
Di sela-sela obrolan mereka Zain meminta ijin pada guru 'nya serta yg lain untuk ke kamar pondoknya sebentar.
"Gimana Tad jadi ni pulang?" tanya Imron teman sesama seniornya di pondok.
(Tad/ustad adalah panggilan pada santri senior yg suda di perbolehkan mengajar oleh Kiyai).
"Iya, seprtinya hari ini juga aku jadi pulang, mungkin dengan waktu yang agak lama aku baru bisa ke sini lagi." jawab Zain sembari tangannya memasukan beberapa pakian dari lemari kecilnya untuk d bawanya pulang.
"Wah bahaya ni kalau lama gak kesini, seperti 'nya akan ada yg patah hati ni." timpal Ustad Imron merespon.
"Patah hati, maksud 'mu apa Tad?" tanya balik Zain tak mengerti.
"Kamu pura-pura gak tau atau memang gak tau sih Tad?" ujjar Imron balik tanya kembali.
"Udah 'lah Im gak usah berbelit-belit, maksud 'mu apa?" tanya Zain sedikit kesal sampai hilang embel - embel ustad 'nya.
"Mmmhh, dasar ya jadi cowok ko gak peka sih. Ni aku jelasin ya!, Ning Zulikha itu suka sama kamu sejak dulu, bahkan sebelum keberangkatan 'nya kuliah di mesir, itu yang saya tau, mungkin aslinya dia suka sama kamu sejak zaman kalian masih remaja di sini." lanjut Imron sedikit menjelaskan.
Mendengar itu Zain hanya sedikit tersenyum lekas melanjutkan kalimatnya.
"Dengerin ya Ustad Imron yang baik hati sampai nanti, aku sama dia itu emang deket karena kita memang di besarkan di lingkungan yg sama yaitu di pondok ini, dan kalupun aku atau dia yang memiliki rasa suka, itu gak baklan lebih dari sukanya antara kakak dan adik, itu aja, faham ya?" timpal Zain menjelaskan.
"Terserah kamu lah Tad." ucap Imron sedikit cemberut.
"Udah 'lah gak usah nyebarin gosip receh kaya gitu, aku sekarng mau pulang. Seperti 'nya mereka sudah menunggu di mobil. Dan jangan lupa salam sama Ustad - ustad yg lain. Ok??"ujar Zain lekas berdiri sambil mengangkat tasnya ke atas bahu.
"Ok, Ins ha Allah pasti aku sampaikan. Tapi inget kamu mesti sering - sering telpon kita, ok Tad?" ujar Imron kembali
"Ok sip."timpal Zain sambil mangacungkan ibu jarinya.
Merekapun bersalaman dan saling menepuk pundak masing-masing. Di karena kan kondisi di jam belajar, Zain hanya bisa bertemu dengan salah satu temannya saja yaitu Imron tadi.
__ADS_1
Ia pun berjalan mendekati parkiran, sementara di sana suda menunggu beberapa orang, Paman dan Ibunya sudah berada di dalam mobil sedang dua orang yang mengantarkan ke parkiran yaitu Kh Samsudin dan istrinya, serta Zhainab yang tiba-tiba muncul sambil berlari-lari kecil menghampiri mreka, tangannya mengenggam gamisnya yg hampir menyantuh tanah seakan terkesan menggemaskan bagi siapapun yg memandang adegan itu.
"Abang bener-bener mau pulang?" tanya Zhainab ketika tiba di dekat Zain, namun kepalanya sedikit menunduk.
Iya Abang akan pulang, mungkin agak sedikt lama bisa berkunjung kesini lagi." jawab Zain lagi
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati. Ini ada sesuatu yang ingin Adek berikan, mohon Abang menerimanya, supaya Abang tidak lupa dengan tempat ini." ucap Zhainab, tangannya mengulurkan sebuah kain sapu tangan berwarna biru.
"Ya Allah kamu masih menyimpannya Dek, itu kan sudah lama sekali. Lagian mana mungkin Abang bisa lupa dengan tempat ini, terutama kamu Adik Abang yg paling manis ini." ucap Zain sambil tangannya menerima sapu tangan itu.
Mendengar ucapan itu muka Zhinab berubah murung, meski sebelum 'nya sedikit ceria, namun kini kemurungn 'nya jelas-jelas nampak di raut wajah cantiknya.
"Iya, Adek masih menyimpannya, karena saat itu Abang 'lah yg meolong Adek ketika jatuh dari pohon jambu itu, dan melilitkan kain itu ke luka Adek, jadi buat Adek itu sesuatu yg istimew. Makanya Adek menyimpannya sampai sekarang." lanjut Zhainab lagi.
"Simpan saja sapu tangan ini, bagi Abang pantang menerima kembali barang yang sudah Abang berikan kepada seseorang, apalagi orang itu Adik Abang sendiri." ucap Zain seakan mengaskan setatusnya pada adik angkatnya itu, meski sebenarnya tidak ada perjanjian di sana di antara keduanya.
Dengan berat hati dan wajah yang murung, Zhainab pun menerima kembali sapu tangan itu.
"Ya sudah Za, Paman dan Ibu 'mu sudah menunggumu dari tadi." ujar Abah Yai menengahi pembicaraan mereka, agar tidak terlalu lama dengan drama yg dilakukan putrinya. Rupanya sang Ayah tau hati putrinya benar-benar rapuh.
Setelah itu mereka pun bersalaman satu sama lain. Usai ucapan salam dengan serempak dari dalam mobil Pajero sport itu, mobil pun berlalu yang sebelumnya Zain menyul masuk kedalam berdampingan dengan Pak sopir.
******
Kini malam pun telah menyapa bumi dengan gelapnya. Seperti sekarang, Fatimah sedang ngobrol ringan bersama Zain anak kesayangannya, usai Zain pulang dari masjid setelah sholat isya berjama'ah.
"Bun sebenernya aku ragu dengn amanah ini." ucap Zain memulai pembicaraan.
"Ragu seperti apa maksudmu Nak?" tanya Fatimah penasaran.
"Bunda tau sendiri kalau anak Bunda ini gak berpendidikan tinggi, jangankan sarjana SMP aja aku ga pernah. Dan rasanya terlalu berat jika aku harus mempin keamanan di pasar itu." ucap Zain mengutarakan kegelisahan hatinya.
__ADS_1
"Lho ko anak Bunda ini jadi pesimis begini sih, mana anak Bunda yang pemberani dan suka dengn tantangan itu?. Ingat Nak Gurumu sudah merestui dan Bunda juga sama, jadi apalagi yg kamu khawatirkan?, lagian apa Paman kamu sekolahnya tinggi, tidak Nak, SD saja dia gak lulus, nyata 'nya dia mampu memimpin para preman pasar itu." ucap Fatimah memberi semangat pada putra semata wayangnya.
"Bukan begitu Bun, kalau Paman kan memang seorang Jawara Bun, jadi wajar kalau dia mampu, sedang aku cuma seorang santri, rasanya gak nyambung aja Bun." ujar Zain menimpali.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, serahkan semua sama Allah. Dan Bunda akan selalu mendukungmu." timpal sang Bunda lagi.
"Ya sudah kalau begitu aku tidur duluan ya Bun." ucap Zain, ia lekas bangkit dan berjalan ke arah kamar. Namun suara Bunda 'nya menghentikan langkahnya.
"Tunggu Nak.'' sergah Fatimah
"Sebelum kamu besok berangkat ke pasar coba jiyarah dulu ke makam Ayah 'mu." ucap Fatimah menyarankan.
"In sha Allah Bun, memang sudah ada rencana seperti itu, cuma aku blm mengutarakn 'nya sama Bunda." jawab Zain. Usai itu Zain pun masuk ke kamarnya. Sedang Aminah menuju kamar mandi untuk berwudhu karena hendak melakukan sholat Isya.
Di pagi hari yang cukup cerah, wakru menunjukan jam 7 pagi, sebuah mobil Pajero memasuki halaman rumah Fatimah.
Sedang Zain Usi Ziyarah ke makam sang Ayah, ia kini tengah bersiap-siap, karena ingin menyesuaikan diri ia tdak memakai sarungnya, kini ia memakai kaos obong berwarna putih yang cukup ketat, hingga tubuh 'nya yg cukup atletis tebentuk begitu sempurna, namun ia tambahkan dengan jaket suwiter berbahan lembut dengan tudung di kepala, namun tudung itu tak ia kenakan di kepalanya, melainkan di keplanya ia mengenakan sebuah kupluk (tudung kepala yg sering di gunskan oleh vokalis Jamrud) berbahan lembut.
"Assalamualaikum." ucap Mang Deden supir pribadi Paman 'nya Zain.
"Wa'alaikum salam." jawab Zain lekas menghampiri tamunya.
"Duduk dulu Mang. Oh iya, mau minum apa?" tanya Zain.
"Seperti 'nya gak perlu Den,soalnya Aden sedang di tunggu Bang Juned di Markas. Takut 'nya telat." ucap Mang Deden meski tetap merendahkan tubuhnya lalu duduk di kursi teras.
"Oh, ya sudah, tunggu sebentar ya, aku mau ijin dulu sama bunda." ujar Zain lalu masuk kembali ke dalam, tak berselang lama ia pun keluar. Kemudian mreka pun menaiki mobil Pajero kepunyaan sang Paman. Kurang dari tiga pukuh menit mreka pun sampai di sebuah Pasar yg cukup besar.
Dan kini tibalah mereka di sebuah bangunan berlantai dua. Dan di sini 'lah sebentar lagi Zain akan di lantik menjadi Ketua para preman Pasar yg tentunya seluruh keamanan pasar bahkan sampai ke area luar akan ada di bawah kendalinya.
next,,, part 7.
__ADS_1