
"Hallo Callon Ibu mertua!,," sapa Ross ketika ia sudah mendekat pada Fatimah.
"Siapa gadis cantik ini, kenapa dia tidak mengucapkan salam?" kata hati Fatimah membatin. Ketika melihat tingkah Ross yang SKSD, (Sok kenal sok dekat).
"Kenalkan,,,,!, Namaku Rossdiana Putri Devindra." ucap Ross, seraya mengulurkan tangan kanannya ke depan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Jujur saya suka dengan wajah cantiknya tapi sayang kenapa sifat cueknya begitu mendominasi. Di lain sisi baju yang ia kenakan begitu menampakan aurat seakan dia bukan gadis baik - baik," kembali Fatimah berkata dalam hatinya.
Melihat Sang Calon Mertua hanya diam mematung sembari memperhatikannya dari atas hingga bawah membuat Ross semakin agresif. Gegas Ros meraih tangan Fatimah lalu menciumnya berkali - kali.
"Kamu ini sebenarnya siapa Nak?" tanya Fatimah dengan raut kebingungan dengan kerudung hanya di lilitkan sebagian di lehernya.
"Saya calon istrinya Mas Zhain Bun." jawab Ross seraya tersenyum manis menampakan keceriaan.
"Hah?," ucap Fatimah dengan lirih, ia syok dengan pernyataan gadis cantik berwajah orientalis itu.
Usai itu tubuh Fatimah tiba - tiba limbung seperti hendak terjatu.
Namun dengan sigap Nattaly datang.
"Ross,, lo apa 'in nih orang tua.?" tanya 'nya sraya menagkap tubuh Fatimah yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri.
Melihat kondisi Ibu dari Pria yang ia cintai tengah pingsan di pangkuan sahabatnya Ross malah hanya diam melongo tak merespon ucapan Nattaly.
"Hai!, ko lo malah diem. Cepetan bantuin gue." titah Nattaly dengann suara sedikit lantang.
"Astaga!," jawab Ross ketila kesadarannya sudah mulai pulih.
"Cepet bantuin gue," ujar Nataly kembali.
"Eh!!, ia - ia." jawab Ross sedikit panik."
"Lo kenapa megangin kepala juga." jawab Nattaly dengan raut kesal saat tangan kirinya menahan kepala Fatimah dari bawah namun Ros ikut memegangi pula dengan tangan kanannya.
"Issh, lo tu kebiasaan Ross kalu keadan lagi darurat kecerdasan lo mendadak hilang entah ke mana." sahut Nattaly lagi.
__ADS_1
"La terus aku mesti ngapain?." tanaya nya dengan mimik muka masih dalam kepanikan.
"Gue pegang bahu dan keplannya, dan lo cukup pegangin kakinya." jawab Nattaly seakan ia mampu untuk menahan beban tubuh Fatimah.
"Astagfirullahal'adziim!!," seru Rita yang tiba - tiba datang dan lekas membantu proses pemindahan tubuh Ibu Fatimah yang masih dalam kondisi pinsan.
"Ini apa yang terjadi?," tanya Rita ketika tubuh Fatimah sudah di baringkan di bangku panjang di teras rumahnya.
"Tanya aja no samMiss Bucin." jawab Nattaly asal.
"Ma'af Ta, tadi aku gak sengaja ngomong kalau aku calon istrinya Mas Zhain." ucap Ross dengan raut tasa bersalah seraya menundukan kepala.
"Dasar gadis Bucin yang absurt. Cepat telpon Mas Zhain, aku mau bikin teh manis dulu." ujar Rita, gegas ia masuk ke dalam rumah Ibu Fatimah untuk membuat teh manis yang akan di berikan pada Sang tuan rumah yang sedang dalam kondisi pinsan.
"Nih!!," ucap Ross semabari memberikan gawainya pada Nattaly.
"Lho ko gue?"
"Aku gak berani ngomong." jawab Ross, si gadis bucin yang bermata sipit itu.
"Issh, ini ni,, yang gak suka gue dari lo, lo yang berbuat gue yang di repotin." jawab Nattaly keberatan.
"La terus gue mau ngomong apa, ketemu aja baru sekali, gue gak mau lah." tolak Nattaly sama - sama kekeh.
Ketika keduanya sekitar sepuluh menit berdebat yang tak menemukan tanda sepakat, datanglah Rita dengan membawa satu gelas teh manis hangat.
"Astagfirullahal'adiziim!, aku pikir kalian sudah nelpon Mas Zhain. Dasar Tom n Jerry versi betina." ungkap Rita dengan kesal sambil menekankan giginya seakan kesal. Ya gadis berhijab itu sudah muak sebenarnya dengan tingkah kedua sahabatnya itu, hingga keluarlah kata yang tidak biasa ia ucapkan.
"Ini!!, kamu minumkan perlahan dengan sendok, Insah Allah Beliau akan sadar. Dan sini hp nya biar aku yang ngomong." titah Rita pada Ross yang masih menampakan rasa bersalah pada muka cantikany.
"Assalamuaikum Mas Zhai." sapa Rita ketika Zhain menjawab telponnya.
"Wa'alaikumsalaaam!!, Ada apa Nona Ross?," tanya Zhain, rupanya ia mengira itu adalah suara Ross karena hp yang di gunakannya memang kepunyaanya.
"Aku Rita Mas, bisa pulang sebentat gak?" tanya Rita dengan suara lembut agar yang di seberang telpon tidak merasakan kepanikan.
__ADS_1
"Lho ko, kenapa hp nya kamu yang pegang?,"
"Ceritanya panjang Mas, lebih baik Mas segera pulang, tapi jangan ngebut - ngebtut ya mas." ujar Rita kembali seraya memberi peringatan.
"Sebenarnya ada apa sih Rit -?," ujar Zhain mengantung lantaran lawan bicaranya memotong kalimatnya dengan cepat.
"Pokoknya Mas cepat pulang!!," titah Rita, gegas ia memutuskan sambungan telponnya karena panik meliah Fatimah yang sadar namun bantuk lantaran tersendat oleh minuman teh manis yang masuk ke dalam kerongkongannya.
"Uhuk, uhuk, uhuk!!," suara Batuk Ibu Fatimah terdengar sampai ke telinga para gadis itu, terutama telinga Natally yang menyuapi air teh manis dengan sendok teh.
"Bunda ma'af kan aku," ucap Ross, sambil menekukan lutut pada lantai seraya memegang punggung tangan Calon Ibu Mertuanya.
"Sudah lah Nak, semua sudah terjadi. Justru Bunda lah yang harusnya meminta ma'af, karena Bunda kalin jadi di repotkan." ujar Fatimah dengan suara serak lantaran baru tersadar dari pinsannya. Usai itu wanita paruh baya itu melanjutkan kembali kealimatnya.
"Rita, tolong jelaskan siapa gadia cantik ini?," tanya Fatimah sambil tersenyum seraya mengelus kedua pipi Ross dengan lembut.
"Ini Ros Bun, ia sahabat aku dan tujuannya ke sini ingin bersilaturahmi Bunda." ujar Rita seraya duduk menghampiri Ros yang tengah duduk pula berhadapan dengan Fatimah di bangku kayu yang berukuran panjang.
"Saya yakin wanita cantik ini kenal dengan putra sholehku, dan bisa jadi keinginan ia silaturahmi ke sini untuk bertemu dengan putraku," ucap Fatimah dalam hatinya
"Apa kamu mencintai putraku?" tanya Fatimah to the point.
Deg!!, jantung Ross tiba - tiba berdetak lebih dominan dari biasanya hingga menghasilkan perasan terkejut di hatinya. Ya, bagimana mungkin ia tidak terkejut dengan pernyataan Bunda Fatimah yang seolah - olah tau isi hatinya.
"Ti - tidaa-" ucap Ross menggantung lantaran bibirnya tiba - tiba di sentuh oleh telunjuk kanan tangan Fatimah.
"Sssst," ujar Fatimah terjeda beberapa detik, lantas wanita paruh baya yanbg nerkwrudung itu melanjutkan kemabli perkataannya.
"Jangan bicara yang tidak sesuai dengan isi hatimu Nak, karena jika demikian itu adalah pertanda benih - benih kemunafikan mulai tumbuh hatimu." jawab Fatimah menasihati namun dengan intonasi suara yang lembut.
"Ma'af kan saya Bunda, saya tidak bermaksud untuk berbohong." jawb Ross, dengan bahasa formal menandakan ia semakin segan dengan tutur kata Fatimah barusan.
"Jika kamu benar - benar mencintai putraku, maka kamu harus menjalankan syarat yang akan Bunda berikan."
"Hah, syarat?"
__ADS_1
"Iya, karena ia putra Bunda satu - satunya yang teristimewa, jika kamu ingin menjadi isrtri lelaki yang istimewa, maka kamu minimal bisa mendekati tipe wanita yang istimewa pula. Bagimana Nak Ross?," tanya Fatimah berharap jawaban.
Apa syarat Cinta yqng akan di berikan pada Ross?,,, next,,, bab 25