
"Tau lah, di mana lagi kalau jam segini selain di pasar." jawab Ross dengan mantap.
"Lo bener - bener udah bucin akut ya sama Mas Zhain, sampe tau tempat di mana Mas Zhai bekerja.
"Emang gak boleh kalau aku menyelidiki kegiatan Mas Zhain." ucap Ross, seraya memandang lurus kedepan.
"Bukan gak boleh Ross, tapi kalau kemana - mana kamu ngikutin dia, itu namanya over protektif dan kalau Mas Zhain tau di pasti marah karwna lo udah ngemata - matain dia." jawab Nattaly kemudian.
"Lagian kan bukan aku yang ngawasin Mas Zhain." jawab Ross sekenanya.
"Terus kenapa kamu bisa tau kegiatan Mas Zhain?," timpal Ritta di tengah obrolan kedua sahabatnya.
"Aku bayar orang buat ngikutin Mas Zhain," jawab Ross jujur.
"Parah lo Ross," ujar Nattaly lagi.
"Ross, kenapa kita belok ke sini?," tanya Ritta yang kebingungan lantaran mobil yang di kendalikan gadis berwajah orientalis itu masuk ke dalam perkiran sebuah Mall yang cukup megah.
"Kamu bisakan pilih 'kan aku beberapa baju muslimah?, tentunya yang paling syar'i." tanya Ross sambil menarik tuas rem tangan mobilnnya ketika ia hentikan kendaraan itu di parkiran no 19.
"Serius nih?," tanya Ritta dengan muka teduhnya di iringi senyum yang mengembang. Ya, rupanya Ritta sangat bahagia dengan pertanyaan sahabat baiknya itu. Bagimana tidak, selama ini ia selalu berdoa dan berharap agar Ross mau merubah penampilannya yang seksi dan glamor agar lebih rapih dan sopan dalam berbusana.
"Aku serius Ta, gak mungkin aku terus berpenampilan seperti ini terus, aku juga ingin berubah. Kata - kata Bunda Fatimah benar - benar membekas di ingatan 'ku, aku juga ingin termasuk ke dalam bagian umatnya yang ta'at bukan hanya mendengar." ucap Ross dengan raut begitu datar dan serius namun tak menghilangkan kecantikannya sama sekali.
"Kalau kalian masih ngobrol kayak gini kapan kita belanjanya?," tanya Nattaly memprotes dialog kedua sahabatnya.
"Iya iya, kami turun sekarang ko, gak sabaran banget sih." jawab Ross sedikit merajuk.
"Ini, terus ini dan ini," ujar Ross kala sudah berada di dalam Mall sambil menyentuh bebrapa baju gamis yang tergantung di etalase Mall. Sudah lebih dari sepuluh pasang baju muslimah beserta hijabnya yang ia pilih.
__ADS_1
"Lo gak salah mau beli baju sebanyak ini?," tanya Miss Keppo seraya mulutnya menganga seakan aneh dengan tingkah sahabat absurt 'nya itu.
"Kenapa emang, ada yang salah?, bahkan ini belum cukup." jawab Ross santai.
"Hah?," ucap Ross makin bingung.
"Lo mau buka butik apa sekedar belanja sih?," tanya Nattaly lagi.
"Udah Natt, gak usah ikut campur. Namanya juga putri sultan, belanjaan segitu mah belum ada apa - apanya buat dia." ujar Ritta yang maksudnya emnyindir Ross. Namun yang di maksud sama sekali tak mengerti.
"Ya iya lah, Rossdiana Putri Devindra gitu loh!," ucap Ross dengan centilnya.
"Isssh, dasar Miss bucin. Ross perlu kamu tau ya, ini namanya pemborosan dan apa kamu tau kalau sifat boros itu berasal dari setan?," ujar Ritta menjelaskan dengan gamblang tanpa sindiran sama sekali.
"Lah terus masa aku balikin lagi bajunya. Udah lah cepet pilih baju kalian sesukanya biar aku bayarin sekalian. Dan kalau kamu gak setuju dengan banyyaknya baju yanga aku beli, kita sumbangain ke panti asuhan atau kotban bencana misalnya, giimana?" ujar Ross dengan suara sedikit di anaikan beberapa oktaf.
"Ini sisi baiknya kamu Ross yang jarang di miliki oleh kebanyakan manusia zaman sekarang, kadang kamu berbuat baik tanpa terencana sebelumnya." gumam Ritta dalam hatinya.
Bruugh!, suara yang di timbulkan ketika Nattaly menitup bagasi mobil uasi ia memasukan beberapa paper bag yang berisikan busana muslimah.
"Ya Tuhan, kenapa nasibku malang sekali," ujar Nattaly lantaran kedua sahabatnya tak membantu karena masih ada beberapa peper bag yang belum di masukan ke dalam mobil. Gegeas ia pun mengmbil paper bag itu dari atas mobil Audy kepunyaan Ross dan memasukannya ke jok penumpang bagian belakang.
Brugh!!, kembali suara pintu di tutup dari dalam yang di lakukan oleh Nattaly.
"Uuuh!!," ujar Nattaly sambil mengusap peluh di kening mulunya. Sementara kedua sahabatnya yang sudah duduk manis di depan hanya tersenyum kecik seakan lucu di mata keduanya.
"Kalian benar - benar sahabat paling sadis yang pernah hue kenal." Ocah Nattaly berkeluh kesah.
"Lagian siapa suruh tuh pelayan Mall balik lagi ke dalem," jawab Ritta dwngan suara khasnya yang lembut.
__ADS_1
"Gue pikir kalian mau bantuin gue." jawabnya lagi.
"Alaah, aku tau ko maksud kamu suruh tuh pelayan balik lagi. Kamu cari perhatian kan sama pelayan itu?, makanya jadi cewek tuh jangan sok caper kalau lihat cowok ganteng." ujar Ross yang sudah hafal karakter dari sahabatnya itu.
"Udah Ross, kita jalan gih!!, nanti cuma buang - buang waktu kalau ngebhas Miss Caper syang satu ini." ujar Ritta seraya tersenyum manis. Ya, gadis berhijab itu memang cukup manis jika tersenyum lantaran ada tahi lalat kecil yang bersarang di atas bibir tipisnya.
"Terserah kalian deh," tumapal Nattaly tak mau berdebat, sambil memanyunkan bibirnya seakan kesal sementara pandangannya tertuju keluar sambil kedua tangannya bersesekap.
Di perjalanan di sebauah jalur jalan tol.
"Kenapa belok Ross,?" tanya Nattaly Mis Keppo yang kebanyakan nanya.
"Kamu diem aja, nanti juga tau kok," jawab Ross singkat sambil kedua tangannya membelokan kemudi ke arah kiri. Rupanya ia hendak mengganti bajunya agar penampilannya lebih cantik dan syar'i.
"Taraa!!," ujar Ritta ketika menunjukan penamilan Ross di depan Nattaly. Keduanya keluar dari kamar mandi race area jalan tol yang cukup bersih dan rapih.
"Hah," ujar Nattaly seraya mmbuka mlutnya lebar - lebar sambil matanya melotot. Ya, ia takjub atas penampakan Ross yang berbeda dari jauh sebelimnya.
Kini gadis itu mengenakan hijab pashima berbahan lembut dan bercorak batik khas Pekalongan, sementara gamis yang ia kenakan pun bercorak sama hanya warna dasarnya yang sedikit berbeda yaitu unggu sedang warna pashima yang ia kenakan berwarna abu - abu seakan kontras dengan warna kulit mukanya yang begitu putih dan mulus.
"Ya Tuhaan!, ini benar - benar Dewi kwan in versi islami." gumam Nattaly dengan lirih namun masih terdengar jelas di telinga kedua sahabatnya lantaran kedua gadis itu sudah berdiri di depan Nattaly yang diam mematung bak patung kayu.
"Hai!, ko kamu bengong sih." ujar Ross sambil satu telapak tangannya di goyang - goyangkan di depan wajah Natraly.
"Eh!, sorry Ross gue benar - benar takjub." jawab Nattaly ketika kesadarannya sudah benar - benar pulih.
"Udah hayu cepetan." ucap Ritta seraya menarik kedua lengan sahabatnya itu untyk meuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari toilet race are tol.
Tidak menunggu begitu lama akhirnya mereka pun tiba di lokasi yang mereka tuju. Ya, kini mobil Ross behenti di sebuah parkiran yang tak jauh dari gedung berlantai dua yang di mana di sanalah kekasih hatinya tengah menjalankan tugas sebagi Pimpinan Pengendali Keamanan Pasar.
__ADS_1
Brugh!!, suara pintu mobil yang di tutup oleh tangan mulus Ross Si Gadis Bucin yang tergila - gila oleh pesona Sang Ketua Preman Pasar Raya.
"Lo beneran mau nemuin Mas Zhain?," tanya Nattaly si gadis cantik yeng memikiki sifat keppo di atas rata - rata, ketika ketiganya sudah keluar dari dalam mobil.