
Di lain hari..
Tuuut, tuuuut!, bunyi suara panggilan pertanda telah tersambung dengan no yang di tuju. Namun sudah tiga kali Ross melakukan hal itu tak pernah sekalipun di jawab. Rupanya si pemilik gawai sedang melakukan pengontrolan pasar dari blok per blok, sedang gawainya tertinggal di meja kantornya.
"Sebel, sebel, sebeeel!!, kenapa sih ga mau di anngakt." dengus Ross, ia merasa kesal dan lekas melempar hp 'nya di atas kasur.
Waktu menujukan pukul 9 pagi ketika Ross bangun dari tidurnya, tapi entah kenapa jika ia bangun dari tidurnya selalu yang teringat di benaknya adalah Zain.
Namun bukan Ross namanya jika di hatinya ada rasa putus asa, ia pun lekas meraih hp 'nya kembali seraya menelpon kembali no hp Zain.
Tuuut tuuut tuttt!!, telpon 'nya tersambung kembali.
" Hallo, Assalamualikum." jawab Zain di sebrang sana dengan suara bariton 'nya yg khas hingga terdengar **** di telinga Ross.
"Wa'alaikumsalam, ini Mas Zain kan?" sambung Ross, rona muka 'nya menampakan kegirangan.
"Iya benar, dan di sana Nona Ross kan?" jawabn 'nya, lanjut bertanya.
Rupanya slami ini Zain pun selalu teringat dengan wajah gadis cantik berambut hitam nan panjang itu.
"Hehehe, iya Mas ini Ross. Ko Mas sudah tau?, jangan-jangan Mas nge fans ya sama gue." timpal Ross dengan kepercayaan diri tingkat dewa. Ia pun terseum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jangan GR (gede rasa) kamu. Ada apa?" jawab Zain dengan suara yang sengaja ia tekan, agar terdengar tegas di telinga gadis itu. Bibirnya tersenyum simpul,karena entah kenapa, apapun yang di ucapkan gadis berwajah imut itu terdengar lucu dan menggemaskan di telinga 'nya. Zain pun sangat kenal dengan suara gadis itu.
"Mas tadi kemana sih?, ko gak mau angkat teleponnya?" tanya Ross balik bertanya.
"Saya tadi dari blok D dan lupa bawa hp nya. Katakan!! ada apa Nona telepon saya?" pertanyaan Zain dingin dan tegas.
"Mas ganteng mau kan jadi temen gue?"
"Boleh saja, tentu siapa pun boleh menjadi teman saya, tapi khusus buat kamu ada pengecualian." ucap Zain terjeda. Ia sengaja menggoda Ross, karena jujur dalam hatinya Zain selalu rindu dengan tingkah konyol gadis itu.
"Lo kenapa gitu Mas, kenapa Mas pilih kasih gitu?" tanya Ross dengan polos.
__ADS_1
"Saya bisa menerima 'mu sebagai teman, tapi ada dua syarat yang harus kamu lakukan. Gimana?, tanya Zain tersenyum kecil, merasa berhasil menggoda gadis itu.
"Syarat??, kenapa harus ada syarat, sejak kapan berteman harus ada sayarat?" cicit Ross. Ia sedikit merasa kesal dengan syarat itu
"Ya mulai saat ini, ada yang salah?" ucap 'nya di seberang telepon.
"Oh gak, Mas ganteng gak pernah salah ko. Ok apa syarat 'nya?" ucap Ross. Ia meras takut panggilannya di putus oleh Zain, hingga kata-kata 'nya sedikit terbata-bata.
"Syarat pertama. Mulai sekarang, kalu kita ngobrol jangan ada kata gue atau lo, baik kita bicara langsung ataupun melalui telpon, untuk syarat kedua saya belum bisa mengatakannya sekarang." ujar 'nya menjelaskan.
"Lo kenapa yang satunya nanti Mas?." tanya Ross, dahi 'nya di tarik ke atas seakan merasa aneh dengan hal itu.
"Mau jadi temen saya Tidak?" jawab Zain penuh penekanan.
"Mau, iya gue, eh aku mau." timpal Ross dengan gugup.
"Lakukan saja yang nomor satu dulu, untuk yang kedua mungkin lain waktu saja, maka-",ujar Maher terjeda.
"Eh nanti dulu dong Mas, jangan buru-buru di tutup teleponnya." sergah Ross khawatir. Rupanya rasa kangen 'nya tak hilang meski sudah mendengarkan suara pria pujaan hatinya itu.
"Mas ko gitu sih?, kayakn 'nya seneng banget deh godain aku." ujar Ross genit.
"Saya ga ada niat buat godai kamu, saya memang mau pergi".
"Pergi kemana Mas?".ujar Ross kepo.
"Saya mau sholat".
"Sholat?, sholat apa jam segini?, sekarang kan jam sepuluh aja kurang, ko Mas mau Sholat?" tanya Ross lagi dengan kekepoan tingkat dewa.
"Ini namanya sholat sunah duha, waktu sholat sunnah duha itu sekitar dari jam tujuh pagi sampai menjelang siang, kira-kira jam sepuluh, bahkan bagi yang sudah terbiasa melakukannya, dan suatu saat dia terlambat melakukannya karena suatu hal,maka boleh dilakukan paling lambat jam sebelas atau stengah dua belas.'' ucap Zain gamblang. Baginya ini adalah kesempatan untuk mengajari sedikit ilmu agama pada gadis yang selama ini selalu ada dalam ingatan 'nya itu.
"Mas Ustad ya?" tanya Ross lagi.
__ADS_1
"Bukan, saya bukan ustad, mereka saja yang sering memanggil saya ustad.
"Mas ga mau di panggil Ustad?" tanya Ross lagi.
"Ustad itu bukan gelar sembarangan, hanya dia yang mampu mengamalkan ilmu 'nya dengan sempurna. Banyak sekarang para Ustad bicara tentang kebenaran, tapi tingkah di belakang umat 'nya sungguh bejad, bahkan cenderung munafik.'' kata Zain menjelaskan.
"Ko munafiik Mas?Ustad kan biasanya rajin sholat, kenapa masih di sebut Munafik?" tanya Ross, seakan tak mau sambungannya terputus, maka dari itu ia selalu menyelip 'kan pertanyaan di sela-sela obrolan 'nya.
"Kamu jangan salah faham. Jangan memfonis semua Ustadz itu Munafik, karena yang saya tau masih ada Ustad yg benar-benar mengamalkan ilmu 'nya dengan baik dan benar, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosulnya, yah meskipun sedikit." ucap Zain menjelaskan kembali.
"Kalau yang Munafik itu yang seperti apa?" timpal Ross dengan serius, ia mulai tertarik dengan pembahasan itu.
"Sebenarnya bukan kepada seorang Ustad saja, ini hanya kebetulan saya contohkan kepada seorang Ustadz, jika si Ustad tidak melakukan sholat maka dia bisa di bilang Munafik, kerna tidak mungkin seorang Uatad tidak tau hukumnya meninggalkan sholat.
Hening sesaat, rupa 'nya Ross semakin kagum dengan cara bicaranya Zain, hingga membuatnya ingin sekali memandang wajahnya, tanpa sadar ia alihkan panggilannya dari suara ke vc(video caling).
Sementara Zain jantung 'nya berdebar-debar, ia merasa aneh sendiri dengan debara jantungnya itu. Meski gugup terpaksa Zain mengalikan panggilnnya dari suara ke vc. Namun seprti pertemuan 'nya yang pertama, Zain menundukan kepala 'nya.
"Mas kenapa liat ke bawah sih?" tanya Ross matanya fokus memandangi gawai 'nya.
"Tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja pertanyaannya, apa lagi yang ingin kamu tanyakan?" ucap Zain, meski gugup ia sembunyikan rasa itu.
Wajar Zain merasa gugup, di usianya yang kini sudah menginjak dua puluh lima tahun, baru kali ini baginya bicara dengan seorang wanita sedekat ini selain Zhainab, putri Kh Samsudin. Kali ini ia tak menunduk, namun ia alihkan pandangan 'nya ke sisi kanan.
"Mas pandang aku dong!, masa aku aja yang ngeliatin Mas." timpal Ross sedikit centil. Mendengar hal itu, raut wajah pemuda berparas tampan itu bersemu merah. Beberapa detik ia beruasaha menetralisir keadaan.
"Maaf Nona Ross, saya bukannya gak mau memandang " jawab Zain.
"Mas tolong please! jangan panggil aku Nona aku gak suka Mas." timpal Ross, menekankan sedikit suaranya.
"Trus kenapa gak mau liat?, sambung Ross lagi.
"Andai agama membolehkan hal itu mungkin sudah kulakukan." ujarnya.
__ADS_1
"Ya Allah masih ada rupanya laki-laki kayak gini pantes gak ya gua jadi bini 'nya." gumam Ross membatin.
"Hai, HALLO, ucap Maher seraya melambaikan satu tangannya ke layar hp nya,namun pandangannya tetap tertuju pada objek yang lain.