
Pagi ini begitu sejuk, sesejuk hatinya Zhain yang tengah memanaskan mesin motor Ninjanya. Ya hati Zhain sedang sejuk, bagaimana tidak sejuk jika sebelum berangakat kerja ia selalu menyempatkan diri sholat sunnah dua roka'at bahkan lebih di Majlis tenpatnya mengajar anak-anak. Ya Sholat sunah Dhuha, begitu 'lah umat islam menyebutnya.
"Sarapan dulu Nak." tegur Fatimah sambil membawa satu piring nasi goreng, plus telor ceplok mata sapi kesukaannya Zhain, ia menaruhnya di atas meja kayu yang terletak di depan teras rumahnya. Maherpun segera mematikan stop kontak motornya seraya mendekati Sang Bunda.
"Wiiih, mantep ni, Bunda tau aja apa kesukaan aku." ungkap Zhain sembari mengusap - usapkan kedua telapak tangannya di depan mulutnya, seakan tak sabar ingin segera melahap nasi goreng itu.
"Ya Bunda tau lah, ini kan makanan kesukaanmu sejak kamu masih kecil." ujar Fatimah.
Zhain pun duduk di kursi kayu dan lekas melahap nasi goreng itu dengan selera.
"Santai aja Nak, nanti keselek lo." ucap Fatimah khawatir, seraya ia mendekatkan segelas air putih pada putranya.
Usai sarapan Zhain segera meraih gawainya. Sementara Fatimah sudah bergerak ke halaman depan rumahnya ia membawa sapu lidi untuk mmembersihkan halaman, karena di halaman itu terdapat beberapa pohon yang rindang hingga stiap pagi banyak dedaunan yang berserakan di bawahnya.
"Halo! Assalamulalikum." sapa Zhain ketika sambungan teleponnya di jawab.
"Wa'alaikumsalam." jawab Rudi yang posisinya sudah berada di kantor markas Pengendali keamanan pasar.
"Rudi, tolong kamu hubungi semua Kepala Keamanan di setiap blok. Katakan kepada mereka kita akan mengadakan rapat." ucap Zhain dengan suara tegasnya.
"Rapat?, ko mendadak sekali Bos." cicit Rudi di sebrang sana.
"Kamu lakukan saja apa yang saya perintahkan, selebihnya saya akan ceritakan maksud dari rapat itu setelah saya sampai di sana." jawab Zhain lugas.
Usai mengucapkan salam tak lama telpon pun ia tutup. Gegas ia menghampiri Bundanya yang tengah menyapu halaman.
"Bun aku pamit dulu ya." ijin Zhain seraya mencium punggung telapak tangan Bundanya dengan takjim.
"Ya sudah,hati-hati ya Nak." jawab Fatimah singkat.
Ketika Zhain mulai berbalik badan hendak melangkah tiba - tiba ia terdiam lantas kembali menghadap pada Sang Bunda.
"Lho ada apa lagi Zha?" tanya Fatimah bingung.
"Kalau aku carikan ART buat bantuin aktifitas Bunda gimana?" tanya Zhain dengan sopan.
__ADS_1
"ART?, untuk apa Bunda di carikan Art, Bunda tidak mau jika penghasilanmu sebagian untuk menggaji ART," jawab Fatimah sambil memegang sapu lidi di tangan kanannya.
"Tapi Bun, aku takut Bunda kambuh lagi penyakit asma nya kalau terlalu kecapean."
"Bunda masih kuat Zha. Bunda akan lebih bahagia kalau kamu cepat menikah."
"Bun, ko ngebahas tentang pernikahan sih, aku kan lagi ngebahas tentang ART buat banyuin Bunda beres - beres." protes Zhain namun masih dengan tutur bahasa yang lembut.
"Ya sudah terserah kamu saja Zha, tapi apa penghasilanmu cukup sampai harus carikan Art untuk Bunda?" tanya nya lagi
"Insha Allah Bun, di lain sisi aku kan masih sendiri, dan lagi pula anak Bunda kan bukan Zhain yang dulu lagi." jawab Zhain seraya menatap genit pada Ibu nya.
"Iya Bunda tau, kamu memang anak sholeh kebanggaan Bunda." jawb Fatimah seraya mengelus dengan sayang kepala anaknya ketika bersalaman kembali.
Usai mengucapkan salam yang sebelumnya motor Ninja nya sudah ia nyalakan. Ia pun segera berangkat menuju pasar tempat ia bertugas.
<< >>
Di pasar,di sebuah gedung berlantai dua,semua anggota rapat yang berpangkat Kepala blok dari A sampai blok H telah berkumpul menunggu kedatangan ketuanya.
"Assalamualikum." sapa Zhain ketika ia sudah berdiri di hujung meja sambil memegang sandaran kurisi kebesarannya.
"Wa'alaikumsalaam WRB." jawab semua anggota rapat dengan kompak. sejenak Zhain Al - Gifari melepaskan jaket hitamnya dan memberikannya pada Rudi yang sudah berdiri tak jauh dari sampingnya.
"Tolong taruh di ruangan saya." titah Zhain pada Rudi. Lekas ia pun duduk dan memulai rapat dengan serius.
"Baiklah, mohon maaf sebelumnya jika rapat ini saya adakan secara mendadak. Sengaja semua Hadirin saya kumpulkan, karena ada beberapa hal yang akan saya sampaikan." sejenak ia menjeda kalimatnya untuk menghirup nafas, geges ia melanjutkan kembali sambil menatap ke arah Roki,yang duduk tepat di urutan bangku pertama darinya.
"Bang Roki saya mohon Ijin." ujar Zhain mohon ijin pada seniornya, meski jabatan seniornya itu di bawahnya. Karena ia tau Roki lah orang yang paling di segani di organisasi setelah Junaidi.
"Silahkan ketua, ini sudah menjadi hak anda sebagai ketua kami, saya rasa ketua tak perlu sungkan." ucap pria berambut gondrong yang di sekujur lengannya di penuhi tato itu.
"Baiklah, pertama saya ingin menegaskan dengan isu yang beredar akhir-akhir ini,yaitu masalah pajak yang di tarik secara paksa oleh beberapa anggota." kalimat Zhain terjeda karena ada anggota rapan yang memberi intruksi.
"Sebentar ketua, sungguh saya menyesal atas kejadian itu karena saat itu saya sendiri sedang tidak berada di tempat." ucap pria berkepala plontos yang mengepalai blok H, di mana di situlah kejadian penarikan pajak secara paksa itu kepada para pedagang.
__ADS_1
"Baiklah,untuk kali ini saya maafkan, namun jika ada anggota yang berbuat demikian saya tidak segan untuk bertindak."
"Ketua,sebenarnya ini adalah ulah Jerry. Anggota kami di ancam jika tidak mau menarik pajak lebih besar dari biasanya. Maka dari itu mereka terpakasa melakukan itu. Dan saya mewakili mereka memohon maaf kepada ketua."
"Bukan kepada saya harusnya kalian meminta maaf, tapi kepada para pedang itu. Tapi ya sudahlah biar Derry dan para pedagang saya yang urus.
Untuk masalah yang kedua kenapa rapat ini saya adakan, ialah saya ingin mengajak kalian berbuat baik pada sesama yaitu dengan cara penggalangan dana untuk anak-anak yatim piatu. Bagaimana apakah ada yang keberatan dengan ajakan saya ini?" ungkap Zhain, matanya tajam memandang satu persatu anggota rapat. Hening sesaat tak ada satu pun anggota rapat berani berkomentar. Rupanya pandangan mata Zhain yang tajam bak mata Elang mampu mengkerdilkan nyali para anggota rapat. Hingga ia pun kembali bertanya.
"Bang Roki apa tanggapan Abang?," tanya Zhain masih dengan nada tegasnya.
"Sebenarnya ide itu sudah ada di benak saya, bahkan sebelum jabatan Ketua berpindah ke tangan anda Ketua, hanya saja karena saya tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuan ketua yang lama waktu itu, akhirnya saya tidak bisa merealisasikannya." ucap Roki. Yang kini bahasanya begitu formal, rupanya ia semakin segan pada Zhain setelah ia melihat sendiri pertarungan antara ketuanya yang baru dengan Jerry.
"Baiklah, dari ucapan yang Bang Riko utarakan tadi saya berasumsi bahwa Bang Roki setuju dengan usulan saya. Lalu bagaimana dengan kalian semua?, bagi yang setuju silahkan acungkan tangan dan bagi yang tidak stuju tolong katakan apa alasannya?" ujar Zhain lagi. Mendengar ucapan ketuanya yang gagah dan berwibawa itu mereka dengan serempak mengangkat tangan tanda setuju.
"Lalu dari mana ketua akan mengumpulkan dana itu?" tanya Riko, matanya mengarah pada Zhain.
"Pertanyaan bagus,,,. Karena kita yang mengadakan penggalangan dana itu, maka dana awal harus berasal dari diri kita sendiri. Saya akan memotong gaji kalian 2,5 persen, bagi yang keberatan silahkan berdiri dan ungkapkan alasannya, untuk dana selanjutnya saya akan coba berbicara dengan perwkilan para pedagang." ucap Zhain semakin dingin terdengar di telinga para anggota rapat. Sesaat tidak ada yang berani berdiri. Lantas....
"Tidak ada alasan untuk menolak keputusan ketua, di lain sisi hal itu adalah perbuatan baik, terlalu naif rasanya jika kami menolaknya." ucap Roki kembali.
"Baiklah, mulai bulan depan dan seterusnya keputusan ini tetep berlaku, karena selanjutnya bukan hanya yatim piatu yang akan kita santuni tapi juga yang lainnya yang membutuhkan bantuan, seperti halnya apabila ada keluarga anggota yang sakit atau tertimpa musibah, maka kita akan gunakan dana itu sebagai bantuan." ujar Zhain lagi. Tak lama setelah itu rapat pun selesaI. Usai bersalaman satu sama lain mereka pun satu per satu membubarkan diri keluar dari gedung berlantai dua itu.
"Saya bangga di pimpin orang semacam anda Ketua." sanjung Roki pada Ketuanya ketika hanya menyisakan mereka berdua di ruangan rapat.
"Biasa saja Bang.oh iya sekarang saya mau menuju blok H untuk meminta maaf pada para pedagang atas kejadian tempo hari." ucap Zhain lekas berdiri.
"Silahkan Ketua, saya juga akan kembali bertugas." ujar Roki seraya berdiri dan tangannya ia arahkan pada pintu, seakan ia mempersilahkan Zhain untuk keluar lebih dulu.
Tak lama merekapun keluar dari gedung itu. Zhain gegas melangkah menuju blok H yang letaknya tak jauh dari kantornya, sementara Roki berlalu menuju Blok A, tempat di mana ia di tugaskan dengan beberapa bawahannya.
Kini Zhain pun sudah berada di blok H. Ia berjalan dengan satu tangan kirinya di masukan kedalam saku celananya yang berwarna hitam, sedang atasnnya ia memakai kaos berlengan panjang namun sedikit ketat, hingga tubuh atletisnya terlihat sempurna di mata kaum Hawa,tak terkecuali dengan wanita yang satu ini, ya dialah Ce Lala janda kembang yang berjulan berbagai alat kecantikan dari beragam merk di meja etalase bernomor 9. Tubuhnya sintal bahkan boleh dikatakan bohay, namun dari semua kelebihan yang ia miliki gaya CENTIL nya lah yang membuat beberapa wanita rekan sepropesinya tidak menyukainya.
"Hallo Mas Zhain!!." sapa Ce Lala ketika Zhain melewati etalasenya, matanya mengedip - ngedip genit dengan wajah begitu ceria.
"HAH??"......
__ADS_1
Hayo!! mampu gak Zhain menghindar dari godaan Ce Lala?? next.....bab selanjutnya