
Kini di depan pintu bangunan berlantai dua itu telah berdiri Bang Juned atau Junaidi, Paman 'nya Zain Al Ghifari yang tengah menyambut kedatangan sang keponakan, bersama beberapa anak buahnya di belakang.
"Assalamualikum " sapa Zain pada Junaidi.
"Wa'alaikumsalam." balas Junaidi serempak dengan beberapa orang di belakangnya. Usai bersalaman Zain pun di perkenankan masuk ke dalam gedung tersebut.
Di dalam Zain sudah di tunggu beberapa orang yangg berjejer duduk rapi menghadap meja berukuran panjang. Dii sisi kiri berjejer sepuluh orang, sedang di sisi kana telah berjejer tujuh orang, sementara dua ujung depan meja itu telah di sediakan kursi kebesaran Junaidi, dan satu kursi lagi yag akan di duduki keponakannya.
Usai mereka duduk rapih, sesaat hening di ruangan itu, namun akhirnya Junaidi pun memulai pembicaraan.
"Assalamualikum warohmatullahi wabarokatuh"ucap Junaidi dengan suara baritonnya.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh".jawab seluruh penghuni ruangan itu dengan kompak.
"Baiklah di karenakan semua sudah terkumpul maka rapat pemindahan jabatan saya hari ini segera di mulai." ucap Junaidi menjelasakn perihal di kumpulkan 'nya mereka.
Sementara semua yang duduk di tempat itu terkecuali Zain, meraka saling pandang satu sama lain seakan bertanya-tanya. Lalu salah satu dari mereka memberanikan bertanya.
"Tunggu Bang, msksud pemindahan jabatan Abang itu bagaimana?" ucap Joni salah satu orang kepercayaan Junaidi yang di percaya menjaga area pasar blok A.
"Maaf sebelum 'nya mungkin kalian sedikit kaget, krna saya tidak pernah membicarakan hal ini pada kalian, maksud saya mengumpulkan kalian adalah bahwa, hari ini saya akan menyerahkan jabatan Ketua Keamanan Pasar ini kepada keponakan saya yang duduk di samping saya, perkenalkan, namanya Zain.".
ujar Junaidi terjeda, kemudian memandang pada keponakanny.
"Berdirilah." titahnya kepada Zain
Zain pun bediri seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya lalu berucap.
''Salam kenal semuanya".
"Bang, maksud Bang Juned, Abang mau pengsiun, kenapa mendadak sekali?'' tanya salah satu anggota yang menjaga kawasan swalayan yang ada di luar area pasar.
"Sebenarnya tidak mendadak,hanya saja baru kali ini bisa terealisasi, karena kemaren-kematen, saya belum menemukan kandidat yang pas untuk menggantikan saya." ujar Junaidi sambil meminum kopinya yang telah di sediakan oleh anak buahnya yang lain.
"Tapi Bang, apakah Abang tidak berfikir kalau kami masih membutuhkan Abang, saya pribadi tidak meragukan siapa pun yang Abang pilih menggantikan Abang, tapi saya tidak yakin keamanan akan tetkendali jika Abang benar-benar pensiun. Saya mohon Abang memikirkan ulang keptusan ini." ujar Roki, pria berambut godrong dg tato di sepanjang kedua lengannya,ia di tugaskan sebagai kepala keamanan pasar blok G.
"Kamu tenang saja Roki saya tau kekhawatiran kamu,tapi percayalah, keponakan saya akan mampu menggantikan saya dengan baik, dan saya harap kalian akan mematuhinya sebagaimana juga kalian mematuhi saya sebagai ketua kalin".balas Junaidi seakan mengultimatum kpada semua anak buahnya.
"Baiklah kalau itu memang sudah keputusan Abang, namun satu hal yang perlu Abang ingat, Derry juga sangat menginginkan jabatan itu." sambung Roki lagi.
__ADS_1
"Oh ya, di mana anak itu sekarang?," tanya Junaidi kembali.
"Sudah dua hari ini dia tidak ke lapangan Bang, ia hanya mewakilkan pada beberapa anak buahnya." sambung Roki kembali.
"Baiklah, urusan Derry biar saya yang tangani, kalian cukup bertugas dengan baik. Dan saya harap kalian bisa bekerja sama dengan ketua kalian yang baru." ujar Junaidi menambahkan.
"Tunnggu sebentar Paman, bokehkah saya menyampaikan beberapa hal di sini?" tanya Zain.
"Tentu, silahkan, apa yang akan kau sampaikan?" tanya balik Junaidi.
Zain pun berdiri dan memulai pembicaraannya.
"Untuk para anggota yang hadir semua, sejujurnya saya juga tidak berharap menjadi ketua di sini sebelumya, bahkan tidak terpikirkan sama sekali di benak saya, maka dari itu jika ada yang berkenan menggantikan saya sebagai kandidat satu-satunya,saya sangat berterima kasih dan saya siap mengundurkan diri." ucap Zain sesekali matanya melirik satu persatu anggota rapat. Kmudian Roki pun berdiri seraya berkata.
"Kami tidak berwenang untuk menolak keputusan Paman 'mu, karena Paman 'mu orang yang paling kami segani di sini, oleh karena itu kami ingin tau kemampuanmu dalam mempimpin kami dalam beberapa bulan kedepan. Bukan begitu teman-teman?" ujar Roki seraya memandangi satu persatu anggota rapat.
"Betul, itu betul sekali." ucap beberapa orang, sematara yang lain seraya menganguk-anggukan kepalanya seakan menyatakn setuju denagan perkataan Roki.
"Terima kasih atas kesempat yang bapak-bapak berikan kepada saya." sambut Zain. Akhirnya Zain dan Roki pun duduk kembali.
"Baiklah, saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, mulai hari ini saya telah resmi menyerahkan Jabatan Ketua kepada keponakan saya Zain Al Ghifari. Bagimana Za?" tanya Junaidi, pandangannya tertuju pada Zain.
"Baiklah, jika memang itu sudah keputusan bersama saya akan mencoba memegang amanah itu." jawab sang kaeponakan.
Seketika itu juka semua hadirin keluar satu persatu. Kini hanya tinggal Junaidi dan Zain di ruangan itu.
"Ini kunci motor kamu, dan motornya sudah ada di depan, itu untuk kendaran dinasmu." ujar junaidi sambil menyerhakan kunci motornya.
"Paman apakah ini tidak berlebihan?, saya bertugas saja belum Paman.'' jawab Zain keberatan.
"Sudahlah jangan meolak. Ayo kita keluar.'' aja Junaidi, lalu berdiri.
Zain pun menerima kunci itu meski dengan rasa yang kurang enak di hatinya.
Mereka pun berjalan beriringan. Benar ternyata di depan gedung itu telah terpakir sebuah motor Ninja Berwarna hijau. Setelah Junaidi menunjukan motornya ia pun mengajak Zain berkeliling memasuki beberapa area pasar.
Di tempat lain, di kantin sebuah Universitas.
"Ross, lo kenapa sih, dari tadi gue peratiin ngelamun mulu, mau makan ga sih?" tanya seorang gadis yg berpenampilan cukup menawan dan ****, mereka sedang duduk berdua di sudut ruangan kantin dengan meja bernomor delapan.
__ADS_1
"Gue bingung Nat, bokap gue mau ngawinin gue." jawab Ross. Kedua tangannya sambil mengaduk - aduk kuah bakso yang ada di depannya, seperti tak berslera memakannya.
"Hah???" ujar Nataly, matanya melotot menatap pada wajah cantik Ross.
"Astaga Ross, kenapa mendadaksekali, lo hamil Ross?, kasih tau gue siapa yagng ngehamilin lo?" lanjut Nataly kembali.
PLTAK!!,,,.
Suara pukulan sendok ke kepala Nataly dari tangan Ross, cukup keras meski tak terdengar pengunjung kantin lain 'nya.
"Aduh!!" cicit Nataly seraya mengusap-kepalanya yang terasa sakit.
"Sialan lo ya, loo kira gue cewek apan?, gue kagak hamil dodol, semabarang lo." oceh Ross tak terima atas tuduhan teman 'nya.
"Ya terus kalu lo ga hamil kenapa bokap lo nyuruh lo kawin?, mendadak lagi." ucap Nataly semabri mengerakan sendoknya lalu memasukan bulatan daging bakso ke mulut 'nya.
"makanya denger dulu,jangan buru-buru komentar kalu blm denger penjelasan gue".ucapnya,rona mykanya menampakan kekesalan
"Ia ia, sory, sory!. Ya udah sekarang jelasin, gue gak sabar nih." lanjut Nataly kemabali.
"Lo tau kan si Sisaka cewek yang gue hajar itu?" tanya Ross kemudian.
"Ya taulah, kan lo mukulin 'nya di depan gue." jawab Nataly.
"Gue bingung kenapa Papi gue bisa tau kejadian itu Nit?, dan gara-gara itu gue di panggil ke kantor Papi, mungkin Papi sudah muak denggan kenakalan gue selama ini. Dan puncaknya Papi mau nikahin gue." ucap Ross panjang lebar.
"Emang lo mau di niakahin sama siapa sih Ross?, ganteng gak?, tajir gak?, kalu dia ganteng en tajir trus lo ga mau, mendiang buat gue aja." oceh Nataly dengan mulut cerewetnya.
"Ini serius Nat, gue gak bercanda." lanjut Ross dengan suara agak di naikan beberapa oktaf.
"Ia ia, gue serius. Terus siapa cowok yang mau di nikahi sama lo?" tanya Nataly lagi.
"Ya gue juga gak tau, mungkin sebentar lagi Papi mau ngenalin cowok itu." lanjut Ross.
"Ya lo kalau gak mau tinggal nolak aja sih, gitu aja ko repot." sambung Nataly asal bicara.
"Masalah 'nya gak smudah itu oon, bokap bakal nyita semua pasilitas yang selama ini gue nikamati." sambung Ross lagi dengan mimik lesu namun tak menghilangkan kesan cantik dan imut 'nya.
"Waduh gawat itu".
__ADS_1
"Ya udah lah, kita pulang yuk.'' ajak Ross kemudian. Mereka pun pulang bersama, meski makanan mereka belum di habiskan.
next,,, part 8.