Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 39 Kena Prank Kekasih Hati


__ADS_3

"Khai sudah belum ngobrolnya?" tanya Anjani karena merasa sudah terlalu lama mengawasi mereka, hingga ia memanggil dengan suara sedikit lantang.


"Iya Mah, sebentar lagi." jawab Ross dengan suara sama lantang 'nya.


"Ya sudah kita balik ke mereka yuk!." ajak Ross yang sudah hendak berjalan. Namun....


"Mas," seru Ross dengan cepat.


"Ya." jawb Zhain singkat.


"Kira - kira syarat apa yang akan Bunda mas berikan?"


"Entahlah Mas juga gak tau. Apa adek mau mundur?" tanya Zhain karena melihat raut kekasih 'nya berubah sendu.


"Oh,tidak,,,tentu tidak mas."


"Lalu apa masalahnya.?"


"Aku hanya penasaran."


"Ya sudah kita ke sana yuk." ajak Zhain lagi.


Akhirnya mereka pun berjalan hendak menuju ruang tamu di mana para orang tua sudah menunggu di sana. Namun di saat mreka baru mencapai setengah perjalanan, Ross yang mengenakan sepatu yang agak sedikit tinggi, entah di sengaja atau tidak ia terpeleset lantaran ada percikan air di atas keramik di sisi kolam reanang, sedang Zhain yang berada di depan 'nya, tak sempat menahan tubuh Ross yang kini sudah terjerembab ke dalam kolam.


Gejubarrrr.!!! suara air dari kolam renang mengagetakan Anjani dan Zhain.


"Ross,!" ucap Zhain panik, ya ia panik karena melihat sang kekasih sudah basah kuyup sambil tangan 'nya naik turun seakan tidak bisa berenang.


Gejubar!!, kembali suara air yang berbenturan dengan tubuh Zhain, kini suara itu menyebabkan semua penghuni ruang tamu gegas keluar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.


"Mah kenapa Ross gak bisa berenang?" tanya Dev pada istri 'nya. Namun raut wajah 'nya tak terlihat panik sama sekali.


"Gak tau Pih, kita liat aja apa yang di rencanakan anak itu." bisik Anjani pelan pada suami 'nya.


"Kenapa kalian sama sekali gak terlihat cemas dengan kejadian ini?." tanya Junaidi pada kedua pasangan yang mulai berumur itu. Meski begitu mereka masih tetap terlihat muda.


"Oh iya, kami sebenarnya cemas ko." ucap Anjani gelagapan.


"Iya benar, kami cemas ko." sambung Devindra. Kini mimik muka dari pasangan itu berubah seratus delapan puluh derajat dari biasa saja menjadi secemas mungkin. Ya rupanya kedua pasangan itu sudah tahu dengan sifat jahil putrinya, hingga pemikiran mereka pun begitu sinkron meski tak ada sekenario di antara ketiga 'nya.

__ADS_1


Sementara itu Ross yang sudah berada di atas dengan masih berada di pangkuan Zhain yang tengah berjalan untuk membaringkan kekasih hati 'nya di bangku kayu dekat kolam renang.


"Pak Dev ini bagaimana ini?," ujar Zhain yang masih belum bisa menguasai kepanaikan 'nya. Mendengar itu baik Sang Paman, Devindra berserta istri 'nya bergegas mendekati kedua 'nya.


"Bukankah biasanya di beri nafas buatan." ungkap Dev masih dengan akting panik 'nya yang di buat - buat.


"Iya benar kasih nafas buatan." timpal Anjani.


"Ya sudah Zha cepat kasih nafas buatan." ujar Junaidi ikut berkomentar.


"Hah??" ucap Zhain bingung. Lantas ia menyambung kalimat 'nya.


"Maaf Pak Dev dan Ibu, bukannya saya tidak mau melakukan itu tapi." ujar Zhain kembali terjeda.


Mendengar percakapn mereka, Ross yang sebenarnya tak mengalami pingsan ia kemudian membuka mata 'nya secara perlahan lalu tangan kana 'nya terangakat sedang kedua jarinya antara jempol dan telunjuk membentuk hurup O, seakan sandiwara ketiga 'nya berjalan mulus.


"Tapi apa?, cepetan nanti terjadi apa - apa dengan putri saya." ujar Dev masih dengan puta - pura panik.


"Maaf Bu, gimana kalau Ibu saja?, kan sama - sama wanita dan masih se muhrim lagi." usul Zhain pada Anjani.


"Eh iya, maaf. Seperti 'nya Si Mbok membutuhkan bantuan saya." timpal Anjani, lekas ia berjalan masuk ke dalam rumah 'nya.


"Ya suda Bapak saja, kan Ayah 'nya. Saya rasa itu lebih baik." ujar Zhain pada Devindra.


"Paman bagaimana ini?" ujar Zhain meminta saran. Sementara Ross hanya sesekali membuka matanya ketika Zhain dan Junaidi tak memperhatikan 'nya karena ia masih dalam kondisi berbaring di tas bangku kayu.


"Ni anak pasti lagi nge prank. Dulu sewaktu kecil saja jailnya minta ampun." gumam Junadi membatin.


"Zha, kita tinggalin aja seperti 'nya dia lagi nge prank kamu. Ayo!!." ujar Junaidi sembari menarik salah satu tangan sang keponakan.


"Tapi Paman."


"Udah ayo, kamu gak usah khawatir." ucap Junaidi yang kini tetap menarik tangan keponakan 'nya dan lekas masuk ke dalam rumah.


Sementara Ross yang sudah merasakan terlalu lama memejamkan mata namun tak ada reaksi apa - apa, perlahan ia pun membuka mata 'nya."


"Hah!!, mereka pada kemana." ucap Ross bicara sendiri.


Karena rencana 'nya gagal total akhir 'nya Ross hanya uring - uringan seraya menginjak - nginjak lantai keramik di tepi kolam renang.

__ADS_1


"Mamaaaaaah!!,, owa, owa owa." teriak Ross sambil menangis sekencang - kencang 'nya persisi seperti anak kecil yang tak di kasih uang jajan oleh Ibu 'nya.


Tak lama Anjani pun datang dengan membawa handuk besar untuk menutupi tubuh putri 'nya yang masih berpakaian lengkap namun dalam kondisi basah kuyup.


"Makanya jadi perempuan itu jangan sok jahil, masih mendiang Nak Zhain mau mengangkat 'mu. Dan sepertinya dia gak tau kalau kamu ngerjain dia." ucap Aanjni sembari mengelap tubuh putri 'nya dengan kasih sayang.


"Padahal sembentar lagi Mah aku mau di cium 'nya." timpal Ross dengan suara manja.


"Ooo!!, jadi tujuanmu itu sudah Mamah duga. Lain kali jangan seperti itu sayang." ucap Anjani lagi.


"Sesekali kan gak apa - apa Mah."


"Buat kamu mungkin iya tidak apa - apa tapi bagi Nak Zhain itu sesuatu yang tabu. Jadi jangan di ulangi lagi ya." ucap Anjani kemudian.


Lantas keduanya masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaian yang di kenakan Ross.


"Mah jangan lewat ruang tamu, aku malu sama Mas Zhain" rengek Ross di tengah perjalanan menuju kamar 'nya.


"Ya Sudah kamu jalan sendiri sana lewat jalur kanan." ucap Anjani memberi saran.


Lantas Ross pun berjalan menuju kamar 'nya lewat jalur kanan lantaran malu jika lewat jalur kiri karena jalur kiri akan melalui ruang tamu, ia takut dan malu jika bertemu dengan kekasih hatinya Zhain Al - Ghifari.


###


Dua hari pun telah berlalu sejak pertemuan Ross dan Zhain, yang di mana pertemuan itu belum menghasilkan keputusan di antara kedua 'nya.


Hari ini tepat di hari minggu, di mana hari yang di tunggu - tunggu untuk Ross. Ya, ia sangat menantikan 'nya lantaran di hari ini 'lah ia akan tau syarat apa yang akan di berikan oleh Fatimah ibu dari Kekasih hati 'nya Zhain Al - Ghifari.


"Mah udah cantik belum nih?." tanya Ross pada Sang Bunda yang tengah menemani 'nya di depan cermin kamar putri semata wayang 'nya.


"Cantik sih, tapi kayak 'nya gak cocok deh kalau pake hijab warana itu." ucap Anjani memberi penilaian atas penampilan putri 'nya.


"Mah aku udah ganti tiga kali ini, masa gak ada yang cocok sih." dengus Ross merasa jengah dengan penilaian Anjani.


"Pada dasar 'nya kamu tetap cantik meski pakai warna apapun, cuma Mamah gak mau penampilan kamu ada yang kurang, artinya kamu harus terlihat sempurna di depan calon ibu mertuamu Ross," ucap Anjani lagi


"Coba peke yang waran ini, sepertinya ini lebih pas dengan mukamu yang orientalis." ujar Anjani seraya memberikan kain berwarana ungu pada purti 'nya. Namun di sela - sela obrolan anak dan ibu itu sebuah suara dari balik pintu mengagetkan kedua 'nya.


Tok tok tok!!,

__ADS_1


Hayo tebak siapa yang ngetuk pintu?


Next.... part 40,, In sha Allah di bab ini pertemuan Ross dengan saingan 'nya dalam meraih cintanya Zhain. Dia adalah Zhainab putri dari gurunya Zhain sewaktu menimba ilmu di Pondok Pesantren.


__ADS_2