
Rudi, nanti kalu ada yang mencari saya bilang kalau saya sedang keluar sebentar ya." ucap Zain dengan sopan namun berwibawa.
"Baik Bang. Emang Abang mau ke mana?" tanya Rudi penasaran.
"Gak, mau ngontrol aja sebentar." jawab 'nya singkat.
Zain pun lekas keluar dari gedung berlantai dua itu, meninggalkan Rudi dengan beberapa staf lainya.
Sementara Roki sudah tiba di lokasi, di mana ia melihat Derry sedang melakukan pemanasan, bak seorang atlit bela diri yg akan bertanding. Namun pria berambut gondrong dan bertato di sekujur kedua lengannya itu tidak menampakan diri di depan Derry.
Tak berselang lama Zain pun tiba di tempat itu denga senyum yang menampakan ketenangan dan berwibawa.
"Dateng juga rupanya lo." ucap Derry menyambut kedatangan rivalnya, dengan suara yang cukup lantang.
Ia mulai mebuka jaket kulitnya dan menyimpan 'nya di atas sebuah bangku kayu. Sepertinya tempat itu memang sengaja di sediakan untuk pertemuan para preman yg akan menunjukan skil bela dirinya. Kebetulan tempat itu lumayan sepi, karena meski posisinya di tengah-tengah pasar, tempat itu di kelilingi pagar yg cukup tinggi yang hanya menyediakan satu pintu untuk masuk dan keluar pagar.
"Assalamualikim Derry." sapa Zain dengan senyum ramah 'nya.
"Wa'alaikumsalaam." ujar seseorang dar balik pintu pagar.
"Bang Roki ngapain Abang di sini?'' tanya Derry sedikit kaget.
Prok prok prok!!
Sambil bertepuk tangan scara perlahan, kemudian Roki pun berucap.
"Denger - denger di sini akan ada pertarungan perebutan kursi ketua, karena gue bagian dari jajaran ke anggotaan yang di tuakan di sini, gue rasa gak ada salahnya menyaksikan pertarungan ini. Dan untuk lo Der, karena lo yang nantangin ketua kalau terjadi apa-apa dglengan fisik lo, maka ketua gak bisa di salahkan.
Dan buat Ketua, jika ketua kalah dalam pertarungan ini maka mau tidak mau, ketua harus mengundurkan diri dari jabatan ketua langsung ke Bang Juned. Bagaimana, apa kalian sanggup menepati peraturan yang saya buat ini?" ucap Roki panjang lebar, lalu menyatukan kedua tangannya ke belakang tubuhnya.
"Oh, jadi Abang mau jadi saksi pertarungan kami?. Ok, emang ity yg gue mau." ujar Derry dengan suara pongah 'nya.
"Bagaimana dengan ketua? tanya Roki seraya mengalihkan pandangannya ke wajah Zain yang tersenyum ramah kemudian Zain berkata.
"Tentu, jangan kuwatir Bang, saya juga akan mentaati peraturan itu." ucap Zain dengan suara tegasnya.
Tak lama Zain pun melepas kancing kemajanya satu-persatu, lalu membuka bajunya yang hanya meyisakan kaos oblong yg cukup ketat, hingga menampakan dada bidangnya yang cukup atletis.
__ADS_1
"Gila, kren juga badannya, apa dia rajin fitnes di pesantrennya?" gumam Derry dalam hatinya, seakan kagum dengan fisik rivalnya itu.
Tanp di ketahui Derry selama ini, Zain bukan hanya membantu mengajar, atau di ajar oleh gurunya, melainkan ia pun menjadi Guru pencak silat di pondok 'nya atas anjuran gurunya, karena sang Guru tau kalu santrinya itu pandai ilmu bela diri yg di ajarkan dari paman'nya, yaitu Junaidi atau ayah 'nya Derry.
Sementara Roki memilih duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, ysng berjejer memanjang di bawah dinding pagar.
Sebelum Zain selesai menaruh kemejanya di atas kursi Derry tiba-tiba menyerang.
"Hiaaaat!!!" suara Derry cukup keras hingga menggema karena memantul pada dinding pagar.
Reflek Zain pun sedikit menggeser kakiknya ke brlakang, hingga kepalan tangan Jerry tak mampu menyentuh wajah Zain, meski kepalan itu beberapa senti lagi mengenai rahangnya, andai ia tak menggeserkan kaki dan tubuhnya ke belakang,mungkin situasinya akan bebeda.
"Wow, pintar juga lo ngehindar pukulan gue." ujar Derry setelah membalikan badan, ekas ia pun menyerang kembali dengan gesitnya.
"Rasakan tendangan gue." ujar Derry di landa emosi.
Namun bukan 'nya mengenai tubuh lawannya, ujung kakinya malah membentur tembok pagar karena ketika ia melayangkan tendangannya, Zain yang berdiri dekat dengan dinding pagar menghindar dengan cepat ke susi yang lain.
"Aaww!!" pekik suara kesakitan Derry menggema di tempat itu, sembari menekukan lututnya di tanah dan satu tanagannya memegang ujung kakinya yang terbungkus sepatu karena merasakan sakit.
"Cuma sgitu kemampuan kamu?, Derry Derry, ternyata bela dirimu tak menunjukan kemajuan sejak kita belajar bareng dengan Ayah 'mu sewaktu kita masih kecil. Katanya juara Kabupaten, tenyata cuma segini kempuanmu?" ucap Zain mempropokasi lawan 'nya.
" Takut kamu bilang?".
ucap Maher yang terpropokasi, lalu ia mulai merentangkan kedua tang 'nya seakan meminta lawannya untuk segera menyerang 'nya kembali.
"Ayo! serang saya sekarng." ucap Zain sekan menentang.
Derry lekas berdiri, meski kakinya masih sedikit ngilu, namun karena amarah yang mendominasi kepalanya, rasa sakit itu seakan hilang. Ia bergerak maju hendak menghujam 'kan pukulannya lagi ke wajah Zain dengan cepat. Namun lawannya malah menyisih ke sisi kanan, tepat ketika kepalan tangan Derry melewati muka Zqin, dengan sangat cepat Zain sedikit berjongkok dan menghujamkan pukulan kanannya tepat di bawah ketiak Derry.
KREETKK,,!! seprti suara tulang yang bergeser.
"Aaaawwkk!!'' spontan Jerry berteriak kesakitan hingga tabuhnya terjatuh, sementara tangan kirinya memegangi pundak kanannya yang sedikit menonjol ke atas, efek dari pukulan lawannya.
"Lo, lo menang, ahh!!" ucap Derry tebata-bata lalu ia pun pingsan di tempat.
Melihat situasi itu Riko lekas menhubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo Rudi, lu masih di markas kan?" tanyanya di saluran telpon.
"Ia Bang, saya masih di markas, ada apa Bang Roki?" tanya Rudi di sebrang sana.
"Sii Lukman juga di situ kan?".
"Ia Bang, di juga masih di sini" timpal Rudi kembali.
"Lu sama Lukman ke belakang gedung Pemasaran sekarang, dan bawa mobil gue, kuncinya dia yang pegang.
Cepetan!!" ujarRoki memberi printah.
"Baik Bang, kami segrea menuju ke sana." jawab Rudi, a memutus telponnya dan lekas ia memberitau Lukman, mengajak 'nya agar segera menuju TKP menggunakan mobil Roki yang terparkir di depan gedung berlantai dua itu, atau m
Markas Pengendalian Keamanan Pasar.
Sementara di TKP, Roki langsung mengangkat tubuh Derry dan membaringannya di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Ketua, gue gak nyangka ternyata ketua benar-benar Petarung sejati,selamat atas kemenangan ketua.".
ucap Riko sambil tangannya iya satukan seakan memberi hormat.
Namun Maher tak menanggapi ucapan Roju lalu ia balik berkata.
"Bang apa dia akan baik-baik saja?" tanya Zain dengan mimik menghawatirkan.
"Tenang saja ketua, sprtinya sendi pundaknya hanya sedikit bergeser. Jadi kami akan membawa 'nya ke ahli tulang atau alternatif, kebetulan saya tau tempat di mana tukang urut itu berada.
"Tapi saya khawatir Bang, takut 'nya akan lebih parah dari perkiraan Abang".ujar Zain melanjutkan.
"Tenang saja ketua, ketua tidak pelu khawatir, gue bakal ngurus dia" jawab Roki menenangkan.
Tak lama Rudi dan Lukman pun tiba. Meski sedikit terkejut tanpa ba bi bu, mereka berdua langsung mengangkat tubuh Derry, dan memasukannya ke dalam mobil Roki yg terparkir du luar pagar tembok. Lekas Roki pun menghampiri mereka.
"Cepat kalin bawa ke Abah Dul, kalian tau kan tempatnya?" titah Roki memperjelas.
"Tau Bang." ujar keduanya kompak.
__ADS_1
"Kalau begitu kami berangkat dulu Bang, Ketua." ucap Rudi, memandangi Roki dan Zain bergantian. Sementara Lukman sudah duduk di kemudi hendak menstarter mobil 'nya.
next,,,,,part 11.