pada Bagas?"
Dengan tekad yang bulat Alin mencari kontak Bagas di coba dengan mengirim kata 'hai' lalu mengirimnya.
Lama tak ada balasan, Alin jadi ragu ingin memberitahu Bagas apa yang dia dengar dan rekam saat di rumah sakit tadi. Akhirnya Alin meletakkan ponselnya dan memilih tiduran santai menonton tv. Selang beberapa saat suara getar dari benda disampingnya membuatnya terbangun.
Pesan dari Bagas, 'Alin kamu apa kabar? Ada apa tumben kamu menghubungi ku?'
Alin membaca pesan singkat itu dengan hati-hati karena ditakutkan jika itu bukan asli pesan dari Bagas. Alin diam tak membalas pesan itu sampai akhirnya Bagas menelepon. Sambungan telepon pun akhirnya menjadi pilihan supaya tidak ada keraguan, begitu Alin mendengar suara Bagas diujung sana yang mengucapkan kata 'Halo' segera dia mematikan telepon itu dan memilih mengirim pesan saja. Ternyata dia belum siap bicara dengan Bagas.
Dikirimnya rekaman suara Putri dengan dokter di rumah sakit, tak butuh waktu lama sudah terlihat tanda biru di chat Bagas menandakan pesan itu sudah di buka dan sedang di dengar kan.
'aku tak sengaja mendengar dan merekam' kirim Alin.
Lama sekali tak ada balasan dari Bagas, Alin memilih untuk tidur hingga dia pun benar-benar tertidur.
__ADS_1
**
Sementara di rumah mewah Putri yang sedang bersantai di kamar merebahkan badannya karena lelah membawa perutnya yang sudah membuncit agak besar sepulang dari rumah sakit. Bagas yang duduk di ruang tamu kaget mendengar ponselnya bergetar dan membaca pesan singkat sekali dari Alin, hati nya senang Alin masih ingat padanya dan mau menghubungi nya lebih dulu.
Dengan perasaan senang dibalas pesan Alin, tapi Alin tidak membalas nya lagi sehingga Bagas menelepon nya, baru mengucapkan kata 'halo' telepon dimatikan. Ternyata Alin mengirim pesan video berikut rekaman suara Putri dengan dokter yang dia tau itu dokter kandungan karena memang Putri ijin ingin ke rumah sakit. Melihat dengan kesal dan marah merasa dibodohi dan dipermainkan Bagas berdiri berjalan cepat ke kamar.
BRAKKKKK...!!!!
Pintu di buka dan di benturkan dengan keras, Putri kaget dan menatap kearah pintu dimana Bagas berdiri dengan wajah kecewa marah dan kesal yang sangat terlihat.
"sayang ada apa?" Putri berusaha tenang.
"katakan padaku yang sebenarnya?!"
"katakan apa? kamu kenapa? ada apa?"
"berapa usia kandungan mu sekarang?!"
"siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?!"
Putri kaget mendengar pertanyaan Bagas, dengan keras dan bentakan. "maksud kamu apa? ini anak kamu? kamu ayah bayi ini siapa lagi? Sayang kamu pasti capek ya, sini aku pijit ya biar kamu rilex." Putri memegang pundak Bagas dan segera di tolak oleh Bagas.
"aku tanya sekali lagi, kalau kamu tidak berkata jujur aku akan menceraikan kamu sekarang juga!!!" bentak Bagas.
"Bagas, jangan ceraikan aku, ko mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu!" tangis Putri memeluk kaki Bagas.
"siapa laki-laki itu!"
Dengan tangis dan isakan yang bergantian Putri akhirnya mau berkata jujur "sebentar nya sebelum menikah dengan mu, aku sudah hamil. Aku sengaja melakukan nya dengan mu supaya kamu percaya kalau ini adalah anak mu. Bagas maafkan aku. ku mohon jangan tinggalkan aku." Putri sudah berderai air mata.
__ADS_1
Amarah semakin memuncak dikepala Bagas, dengan kesal dia menyingkirkan pegangan tangan Putri di kaki nya lalu pergi keluar kamar. Putri berusaha berdiri mengejar Bagas yang sudah menaiki mobil dan pergi. Putri duduk tersimpuh nanar melihat kepergian Bagas. Antara sedih dan heran kenapa dan bagaimana Bagas bisa bertanya seperti itu.
Putri kembali ke kamar, dengan tangis yang tak kunjung berhenti pikirannya kacau ketakutan akan di cerai oleh Bagas mulai datang, kecemasan ditinggalkan Bagas semakin dia rasakan, bersembunyi dibalik selimut dan menangis disana.
Sementara Bagas pergi ke rumah sakit, dia ingin cerita kejelasan yang sesungguhnya. Mobil parkir di halaman parkir rumah sakit dan turun menuju resepsionis.
"mbak apakah dokter bagian kandungan masih ada jawdal?"
"masih pak, silahkan"
Bagas segera berjalan ke bagian poli kandungan dan mengetuk pintu ruangan dokter itu, setelah menunggu pintu terbuka dan dokter agak sedikit kaget melihat Bagas suami Putri ada dihadapannya, reflex menengok mencari Putri tapi tak ada.
"saya sendiri dok, Putri tidak ikut. Bisa saya bicara dengan dokter?" tanya nya tegas
"oh iya, ada apa ya pak? silahkan masuk?"
Bagas masuk kedalam dan duduk berhadapan dengan dokter.
"dokter sudah tidak perlu ikut membohongi saya lagi, katakan yang sebenarnya tentang kehamilan Putri?!" ucap Bagas
Dokter tak menyangka Bagas akan secepat ini mengetahui kebohongan yang dilakukan istrinya, dan dia agak sedikit takut melihat Bagas dengan pandangan tak bersahabat.
"saya minta maaf pak, sebetulnya saya sudah beritahu Putri untuk jujur pada bapak, tapi Putri takut dia bapak akan meninggalkan dia. Sebenarnya usia kehamilan Putri sudah masuk empat bulan, dan itu bukan darah daging pak Bagas, karena sebelumnya sebelum menikah dengan pak Bagas dia sudah hamil" kata dokter.
Seketika Bagas syok...
***___***
Uuuhhh keciannnn....
__ADS_1
Tap Like dan komen ya🤭🤭👍