
"Hah?." ucap Khai panik. Ya ia tiba - tiba panik karena pandangan sang Kiyai tertuju padanya. Rupanya Ross merasa belum pantas berbicara dengan lelaki sepuh namun barkharisma itu, di tambah ia sekarang tau kalau lelaki sepuh itu adalah guru dari pria yang di cintai 'nya.
"Sa - saya Ross Kiyai, lengkap 'nya Rosssdiana Putri Devindra." ucap 'nya dengan terbata.
"Devindra?, apa Devindra itu ayah 'mu?." ucap Kiyai dengan nada berkharisma.
"Be - betul Kiyai."
"Jangan gugup Nak Ross, santai saja."
"I - iya, Kiyai." jawab Ross masih dengan rasa gugup 'nya.
"Apa Ayahmu pemilik Pt SC itu?, perusahaan terbesar di kota ini." tanya H Samsudin kemudian.
"Betul Kiyai, apa Kiyai mengenal Ayah saya?" ucap Ross yang mulai meguasai kepanikan 'nya.
"Bukan hanya kenal, Ayah 'mu sering mengundang saya ke perusahaan 'nya. Dan saya sangat senang sekali dengan prinsip ayahmu bahwa; di setiap kesuksesan yang kita raih, kita harus mengiringi 'nya dengan rasa syukur, nah bentuk rasa syukur ayahmu itu, ia sering mengdakan pengajian untuk para karyawan 'nya. Dan kebetulan saya 'lah yang di tunjuk ayah 'mu untuk memimpin pengajian itu." ujar Kiyai panjang lebar.
"Kami benar - benar tidak tau dengan kegiatan itu Kiyai, bahkan Ibu saya juga tidak pernah cerita hal itu kepada saya. Kemungkinan Ibu saya juga tidak tau akan hal itu." timpal Ross dengan nada sopan.
"Mungkin suatu saat ia akan meceritakan 'nya. O iya, apa kamu juga sering ikut pengajian dengan putri saya?"
"Nak Ross baru kali ini Kiyai, insha Allah kedepa 'nya mungkin ia akan menyempatkan ikut pengajian kembali. Iya 'kan Nak Ross?" ujar Fatimah menanggapi.
"Iya, Insha Allah Bunda." jawab Ross lagi.
"Oh iya, selain di pasar kata 'nya sekarang Nak Zhain juga sudah mulai mengajar. Benarkah kabar itu Bu Fatimah?"
"Alhamdulillah Kiyai, setelah kepulangan Zhain sekarang sudah banyak para orang tua untuk menitipkan anak mereka di Majlis kami, kami Mohon doa 'nya Kiyai semoga Nak Zhain Istiqomah dalam menjalankan propesi 'nya sebagai pengajar.
"Tentu Bu, suatu kebanggaan buat saya jika mendengar berita tentang anak didik saya yang sudah mulai mengamalkan ilmu 'nya untuk orang lain." jawab Kiyai menanggapi.
Tak terasa obrolan merekapun sudah hamipr satu jam, hingga Fatimah ingat bahwa mereka blm melaksanakan kewajiban sebagi seorang muslimah.
Karena belum melaksanakan Sholat dzuhur akhirnya Ross dan Fatimah pun memita ijin pada sang Kiyai untuk melaksanakan sholat di musholah Pon - pes.
Usai melaksanakan Sholat Ross dan Fatimah pun hendak pamit, karena waktu sudah menunjukan hampir jam 2 siang.
"Nak Zulaikha, kami pamit pulang dulu." ucap Fatimah ketika pintu mobil sudah di bukakan oleh Didit.
"Iya Bunda, hati - hati di jalan. Dan sampai ketemu lagi di pengajian berikut 'nya." jawab Zhainab dengan senyum ramah !nya.
"Saya juga pamit Mbak Ustadzah." ucap Ross pula ketika Fatimah sudah masuk ke dalam mobil 'nya.
"Lain kali tak perlu memanggil saya Mbak, seperti 'nya usia kita juga tidak terlalu jauh. Saudari Ross bisa panggil saya Kakak atau apalah, maksud saya biar lebih akrab. Dan perihal pertanyaan saudari, tolong katakan kepada wanita itu. Cobalah utuk belajar agama lebih giat lagi, agar jika benar - benar Allah menjodohkan mereka tidak ada ketimpangan yang terlalu jauh di antara ke duanya." tutur Zhainab dengan nada teduh 'nya.
__ADS_1
"Oh, begitu ya Kak."
"Nah kalau Kakak 'kan lebih enak kedengaran 'nya."
"Kalau begitu terima kasih untuk jawaban 'nya Kak. Dan saya berharap akan sering bertemu dengan Kak Ustadzah kedepan 'nya."
"Tentu, semoga kita selalu di ketemukan dalam keadaan baik."
"Kalau begitu kami pamit Kak, Assalamuaikum." ucap Ross yang sebelum 'nya ia bersalaman dan cupika cupiki dengan Zulaikha. Rupa 'nya meski mereka baru bertemu nuansa keakraban sudah mulai terasa di antara mereka.
"Wa'alaikumsalam." ya sudah hati - hati ya, dan sampai ketemu di lain waktu." ujar Zhanab lembut seraya mengelus pundak Ross.
Lekas Ross pun masuk kedalam mobil 'nya, tak lama mobil Audy hitam mengkilap itu berjalan perlahan untuk meninggalkan Pon - pes Roudhotul ilmi.
#####
Di Pasar Raya.
Tok tok tok!!!..
Suara ketukan pintu dari luar, di mana di dalam ruang Zhain dan Rudi beserta Lukman tengah berbincang.
"Masuk saja tidak di kunci." ujar Zhain kemudian.
"Assalamualaikum Bang Zhain," sapa seorang anggota dari blok c, ketika ia membuka pintu.
"Bang, ada kabar yang tidak baik yang hendak saya sampaikan."
"Kabar tidak baik, apa maksudmu?" tanya Zhain seraya berdiri mendengar ucapan salah satu anggota 'nya.
"Mohon maaf sebelum 'nya Bang, kami agak sedikit lengah ketika menjaga area parkiran di blok c. Imbas 'nya salah satu motor pedagang yang terparkir di sana telah si curi orang Bang." ujar 'nya dengan raut muka merasa bersalah.
"Apa, di curi orang?" ucap Zhain terjeda, lantas ia melanjutkan kalimat 'nya.
"Ya sudah kamu kembali ke TKP saja dan jangan sampai lengah kembali. Oh iya, berapa.nomor kendaraan yang telah di curi itu, dan apa merck motor 'nya?" ucap Zhain dengan rahang menunjukan kemarahan, namun ia coba kendalikan rasa itu agar bisa berfikir jernih.
"Merck motornya Satria f berwarana merah. Kalau no serinya saya gak tau Bang" ucap 'nya terjeda.
"Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum." ucap si pelapor, tak lama ia pun keluar dari ruangan itu hendak menuju blok c.
Usai menjawab salam Zhain gegas meraih gawainya utuk menghubungi anggota 'nya yang lain.
"Halo, Assalamuaikum Bang Roki." sapa Zhain ketika sambungan telepo 'nya di jawab dari seberang sana.
"Wa'alaikumsalam ketua, sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin ketua sampaikan."
__ADS_1
"Abang cepatlah ke markas, saya tunggu di ruangan saya." titah Zhain pada Roki.
"Baik ketua." tak ingain banyak cincong lekas Riko menutup gawai 'nya.
"Lukaman, tolong ambilkan lap top saya." titah Zhain lagi.
Tanpa ba bi bu, Lukman gegas menuju sofa dekat dinding pembatas untuk mengambil lap top yang di pinta bos 'nya.
Gegas Zhain pun membuka lap top 'nya. Rupanya ia akan mengecek CCTV dari lokasi kejadian yang tersambung langsung dengan lap tpo 'nya hanya dengan menekan beberapa kode masuk.
"Rudi, coba kamu lihat!!" titah 'nya.
"Sepertinya dia sudah tau posisi kamera yang ada di sana Bang, makanya dia selalu memunggungi kamera agar muka 'nya tak kelihatan." jawab Rudi menerangkan.
Cklek!!, suara pintu terbuka. Rupanya Roki sudah datang dan lekas bergabung dengan ketiga 'nya.
"Ada apa ketua?, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi." ucap Roki to the point.
"Betul Bang, telah terjadi pencurin kendaraan bermotor di area parkiran blok c, tepat 'nya milik seorang pedangang di blok itu. Kebetulan saya telah menyambung lap top saya dengan CCTV yang ada di TKP. Coba Abang lihat." ucap Zhain panjang lebar seraya memutar lap top 'nya agar menghadap pada Roki.
Akhirnya pria berambut gondrong yang sekujur lengan 'nya di bubuhi tato itu, melirik pada lap top dan memperhatikan 'nya dengan seksama.
"Ketua coba di perbesar gambar ketika ia hendak memasukan konci T 'nya." pinta Riko pada bos 'nya.
Perlahan Maher menekan tombol ZOOM gambar di mana si pelaku hendak melancarkan aksi 'nya.
"Apa masih bisa di perbesar lagi?, seperti 'nya saya kenal dengan tato di lengan 'nya itu."
"Baik Bang, akan saya coba." timpal Zhain kemudian.
"Sudah cukup." sergah Roki, mata 'nya lurus tajam menatap lap top di depan 'nya, sepertinya ia sudah menemukan titik terang dari si pelaku.
"Lukman, Budi. Tolong tinggalkan kami berdua." ujar Roki dengan suara tegas 'nya, seakan ia tak ingin di bantah dengan perintah 'nya.
"Kenapa kami harus keluar Bang?, kami juga ingin tau siapa pelaku 'nya." jawab Lukman penasaran.
"Saya tidak mau ada bantahan di situasi seperti ini. Cepat keluar atau kalian tanggung sendiri akibat 'nya." ancam Roki dengan mata masih menatap tajam lap top 'nya.
"Sudah, cepat kalian keluar. Mungkin ada sesuatu yang tak seharus 'nya kalian semua tau." ujar Zhain datar namun tak menghilankan ketegasan 'nya.
"Baik Bang Zhain, kalau begitu kami pamit. Dan untuk Bang Roki kami mohon maaf." ujar Rudi kemudian.
Lekas Lukman dan Rudi keluar dari ruangan bos 'nya.
Apa yang akan di bicarakan Roki?
__ADS_1
Ada rahasia besar 'kah di balik pencurian itu?.... next,,, part selanjutnya..