
"Nak, kapan lagi kamu mau jadi anak penurut?, tidak ada orang tua yang tak ingin meleihat putrinya bahagia. Apalagi kamu putri kami satu - satu nya Ross. Jadi Mama mohon minimal kamu bertemu saja dulu dengan pria pilihan ayah 'mu itu." ujar Anjani panjang lebar seraya mengusap rambut putri 'nya yang sedang berias.
"Tapi bagiamana dengan pria yang Ross cintai Mah?" tanya Ross dengan raut sendu.
"Memang 'nya pria yang kamu taksir itu mencintai kamu juga?." tanya Anjani sembari menyelipkan anak rambut Sang Putri di atas telinga 'nya.
"Mah pria itu sudah Allah ciptkan untuk Ross dan begitu pun sebalik 'nya. Jadi gak mungkin dia gak cinta sama aku" timpal Ross dengan keyakinan tingkat dewa.
"Nak, percaya diri itu memang di bolehkan tapi jangan belebihan juga." jawab Anjani lagi.
"Ross gak berlebihan Mah, emang nyata 'nya begitu." jawab Ross masih dengan keyakinan 'nya.
"Ya sudah, Mamah mau ke bawah dulu untuk menemani Papi 'mu, sepertinya mereka semua sudah datang." ucap Anjani yang kini sudah berdiri hendak menuju pintu keluar.
"Terserah Mamah, percuma curhat sma Mamah ujung - ujungnya Ross tetep aja gak bisa nolak." cicit 'nya dengan suara kesalnya.
"Ross, sudahlah jangan berpikir yang macem - macem ini semua sudah keputasan bulat dari Papimu, dan kamu juga tau Papimu seperti apa jika sudah membuat keputusan." ujar Anjani dengan suara sedikit di naikan. Rupanya ia sudah kesal dengan rengekan putri semata wayang 'nya. Usai itu Anjani keluar dari kamar sang putri untuk menuju lantai bawah yang di mana di sana Devindra sudah bercanda ria dengan beberapa tamu 'nya.
"Gimana Mah, Ross 'nya sudah siap?" tanya Dev pada Aryani istri 'nya.
"Sepertinya sebentar lagi Pih, tinggal mengenakan hijab aja." ucap Anjni seraya duduk bersebelahan dengan Dev di sofa mewah 'nya.
"Nak Zhain, kenapa dari tadi gak di minum air 'nya?" tanya Dev pada calon mantu 'nya. Entah kenpa ia melihat penampilan Zhain sangat percaya dengan kesholehan pemuda itu.
"Eh iya Pak, ini juga mau saya minum." jawab Zhain sedikit canggung. Ya ia merasa canggung karena tak menyangka ayah dari seorang gadis yang hendak di kenalkan dengan 'nya adalah pengusaha tersukses di kota itu, bahkan kemewahan rumah calon mertua 'nya lebih di atas daripada mewah 'nya rumah Sang Paman.
__ADS_1
"Zha, di bawa santai aja jangan terlalau tegang." ujar Junaidi karena melihat raut muka tegang keponakan 'nya.
Tak lama Ross turun dari tangga dengan mengenakan gamis berwarna pink yang senada dengan hijab 'nya. Gadis cantik berwajah imut nan menggemaskan itu berjalan ke arah sofa dengan raut sedingin mungkin. Ya ia belum menyadari kalau pria yang akan di kenalkan dengan 'nya adalah pria yang selama ini menjadi idaman 'nya, lantaran posisi duduk Zhain membelakangi tangga otomatis tatapannya tidak tertuju pada pemuda itu melainkan pada kedua orang tua 'nya
"Net, lihatlah siapa yang datang. Dialah putriku yang dulu sering bermain bola denganmu." ujar Dev pada Junaidi yag duduk bersebelahan dengan Zhain. Junaidi pun menoleh, sementara Zhain tak mengikuti gerakan paman 'nya karena ia sedang fokus meminum air dalam gelas yang ada di depan 'nya.
"Hai Dewi kuwan in!!." sapa Junaidi pada Ross. Ya itulah nama kecil 'nya yang di berikan oleh Junaidi ketika sering bemain bola bersama 'nya, lantaran kecantikan wajah 'nya yang orientalis sampai Junaidi memberikan julukan itu kepada Ross.
"Ini Om Junet ya?" tanya Ross pada Junaidi, namun sang keponakan yang ada di sebelah 'nya tetap menunduk karena teh yang ia minum masih tersa panas hingga ia meniupnya beberapa kali. Namun situasi itu membuat Ross belum tau siapa pria yang hendak di jodohkan dengan 'nya.
"Iya ini Om, ternyata setelah dewasa kecantika 'mu melebihi Dewi Kwan In." ujar Junaidi jujur.
"Siapa dulu dong bapaka 'nya Net, kalau bapak 'nya gak ganteng mana mungkin anaka 'nya secantik ini." ujar Devindra sambil menaikan kedua alis 'nya beberapa kali seakan bangga, sedang kedua tangan 'nya terbuka mengarah pada putri 'nya, seakan ia hendak menunjukan bahwa inilah putri tercantik 'nya.
Sementara Junaidi lekas menyenggol bahu sang keponakan dengan siku kiri 'nya agar Zhain menengadah 'kan pandangan 'nya.
"Zha, liat gadis itu!!," ucap Junaidi seraya menyegol bahu keponakan 'nya.
"I - iya Paman?" jawab Zhain sedikit kaget hingga kalimat 'nya terbata.
"Jangan liat ke Paman tapi liat kedepan." titah Junaidi lagi.
Reflek Zhain pun mengalihkan pandangan 'nya lurus ke depan. Hening sesaat di antara kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu bertatapan mata. Sementara suara - suara oarng yang ada di sekeliling 'nya seakan tak terdengar oleh telinga kedua 'nya.
"Ya Allah apa maksudMu dengan semua ini?, apakah gadis ini yang di maksud Paman? kalau memenag ia tapi kenapa dia kali ini terlihat sangat berbeda, bahkan sudah berhijab. Ross siapa kau sebenarnya?" itulah sekelumit kalimat tanya di benak Zhain yang masih bediri mematung dan memandang lurus kedepan, seakan ia lupa bahwa menundukan pandangan itu suatu keharusan jika memandang wanita yang bukan muhrim 'nya. Ya Rupanya Ia terkagum - kagum dengan penampilan baru Rossdiana yang terlihat lebih anggun dan religius.
__ADS_1
"MasĀ Zhain?, jadi Mas sebenar 'nya pria yang mau di jodohkan dengan 'ku. Tapi kenapa aku tidak menyadari itu sejak awal, andai aku tau mungkin hatiku tak segalau ini, bahkan galau itu tak akan pernah menyapa hati 'ku." monolog Ross dalam hatinya.
Tak puas dengan pikirannya masing - masing, di antara sadar atau tidak sadar Ross dan Zhain saling memajukan tubuh 'nya hingga berjarak tinggal beberapa senti meter saja.
"Hehehe, kalian mau apa?." tanya Anjani pada kedua 'nya. Kini Anjani tengah memegangi tangan putri 'nya yang sempat terangkat seakan hendak memeluk Zhain.
"Kamu juga Zha kenapa tiba - tiba begini?,," tanya Junaidi sambil menarik keponakan 'nya untuk duduk di atas sofa kembali. Ia tau bahwa ada yang tidak beres denga isi hati keponakan 'nya itu.
"Astagfirullahal'adziim." ucap Zhain seraya menutup muka 'nya seakan malu dan menyesal dengan sangat dan lekas duduk menemani Sang Paman.
"Pak Dev dan Ibu, saya mohon maaf atas kehilapan saya, saya tidak ada maksud untuk memeluk putri Bapak, saya hanya reflek mengikuti gerakan putri Bapak yang hendak memeluk saya. Dan itu benar - benar di luar kendali saya" ujar Zhain jujur dengan raut penuh penyesalan.
"Ross, kenapa kamu mau memeluk pemuda itu?" tanya Dev pada putri 'nya yang kini tengah duduk sambil tersenyum manis.
"Papi kenapa gak ngomong, kalu Mas Zhain yang Papi maksud?," ujar Ross malu - malu.
"Jadi maksud 'nya kalian sudah saling kenal?" tanya Anjani dengan raut bahagia.
"Bukan hanya kenal Mah, bahkan Ross udah ketemu sama Bunda 'nya Mas Zhain. Dan seperti 'nya beliau mau nerima aku sebagai menatu 'nya." ucap Ross tanpa malu. Rupanya kembali sifat konyol 'nya yang mendominasi isi kepala 'nya.
"Ya sudah sialahkan di minum dulu." ujar Dev kemudian. Rupa 'nya ia tau jika tak di alihkan perhatian putri 'nya, maka Ross akan semakin konyol ketika berbicara.
Apa yang akan di lakukan Ross selanjutnya?
Akankah ia melakukan kekonyolan kembali?,, Next,, part 38.
__ADS_1