Takdir Berkata Lain

Takdir Berkata Lain
(TBL Season 2) Ribut-ribut


__ADS_3

"ibu lega sudah cerita sama kamu, tadinya ibu takut kamu bakal marah sama ibu, Alhamdulillah ternyata kamu memang anak yang baik. sekali lagi maaf kan ibu ya Nak. ibu sayang dan cinta sama kamu." ucap ibunya yang suaranya makin lirih dan seketika rangkulan tangan ibu di pundak Alin terlepas.


Spontan Alin bangun melihat ibu nya dengan mata terpejam dan tersenyum, Akun mengusap pipi ibu dan memanggilnya.


"Bu,, ibu,, ibu ngantuk ya. ibu belum sarapan ko udah tidur sih. ayo bangun dulu sarapan dulu nanti tidur lagi." ucap Alin sambil menggoyang kan bahu ibunya.


Ibu diam tak bergerak.


Alin mulai takut "Bu,, ibu gak pergi kan,, ibu gak ninggalin Alin kan, bangun Bu Alin masih mau cerita, Bu bangun..!!" air mata sudah tak bisa lagi dibendung, tak ada jawaban dari ibunya segera Alin berdiri dan berlari keluar menemui tetangganya.


"assalamualaikum Bu Ita,,!" panggil Alin


"Alin kenapa ko nangis, ada apa?" tanya Bu Ita tetangga sebelah rumah Alin bingung


"ibu,, Tante ibu.. Alin gak mau ibu pergi Tante, tolongin ibu Tante. bantuin Alin bangunin ibu. ibu belum sarapan." seru Alin mulai kalut dan menangis.


Seketika ibu Ita berlari kerumah Alin diikuti Alin dibelakangnya masuk kedalam kamar dan melihat ibu nya Alin sudah pucat dan tersenyum.


"bu,, Bu asih" panggil nya sambil mengecek denyut nadi di pergelangan tangan ibu Alin, lalu pindah ke bagian leher tak lama menggeleng


"innalilahi wa innailaihi rojiun,, ibu kamu sudah meninggal Alin." kata Bu Ita


Alin berjongkok didekat ke ranjang ibunya menangis sejadi-jadinya "gak mungkin tadi ibu masih ngobrol sama Alin Tante, ibu pasti cuma tidur ya kan Bu, ayo bangun Bu sarapan dulu Bu bangun.." jawab Alin histeris.


"Alin harus kuat, Alin yang sabar ya biar ibu tenang. jangan nangis, jangan buat perjalanan ibu ketemu sama Allah jadi terhambat, Alin ngerti kan. tunggu sini ya, ibu mau panggil warga yang lain." kata Bu Ita yang merupakan ustadzah didaerah rumah Alin sangat baik kepada Alin dan ibunya.


Berita kematian ibu Alin sudah menyebar melalui pengeras suara dari mushola di rumah Alin.


"Alin coba kamu hubungi uwa kamu, kasih tau berita ini. agar Proses pemakaman bisa segera dilakukan." ucap Bu Ita


Alin mengangguk di ke kamar meraih Hp kecil nya mencoba menelepon uwa nya tapi tidak diangkat akhirnya dia mengirim pesan. Kemudia dia juga mengirim pesan kepada bos nya Bu Tiara.


"gimana apa kata uwa kamu?"


"telepon Alin gak diangkat Bu sama uwa, tapi Alin sudah kirim pesan."

__ADS_1


"terus gimana ini, nunggu uwa kamu apa gimana?"


Tak lama suara mobil berhenti didepan rumah turun uwa Alin dengan jalan sempoyongan seperti orang mabuk, uwa Alin dari pergi kemarin tidak pulang kerumah dan ketika pulang saat kakaknya meninggal dan dalam keadaan mabuk juga.


"wah ramai amat, ini dirumah apa di pasar malam sih?"


"astagfirullah Siska, kamu mabuk ya!" ucap Bu Ita memegang bahu uwa


"ih pegang-pegang siapa nih ko ada guling panjang banget disini.!" ucap uwa sambil menunjuk jenasah kakak nya yang sudah dipindahkan di ruang tamu.


"uwa,, itu ibu. ibu udah meninggal" isak tangis Alin kembali terdengar.


"astaghfirullah Siska, sadar hei itu kakak kamu dia sudah meninggal." kata ibu-ibu yang melayat.


Para warga geleng-geleng kepala dan memang sudah mengetahui watak dan perilaku Siska.


"oooh meninggal,, ya udah cepetan dikubur nanti keburu bau. aku mau tidur dah.." jawab Siska sambil berjalan masuk ke kamarnya


Bu Ita berkali-kali istighfar, dan menatap sedih kearah Alin. kasian sekali Alin, bagaimana nasibnya sekarang. aku akan mengajaknya tinggal di rumahku nanti jika dia mau. batin Bu Ita.


"baiklah ibu-ibu tolong dipersiapkan segala nya, dan segera dimandikan saja agar bisa segera disolatkan lalu di kuburkan." kata Bu Ita


"maaf Bu ustadzah saya khawatir jika nanti Siska bangun uang sumbangan warga untuk ibu Alin diambil sama Siska." kata salah seorang ibu.


"begini saja Alin coba kamu cek baskom itu, kalau sudah penuh kamu buka isinya ditemani Bu Lia, nah Bu Lia nanti kalau yang beli kain sudah datang tolong uangnya diam dari baskom untuk mengganti uang yang sudah menalangi tadi. juga untuk jasa yang memandikan jenasah nanti ya Bu." pinta Bu Ita


"baik Bu, ayo Alin dibuka amplop dibaskom itu.nanti baskom nya taruh disana lagi."


***


Sementara di rumah Tiara baru saja selesai masak dan dia tidak mendengar ponselnya karena di silet. Selesai masak dan mandi dia membuka dan membaca pesan dari Alin.


"innalilahi wa innailaihi rojiun" ucap Tiara


Segera dia mengambi kunci motor dan pergi ke rumah Alin, untungnya disana Tiara masih sempat bertemu Almarhum.

__ADS_1


"assalamualaikum Alin." panggil Tiara


"waalaikumsalam Bu Tiara," Alin menghampiri Tiara dan salim seketika Tiara memeluk Alin.


"kamu yang sabar ya Alin kamu harus kuat ya."


"iya Bu, makasih ibu sudah mau datang."


"ibu pasti datang, apa yang bisa ibu bantu?"


Alin bingung, Tiara berjalan menghampiri Bu Ita "assalamualaikum Bu, saya Tiara, Alin bekerja di toko saya."


"waalaikumsalam bu Tiara, saya Ita terimakasih sudah mau datang ya Bu, mohon maaf jika ada kesalahan Almarhum."


"iya Bu, Alin sudah saya anggap anak saya sendiri, jadi saya pasti datang, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Alhamdulillah sudah selesai, jenazah siap dikuburkan. apa ibu mau ikut?"


"iya saya akan ikut."


Alhamdulillah semua selesai, dan uwa belum juga bangun. Alhamdulillah uang sumbangan warga cukup untuk membeli kain kafan, untuk bayar jasa yang memandikan jenazah, bahkan masih ada sisa nya untuk tahlilan nanti malam.


"Alin,,, mana kakak?" uwa keluar dari kamarnya.


"uwa, ibu udah di kubur." jawab Alin


"dikubur gimana? meninggal maksudnya?!" teriak uwa


"iya, ibu sudah tenang di surga uwa, kita harus mendoakan ibu mulai sekarang."


"ya udah berati udah gak ada gunanya kamu disini lagi kan. kamu juga udah tau kan, kalau kamu bukan anak kandung kakakku, jadi mending kamu pergi dari sini dan cari keluarga asli kamu.!!" kata uwa


Pada tetangga hanya geleng-geleng kepala "Siska kamu bisa gak jangan ngebahas soal Alin, kita masih harus mendoakan almarhum. nanti malam masih akan ada pengajian, gimana pun juga Alin itu keponakan kamu." kata Bu Ita


"dia bukan keponakan saya Bu, terserah kalian deh, males banget disini." Siska kembali ke kamar dan keluar membawa tas nya dan pergi.

__ADS_1


"sampai kapan ya Siska itu sadar dan berubah?!" tanya beberapa ibu-ibu lainnya.


Alin diam dan menangis.


__ADS_2