
"Coba peke yang waran ini, seperti 'nya ini lebah pas dengan mukamu yang orientalis." ujar Anjani seraya memberikan kain berwarna ungu pada purti 'nya. Namun di sela - sela obrolan anak dan ibu itu sebuah suara dari balik pintu mengagetkan keduanya.
Tok tok tok!!. suara ketukan pintu dari luar.
"Buka aja gak di kuci ko." ucap Anjani kemudian.
Perlahan pintu terbuka, kini telah berdiri seorang wanita tua namun masih terlihat bugar di banding dengan usia 'nya.
"Maaf Nyonya, Pak sopir 'nya sudah menunggu dari tadi." ucap Art berusia senja itu. Ya dialah Si Mbok yang berkerja di keluaraga Devundra sejak Ross masih dalam kandungan Anjani.
"Mbok suruh siapa nyiapin supir?" tanya Ross yang masih merapikan hijab 'nya.
Perlahan Si Mbok mendekat pada kedua 'nya yang tengah duduk di meja rias.
"Tuan Besar yang menyuruhnya Non, kata Pak Dev, mulai hari ini Nona Muda harus di antar dengan supir kalau mau keluar rumah."
"Mah kenapa Papi seposesif itu sih?, biasanya juga gak gitu. Ross gak mau, gak bebas kalau pake sopir." protes 'nya.
"Sayang,,,,! kamu jangan salah faham dong!, ini kami lakukan demi kebaikan kamu. Kami gak mau putri kami satu - satunya dan udah mau nikah ini kenapa - napa." ujar Anjani menanggapi keluhan putri 'nya.
"Tapi Mih,,! gak mesti pake supir juga. Ross kan mau ketemu calon mertua Mih, masa di temenin supir sih, nanti Ibunya Mas Zhain nganggap aku anak manja lagi." dengus Ross dengan nada semanja mungkin. Sedang kedua bibir 'nya yang tipis nan kemerahan cemberut menahan kesal.
"Suadah sayang,,,! jangan nagambek gitu dong!!." ucap Aanani seraya menarik tangan putrinya yang sudah paripurna penampilan 'nya. Mau tak mau Ross pun berjalan mengikuti langakah Ibunya meski bibir manis 'nya masih dalam keadaan cemberut manja. Sedang Si Mbok mengikuti kedua majikan 'nya dari belakang.
"Nyonya, emangnya Non Ross mau ke mana?" tanya Si Mbok yang kini sudah beriringan dengan Anjani dan Ross.
Mendengar pertanyaan art 'nya Anjani menghentikan langkah 'nya.
"Mbok do'a kan saja putri kami ya!!, supaya perjuangan 'nya mulus." ucap Anjani.
"Hah perjuanagan? emang Non Ross mau ikut perang di mana?" tanya Si Mbok tak mengerti.
"Astagfirullah!!, ucap Anjani terjeda seraya menepak kening 'nya.
"Mbok denger ya!, Rossdiana putri kami mau silaturahmi ke rumah pria yang kemaren kesini, dan dia mau menemui Ibu pria itu untuk menayakan syarat yang pernah di ajukan Ibu 'nya pria itu kepada Ross. Jadi Si Mbok tolong doa 'kan putri kami ini supaya bisa memenuhi syarat itu." ungkap Anjani menjelaskan.
"Syarat, kenapa harus ada syarat segala?" ucap wanita tua itu dengan wajah kebingungan.
"Heeeuuuh, udah Mah susah kalo ngomong sama si Mbok, nanti aja kita jelasin 'nya." timpal Ross dengan menggeleng - gelengkan kepala 'nya seraya berjalan menuju pintu utama.
__ADS_1
"Udah pokoknya si Mbo doain aja ya!" ujar Anjani lekas ia pun menyusul putri 'nya. Sementara Si Mbok ikut juga menyusul meski masih dengan raut muka tak mengerti.
"Ya udah Mah, Ross berngkat dulu." ijin Ross seraya cupika - cupiki dengan Anjani lalu mencium punggung tangan 'nya dengan takjim.
"Udah Si Mbok gak usah bingung yang penting doa 'kan Ross ya. Ngerti 'kan Mbok?" ucap Ross yang kini berdiri di depan wanita tua yang sejak ia lahir di asuh oleh 'nya.
"Kapan Si Mbok gak do'ain Princes kesayangan Mbok, tentu Mbok akan selelu mendoa 'kan kamu agar kebaikan selalu menyertaimu." ucap Si Mbok dengan lembut sembari mengelus kepala putri majikan 'nya yang kini berbalut hijab warna ungu, yang di atasnya di lilitkan sebuah permata laksana tasbih, seakan benda itu menambah kecantikan nan elegan gadis berwajah oriental itu.
Usai itu Ross lekas masuk kedalam mobil 'nya yang sudah siap tancap gas karena sang sopir keluarga sudah siap sedia sejak tadi.
Akhirnya mobil Audy keluaran terbaru itu keluar dari gerbang rumah mereka hingga tak terlihat oleh pandangan Anjani dan Si Mbok.
"Mang Didit kenapa Bapak mau nyupirin segala sih?" tanya Ross ketika mobil sudah berjalan jauh dari rumah 'nya.
"Mamang gak bisa nolak Non." jawab Didit yang pandangn 'nya tetap fokus ke depan sementara kedua tangannya di atas kemudi 'nya.
"Biasanya kan Mamang bisa nyari alesan kalau Ross lagi gak mau di supirin, kenapa sekarang gak bisa?" sambung Ross lagi.
"Untuk sekarang dan seterus 'nya beda Non, Mamang gak boleh nolak lagi, kata Tuan Besar gak boleh ada alasan apapun." ujar Didit, supir beusia 48 tahun itu sudah mnegabdi cukup lama di keluarga Devindra.
"Lho kenapa begitu?"
"Aissh, kenapa sih Mang Papi ko tiba - tiba kayak gitu.?"
"Gak tau Non, mungkin khawatir aja sama keselamatan Nona Ross."
"Udah 'lah terserah, tapi inget ya Mang, kalau udah nyampe Mamang jangan ikut turun, tetep di mobil aja ingat itu Mang." titah si Nyonya Muda seakan memeberi ultimatum pada supir Ayah 'nya itu.
"Siap Non, Mamang ngarti ko." jawab Didit di sertai senyuman.
Tak membutuhkan waktu lama kurang lebih 40 menit perjalanan mereka pun sampai di depan Rumah Fatimah yang terlihat sederhana namun sangat rapi dan asri. Di tambah pepohonan yang berada di halaman rumah, membuat udara terasa sejuk. Semantara waktu masih menunjukan pukul 08:39 menit. Ross lekas keluar dari mobil 'nya meski Didit hendak turun untuk memebukakan pintu, namun dengan cepat Ross mencegah 'nya.
"Kan udah aku bilang Mamang di dalem aja, ingat jangan turun!!" ucap Ross dengan jari telunjuk yang terangkat.
"Baik Non, Mamang gak akan turun." jawab Didit dengan sopan.
"Assalamualaikum Bunda." sapa Ross ketika Fatimah sudah berdiri di teras rumah 'nya dengan pakaian sudah nampak rampi seperti sedang akan berpergian.
"Wa'alaikumsalam." jawab Fatimah seraya menyambut uluran tangan sang calon mantu bahkan tanpa Ross minta ia sudah mencium kening Ross yang membuat jantung 'nya berdetak tak karuan.
__ADS_1
"Ya Allah kenapa perlakuan 'nya semakin manis dan kembut saja. Hamba mohon cepat halal 'kan kami Ya Allah." guma Ross di sertai do'a dalam hati 'nya.
"Lho, kenapa bengong Nak Ross? ayo duduk sini." ucap Fatimah sembari menarik tangan calon menantu 'nya untuk duduk di bangku yang dulu ia sempat pingsan oleh ulah celon mantu 'nya itu.
Lekas Ross pun ikut duduk di bangku kayu di sisi kanan Fatimah.
"Nak Ross cuma sendirian?" tanya Fatimah. Rupanya kedatangan 'nya sudah di tunggu oleh 'nya, bahkan du gelas teh dan beberapa makanan kecil sudah ia sediakan di meja kayu antik dan klasik.
"Se - sebenarnya berdua Bun, sama Pak supir, tapi kata beliau nunggu di mobil aja." jawab Ross sedikit gugup.
"Oo, ya sudah kalau begitu. Gimana udah siap dengan persyaratan 'nya?"
Degh!!, tiba - tiba persaan Ross menjadi tak menentu dengan pertanyaan itu. Senang, takut, bahkan tegang bercapur menjadi satu. Namun ia berusaha bersikap setenang mungkin. Ya, Ross senang karena ia akan tau sebentar lagi dengan syarat itu. Takut, tentu saja kerena ia takut jika ia tidak bisa melaksanakan syarat itu. Tegang, ya siapa yang tidak tegang jika berhadapan dengan calon mertua dari kekasih hatinya, di tambah ia merasakan akan ada tantangan tersendiri dalam melaksanakan syarat itu.
"Nak Khai kenapa diam?" tegur Fatimah lagi dengan lembut.
"Eh iya, sa - saya siap Bun." ucap Ross terbata. Entah kenapa rasa gugup 'nya semakin mendominasi di otak 'nya.
"Minum dulu Nak Riss, biar rilex dan gak usah tegang." ucap Fatimah seraya medekatkan satu gelas teh hijau di depan gadis berwajah oriental itu.
Gegas Ross pun meraih gelas itu dan meminum 'nya hingga tandas tak tersisa. Rupanya ia tak ingain rasa gugup 'nya semakin mengendalikan 'nya.
"Pelan - pelan Nak Ross, nanti malah tersendak." respon Fatimah ketika melihat Ross meneguk tehnya dengan cepat. Untung tehnya udah dingin coba kalau masih panas pasti lidah 'nya bisa melepuh, hehehehe.
Sabar Ross pasti syarat 'nya gak bikin kamu capek ko, santai aja,,, heheheh.
"Saya sudah siap Bun untuk mendengar 'kan sayarat dari Bunda." timpal Ross ketika ia sudah mulai menguasai kegugupan 'nya.
"Begini Nak Ross, Maher itu anak Bunda satu - satunya, dan siapapun perempuan yang hendak di jadikan istri olehnya, Bunda harus tau asal usul, bibit serta bobot 'nya. Meski Bunda baru beberapa hari mengenalmu, Bunda yakin kamu bisa menjadi salah satu wanita yang bisa menikah dengan anak Bunda. Tapi Bunda mohon sebelum hal itu terjadi, Bunda ingin tau kesungguhan hatimu untuk anak Bunda." ujar Fatimah panjang lebar masih dengan suara lembut 'nya.
"Maksud Bunda?"
"Setiap hari minggu Bunda ikut pengajian di salah satu Majlis di kampung sebelah. Dan Bunda harap kamu mengikuti pengajian itu bersama bunda sampai kamu di anggap layak untuk menikah dengan anak Bunda. Bagimana?" tanya Fatimah lagi.
"Hah,, ikut pengajian?"
Segini aja dulu ya Guys,, besok di sambung lagi.
kira", apa jawaban Khai ya? ,,,,, next part selanjutnya. Ross vs Zhainab.
__ADS_1