Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 19 Ucup Si Bocah Pemikir


__ADS_3

"Hah?" tanya Zhain sedikit bingung.


"Iya, dia putri sahabat Paman. Ayah 'nya pemilik sebuah perusahaan yang cukup terkenal, PT DC namanya." ujar Junaidi melanjutkan." Apa Paman sebelumnya pernah bertemu dengan anak gadisnya?" tanya Zhain mencoba menata hati dari rasa canggung.


"Pernah, tapi itu dulu sewaktu dia masih kecil. Paman jadi penasaran seperti apa dia rupa 'nya sekarang?" ujar Junaidi sambil matanya melirik ke ata sedang tangan kanannya memegang dagunya.


"Kenapa paman bertanya begitu?, apa ada sesuatu yang spesial dari gadis itu." tanya Zhain denagn sopan.


"Dia gadis kecil yang unik, imut, cantik, pintar namun terlalu hiper aktif. Kalau tidak salah ketika itu kamu masih kelas empat SD dan gadis kecil itu baru masuk seksolah TK." lanjut Junaidi menjelaskan.


"Kalau boleh tau namanya siapa Paman?." tanya Zhain kembali.


"Ross, begitu kedua orang tuanya sering memanggilnya dan nama lengkap Rosdiana . Bagimana Zha, apa kamu siap bertemu dengan gadis itu?" kembali Junaidi bertanya.


"Kalau hanya untuk sekedar bertemu tentu saya mau saja Paman. Tapi apa maksud Paman meminta 'ku bertemu dengan gadis itu?" tanya Zhain dengan lembut dan segan. Sebenarnya ia sudah tahu maksud perkataan Pamannya, hanya saja ia ingin memperjelas alasan dari Pamananya.


"Paman tidak memintamu utuk menikahinya, hanya sekedar berkenalan, itu pun kalau kamu gak keberatan. Setelahnya semua keputusan Paman kembalikan ke kamu Zha." ujar Junaidi. Ia yakin kalau keponakannya itu akan jatuh cinta pada gadis putri sahabatnya itu, yaitu Devindra pemilik PT Devindra Corporations.


"Baiklah!, kapan Paman akan mempertemukan kami?." ujar Zhain lirih, hatinya meyakini kalau Pamannya merencanakan sesuatu untuknya.


"Nanti akan Paman kabari kapan waktu pertemuannya. Kalau begitu Paman pulang dulu." ujar Junaidi lagi.


Usai obrolan itu Sang Paman pulang ke rumahnya menaiki motor metik yang biasa ia gunakan utuk pergi ke masjid, karena jarak rumahnya dan masjid lumayan jauh. Perlu di ketahui bahawa Zhain dan Junaidi tinggal di kampung yang sama hanya Rt nya yang berbeda.


Sedangkan Zhain sendiri, ia bertetangga dengan Rita sahabat baiknya Rossdiana meski ia tidak tau akan hal itu.


Pulang ke rumah. Zhain tak lekas masuk ke dalam, namun ia di sambut beberapa anak kecil dari usia tiga tahun sampai yang berusia sepuluh hingga tiga belas tahun. Ya, ini lah kegiatanya setiap ba'da magirib, mengajar anak-anak di Majlis ta'lim yang berada tepat di samping rumahnya. Majlis itu adalah peninggalan Almarhum Ayahnya, saat Ayahnya masih hidup Majlis itulah yang di gunakan sebagai tempat untuk mengajar ilmu agama.


"Assalamualikum anak-anak kesayangan kaka." sapa Zhain pada anak didik 'nya yang sudah antri berjejer di depan pintu Majlis, dengan nada ceria.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam Kak Zhain," jawab anak-anak serempak.


Satu-persatu mereka bersalaman pada Zhain yang berdiri di sisi bagian dalam pintu Majlis. Usai bersalaman, sepuluh anak duduk bersandar pada dinding Majlis, sementara baris di depan nya di isi sepuluh anak pula, sementara baris yang paling depan hanya di isi tiga orang anak.


Lalu pemuda berwajah putih nan berkarisma itu, duduk menghadap pada anak didik nya. Sementara kedua tangannya tertumpu pada meja kecil yang tingginya sekitar dua puluh lima centi meter. Lekas Zhain pun memulai pelajarannya.


"Baiklah anak-anak kaka yang baik, yang pintar, yang sholeh dan sholehah, yang selalu mengabdi pada kedua orang tuanya. Malam ini kita akan belajar tentang sifa-sifat Allah yang ada di dalam Al-Qur'an atau biasa kita sebut dengan Asmaul Husna. Kita mulai dari yang pertama." ucap Zhain dengan lembut. Ia pun memulai dari yang pertama yaitu YA ROHMAN, lalu yang kedua YA ROHIIM, lalu YA MALIK,YA QUDDUUS,YA SALAM. hingga bilangan yang ke sembilan puluh sembilan yaitu YA SHOBUUR.


Kalimat, kata atau Qalam ( Bhs Arab ) beserta artinya yang di ucapkan Zhain serentak di ikuti oleh anak-anak didiknya samapi selesai. Hingga tibalah pada sesi tanya jawab. Ada seorang anak laki-laki sekitar usia lima tahun duduk manis sambil tangan kirinya memegang sebuah buku, sementara tangan kanannya yang menggenggam sebuah pulpen di acungkan ketas. Gegas anak itu berkata.


"Kak Zhain, boleh Ucup bertanya?." tanya Si Bocah salah satu murid Zhain dengan wajah lugunya.


"Boleh dong sayang. Ucup mau bertanya tentang apa?" tanya balik Zhain dengan lembut.


"Tadi pas Kakak baca Asmaul Husna ada satu Qalam (kalimat, kata, ucapan) yang membuat Ucup bingung Kak." ujar Ucup dengan wajah polosnya.


"Itu tentang Qalam Ya Hafizd, bukankah artinya mengurus, sedangkan Allah itu Al-Ahad yang arinya satu bukan?, bagimana mungkin DIA yang hanya satu tapi mampu mengurus mahluk 'nya yang jumlah 'nya tak akan mampu siapa pun untuk menghitungnya." ucap Ucup dengan suara sedikit cadel bahkan dengan kepala di gelengkan tanda tak mengerti.


Degh,,!!!, perasa 'an Zhain sedikit terkejut dengan pertanyaan yang di ungkapkan anak berusia lima tahun itu.


"Bagimana mungkin anak sekecil ini bisa berfikir seperti itu?, seakan ia meresapi apa yang aku ajarkan. Lalu dengan apa aku harus menjelaskan tentang semua itu?, jika di jawab dengan dalil apakah dia akan mengerti, namun jika tak kujawab bagaimana pandangan Ucup dan teman-temannya yang lain tentang 'ku, karena yang mereka tau kalau aku adalah guru mereka. Bodoh sekali kalau ada seorang guru tak mampu menjawab pertanyaan muridnya," lirih Zhain bergumam dalam hati. Sejenak ia berfikir dan memejamkan mata dalam tempo beberapa detik, lalu di buka 'nya kembali matanya yang semapat terpejam, seolah ia sudah menemukan solusi atas pertanyaan murid 'nya itu.


"Baiklah untuk Ucul dan yang lainnya, mohon keluar sebentar dari Majlis ini." titah Zhain seraya berdiri, sementara tangan kirinya terangkat mengarah pada pintu Majlis yang terbuka lebar.


"Kak utuk apa kita keluar, emang ada hubungannya dengan pertanyaan Ucup tadi?" ucap salah satu teman Ucup. Namun ia tetap ikut berdiri hendak mengikuti arahan gurunya.


"Kaka lihat kebetulan tadi ada sinar rembulan yang cukup terang. Maka dari itu kita harus keluar, agar kalian mudah mengrti dengan jawaban Kaka tentang pertanyaan Ucul tadi. Ayo kita keluar Majlis." ajak Zhain setelah menjelaskan.


Akhirnya merekapun keluar secara perlahan. Kini mreka sudah berkumpul di teras Majlis berikut bersama Guru yang gantengnya kagak ketulungan itu.

__ADS_1


"Kalian lihat sekarang ke arah rembulan itu berada." titah Zhain kepada seluruh muridnya. Tangan kanan 'nya terangkat menunjuk pada Sang Rembulan.


Serempak mereka pun menengadahkan kepalanya ke atas, mata mereka tertuju pada satu objek bundar yang bersinar indah di langit sana.


"Anak-anak, bukankah kalian tau kalau bulan di atas sana cuma ada satu, tapi nyatanya ia mampu menyinari seluruh jagar raya ini. Andai Ucup sekarang berada di sekolah, bulan ada berapa?" tanya Zhain pada semua muridnya.


"Satu Kak!!!." serempak semua murid menjawab dengan dua kata yang sama.


"Andai kamu sekarang ada di rumah, bulan ada berapa?." tanya Zhain lagi, sambil salah satu tangannya menepuk pundak murid 'nya yang lain dengan lembut.


"Satuu!!" jawab anak-anak kompak dengan suara khas nereka.


"Nah seandainya dalam satu waktu rembulan itu bersinar bersamaan dengan tempat yang Kaka sebutkan tadi, apakah bulan bisa menyinari tempat yang di sebutkan tadi dalam waktu yang bersamaan? tanya Zhain lagi.


"Bisasaaa!!" jawab anak-anak kemabli dengan kompak.


"Nah itu jawabanya, jika cipta'an 'Nya saja mampu menyinari seluruh jagat raya ini, apalagi Allah yang menciptakan seluruh Alam Raya ini, tentu mudah bagi 'Nya melakukan itu karena Allah sendiri sudah mengatakan 'dalam Al - Qur'an INNAKA 'ALAA KULLI SYAI' INIG KODIIR. Apakah kalian tahu arti Ayat yang Kaka bacakan tadi?," tanya Zhain dengan santai agar mudah di fahami anak didiknya.


"Tentu tidak Kak, kami kan masih anak - anak," jawab Ucup dengan santai seraya tersenyum manis sambil tangan kanannya menggaruk - garuk kepala 'nya yang tak gatal.


"Arti dari Ayat tadi adalah ; Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ucap Zhain tehenti sejenak lantas melanjutkan kembali perkataan 'nya.


"Jadi bagimana dengan penjelasan Kakak tadi, apa kalian mengerti?"


Beberapa anak terliahat menganggukan kepala tanda mengerti, namun tak sedikit pula yang hanya diam mematung tanda masih berfikir.


"Baiklah anak anak, karena waktu sudah mulai larut malam, untuk malam ini samapi di sini dulu pengajian kita kali ini. Besok kita sambung lagi dengan tema yang berbeda. Akhir kata dari Kaka semoga kalin semua di beri ilmu oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk berbakti pada Keluarga, Bangsa dan Agama. Bilahi taufik wal hidayah waridho wa inayah, Assalamualikum warohmatullahi wabarokaatuh" ucap Zhain dengan gamblang dan jelas, namut tetap dengan nada lembutnya.


"Wa' alaikumsalam warohmatullahi wabarokaatuh." jawab anak - anak kembali bersama 'an.

__ADS_1


__ADS_2