
"Iya, karena ia putra Bunda satu - satunya yang teristimewa, jika kamu ingin menjadi isrtri lelaki yang istimewa, maka kamu minimal bisa mendekati tipe wanita yang istimewa pula. Bagimana Nak Ross?," tanya Fatimah berharap jawaban.
"Kenapa harus menjadi istimewa Bun?, dan bagaimanakah ciri - ciri wanita yang istimewa itu?," tanya Reoss, memandang sendu Fatimah. Rupanya di mata Ross wajah dari pria yang di kasihinya itu begitu menenagkan jiwanya.
"Karena menjadi istimewa adalah sebuah keingin, meski tak semua wanita bisa mewujudkan itu lantaran faktor pendidikan dan pergaulan serta lingkungan yang tak mampu ia hindari.
"Ciri wanita yang istimewa adalah yang mampu menjaga kehormatannya di manapun ia berada, ta'at pada Allah dan RosulNya serta suami yang memerintahnya untuk berbuat baik.
Deg!!, Ross benar - benar tersentuh dengan ucapan wanuta parh baya itu. Bagimana tidak?, ia yang selalu berpakaian seksi dan glamour merasa tak termasuk wanita yang ta'at pada Allah dan RosulNya. Namun dasar Ross, ia akan mengintrupsi jika perkataan lawan bicaranya mengena di hatinya. Rupanya ia tak ingin terkesan naif di mata Calon Ibu Mertuanya.
"Kenapa Bunda tak menyebut kata Oarang Tua di situ?, padahal yang saya tau kedudukan orang tua pun sangat penting bagi anaknya. Karena secara logia bahwa tak akan mungkin seorang anak di lahirkan jika tak memiliki orang tua." intrupsi Ross seakan tak terima dengan argumen Fatimah.
Mendengar ungkapan protes dari seorang gadis yang baru di kenalnya, Fatimah hanya tersenyum manis seakan mengapresiasi ucapan Ross.
"Kenapa saya tidak menatakannya?, karena barang siapa yang ta'aat pada Allah dan RosulNy itu sebuah kepastian bahwa ia akan ta'at pada kedua orang tua dan suaminya." jawab Fatimah dengan tutur kata yang lembut.
Sementara Rita dan Nattaly hanya mengangguk - anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Bisa kah Bunda jelaskan secara spesifik ciri - ciri wanita istimewa menurut pandangan Islam?." tanya Rita menimpali obrolan Ross dan Fatimah.
"Sami'na wa 'athona. Itulah yang harusnya menjadi perinsip wanita yang istimewa." jawab Fatimah lagi, karika ia hendak melanjutkan kalimatnya Nattly tiba - tiba bertanya.
__ADS_1
"Saya seorang non muslim Bun, dan jujur saya sangat penasaran dengan kalimat itu. Apa tadi?. Sa - sa." tanya Nattalay yang tadi hanya terdiam namun kini ikut berkomentar. Namun ucapannya menggantung,..
"سمعنا واطعنا"
"Yang saya tau, itu adalah Firman Allah yang tertulis dalam Al - Qur'an bahwa jika kita sebagai seorang muslim baik yan perempuan atau pun laki - laki, maka apa yang Allah dan Rosulnya perintahkan kita harus mendengar dan ta'at." ucap Rita menjawab pertanyaan Nattaly.
"Luar biasa, gue salut dengan pengaetahuan tentang agama yang lo anut, dan gue bisa mengambil kesimpulan bahwa baju yang lo pake saat ini adalah bagian dari ajaran agama lo, bener kan?," tanya Nattaly seakan memuji.
"Biasa aja Natt, mungkin apa yang ku amalkan dari semau ajaran agamaku belum bisa se Isiqomah Bunda Fatimah. Oh ya Bun!, alangkah baiknya teh manisnya di habiskan agar tubuh Bunda kembali segar." sambung Rita setaya metai gelas dari tangan Nattaly dan memberikannya pada Fatimah.
Sementara itu Zhain sudah berada di tengah perjalanan hendak menuju rumahnya. Ia kini tengah mengendarai motor Ninja nya dengan kecepatan tinggi. Ya bagaimana mungkin ia tak melajukan motornya dengan kecepatan tinggi lantaran perasaannya khawatir atas kabar yang ia terima dari Rita tetangganya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana, lalu kenapa Ross juga berada di sana, dan mengapa pula Rita menyuruh secepatnya aku datanng ke rumah?," batin Zhain bermonolog, seraya memegang stang motornya, sementara jemari di kedua tanganya tak henti memainkan kopling dan gas agar mampu mengendalikan keadaan medan jalanan.
Srrret!!, suara ban motor yang di timbulkan dari gesekan ban dan tanah kering lantarn si empunya kendaran menginjak pedal rem secara mendadak.
"Assalamualaikum,,!" sapa Zhain sambil meletakan helm di atas tengki motornya yang terparkir di bawah pohon rambutan yang cukup rindang.
"Wa'alaikumsalam,,!" jawab ke empat wanita yang tengah berbincang di teras depan rumahnya.
"Rita, apa sebenarnya yang terjadi?," tanya Zhain sambil berjalan mendekati Sang Bunda yang duduk di kursi kayu berdampingan dengan kekasih hatinya. Ya kekasih hati yang selama ini selalu bertahta di benaknya siapa lagi kalau bukan Rossdiana Putri Devindra.
__ADS_1
"Bunda tidak apa - apa Nak, kamu tak perlu terlalu khawatir." jawab Fatimah sembari mengelus kepala putra semata wayangnya, semtara satu tangannya di pegangi Zhain seraya menekukan kedua lututnya yang bertumpu pada lantai teras.
"Kenapa ada Nona Ross di sini Bun?," tanya Zhain kemudian, mendengar kalimat itu Ross yang duduk di samping Fatimah langsung beubah dari csri menjadi sendu. Ya tepatnya Ross merasa bersalah dan takut kalau pria yang ia cintai itu akan murka padanya. Namun...
"Ross datang ke sini ingin silaturahmi dengan Bunda, dan tadi Bunda tak sengaja terjatuh ketika hendak mengangkat jemuran baju lalu pigsan. Syukurnya mereka lekas datang menolong Bunda." ucap Fatimah sedikit berbohong. Rupanya ia tak mau putranya tau kejadian yang sebenarnya, agar Ross si gadis cantik berwajah orientalis itu tak merasa malu dan bersalah lantaran dia lah biang keroknya.
"Ya Allah,,,!, rupanya Kau telah menuntunku untuk bertemu dengan orang - orang sebaik mereka. Bunda Fatimah, Mas Zahin dan Rita adalah tipe orang yang layak untuk di teladani. Bahkan salah satu dari mereka rela berbohong demi melindungiku. Lalu aku harus membalas dengan apa atas kebaikan mereka?," tanya Ross dalam hatinya.
Tak enak hati dwngan oengakuan Fatimah akhirnya Ross berniat jujur agar tidak afa yang di salahkan.
"Se - sebenar-," ujar Ross menggantung dan gugup lanataran di tatap oleh Fatimah dengan kedipan mata seakan memberi tanda bahwa jangan di lanjutkan.
"Bun, ada apa dengan mata Bunda?," tanya Zhain penasaran dengan perubahan mimik Sang Bunda.
"Se - sebenarnya aku 'lah penyebabnya." ujar Rossdiana dengan gugup seraya menundukan kepala seakan merasa malu dan bersalah. Kulitnya yang putih dan mulus berubah menjadi sedikit kemerahan, semantara di sudut kedua kelopak matanya yang sipit mulai mengeluarkan kristal - kristal bening di kedua pipinya.
"Sudahlah Nona Ross tak perlu merasa bersalah, toh sekarang Ibu ku juga baik - baik saja. Namun perlu Nona ingat bahwa Bunda memiliki riwayat penyakit magh yang sudah beliu idap cukup lama." ungkap Zhain menanggapi.
"Tapi apakah Mas mau mema'afkan 'ku?" tanya Ross lagi memastikan.
"Iya, Mas sudah ma'afkan. Memangnya apa yang Nona katakan pada Bunda 'ku?," tanya Zhain dengan suara datar, namun pandangannya tidak tertuju pada yang di tanya.
__ADS_1
Degh!!, jantung Ross tiba - tiba berdetak lebih cepta hingga membut raut wajahnya yang sudah mulai tenang kini kembali sedikit memerah. Ya ia malu andai pria pujaan hatinya itu tau apa yang ia katakan pada Calon Ibu Mertuanya.