
"Hanya lelaki pecundang yang tega menganiyaya seorang wanita, apalagi dia adalah istrimu. Dan parahnya lagi dia sedang mengandung janin anakmu." ujar lelaki yang usianya sebaya dengan Derry seraya menatap tajam matanya.
Sambil membungkukan badan dan satu tangannya meraih kerah baju Derry dengan kuat lelaki muda itu terus mengintimidasi Derry dengan perkataannya.
"Kau benar - benar lelaki keparat, tidak bisa kah kau meliahat bahwa dia adalah seorang wanita yang lemah. Lalu di mana martabatmu sebagai lelaki?, jika kau hanya berani pada kaum yang lemah." ujar lelaki muda itu dengan kemarahan yang tak terkendali.
Bugh!!, kemabli suara pukulan menghujam wajah Derry yang masih dalam kondisi terlentang di depan pelataran Mushola rumah sakit.
"Ayo bangun, dan lawan saya!!," ujar lelaki muda itu masih dalam keadaan memegang kerah baju Derry yang tak berdaya.
"Hentikan dan tolong lepaskan," ucap Fatma dengan nada khawatir. Ya ia takut lelaki muda yang tak di kenalnya kembali memukul suaminya yang masih terbaring tak berdaya.
"Dia lelaki brengsek yang pantas mendapatkan itu," ujar lelaki muda itu seraya melepaskan cengkramannya dari kerah baju Derry.
"Dia suamiku, dan apa urusanmu ikut campur urusan kami?," ujar Fatma sambil merendahkan tubuhnya untuk meraih tubuh suaminya yang masih dalam ke adaan terbaring.
"Saya tak bermaksud ikut campur urusan kalian, tapi pantang bagiku membiarkan seorang wanita yang lemah di aniyaya oleh seorang lelaki, apalagi dia suaminya sendiri." ujar lelaki muda itu dengan tegas seraya mengepalkan tangannya pertanda masih dalam keadaan marah.
"Dan kau Derry, saya tidak pernah menyangka kalau kamu bisa berbuat sekejam ini. Mau jadi apa kelak anakamu jika sikapmu masih belum berubah." sambung lelaki muda itu kembali.
"Apa urusanmu ikut camur urusan kami," ujar Derry bergetar seraya memegangi sudut bibirnya yang sedikit megeluarkan darah segar.
"Hanya lelaki biadab yang membiarkan seorang wanita tertindas di depan matanya, apalagi yang menindas itu adalah suaminya sendiri." ujar lelaki muda itu kembali.
"Kau siapa dan kenapa seoalah sudah mengenal kami?," tanya Fatma kemudian.
"Dia Zhain, sepupu kesayangan ayah." jawab Derry merspon pertanyaan istrinya.
Ya, rupanya Zhain tak sengaja mendengar pertengkaran pasangan muda itu ketika ia baru keluar dari apotik setelah menebus obat untuk keperluan Bunda Fatimah yang mengidap penyakit asma.
"Aku hanya keponakan ayahmu yang di amanahkan sebuah tanggung jawab besar. Dan kenapa ayahmu tak mempercayakan itu padamu, itu di karenakan sifatmu yang susah mengontrol emosi hingga Paman Junaidi tak mempercayaimu untuk memegang jabatan itu meski pun kau adalah anakanya." ujar Zhain panjang lebar.
__ADS_1
"Busiit, dari dulu ayah memang membedakan kita. Dan itu gak ada kaitannya dengan jabatan itu." ujar Derry yang kini dalam keadaan duduk bersama Fatma istrinya di teras depan Mushola.
"Saya dengan senang hati akan menyerahakan jabatan ini jika kamu benar - benar sudah beruabah dan bisa di percaya." ucap Zhain terjeda lalu kemabali melanjutkan kalimatnya.
"Dan satu lagi, jangan sekali - kali memungut pajak kepada para pedagang dengan cara memaksa. Akan jadi apa anakmu kelak jika nafkah yang kau berikan untuk istri dan anakamu kau dapatkan dengan cara yang salah. Kau harusnya bersyukur mendapatkan istri secantik dan sesholehah Fatma, harusnya kamu sadar kenapa ayahmu menjodohkan kamu dengannya, tapi dasar kamunya saja yang tak pernah mau berubah." ujar Zhain menjelaskan kini dengan nada yang datar sekan marahnya sudah mulai berkurang. Ya, semarah apa pun ia terhadap sepupunya dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat menyayangi Derry, meski sepupunya tak menyadari itu.
"Mas, tolong tinggalkan kami saja." pinta Fatma seraya memandang sendu Zhain yang masih berdiri mematung.
"Saya tidak akan segan - segan membuat perhitungan denganmu jika kau masih berbuat demikan pada istrimu." ancam Zhain seraya menunjuk wajah Derry, gegas ia pun membalikan badan dan berlalu pergi hendak menuju parkiran. Sementara satu tanagnnya meraih plasrik kresek di mana resep obat untuk Sang Bunda berada di dalamnya.
Tak lama Fatma dan Derry pun menyusul ke parkiran untuk menuju kendaraannya dan bergegas pulang.
####
Di sebuah taman di tengah kota yang cukup sepi karena waktu sudah menunjukan jam 23:05 sebuah mobil sedan tengah berhenti di sebuah jalan taman dengan pintu masih terbuka. Sementara seorang pria muda tengah duduk di depennya sambil memegang bitol minuman keras yang sudah sebagian di teguknya.
"Aaakkh, kau benar - benar brengsek," teriak pria muda itu sambil meneguk minuman yang tersisa di botol yang ia pegang. Ya dia lah Derry, usai mengantarkan istrinya ia lekas pergi dengan mobilnya dengan maksud menenangkan diri hingga samapai larut malam ia belum beniat untuk pulang.
"Tidaak," teriak Derry kembali seraya melempar botol dari tangannya.
Praaang!!, suara botol yang Derry lempar begitu keras karena membentur trotoar jalan taman hingga pecah berkeping - keping.
"Tidak, anakku tidak boleh bernasib sama seperti ku." ujar Derry kembali, namun ia kembali meraih botol yang baru untuk meminumnya kembali.
Glek glek glek!!, suara yang di hasilkan dari tenggorokan Derry yang meminum minuman keras itu dengan begitu rakus.
"Fatma, ma'mafin gue. Gue janji gue akan jaga lo dan anak kita." uajar Derry lagi. Rupanya kejadian siang tadi membuat perubahan yang signifikan untuknya. Ya tepatnya perkataan Zhain tadi siang membuat pola pikirnya berjalan baik, hanya saja dia salah jalan dalam mencari ketenangan.
Glek glek glek!!, kembali ia meneguk minuman keras yang masih tersisa di botol yang ia pegang.
"Hueek, hueek!!," suara muntahan Derry seketika keluar dari mulutnya. Rupanya tanpa ia sadari kalau dia sudah lebih dari 3 botol minuman keras sudah ia habiskan hingga dua botol berserakan di bawah mobilnya.
__ADS_1
"Hueeek, hueeek!," kembali Derry memuntahkan isi perutnya hingga menyebabkan ia pingsan dengan posisi berbaring di jok depan dengan posisi kaki menjulur keluar pintu.
Tak lama ada dua anak muda tengah mengendarai motor, melihat mobil yang masih terbuka kedua pemuda itu lekas menghentikan kendaraannya.
"Rud, ada mangsa lumayan kayaknya ni," ujar seorang pemuda berambut gondrong yang membawa kendaraan itu.
"Apa maksud lo?, lo mau ngerampok dia?," tanya Rudi yang duduk di belakang pemuda berambut gondrong itu. Ya, rupanya mereka Rudi dan Lukman yang tak sengaja melintasi taman itu ketika mereka hendak pulang dari sebuah Caffe yang sering mereka kunjungi.
"Udah, ayo cepet kita liat." titah Rudi seraya menepuk pundak Lukman.
Tak lama motor metik yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan mobil sedan berwarna hitam itu.
"Bro, seepertinya dia orang kaya nih," ujar Lukman ketika mereka sudah berdiri di deoan mobil sedan yang pintu depannya masih terbuka.
"Kalu dia orang kaya terus lo mau ngapain?," tanya Rudi kemudian.
"Ya sesekali kan gak apa - apa bro manfatiin keadaan." ujar Lukman sekenanya.
"Lo mau gue laporin sama Bang Zhain. Udah ayo cepat kita tolong, bisa kemburu ko'it ni anak orang." ujar Rudi seraya mendekat ke pinty mobil yang terbuka di mana Derry tengah berbaring di dalamnya.
"Tar dulu dong," ujar Lukman seraya mencegah pundak Rudi.
"Lo tau gak, kalu kita ambil beberapa barang berharganya kira - kira kita bisa dapat uang berapa ya?," ujar Lukman kembali seakan tak ada niat hendak menolong sama sekali.
Pletak!!, bunyi suara pukulan tanga Rudi ke jidat Lukman.
"Eh, ko lo jitak kepala gue sih," ujar Lukman sambul mengusap - usap keningnya yang terasa sakit.
"Dasar mantan pengedar narkoba, apa gak ada kebaikan sama sekali di pikiran lo. Kalu lo masih niat mau ngerampok ni orang gue gak mau jadi temen lo lagi, dan gue gak segan - segan buat laporan sama Bang Zhain." ucap Rudi panjang lebar dengan nada sedikit kesal menahan marah.
"Ko lo jadi bawa - bawa Bang Zhain sih, ini kan cuma urusan kita." ujar Lukman seakan tak merasa bersalah.
__ADS_1
Apa yangbakan terjadi pada Derry?, akan kah kedua pemuda itu menolongnya atau bahkan sebaliknya?...... Next,,,part 33.