
"Assalamualaikum." sapa Zhain ketika ia menjawab telpon 'nya.
"Wa'alaikumsalam Zha, kamu di mana sekarang?" jawab Junaidi.
"Saya masih di Pasar Paman. Ada apa ya?, sepertinya ada sesuatu yang penting hendak paman samapaikan." tanya Zhain.
"Iya Zha, bisa kan ba'da magrib Paman tunggu di rumah?." ujar Junaidi.
"Insha Allah Paman, saya akan datang, kebetulan sekalian mengantarkan setoran untuk bulan ini." timpal Zhain lagi.
"Bagaimana dengan gaji anggota, apa sudah beres?"
"Alhamdulilah semua sudah beres Paman."
"Baiklah kalau bgitu paman tunggu di rumah."
"Bai Paman, insha Allah saya akan datang." ucap Zhain sambil menutup sambungan telponnya yang sebelumnya ia menjawab salam dari Sang Paman.
"Kenapa hati ini mengatakan kalau Paman akan membicarakan tentang gadis itu, ingin rasanya aku menolak, namun di sisi lain hati mengatakan jangan. Ya Allah apa yang harus aku lakukan?." gumam Zhain membatin.
Akhirnya meski hatinya berdebat dengan sisi hati lainnya ia memutuskan akan mencoba mengikuti kehendak Paman 'nya. Meski ia tau hatinya sudah terpaut hanya pada satu gadis. Ya siapa lagi kalau bukan Rossdiana Putri Devindra, seorang gadis yang selalu bertingkah konyol jika berhadapan dengan 'nya.
Di rumah ketika Zhain baru datang dari tugasnya sebagi Ketua Keamanan Pasar.
"Bun, ada yang ingin aku bicara kan." ujar 'nya ketika sudah bersama Sanga Bunda.
Boleh 'kah minta waktunya sebentar?." ujar Zhain setelah bersalaman usai ia turun dari motor Ninja 'nya
"Kamu itu ngomong apa sih Nak?, Ibu ini Bunda 'mu, semua yang Bunda lakukan itu semua untuk kamu Nak. Apalagi hanya sekedar waktu untuk ngobrol bareng. Katakan Nak ada apa?, adakah sesuatu hal yang mengganjal di pkiranmu?." tanya Fatimah sambil mengelus pipi anaknya yang putih dan mulus. Kini Ibu dan anak itu tengah duduk di bangku kayu yang sederhana namun terkesan kalasik di depan teras rumah 'nya.
"Apa Paman Junaidi pernah bertanya sesuatu tentang saya Bun?" bukan menjawab Zhain malah balik bertanya.
"Tidak, kecuali dia pernah bertanya tentang Pengalihan jabatannya sebagai ketua preman ke kamu, yang ia maksud adalah meminta persetujuan Bunda waktu itu." ucap Fatimah menjelaskan.
"Syukurlah kalau Ibu belum tau tetang permintaan Paman untuk menemui seorang gadis." batin Zhain berbicara sendiri. Ya, ia takut penyakit jantung Sang Bunda akan kambuh kembali andai Bundanya tau bahwa Sang Paman akan menjodohkan 'nya.
"Nanit ba'da magrib aku di pinta ke rumah Paman. Bunda, andai Paman Junaidi meminta aku sebagai keponakannya untuk menikahi putri dari sahabat 'nya, bagaimana tanggapan Bunda?" tanya Zhain dengan suara lembut dan sopan.
__ADS_1
Mendengar hal itu Fatimah hanya tersenyum, lantas berkata.
"Buat bunda itu wajar jika banyak orang tua berharap memiliki menantu seperti 'mu, selain fisik ada suatu kelebihan yang kamu miliki sehingga mereka jadi tertarik kepadamu." jawab Fatimah menimpali.
"Maksud Bunda.?"
"Kamu itu lelaki sholeh Nak, orang tua mana yang tak mau memilik menantu seperti kamu Nak," jawb 'nya lagi.
"Aku rasa Bunda terlalu berkebihan." ungkap Zhain kemudian.
"Sebenarnya Bunda masih berharap kamu berjodoh dengan Zhainab putri gurumu itu, tapi Ibu juga tidak mau egois karena kebhagian 'mu adalah segalanya buat Bunda. Jadi Ibu juga tidak mau memaksakan kehendak." Ucap Fatimah lagi.
Mendengar hal itu Zhain segera memeluk Fatimah dengan lembut.
"Bunda, Aku sangat beruntung memiliki Ibu seperti Bunda. Dan aku mohon maaf jika tidak bisa mengikuti kehendak Bunda karena anak Bunda ini sudah mencintai gadis lain." ujar Zhain masih memeluk Fatimah.
Tak lama Fatimah melonggarkan pelukan putra 'nya.
"Kau mencintai Rossdiana Nak?" tanya Fatimah kemudian.
"Lalu bagimana dengan permintaan Paman 'mu?"
"Itu 'lah Bun yang membuat aku jadi bingung. Meski paman juga tidak memaksa sebenar 'nya. Hanya saja yang membuat aku tidak sanggup menolaknya, Paman adalah satu - satunya orang yang paling berjasa dalam kehidupan aku Bun." ucap Zhain lagi.
"Temui saja dulu gadis itu, setelah itu baru kamu bisa mengambil keputusan." ujar Fatimah seraya mengelus punggung putranya.
"Iya Bun, Do'a 'kan Zhain agar tak salah dalam mengambil keputusan." jawab 'nya lembut.
"Tentu Nak, Ibu akan selalu berdoa untuk kebaikan 'mu."
Tak terasa waktu maggrib pun tiba. Usai melaksanakan sholat magrib berja'maah di masjid Zhain lantas pulang untuk menemui Ibu 'nya. kebetulan karena hari ini malam Juma'at Zhain tidak ada kegiatan mengajar anak - anak didiknya lantarn dalam seminggu tepatnya setiap malam jum'at ia liburkan dari rutinitas mengajar 'nya.
Usai pamit dengan sang Bunda lantas ia mengendarai motor Ninja 'nya, entah sengaja atau tidak Zhain tidak menggati baju 'nya. Kini ia memakai baju koko, sarung bermotif kotak - kotak serta peci hitam yang bertengger di keala 'nya.
"Assalamualaikum Paman." ucap Zhain ketika ia masuk langsung menghadap kepada Paman 'nya.
"Wa'allaikumsalam, lo kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Junaidi agak sedikit heran dengan tampilan sang keponakan.
__ADS_1
"Memangnya ada yang salah dengan baju saya Paman?" tanya Zhain kembali.
"Tidak salah sih, maksud Paman malam ini kita akan ke rumah gadis itu, apa kamu tidak risih dengan penampilan seperti itu?"
"Kenapa mestu risih Paman?, justru penampilann seperti ini yang lebih sopan karena tidak menampakan aurat dan lekuk tubuh." ujar Zhain menjelaskan dengan sopan.
"Iya sih,, tapi kan yang kamu temui ini seorang gadis, apa tidak masalah buat kamu?"
"Tak masalah paman, toh paman juga pakainnya sama dengan saya." timpal Zhain lagi.
"Lho itu lain Zha, Paman kan cuma yang mengenalakan. Di lain sisi Paman sudah betah dg penamilan seperti ini, nyaman dan praktis, dan ketika waktu sholat tiba meski posisi sedang di mana pun Paman tidak perlu repot - repon berganti baju untuk melakukan sholat. Sedang kamu itu berbeda." ujar Junaidi yang tengah duduk si sofa mewahnya sambil mengenakan sarung BHS yanga harganya puluhan juta. Sementara baju koko dan pecinya ber merk Alisan.
"Ah Paman bisa saja, anggap saja alasan saya juga sama dengan Paman." jawab 'nya lagi.
"Ya sudah kalau memang kamu tak merasa risi dengan penampilan seperti itu,, kita berangkat sekarang saja." ujar Junaidi memastikan.
"Ya Sudah terserah Paman saja." jawab 'nya singkat.
"Mah sudah siap belum?" ucap Junaidi pada istri 'nya.
"Sebentar lagi Yah." jawab Rosa tak jauh dari kamar 'nya.
Tak lama setelah itu Rosa istri Junaidi pun kelaur dengan penampilan syar'i nan elegan.
Akhirnya tepat pukul delapan malam mereka berempat pun berangkat menuju kediaman Devindra bersama sang sopir.
Tak kurang dari satu jam mereka pun tiba di kediaman Devindra.
Zhain sampai terkagum - kagum melihat bangunan indah nan megah berlantai dua itu.
Sementara itu..
Mah, aku gak mau di jodohin." rengek Ross pada Anjani di dalam kamar 'nya yang letak 'nya ada di lantai dua.
"Nak, kapan lagi kamu mau jadi anak penurut?, tidak ada orang tua yang tak ingin meleihat putrinya bahagia. Apalagi kamu putri kami satu - satu nya Ross. Jadi Mama mohon minimal kamu bertemu saja dulu dengan pria pilihan ayah 'mu itu." ujar Anjani panjang lebar seraya mengusap rambut putri 'nya dengan lembut.
Lagi gak fokus ngetik bini ngelendotin terus... Nanti aja bab selanjut 'nya ya guys,, agak panas panas di depan... hehehe.
__ADS_1